• Media Islam hanya membela, ketika Islam dijadikan tertuduh
  • Media Islam, hendaknya jangan melemah, hanya karena tak tahan kritik dan upaya untuk menakuti-nakuti, apalagi sampai luntur dan berhenti ghirah keislamannya, akhirya membuat media Islam menjadi banci.
  • Media Islam yang tidak berani tegas, akan kehilangan kepercayaan (trust) dari pembacanya.

foto: metrotv

  • Statemen tokoh (yang membandingkan situs Islam –yang disebutnya radikal— dengan situs porno, red) itu adalah bentuk mencari muka, yang memanfaatkan momen.

foto: google

  • Para pengamat terorisme di televisi, agar hati-hati menjustifikasi soal celana ngatung , jenggot panjang, dan cadar, seolah berbahaya dan mengkhawatirkan. Koruptor di pengadilan saja, yang sehari-hari tidak pernah pakai cadar, seperti Yulianis, menutupi wajahnya dengan cadar. Di TV One, Prof Sarlito membuat kesalahan besar, dengan menjustifikasi jenggot panjang dan celana ngatung sebagai ideologi berbahaya.
  • Itu dikarenakan ada kaitan dengan proyek mereka di bidang riset, re-edukasi,  dan deradikalisasi yang didanai. Biasanya, kalau sudah bicara proyek, analisanya kadang menjadi tidak objektif.

***

Jakarta– Bicara soal media Islam, Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF), Mustofa B. Nahrawardayayang juga mantan wartawan senior Jawa Pos menilai, media islam memiliki ciri khas tersendiri, dalam menyuarakan pesan-pesan Islam. Itulah sebabnya, media Islam memiliki tanggungjawab besar yang memiliki bukti otentik berupa teks yang bisa dibaca orang kapan saja.

“Media Islam yang tidak konsisten, tentu saja akan dijauhi pembacanya. Sedangkan, pembaca media islam bukan hanya dibaca oleh orang Islam saja, tapi siapa saja. Tapi bagi saya, apapun yang terjadi, prinsip harus dipegang.  Situs Islam,  seperti Voa-Islam dan ar-Rahmah tentu punya prinsip, sehingga ada yang menilai situs tersebut dianggap terlalu keras membela Islam dan para terorisme. Tapi itu, kan anggapan orang luar saja,” kata Mustofa.

Apapun yang terjadi, lanjut Mustofa, media Islam harus teguh memegang prinsip. Tidak boleh terganggu oleh suara-suara miring dari pihak luar. Dalam dakwah itu, itu biasa. “Tentu, dakwah di zaman Rasul dengan sekarang berbeda. Di masa  Rasulullah, yang mendakwahkan Islam akan dilempar kotoran hewan, tapi sekarang bukan lagi kotoran hewan, tapi yang dilempar adalah isu-isu miring,” ujarnya.

Tak dipungkiri, media-media Islam yang tidak ikut mendukung kampanye pemerintah, akan dicap melawan pemerintah. Begitu juga, media Islam yang tidak mendukung program pemberantasan terorisme, akan dianggap pro terhadap terorisme. Ini sebuah dilema dan persepsi yang salah.

Menurut Mustofa, menjadi lucu ketika media Islam tidak menoleh dan membela kepentingan Islam. Memang, jika dibandingkan dengan media umum, karakter media Islam lebih mengetahui persoalan, jika menyangkut keislaman. Maka sudah sepantasnya lah media yang mengetahui soal islam itu menyuarakan kepentingan Islam.

Dikatakan Mustofa, sudah pasti berbeda, jika membandingkan media Islam dengan media umum. Adapun media umum itu hanya memberitakan fakta apa yang dilihat (snapshoot). Sedangkan media Islam  mengupas dibalik semua peristiwa dan fakta itu. Jadi, tidak sekedar memberitakan fakta. “Media Islam memang punya karakter tersendiri ketimbang media umum. Karena, media Islam harus membela jika menyangkut kepentingan Islam.”

Media Islam yang hanya memberitakan fakta adalah kesalahan besar. Karena fakta itu bisa dibuat. Termasuk, bom bisa dibuat oleh siapapun. Tidak harus pelaku bom, karena pelaku bom belum tentu sadar bahwa dia mengebom.

Yang harus diperhatikan media Islam adalah, jika hanya menyampaikan fakta semata, tidak mengupas apa dibalik fakta, itu namanya tidak tabayyun. Karena itu  ada istilah cross check (tabayyun), dimana sebuah fakta harus dicari pembandingnya. Setidaknya harus menjawab pertanyaan kritis, apa benar ini tindakan terorisme, apa benar ini bom bunuh diri, apa benar ini fakta sesungguhnya? Inilah yang disebut sebagai perimbangan atau keseimbangan.

Tapi lagi-lagi, keseimbangan antara media Islam dengan media umum itu juga berbeda. Media umum tidak akan mengurai dibalik fakta sedetil media Islam. Itu karena, media umum tidak didorong oleh tabayyun sebagai bentuk ibadah. Sedangkan media Islam, tabayyun itu merupakan bagian dalam kerangka ibadah.

Ghirah keislaman dari media Islam adalah nilai plus, ketika media umum tidak memiliki beban apa-apa, kecuali hanya semangat bekerja saja dengan orientasi hasil. Secara profit, media Islam belum tentu meraih keuntungan, tapi secara syar’I, media Islam membawa pesan-pesan ibadah.

Istilah Teroris

Saat ini, para jurnalis muslim memang belum memiliki panduan menulis tentang peliputan kasus terorisme. Sehingga acapkali terjadi kesalahpahaman dan dilema, ketika melaporkannya dalam sebuah berita. Sebagai contoh, istilah teroris menjadi diskusi panjang para jurnalis muslim.

“Memang yang mengeluarkan istilah teroris adalah pemerintah. Ini berkaitan dengan tindak pidana UU Terorisme. Dalam hal ini, pemerintah mengekor dengan keinginan pemerintah AS sejak tahun 2001.”

Dikatakan Mustofa, media Islam boleh saja menyebut teroris dalam “tanda petik”. Terpenting, di dalam badan berita itu harus menjelaskan. Sebagai ide, kenapa tidak, jika media Islam mencoba merekonstruksi istilah terorisme menurut kacamata redaksi masing-masing.

“Bisa saja mengundang pimpinan media umum untuk berdiskusi. Dalam diskusi itu, bisa dibahas soal  istilah terorsime, kelompok bersenjata, makar dan sebagainya. Barangkali, sesama jurnalis bisa menyatukan persepsi, untuk menghindari terjadinya fitnah. Mengingat pemaksaan kata-kata teroris, dapat  menyebabkan timbulnya fitnah yang menyakitkan.”

Menurut Mustofa, media Islam punya hak dan kewenangan, untuk memilih narasumber, tergantung ciri khas medianya. Terbukti setiap media tidak sama dalam memilih narasumbernya. Memang, seyogianya, media Islam memilih narasumbernya, dan kalo bisa menghindari narasumber yang tidak sesuai dengan visi-misnya.

Jika tidak ada pilihan, seperti jumpa pers, pengamat yang pro pemerintah (BNPT) ikuti saja, tapi harus dicari pendapat lain, atau ada pengimbangan. Media Islam hendaknya tidak mentah-mentah menelan informasi atau pendapat dari satu pihak. Ada baiknya, membagi porsi saja, misalnya pendapat pro BNPT 20%, sedangkan pendapat lain 80%. Intinya, media islam, harus pintar-pintar memilih narasumber.

Mustofa berharap, kita bersikap arif dalam menyikapi kasus terorisme. Bagaimanapun, semua pihak, termasuk media Islam dipastikan tidak akan menyetujui aksi pengeboman. Media Islam hanya membela, ketika Islam menjadi tertuduh.

“Media Islam yang mengutip pendapat ormas maupun tokoh Islam atas ketidaksetujuan dari tindakan pengeboman, tidak perlu dipersoalkan. Tidak apa-apa, jika yang disikapi aksi  bomnya, tapi bukan mengutuk agamanya. Media Islam yang memegang prinsip, dipastikan banyak tantangan dan musuhnya. Itu sudah wajar. Hal itu sekaligus untuk menguji media Islam, apakah tumbang sampai di situ, atau akan tetap menjalankan visi misinya atau istiqomah?” tandas Mustofa.

Media Islam, hendaknya jangan melemah, hanya karena tak tahan kritik dan upaya untuk menakuti-nakuti, apalagi sampai luntur dan berhenti ghirah keislamannya, akhirya membuat media Islam menjadi banci. Media Islam yang tidak berani tegas, akan kehilangan kepercayaan (trust) dari pembacanya.

Ketika disinggung soal adanya pihak-pihak tertentu yang menginginkan situs-situs Islam yang diangggap radikal, Mustofa menolak dan menentang desakan itu. “Saya sangat menentang, ketika Menkoinfo berkeinginan untuk menutup situs-situs jihad dan sebagainya, meski akhirnya tidak terjadi. Harus diakui, akan sulit dibedakan, mana situs jihad, radikal, terorisme dan kekerasan. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan dengan memberi stigma kepada situs-situs Islam.”

Statemen Said Agil Keliru

Bagi Mustofa yang pernah juga wartawan senior, menilai situs Voa-Islam dan Arrahmah itu sebagai situs yang biasa-biasa saja. Kalau arrahmah atau Voa-Islam dianggap sebagai situs radikal, setiap orang yang membaca situs tersebut  pasti besoknya akan ngebom. Tapi ini kan tidak. Voa-Islam maupun Arrahmah tidak pernah menyuruh siapapun untuk melakukan pengeboman. “Saya pernah istri saya buka situs voa Islam dan ar Rahmah. Komentar istri saya, situs itu biasa-biasa saja, tidak ada keingianan untuk ngebom.”

Sangat aneh, ketika situs Ar Rahmah dan Voa Islam disamakan dengan situs porno, seperti dikatakan Ketua Umum PBNU Said Agil Siradj.  Bagaimanapun kedua situs Islam itu berangkat dari hal yang suci, sedangkan situs porno berangkat dari kejahatan.

Ucapan Said Agil Siraj tidak tepat?

“Jelas, sangat tidak tepat dan keliru. Saya sangat menentang sekali pendapat itu. Nanti, saya akan merealese ucapan-ucapan para pejabat dan tokoh agama yang begitu mudahnya menjustifikasi. Saya kira statemen tokoh  itu adalah bentuk mencari muka, yang memanfaatkan momen.”

Berkali-kali Mustofa mengingatkan para pengamat terorisme di televisi, agar hati-hati menjustifikasi soal celana ngatung , jenggot panjang, dan cadar, seolah berbahaya dan mengkhawatirkan. “Koruptor di pengadilan saja, yang sehari-hari tidak pernah pake cadar, seperti Yulianis, menutupi wajahnya dengan cadar. Di TV One, saya menilai Prof Sarlito membuat kesalahan besar, dengan menjustifikasi jenggot panjang dan celana ngatung sebagai ideologi berbahaya.

Ketika diatanya, apakah mereka Islamphobi? “Mereka hanya tidak paham. Posisi pengamat yang keliru itu, dikarenakan ada kaitan dengan proyek mereka di bidang riset, re-edukasi,  dan deradikalisasi yang pendanaannya diperoleh dari pemerintah. Biasanya, kalau sudah bicara proyek, analisanya kadang menjadi tidak objektif.”(Desatian) Jum’at, 07 Oct 2011  (voa-islam)

(nahimunkar.com)