Indonesia Tega, Anak-anak pun Diseret ke Pornografi?!

Tayangan televisi kita memang sudah sering dinilai sarat pornografi. Bahkan di bulan Ramadhan sekalipun. Dalam bulan Ramadhan tahun lalu, misalnya, Depkominfo pernah membeberkan, terdapat sejumlah 114 adegan per hari yang ditayangkan tv swasta kita berisi adegan-adegan porno ataupun mistik. Padahal itu di bulan Ramadhan. (http://berita8.com/news.php?tgl=2008-09-13&cat=2&id=4389)

Menurut catatan Masnah, pada tahun 2006 didapati seorang murid kelas enam SD hamil akibat diperkosa kerabatnya sendiri yang seumuran. Di tempat lain, tiga remaja di Ambon yang masih berusia di bawah 15 tahun, terpaksa divonis 4-10 bulan penjara karena telah memperkosa anak usia lima tahun. Kejadian tragis itu menurut Masnah, dipicu oleh makin tidak terkontrolnya tayangan, gambar, dan produk-produk pornografi lain yang beredar dan kemudian ditonton oleh anak-anak sejak usia dini.

Di tahun 2009, kualitas pornografi yang berkaitan dengan anak-nak semakin meningkat. Menurut Roy Suryo, pakar telematika, di Indonesia penyebaran video porno anak semakin merebak. Dalam satu pekan, menurut cacatan Roy, terbit empat video porno anak yang paling baru.

DALAM kaitan dengan pornografi, anak-anak sebenarnya sudah sering menjadi korban orang yang mau enak sendiri sehinga pura-pura tidak bisa membedakan antara seni dan pornogafi. Melalui tayangan iklan, foto-foto yang katanya artistik, tabloid dan majalah dewasa yang dipajang di tempat penjualan koran kaki lima, berbagai acara teve, dan sebagainya.

Bukan cuma itu, di tahun 2008 pernah ditemukan materi pornografi di dalam VCD anak-anak. Hal ini terjadi di Solo, Jawa Tengah. Andrea, siswa kelas 5 sebuah sekolah dasar di Solo, memang gemar menonton aksi Power Rangers (film dengan pelaku pakai topeng). Oleh karena itu, suatu hari ia membeli VCD Power Rangers di salah satu pertokoan (mall) di bilangan jalan Slamet Riyadi. Andrea ketika itu ditemani ibunya, Margaretha.

Sepulang dari sana, Andrea pun menonton VCD yang baru dibelinya dengan harga Rp 9.000 itu. Tanpa dinyana, pada menit ke 10 dari VCD tersebut terselip adegan film porno yang sangat vulgar dengan durasi sekitar 15 menit. Andrea shock. Ia nyaris tidak mampu berkata-kata. (http://www.indosiar.com/fokus/68232/video-anak-diselipi-adegan-porno)

Kemajuan teknologi informatika seperti internet dengan situs pornonya, telah membuat anak-anak di bawah umur sudah kenal pornografi sejak dini. Menurut pengalaman Nery, pengelola warnet Bahri di Jalan Ulin Samarinda, Kalimantan Timur, sebagian besar siswa Sekolah Dasar (SD) yang datang ke warnet untuk membuka situs porno.

Sebagai pengelola Warnet, Nery sudah megupayakan untuk memblokir situs-situs porno melalui servernya. Namun ada situs-situs tertentu yang ia tidak ketahui tetapi pengunjung sudah lebih tahu.

Pengalaman yang hampir sama juga terjadi pada Ruli, pengelola warnet Cendana, di Samarinda. Menurut Ruli, pengunjung yang sering membuka situs porno didominasi siswa SD dan SMP; sedangkan siswa SMA yang mengunjungi warnetnya, kebanyakan buka friendster. (http://balitasayang.wordpress.com/2009/01/28/situs-porno-banyak-diakses-pelajar-sd/)

Ada yang lebih parah lagi, yaitu anak-anak dijadikan model bagi jutaan situs porno. Menurut Masnah Sari dari KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), dari sekitar 4,2 juta website porno yang beredar di seluruh dunia, sebanyak 100.000 website diantaranya menjadikan anak-anak berusia di bawah 18 tahun sebagai modelnya. Yang lebih memprihatinkan, sebagian besar diantaranya ditengarai adalah anak-anak Indonesia. Data yang dikutip Masnah tersebut merupakan hasil survey di tahun 2006 yang diselenggarakan oleh To Ten Review.

Gambar-gambar yang ditampilkan dalam website dengan model anak-anak itu, tidak hanya mempertontonkan sosok anak-anak dalam keadaan telanjang, tetapi sejumlah gambar di antaranya menyuguhkan adegan hubungan seksual antara orang dewasa dengan anak-anak (paedofilia).

Anak-anak dari kalangan usia sekolah dasar mudah dijerumuskan menjadi objek pornografi atau korban pedofilia. Cukup bermodalkan sejumput permen dan sedikit uang, anak-anak itu sudah bisa digarap. Hal ini banyak terjadi di Bali, Jakarta dan Tangerang. Bahkan, menurut Masnah, kalangan anak-anak tertentu kini dengan mudah menjalankan perilaku seksual layaknya orang dewasa atas kemauan sendiri, dengan menjadikan teman sekolah, teman bermain dan sebagainya sebagai partner seksnya.

Menurut catatan Masnah, pada tahun 2006 didapati seorang murid kelas enam SD hamil akibat diperkosa kerabatnya sendiri yang seumuran. Di tempat lain, tiga remaja di Ambon yang masih berusia di bawah 15 tahun, terpaksa divonis 4-10 bulan penjara karena telah memperkosa anak usia lima tahun. Kejadian tragis itu menurut Masnah, dipicu oleh makin tidak terkontrolnya tayangan, gambar, dan produk-produk pornografi lain yang beredar dan kemudian ditonton oleh anak-anak sejak usia dini.

Yayasan Kita dan Buah Hati sepanjang Januari-Desember 2007 pernah melakukan sebuah survei terhadap 1.705 siswa kelas 4, 5, dan 6 se-Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi). Hasilnya, media terbanyak yang dipakai untuk mengakses pornografi adalah games, disusul berikutnya komik, film/televisi, dan situs-situs di internet. (http://www.chip.co.id/internet-networking/100.000-website-porno-memakai-model-anak-anak.html)

Tayangan televisi kita memang sudah sering dinilai sarat pornografi. Bahkan di bulan Ramadhan sekalipun. Dalam bulan Ramadhan tahun lalu, misalnya, Depkominfo pernah membeberkan, terdapat sejumlah 114 adegan perhari yang ditayangkan tv swasta kita berisi adegan-adegan porno atau mistik. Padahal itu di bulan Ramadhan. (http://berita8.com/news.php?tgl=2008-09-13&cat=2&id=4389)

Di tahun 2008, Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH) pernah melakukan survei terhadap 1625 siswa kelas IV-VI SD di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Mereka menemukan data, sekitar 66 persen anak-anak usia 9-12 tahun telah menyaksikan materi pornografi, dari komik (24%), games (18%), situs porno (16%), film (14%) dan sisanya dari VCD/DVD, ponsel, majalah dan koran.

Sekitar 27 persen dari mereka, memperoleh materi pornografi tanpa sengaja (berawal dari iseng-iseng), sedangkan yang terpengaruh teman sekitar 10 persen. Dapat diartikan, materi pornografi sudah sedemikian tersedia, sehingga tanpa sengaja pun materi itu bisa dengan mudah diperoleh. Ironisnya lagi, sekitar 36 persen dari mereka, menikmati materi pornografi di rumah (kamar pribadi), sedangkan di rumah teman hanya 12 persen. Ini bisa diartikan, rumah telah menjadi tempat pertama bagi mereka memperoleh materi pornografi.

Penyebaran Pornografi Makin Merebak

Di tahun 2009, kualitas pornografi yang berkaitan dengan anak-nak semakin meningkat. Menurut Roy Suryo, pakar telematika, di Indonesia penyebaran video porno anak semakin merebak. Dalam satu pekan, menurut cacatan Roy, terbit empat video porno anak yang paling baru.

Fakta itu pernah diungkap Roy ketika menjadi saksi ahli di PN Serang, Banten, untuk memeriksa keabsahan gambar tarian striptease (telanjang) di ponsel yang dilakukan dua gadis SMP asal Kabupaten Lebak dan Cilegon. Keduanya merupakan penari striptease di sebuah tempat hiburan di kota itu.

Sekitar Januari 2009, kota Cilegon digegerkan oleh beredarnya video tarian telanjang yang dilakukan dua bar girl sebuah tempat hiburan, yang direkam oleh dua pria dewasa. Kedua pria dewasa itu bisa merekam adegan tari telanjang di atas meja karaoke itu, berkat bantuan seorang germo di tempat hiburan tersebut. Video berdurasi 1 menit 8 detik itu sempat beredar dari ponsel ke ponsel milik sejumlah warga Cilegon, sebelum akhirnya bermuara ke kantor polisi.

Dalam tayangan video tersebut, dua anak belasan tahun (usia mereka antara 15-16 tahun), menari telanjang tanpa sehelai benang, di atas meja pada sebuah ruangan. Keduanya menari bugil sambil diiringi alunan nada house music. Menurut informasi, kedua anak belasan itu merupakan warga Pandeglang yang nekad melakukan aksi tarian bugil seperti itu karena dibayar oleh dua orang lelaki tak dikenal yang menjadi pelanggan tempat hiburan tadi. Kejadian itu berlangsung sekitar pertengahan Januari 2009 lalu. Dan kedua penari telanjang tadi dibayar masing-masing sebesar Rp 500 ribu.

Kedua penari bugil itu dijerat pasal 34 Undang-undang RI No. 44 tahun 2008 tentang Pornografi, sedangkan sang germo dijerat pasal 34 Undang-undang RI No. 44 tahun 2008 tentang Pornografi Jo pasal 88 Undang-undang RI No: 23/2002 tentang Perlindungan Anak.

Meski sudah ada Undang-undang Pornografi dan sebagainya, keberanian sejumlah orang menjadikan pornografi dan pornoaksi sebagai komoditas, boleh jadi karena selama ini mereka –para pelaku porografi dan pornoaksi– telah terbiasa berada dalam kondisi yang kondusif untuk menjajakan pornografi dan pornoaksi. Dengan demikian, yang diperlukan adalah sikap konsisten aparat penegak hukum di dalam memerangi pornografi dan pornoaksi, tanpa pandang bulu, siapapun pelakunya harus diproses melalui koridor hukum yang semestinya.

***

Pornografi dan pornoaksi telah merusak jutaan manusia, bahkan kelompok usia anak-anak pun jadi sasaran empuk. Secara kenyataan, kerusakan akibat meruyaknya pornografi dan pornoaksi kian hari kian bertambah. Sementara itu, penanganannya belum tampak sungguh-sungguh. Tidak seserius ketika menangani aksi terorisme. Padahal, jutaan manusia termasuk anak-anak telah menjadi korban. Jumlah korban pornografi dan pornoaksi, jauh lebih banyak dari korban terorisme.

Coba mari kita berfikir sejenak, kita buat perbandingan. Betapa jauhnya bila yang jadi korban itu bangunan fisik, seperti gedung atau hotel yang hanya rusak sebagian, sebagian mungkin hangus, namun tidak sampai roboh. Dan korban fisik berupa manusia (korban luka-luka) juga hanya sedikit. Tidak sampai ratusan apalagi jutaan. Namun, dalam penanganannya betapa serunya dalam mengerahkan tenaga untuk menguber dan membunuh seseorang atau sekelompok orang yang diduga sebagai pelakunya. Sampai-sampai ketika berhasil membunuh seseorang yang belum jelas identitasnya, puji-pujian sudah datang berhamburan.

Ungkapan ini sama sekali bukan mencela upaya gigih itu. Ini hanya sebagai perbandingan secara naluri akal sehat, karena begitu njomplangnya (tidak seimbangnya) dalam bersikap dan bertindak saat menghadapi perusakan bangsa.

Kenyataannya, selama ini kita tidak pernah mendengar atau menyaksikan sekelompok orang pelaku pornografi dan pornoaksi digrebek, dikepung, kemudian dihujani tembakan. Begitu juga dengan produsen narkoba dan antek-anteknya, tidak pernah disikapi sebagaimana pelaku terorisme. Padahal, terbukti korban yang mereka hasilkan jauh lebih besar, daya rusaknya pun jauh lebih dalam dan luas. Namun tidak kasat mata.

Dalam kasus terorisme pun, bila korbannya adalah pribumi Indonesia, apalagi bila pribumi itu adalah muslim, maka respon aparat dan masyarakat dunia tidak terlalu heboh. Perhatikan saja perbedaan antara Bom Bali pertama dan Bom Bali kedua. Respon masyarakat saat memperingati tragedi Bom Bali pertama lebih semarak dibanding Bom Bali kedua. Mungkin karena jumlah korban tewas yang terjadi pada tragedi Bom Bali Kedua ‘hanya’ 20 orang, itu pun sebagian besar orang Indonesia sendiri. Namun demikian, masih mending bila dibandingkan dengan kasus lain yang korbannya seratus persen orang Indonesia (mayoritasnya Muslim), sebagaimana terjadi pada kasus pembantaian di Tobelo (Desember 1999-Januari 2000), dan pembantaian di Pesantren Walisongo yang terjadi pada 28 Mei 2000 (lihat tulisan berjudul Memperingati Tragedi Bom Bali, Pembantaian Muslimin di Tobelo-Galela dan Pesantren Walisongo di nahimunkar.com edisi October 19, 2008 10:27 pm).

Kasus Tobelo (Halmahera) terjadi pada 27 Desember 1999, saat warga desa sedang menjalankan ibadah puasa. Tanpa diduga sebelumnya, ribuan masa kristen yang berasal dari desa tetangga (antara lain, Telaga Paca, Tobe, Tomaholu, Yaro, dan lain-lain) menyerang desa Togoliwa di saat subuh. Akibat serangan mendadak tersebut ribuan warga muslim di desa tersebut menemui ajal. Kebanyakan dari mereka terbunuh saat berlindung di masjid. (Ambon, Laskarjihad.or.id 16 03 2001).

Rabu, 29 Desember 1999, di Mesjid Al Ikhlas (Kompleks Pam) tempat diungsikanya para ibu dan anak-anak, terjadi pembantaian terhadap sekitar 400 (empat ratus) jiwa. Menurut penuturan saksi mata, ada korban yang sempat jatuh dicincang dan dijejerkan kepala mereka di ruas jalan. Ada juga beberapa wanita yang dibawa ke Desa Tobe (sekitar 9 KM ) dari Desa Togoliwa, kemudian dikembalikan dalam keadaan telanjang. Modus operasi yang dilakukan oleh kelompok merah mula-mula melakukan pemboman kemudian dilanjutkan dengan pembakaran, sehingga tidak ada satu pun yang lolos dari sasaran mereka.

Menurut sebuah sumber, total korban di Tobelo dan Galela mencapai 3000 jiwa, 2800 di antaranya Muslim. Namun demikian, angka yang diakui Max Marcus Tamaela yang kala itu menjabat sebagai Pangdam Pattimura adalah 771 jiwa.

Sedangkan tragedi pembantaian terhadap ratusan warga Pesantren Walisongo, terjadi pada hari Minggu tanggal 28 Mei 2000. Tragedi ini merupakan rangkaian dari kekejaman serial yang terjadi di Poso yang sudah terjadi sejak 25 Desember 1998 (di saat-saat umat Islam sedang menjalankan ibadah Shaum Ramadhan 1419 H).

Menurut laporan hidayatullah.com ketika itu puluhan warga Pesantren Walisongo dibariskan menghadap Sungai Poso. Mereka dihimpun dalam beberapa kelompok yang saling terikat: ada yang bertiga, berlima, berenam atau berdelapan orang per kelompok. Para pemuda digabungkan dengan pemuda dalam satu kelompok. Tangan mereka semua terikat ke belakang dengan kabel, ijuk, atau tali rafiah yang satu dengan lainnya saling ditautkan. Sebuah aba-aba memerintahkan agar mereka membungkuk. Secepat kilat pedang yang dipegang para algojo haus darah itu memenggal tengkuk mereka. Bersamaan dengan itu, terdengar teriakan takbir. Ada yang kepalanya langsung terlepas, ada pula yang setengah terlepas. Ada yang anggota badannya terpotong, ada pula badannya terbelah. Darah segar pun muncrat. Seketika itu pula tubuh-tubuh yang tidak berdosa itu berjatuhan ke sungai. Demikian laporan hidayatullah.com tentang tragedi pembantaian di Pesantren Walisongo.

Dengan pemandangan yang njomplang seperti itu, yakni kalau tindakan merusak itu merusak jiwa manusia sampai sehancur-hancurnya pun, seperti meracuni dengan pornografi-pornoaksi hingga menghancurkan manusia sampai tingkat anak-anak sekalipun, bahkan jumlahnya sampai berjuta-juta pun, maka tidak ada greget untuk memberantasnya, kecuali ala kadarnya. Bahkan terkesan bukan merupakan pekerjaan yang perlu dikerjakan. Misalnya ketika aparat merazia tempat kos-kosan, kemudian berhasil memergoki sekian banyak pasangan yang tertangkap basah sedang melakukan perzinaan, pelakunya dilepas begitu saja tanpa banyak persoalan. Yang diberitakan justru bahwa razia itu dilakukan dalam rangka memberantas penyalahgunaan narkoba, atau menertibkan KTP (kartu tanda penduduk), misalnya. Weleh, weleeh… seakan-akan tidak punya atau belum memegang KTP lebih berdosa dibandng zina dan merusak moral anak manusia?

Lebih dari itu, justru rusaknya moral sebagian orang-orang yang sebenarnya di pundak mereka sebagai orang yang bertanggung jawab tentang moral, seringkali lebih parah. Sehingga walaupun Undang-undang pornografi telah disahkan, namun justru pornografi dan pornoaksi kian merajalela dan merusak masyarakat.

Ketika keadaannya seperti itu, bila tidak ada perbaikan cara pandang dan kebijakan, maka dapat diperkirakan, memang Indonesia ini tega dan lego lilo (ridho) menyeret bangsanya sampai anak-anak sekalipun, ke jurang nista, maksiat, hancurnya moral, yang sangat dimurkai Allah Ta’ala. Itupun masih diliputi rasa bangga atas dosa dan pelanggaran itu, misalnya diadakanlah kontes ratu-ratuan, dan kemudian dikirimkanlah wanita untuk ikut kontes ratu-ratuan ke luar negeri dengan jelas-jelas mereka berlaga dengan telanjang. Ketika datang lagi ke Indonesia bukannya ditindak sebagai penghancur moral, tetapi dielu-elukan. Bah! Memang para pendukung program syetan telah merajalela!

Ketika keadaannya demikian, maka takutlah kepada janji dan ancaman Allah, wahai saudara-saudaraku:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللَّهِ .

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Apabila zina dan riba telah tampak nyata di suatu desa maka sungguh mereka telah menghalalkan adzab Allah untuk diri-diri mereka. (Hadits Riwayat Al-Hakim dengan menshahihkannya dan lafadh olehnya, At-Thabrani, dan Al-Baihaqi, dishahihkan oleh Al-Albani dan Adz-Dzahabi).

Mumpung sekarang masih ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan dan bertaubat, maka marilah kita perbaiki keadaan ini, dan bertaubat dari segala dosa serta tidak mengulanginya. Kasihanilah diri-diri kita dan anak-anak negeri ini, sebelum orang lain akan mencibir dengan ungkapan yang menyakitkan: kasihan deh Lu! Sudah utangnya makin menumpuk, moralnya pun hancur lagi. (haji/tede)