Heboh Kiyai Liberal Matinya Memilukan

Beberapa tahun yang lalu ada tulisan berjudul Tragedi Kiyai Liberal, Akhir Hayatnya Memilukan. Belakangan, tulisan itu dimuat kembali oleh sebuah situs Islami, lalu ditampilkan pula oleh seorang anggota sebuah milist. Di tengah milist itu sedang bersahut-sahutan antar anggotanya mengenai tulisan tentang matinya kiyai liberal itu, qadarullah seorang liberal mati dan orang-orang menyebutnya kiyai pula. Yang mati itu adalah Gus Dur (Abdurrahman Wahid, meninggal Rabu 30 Desember 2009 di RSCM Jakarta, dan dikubur di Jombang Jawa Timur Kamis 31 Desember 2009).

Dengan adanya waktu bertepatan Gus Dur meninggal itu maka tulisan yang tadinya sudah diramaikan itu menjadi lebih ramai lagi, bahkan dikaitkan dengan bolehkah ia disholati, bolehkan dikubur di pekuburan Islam, dan akankah dia masuk surga dan semacamnya.

Di sela-sela hiruk pikuknya sahut-sahutan itu kemudian disahut oleh salah seorang anggota, isinya sebagai berikut:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh

Kisah kiyai liberal ini sebenarnya hanya fiksi dan pernah dimuat beberapa tahun lalu di Majalah Tabligh yang diterbitkan lembaga Dakwah Khusus (khusus, kurang lebihnya adalah dakwah untuk daerah transmigran, terpencil dan sebagainya) di Muhammadiyah Pusat, Jl Menteng Raya, Jakarta. Majalah itu konon menjadikan gerahnya orang-orang seperti Syafii Maarif dll. Kisah yang mirip dengan itu dan juga beredar luas masa itu ada di Hidayatullah. Makanya ulil kabarnya sangat geram terhadap media Hidayatullah, walau jelas kisah fiksi.

Adapun tentang kiyai liberal yang muncul di milis ini, rupanya salah satu tenaga Majalah Tabligh sekarang aktif di voa-islam, dan kisah itu dimuat di sana, lalu difwrd anggota milis ini di sini. Tahu-tahu dalam kenyataan, ada orang meninggal, dan tergolong liberal lagi pula sebutannya kiyai…

Kemudian ada komentar-komentar terhadap yang meninggal, dikaitkan dengan masuk surga dan sebagainya. bahkan ada yang tanya-tanya (bukan di milis ini) dia boleh ga disholati, boleh ga dikubur di pekuburan Muslim dan sebagainya. Tentang disholati ditanyakan juga rupanya di sini.

Itu semua tak ada hubungannya dengan kisah fiksi ini, tapi kaitannya adalah kisah fiksi ini dimunculkan kembali pas kemudian ada kiyai liberal yang mati.

Kalau mengenai orang meninggal, bila memang dia menolak diterapkannya syari’at Allah, membela inul, dijuluki laskar kristus, membela porno, menghidupkan kemusyrikan seperti ruwatan (acara kemusyrikan yang dipercayai untuk membuang sial), meresmikian agama kemusyrikan konghucu, meresmikan agama yang sudah dilarang (Baha’i), menganggap syariat Islam kalau diformalkan maka akan berbahaya, maka untuk mengukurnya perlu kita merujuk kepada Allah dan Rasul-Nya. Sudah ada ayat dan teladan sebaik-baik teladan yakni Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ayat walan tardho (QS 2:120) sudah jelas. Orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu sehingga kamu mengikuti agama mereka. Jika Yahudi dan Nasrani ridho kepada seseorang, berarti berbalikan dalam dua arah: pertama berbalikan dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sampai akhir hayatnya dibenci Yahudi, bahkan diracun. bahkan sampai kini Nabi Muhammad masih dicaci maki, dihina dan sebagainya oleh mereka. Kedua, sikap Yahudi dan Nasrani yang mestinya benci malah jadi ridho, tentu saja keridhoannya karena sudah sesuai dengan ayat itu yaitu mengikuti agama mereka.walaupun secara formal tidak berganti agama, tetapi orang Yahudi dan Nasrani berarti sudah menganggapnya memenuhi syarat dalam mengikuti agama mereka.Contoh yang belum memenuhi syarat adalah sikap Amien Rais, walau ketika kampanye sering ke klenteng dan sebagainya, namun Yahudi dan Nasrani belum mempercayainya, maka masih belum ridho kepadanya. Itulah bedanya, Amien Rais dengan Gus Dur yang sudah diridhoi Yahudi dan Nasrani.

Tentang menolak diterapkannya syari’at Islam apalagi menganggap bahwa syari’at Islam kalau diterapkan maka berbahaya, bila penolakannya itu merupakan sikap kebenciannya terhadap apa yang diturunkan Allah Ta’ala, maka semua amal baiknya menjadi musnah. itu ditegaskan dalam QS Muhammad/ 47:9.

Ini bukan untuk menghakimi seseorang, tetapi ana sendiri khawatir terhadap diri sendiri, jangan-jangan diriku ini silau dengan aneka keadaan yang telah memutar balikkan kebenaran sambil mengusung kebatilan.

Semoga Allah menunjuki kita jalan yang benar. Amien.

Wassalam

Hajaiz Ahmad