Heboh Kontes Waria di Aceh

Ulama Aceh Akan Menuntut karena Merasa Ditipu

Kontes waria / banci diselenggarakan di aula LPP RRI Banda Aceh, Sabtu malam (13/2 2010). Jimmi, ketua panitia kontes waria Aceh mengatakan, “Kita mendapatkan izin dari MPU (Majelis Permusyawaratan Ulama) kota Banda Aceh, kita didukung banyak pihak untuk menggelar acara ini,” sebutnya, usai kontes yang berlangsung di Auditoriat RRI Banda Aceh, Sabtu, 14 Februari 2010.

Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Banda Aceh menyatakan tidak pernah memberikan rekomendasi terhadap Kontes Pemilihan Duta Waria Aceh 2010. Oleh karena itu MPU berencana menuntut panitia penyelenggara.

“Kita merasa ditipu, mereka meminta arahan ke kami untuk menggelar malam penggalangan dana sosial, ternyata mereka buat kontes waria” ‘kata ketua MPU Kota Banda Aceh, Tgk Karim Syeikh, Senin, 15 Februari 2010.

Menurut Karim, MPU merasa dirugikan atas komentar panitia, Timmy Miyabi, yang menyebutkan pihaknya mendapatkan izin dari MPU.

“Jangankan kontes waria, kontes kecantikan wanita saja tidak kita izinkan, mereka telah mencemarkan nama baik ulama aceh” tambah dia.

Inilah beritanya:

Heboh Ulama Aceh Merasa Ditipu Para Waria

Posted by mytour09 on February 15, 2010

Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Banda Aceh menyatakan tidak pernah memberikan rekomendasi terhadap Kontes Pemilihan Duta Waria Aceh 2010. MPU berencana menuntut panitia penyelenggara.

“Kita merasa ditipu, mereka meminta arahan ke kami untuk menggelar malam penggalangan dana sosial, ternyata mereka buat kontes waria” ‘kata ketua MPU Kota Banda Aceh, Tgk Karim Syeikh, Senin, 15 Februari 2010.

Menurut Karim, MPU merasa dirugikan atas komentar panitia, Timmy Miyabi, yang menyebutkan pihaknya mendapatkan izin dari MPU.

“Jangankan kontes waria, kontes kecantikan wanita saja tidak kita izinkan, mereka telah mencemarkan nama baik ulama aceh” tambah dia.

Dia juga menyebutkan, pihaknya menentang keras rencana diikutkannya waria Aceh dalam kontes waria di tingkat nasional. Menurutnya nama Daerah Aceh tercemar gara-gara kontes tersebut.

“Aceh daerah syariat Islam, tidak seharusnya acara seperti itu digelar di Aceh” ujarnya.

***

Sebelumnya, kontes waria Aceh memilih Angga alias Zefina Letisia (19 tahun) asal Aceh Utara sebagai Duta Waria Aceh 2010 mengalahkan 39 waria lainnya.

Dalam kontes tersebut, para waria mengenakan pakaian adat Aceh dari 23 daerah asal mereka masing-masing.

Jimmi, ketua panitia mengatakan, kontes tersebut merupakan ajang silaturahmi antar para waria dari seluruh Aceh. Kegiatan itu  juga telah mendapatkan persetujuan dari ulama.

“Kita mendapatkan izin dari MPU kota Banda Aceh, kita didukung banyak pihak untuk menggelar acara ini,” sebutnya, usai kontes yang berlangsung di Auditoriat RRI Banda Aceh, Sabtu, 14 Februari 2010.

Laporan: Muhammad Riza | Banda Aceh

http://mytour09.wordpress.com/2010/02/15/heboh-ulama-aceh-merasa-ditipu-para-waria/

Tipuan dari kalangan waria alias banci itu keruan saja menjadikan protesnya para ulama. Inilah beritanya:

Ulama Kecam Kontes Waria Aceh

Senin, 15 February 2010, 07:11 WIB

BANDA ACEH–Kalangan ulama Aceh mengecam keras kontes waria yang diselenggarakan di aula LPP RRI Banda Aceh, Sabtu malam (13/2), demikian Sekjen Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) Tgk Faisal Ali di Banda Aceh, Minggu. “Kami mengecam keras pelaksanaan kontes waria dan tindakan itu telah menodai pelaksanaan syariat Islam di Aceh,” kata Faisal.

Ia menyatakan, kontes itu tidak pantas dilakukan karena perbuatan tersebut jelas-jelas bertentangan dengan syariat Islam yang berlaku menyeluruh di provinsi berjuluk “Serambi Mekah” itu. “Kontes itu, apapun alasannya jelas bertentangan dengan Syariat Islam dan kita berharap para pihak untuk mempertanggungjawabkan terhadap kegiatan yang bertentangan dengan adat dan budaya serta agama Islam tersebut,” katanya.

Dalam Islam, demikian Ketua Dewan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Aceh ini, tidak ada istilah “waria” tapi yang ada “khuntsa” dan adalah haram jika laki-laki menyerupai wanita dan sebaliknya. “Artinya, waria itu buatan manusia yakni laki-laki menyerupai perempuan, sementara `khuntsa` yang ada dan diakui dalam Islam karena itu adalah ciptaan Allah SWT. Kalau waria itu adalah perbuatan yang melanggar kodrat Tuhan,” katanya.

Sementara itu, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Darmuda juga mengecam kontes waria itu. “Kita juga mengecam dan tidak menoleransi digelarnya kontes waria apapun alasannya jelas bertentangan dengan mayoritas penduduk Aceh yang Islami,” katanya.

Dalam kontes yang digelar di aula RRI Sabtu malam itu, Angga alias Zifana Lestisia (19) asal kota Lhokseumawe, terpilih menjadi Duta Aceh.

Redaksi – Reporter

Red:

krisman

Sumber Berita:

ant

http://new.republika.co.id/berita/104007/ulama-kecam-kontes-waria-aceh

MUI telah memfatwakan tentang kedudukan waria.

Berikut ini kutipan fatwa MUI tentang kedudukan waria:

Mengingat:

Hadits Nabi SAW yang menyatakan bahwa laki-laki berperilaku dan berpenampilan seperti wanita (dengan sengaja), demikian juga sebaliknya, hukumnya adalah haram dan dilarang agama.

Hadits menegaskan;

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ لَعَنَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – الْمُخَنَّثِينَ مِنَ الرِّجَالِ ، وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Nabi shalllallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang berpenampilan perempuan dan perempuan yang berpenampilan laki-laki. (HR Al-Bukhari).

Atas dasar hal-hal tersebut di atas, maka dengan memohon taufiq dan hidayah kepada Allah SWT

Memutuskan

1. Memfatwakan:

a. Waria adalah laki-laki dan tidak dapat dipandang sebagai kelompok (jenis kelamin) tersendiri.

b. Segala perilaku waria yang menyimpang adalah haram dan harus diupayakan untuk dikembalikan pada kodrat semula.

2. Menghimbau kepada:

a. Departemen Kesehatan dan Departemen social RI untuk membimbing para waria agar menjadi orang yang normal, dengan menyertakan para psikolog.

b. Departemen Dalam Negeri RI dan instansi terkait lainnya untuk membubarkan organisasi waria.

3. Surat keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan bila di kemudian hari terdapat kekeliruan dalam keputusan ini akan diadakan pembetulan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di: Jakarta

Pada tanggal: 1 Nopember 1997

Dewan Pimpinan

Majelis Ulama Indonesia

Ketua Komisi Fatwa MUI               Ketua Umum                         Sekretaris Umum

Prof. KH. Ibrahim Hosen         KH. Hasan Basri                  Drs. HA. Nazri Adlani

Kasus kontes waria di Aceh yang menipu dengan mengklaim telah mendapatkan izin dari Majelis Ulama yang sebutannya Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Banda Aceh itu adalah penipuan sekaligus pelecehan terhadap martabat ulama. Dan itu pada hakekatnya bukan hanya Ulama Aceh yang ditipu dan dilecehkan, namun adalah seluruh ulama terutama di Indonesia ini. Maka pantas saja kalau para Ulama di Aceh tersinggung berat dan bahkan berencana akan menuntut mereka. (nahimunkar.com)