Sampul majalah New York

Obama adalah “Presiden Yahudi Pertama”. Itulah judul dari laporan utama majalah New York yang ditulis John Heilemann yang juga mengulas penggalang dana utama Obama.

Mendengarkan Obama berpidato di PBB pada Rabu (21/9 lalu) banyak orang yang akan mengangguk setuju, tak kurang Palestina dan Dunia Arab.

Presiden AS dinilai telah menerima posisi Israel yang gamblang menolak pengakuan internasional terhadap negara Palestina merdeka. Pasalnya itu bukanlah posisi Yahudi, melainkan keinginan radikal Zionist, demikian tulis kolumnis Al Jazeera, Marwan Bishara, mantan guru besar Hubungan Internasional di Universitas Amerika, Paris.

Satu yang perlu dicatat, tulis Marwan, Banyak orang Yahudi, termasuk AS dan Yahudi Israel tidak menerima pandangan ekstrimis macam itu. Namun faktanya, Obama justru melakukan langkah lebih jauh ketimbang pendahulunya.

George W Bush, pendukung Israel paling radikal di antara presiden AS, meninggalkan siapapun di Israel dalam situasi buntu. Namun presiden AS saat ini, Obama, masih menurut Marwan, terdengar seperti pendiri negara Israel itu sendiri.

Tidak pernah sebelumnya, seperti yang dilakukan Obama, terdengar Presiden AS membaca langsung naskah pidato dari pemerintah Israel.

Masih belum lama Obama melontarkan kata-katanya di Kairo, satu setengah tahun lalu mengenai perlunya Israel menghentikan pembangunan pemukiman ilegal di Palestina. Banyak orang menunggu bahwa ia akan menggaris bawahi dan menekankan itu, tidak melemahkan ucapannya.

Obama pula, tulis Marwan, yang memproyeksikan (Marwan memandang sebagai janji) pada akhir September tahun lalu bahwa negara Palestina akan terbentuk dalam hitungan setahun, yang berarti pekan ini. Ironisnya pernyataan itu ia lontarkan di podium yang sama di mana ia memastikan akan memveto langkah Palestina di Dewan Keamanan PBB.

Orang berharap bahwa ia akan menggaris bawahi–sekali lagi tidak melemahkan–retorikanya tentang kebebasan di wilayah Arab. Alih-alih, tulis Marwan, Obama menyepelekan dan menyabotase sendiri seluruh slogan yang ia usung saat kampanye presiden ‘change we can believe in”.

Yang terburuk, narasinya saat berpidato diinspirasi oleh propaganda resmi Israel. Bahkan sebagian besar dari itu disalin dari naskah-naskah mereka (Yahudi)

Obama, tulis Marwan, berbicara berdasar ‘fakta’ sejarah yang sebagian telah ditolak bahkan oleh sejarawan Israel dan kebenaran yang telah lama diakui sebagai intepretasi sepihak.

Obama, lanjut Marwan, mengklaim bahwa Arab meluncurkan perang terhadap Israel. Padahal, fakta aktual mencatat Israel adalah si agresor yang meluncurkan perang pada 1956, 1967, 1982, 2006 dan 2008. Hanya pada 1973 perang diluncurkan dari pihak Arab, namun untuk merebut kembali wilayah yang dijajar setelah AS dan Israel menolak skema damai yang disodorkan Anwar Sadat.

Ia menggarisbawahi bahwa kerja Israel dalam menempa sebuah negara yang sukses sebagai ‘tanah kelahiran bersejarah’ harus dihormati. Bila demikian, tulis Marwan, apa beda dengan Serbia yang meyakini bahwa Kosovo adalah tanah kelahiran sekaligus bangsa mereka. Apakah itu berarti Serbia dibolehkan untuk membentuk negara mereka, negara Serbia yang eksklusif di atas teritori itu?

Pertanyaan retoris disodorkan oleh Marwan, “Haruskan setiap orang yang ditindas, negara yang dijajah mencari akomodasi dari penjajahnya dengan komunitas internsional. Haruskan seluruh orang yang tinggal dalam penindasan hidup dalam penjajahan hingga si penjajah puas dengan kondisi penyerahan mereka?”

Itu politik bodoh

Setiap komentator, tulis Marwan, pasti sudah mengingatkan untuk tak terlalu berharap banyak dari AS dan Israel dalam tahun-tahun pemilu.

Heilemann dari New York, mengilustrasikan karir Obama dalam artikelnya, dibangun atas hubungan dengan kontributor Yahudi yang dermawan di Chicago. Karena dia pulalah banyak uang mengalir ke kantong Partai Demokrat selama beberapa dekade yang mengantarkan Obama menjadi Presiden.

Pria itu pun, Rahm Emmanuel, sempat menjadi Kepala Staff di Gedung Putih. Kini ia menjadi walikota Chicago. Satu catatan, Ayah Rahm adalah tokoh pendiri IDF (Pasukan Pertahanan Israel) di Israel

Bukan hanya uang, tetapi juga dukungan krusial di Kongres. Lobi-lobi Israel dan juga AIPAC, bisa membuat hidup presiden menderita dalam beberapa tahun ke depan.

“Semua itu bisa dimengerti. Namun yang saya tak habis pikir, mengapa AS dengan bodoh menerima  nya sebagai fait accompli,” tulisnya di Al Jazeera. “Semua itu alami dalam politik! yang anda lakukan ambil atau tinggalkan!”

“Dalam kasus ini, paling tidak sebut jantung hitam adalah jantung hitam, di luar pemerintahan AS, itu bukan lagi Zionis atau Yahudi, melainkan munafik,” tulis Marwan.

Di akhir kolom Marwan menegaskan, “Mereka berbicara keadilan tetapi mengejar kebijakan tak adil, berbicara penindasan tapi mengutamakan kepentingan dengan cara apa pun. Mereka mengkhotbahkan kebebasan tetapi mendukung penindasan, menyoal hak asasi manusia namun bersikeras mempercayai srigala, dan srigala itu ditempatkan di kandang ayam.”

Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari

Jumat, 23 September 2011 13:51 WIB

republika.co.id

(nahimunkar.com)