Inna Lillahi… Ghazali Ditembak Densus 88 Saat Salat Magrib

“Ghazali tetap melanjutkan shalatnya. Namun tim Densus 88 langsung menyeret dan membawanya pergi dengan sangat tidak manusiawi. Padahal dalam penyergapan itu sama sekali tidak ada perlawanan.”

MEDAN – Khairul Ghazali adalah salah satu terduga teroris yang disergap di Tanjung Balai, Sumatera Utara. Menurut adiknya, Ghazali ditembak oleh tim Densus 88 Mabes Polri saat tengah melaksanakan salat.

“Waktu itu, dia (Ghazali) sedang salat Magrib dan langsung dilakukan penyergapan oleh Densus. Inikan tidak benar. Densus itu sudah tidak manusiawi,” ungkap Adil Akhyar, adik Ghazali, di Medan, Sabtu (25/9/2010).

Adil sendiri mengetahui hal tersebut dari kakak iparnya, Kartini Panggabean yang ikut ditangkap oleh tim Densus dan masih ditahan di Maspolresta Tanjung Balai bersama anaknya hingga saat ini.

Ghazali, kata Adil, saat itu sedang salat berjamaah. Mereka terkejut karena langsung diberondong senjata. Dua dari tiga jamaah langsung tewas di tempat akibat tertembak. Sedangkan seorang lagi berhasil melompat dari dapur dan kabur melarikan diri.

Sedangkan Ghazali tetap melanjutkan shalatnya. Namun tim Densus 88 langsung menyeret dan membawanya pergi dengan sangat tidak manusiawi. Padahal dalam penyergapan itu sama sekali tidak ada perlawanan.

Namun, tim Densus 88 tetap melepaskan tembakan membabibuta selama hampir 30 menit.

Sementara itu, Kartini hanya bisa histeris melihat suaminya dibawa oleh puluhan orang yang kemudian diketahui merupakan tim Densus 88. Setelah suaminya dibawa, tak lama kemudian datang beberapa petugas yang mengaku dari Mapolresta Tanjung Balai. Mereka membawa Kartini bersama anaknya yang masih kecil dengan alasan pengamanan.

Karena itulah, Adil menilai operasi penyergapan tersebut sebagai sebuah tindakan yang sangat tidak manusiawi. Tim Densus 88 menangkap abangnya tanpa ada rasa kasihan dan unsur kemanusiaan.

Adil mewakili pihak keluarga mengaku sudah melaporkan hal ini kepada Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan untuk meminta perlindungan dan bantuan hukum bagi Ghazali.
(ded)(okezone)
lintasberita.com Saturday, September 25, 2010

Kompas – Senin, 27 September

“Suami Saya Ditendang Saat Salat”

MEDAN, KOMPAS.com – Tindakan polisi dalam menangkap para tersangka teroris seringkali jadi keluhan keluarganya. Kali ini, giliran istri tersangka Khairul Ghozali yang bersaksi soal kengeriannya ketika aparat menangkap suaminya.

Kesaksian dengan cara bertutur langsung di bawah bersumber dari tim kuasa hukum Khairul Ghozali; yakni Adil Akhyar dan Ahmad Sofian SH MA (adik Khairul Ghozali), serta Dr Ikhwan (kakak Khairul Ghozali).

NAMA saya Kartini Panggabean, kelahiran 20 Februari 1980. Panggilan saya Cici, anak-anak memanggil saya Ummi. Saya adalah istri dari Ustadz Ghozali, anak-anak memanggilnya Buya, saya memanggilnya Bang Jali.

Saya tinggal bersama suami saya di di Jalan Bunga Tanjung Gang Sehat, dan empat anak kami (Umar Shiddiq, Raudah Atika Husna, dan Ahmad Yasin dan Fathurrahman).

Bang Jali lahir tahun 1963, tamat SD 1971. Kemudian bang Jali Masuk SMP Muhammadiyah di Sei Sikambing Medan. Bang Jali tidak tamat SMP, berhenti karena protes terhadap sekolah SMP di Indonesia memakai celana pendek (tidak menutup aurat). Secara otodidak Bang Jali belajar menulis.

Dia menjadi kolumnis tetap di beberapa surat kabar yang terbit di Medan.
Kemudian Bang Jali ke Malaysia selama 10 tahun. Aktif menjadi wartawan di majalah Islam.

Tahun 1996-2000 bang Jali pulang ke Indonesia menetap di Medan, dan membuka kursus komputer, kemudian ke Malaysia lagi pada tahun 2000-2004 bekerja sebagai penulis buku di beberapa penerbitan.

Sejak 2004-2010 menetap di Tanjungbalai sebagai penulis buku-buku agama yang produktif dan semua diterbitkan di Malaysia, lebih kurang 50 judul buku. Ada satu judul buku yang diterbitkan di Indonesia.

Selain menulis, Bang Jali juga berprofesi sebagai pengobat tradisional (bekam). Dan, Bang Jali juga mengisi pengajian.

Sejak satu bulan terakhir (bulan Agustus 2010), Bang Jali tidak pergi ke mana-mana, atas permintaan saya selaku Ummi anak-anak. Alasan saya karena saya sedang hamil tua, hari-hari menjelang persalinan sudah kian dekat. Saya meminta Bang Jali untuk menemani saya melahirkan.

Begitu pun, seingat saya Bang Jali sekali ada pergi ke Medan awal Agustus.
Itu pun karena menjenguk ibunya di salah satu rumah sakit di Medan. Saya melahirkan anak saya yang keempat pada tanggal 28 Agustus 2010 (usianya 3 minggu).

Sejak saya melahirkan bayi yang kami beri nama Fathurrrahman Ramadhan itu, Bang Jali juga tidak pergi kemana-mana, karena saya tidak ada teman di rumah.

Saat Maghrib, hari Minggu sekitar pukul 18.45 WIB menjelang Senin malam, tanggal 19 September 2010, saya bersama bayi saya, dua perempuan dewasa (istri Abu dan teman Deni), Buya, Dani, Deni, Alek, Abdullah dan 2 orang lagi anak tamu (salah satu dari dua perempuan dewasa).

Jadi, orang di dalam rumah ada 10 orang, terdiri dari 5 laki-laki dewasa, 3 perempuan dewasa, 3 anak-anak. Saat adzan Maghrib terdengar, Bang Jali bersiap-siap melaksanakan salat berjamaah.

Bang Jali, Deni, Deden, Alek, Abu mengambil wudhu. Saya bilang ke Bang Jali, “Buya bajunya diganti saja, basah kena air wudhu.” Saya berada di ruang tamu, menyusukan anak saya, Fathur.

Bersama saya, dua perempuan dewasa di dekat pintu depan rumah. Pintu rumah kami hanya di depan, rumah kami tidak ada pintu belakang. Saya memanggil ketiga anak untuk pulang ke rumah, karena sudah masuk waktu Maghrib.

Bang Jali dan empat temannya mulai melaksanakan shalat Maghrib berjamaah dengan Bang Jali sebagai imamnya. Mereka salat di ruang belakang dekat dapur.

Dani, usianya sekitar 25 tahun, adalah murid mengaji Bang Jali. Kerjanya sehari-hari menjahit gorden, dia tinggal di Tanjung Balai. Dani membawa dua orang temannya, Alek (30 tahun) dan Deni (20 tahun) ke rumah. Bang Jali sebelumnya tidak mengenal kedua orang itu.

Sejak saat itu, Deni dan Alek menginap di rumah. Tapi Dani tidak menginap di rumah. sedangkan Alek dan Deni saya tidak mengenalnya. Mengenai Abu, atau Abdullah (35 tahun), saya tidak jelas orang mana asalnya.

Jadi Deni dan Alek sudah menginap 2 minggu di rumah kami, kedatangan mereka ke Tanjungbalai karena rencana mau cari kerja, saat itu mau hari Hari Raya (Idul Fitri).

Bang Jali bilang ini sudah dekat Hari Raya, tidak mungkin ada kerjaan.
Tunggulah habis hari raya. Jadi mereka di rumah kerjanya hanya makan tidur.
Seingat saya selama ini tidak ada kegiatan yang mencurigakan.

Tiba-tiba sebuah mobil datang, terdengar suara dari luar ada orang
berteriak, “keluar!”

Saat itu ketiga anak saya masih bermain di rumah tetangga. Saya mau
memanggil anak-anak untuk pulang, saya pun berjalan menuju pintu depan rumah.

Saya menyuruh mereka masuk, tapi mereka tidak mau masuk, saya sempat melihat wajah mereka seperti ketakutan.

Saya terkejut karena pas saya di depan pintu saya lihat sudah turun dari mobil 30 orang bersenjata. Anak-anak saya diam tak bersuara. Densus 88 langsung saja menerobos masuk ke dalam rumah dengan bersenjata.

Mereka semuanya ada sekitar 30 orang membawa senjata. Mereka dari samping sebagian, masuk ke dalam rumah sebagian, sambil melepaskan tembakan.

Saya masih menggendong bayi saya, sementara dua perempuan dewasa dan
anak-anaknya ditodongkan senjata oleh Densus 88. Sepasang daun pintu rumah kami ditunjang (ditendang) sama Densus 88.

Tidak ada baku tembak, tidak ada perlawanan dari dalam rumah, karena Bang Jali sedang salat, sedang membaca surah Al-Qur’an sehabis membaca surah Al-Fatihah.

Tiba-tiba tiga makmum (Alek, Deni, dan Dani) keluar dari shaff (membatalkan salat mereka) karena mendengar suara ribut, tembakan, dan segera mengetahui datangnya orang-orang bersenjata. Alek, Dani, dan Deni lari menuju kamar mandi.

Alek keluar dengan membobol seng (atap) kamar mandi. Orang-orang yang sudah masuk rumah menembaki mereka. Deni dan Dani ditembaki secara membabi buta sewaktu mereka di depan kamar mandi.

Saya, dua perempuan dewasa yang bersama saya, bayi saya yang berumur 20 hari, dan anak tetangga yang balita itu menyaksikan kejadian tersebut. Jadi, dua orang ditembak di kamar mandi, satu orang lagi lari.

Bang Jali dan seorang makmumnya, Abu, masih tetap melanjutkan salat,
walaupun orang-orang bersenjata itu sudah masuk ke dalam rumah, di ruang belakang dekat dapur.

Bang Jali tetap melanjutkan membaca surah Al-Qur’an. Tapi orang-orang bersenjata itu langsung menarik paksa Bang Jali, salat Bang Jali dihentikan secara paksa. Buya ditunjangi (ditendang) saat salat, kemudian dipijak-pijak (diinjak-injak) hingga babak belur.

Saya kasihan melihat Bang Jali karena saat itu dia sedang sakit batuk. Bang Jali diseret sama Densus, Bang Jali tak henti-hentinya meneriakkan takbir, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Saya masih dalam todongan senjata bersama dua perempuan dan tiga anak-anak.
Kami langsung disuruh ke rumah tetangga sambil ditodong. Anak-anak saya yang lain dari tadi memang berada di situ.

Saya dan anak-anak saya bisa mengintip (melihat dari sela-sela atau lobang rumah) kejadian yang terjadi di rumah kami. Anak-anak saya berteriak-teriak tidak tak henti-hentinya. “Ummi, Ummi itu Buya, itu Buya.” Anak-anak memberitahu saya mereka melihat Buya mereka dipijak-pijak (diinjak-injak).
(Rahmad Nur Lubis)
http://id.news.yahoo.com/kmps/20100927/tid-suami-saya-ditendang-saat-salat-376aae3.html

LBH Medan: Penggerebekan Bang Jali Rekayasa dan Fitnah Densus 88

Medan (voa-islam.com) -Tindakan yang dilakukan Densus 88 terhadap Khairul Ghozali bersama 4 orang jemaahnya saat shalat maghrib di Jalan Besar Medan-Tanjung Balai Asahan, dinilai sebagai tindakan yang biadab tidak berperikemanusiaan.

Pernyataan tersebut ditegaskan Adil Akhyar Al Medani, didampingi putri kandung ustadz Ghozali, Rabbaniyah (17) di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan Jalan Hindu Medan.

Saat Rabbaniyah mengungkapkan kesedihannya, dia berharap agar Ustadz Ghozali dibebaskan. ‘’Saya ingin Buya cepat pulang. Buya nggak bersalah. Orang lain yang bersalah, kenapa Buya yang ditangkap,” ujar Rabaniah, putri kedua Ustadz Khairul Ghozali yang ditangkap Tim Densus 88 Antiteror di Tanjung Balai,  Minggu (19/9) lalu.

…‘’Saya ingin Buya cepat pulang. Buya nggak bersalah. Orang lain yang bersalah, kenapa Buya yang ditangkap,”…

Harapan itu disampaikan Rabaniah saat mengadu di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan, Jumat (24/9) kemarin. Gadis berusia 17 tahun yang kini duduk di SMU Muhammadiyah 18 Kampung Lalang Medan itu menambahkan, selama ini orangtuanya tidak pernah melakukan kegiatan-kegiatan yang mencurigakan seperti dituduhkan Densus 88 Antiteror.

“Kegiatan Buya setiap harinya menulis buku, ikut pengajian, sebagai tukang kusuk. Jadi saya tidak percaya kalau Buya teroris. Buya orang baik,”ungkap Rabaniah yang saat itu didampingi paman (adik Khairul Ghozali, red) Adil Akhyar SH. Kehadiran mereka ke LBH Medan untuk mencari kebenaran dan minta advokasi terkait ditangkapnya Khairul Ghozali.

Densus Lakukan Rekayasa dan Sebar Fitnah

Pada kesempatan itu, Adil Akhyar menjelaskan, penangkapan yang dilakukan Densus 88 adalah sebuah rekayasa, yang dilakukan oleh pihak kepolisian. Dan yang patut digarisbawahi,  penangkapan itu dilakukan pada saat Ustadz Khairul Ghozali tengah melaksanakan salat Maghrib berjamaah di kediamannya di Tanjung Balai.

“Ini semua rekayasa  dan fitnah. Tidak ada sedikit pun perlawanan dilakukan oleh Ustadz Ghozali serta dua orang yang meninggal saat kejadian.

“Ini semua rekayasa  dan fitnah. Tidak ada sedikit pun perlawanan dilakukan oleh Ustadz Ghozali serta dua orang yang meninggal saat kejadian. Waktu itu, Ustadz Ghozali sedang salat Maghrib berjamaah mana mungkin menenteng-nenteng senjata dan melakukan perlawanan,’’ tegasnya sembari mengatakan apa yang sampaikan Kapolri itu fitnah dan rekayasa.

SBY Harus Meninjau dan Bubarkan Densus 88

Atas penyerangan yang tidak berprikemanusiaan itu, sambung Akhyar, diharapkan agar presiden segera meninjau dan membubarkan densus 88 karena telah melanggar dan bertindak diluar hukum.

‘’Saya minta agar presiden SBY agar memperhatikan konfrensi pers ini. Jangan presiden hanya mendengarkan laporan sepihak dari Kapolri BHD. Kami juga meminta pada komisi III DPR-RI, untuk segera mengusut tuntas kasus ini dan segera meninjau kembali Densus 88 karena sudah tidak berprikemanusiaan,’’ tegas Akhyar.

Akhyar sendiri sudah mengetahui keberadaan abang kandungnya tersebut,  menurut info yang dia terima, abangnya berada di Mabes Polri. Sementara itu langkah hukum yang akan ditempuh keluarga besar Ghozali yakni melaporkan kasus ini ke Amnesty Internasional.  ‘’Saat ini kami sudah memberikan keterangan pada Amnesty Internasional, laporan tersebut sudah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris,’’ katanya.

Sedangkan untuk keponakannya yang masih berumur beberapa bulan dan ditahan Polres Tanjung Balai, bersama ibunya Kartini Panggabean, pihaknya juga sudah melaporkan ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia.

Diceritakannya, sesuai pengakuan saksi mata di Tempat Kejadian Perkara (TKP),   Kartini Panggabean. Saat Ghozali tengah menjadi imam salat Maghrib di rumahnya dengan lima orang makmum. Tiba-tiba muncul sekitar 20-an orang yang belakangan diketahui Densus 88 masuk ke rumah mereka, dan tanpa tedeng aling-aling langsung memberondong Ghozali dan makmumnya dengan tembakan.

Namun saat terdengar tembakan pertama, tiga makmum langsung tersentak dari salat dan menyelamatkan diri. Sementara dua lainnya, langsung terkapar di tempat dengan bersimbah darah. Sementara itu, Ghozali yang menjadi imam terus saja salat. “Kalau memang mau ada yang ditanya mestinya setelah orang yang salat itu selesai dulu beribadah,’’jelasnya.

Adil Akhyar menambahkan, pihaknya akan terus memperjuangkan nasib abangnya. Karena Polri pernah melakukan kesalahan dalam melakukan penangkapan. “Saya dan teman-teman LBH pernah memenangkan Prapidana tahun 2003 lalu. Beberapa waktu lalu polisi juga salah tangkap di Lubuk Pakam,’’katanya.

Akhyar menambahkan, saat ini anak-anak Ghozali  trauma dan malu untuk bersekolah bahkan ada yang diberhentikan dari pesantren. Sementara istri dan anak Ghozali yang paling kecil diamankan di Polres Tanjung Balai. ‘’Apa polisi tidak pernah berpikir sampai ke arah situ, mengorbankan orang lain demi kepentingan yang tidak jelas. Kepentingan yang direkayasa, fitnah dan sebagainya,” tandasnya.

Melanggar HAM, LBH Medan Akan Koordinasi dengan TPM

Sementara itu Direktur LBH Medan Nuriyono menjelaskan, LBH Medan akan melakukan koordinasi dengan tim Pembela Muslim untuk segera melakukan bantuan hukum terhadap anak dan istri Ghozali, dan juga berupaya untuk melakukan pembelaan kepada Ghozali sendiri. “Kita akan koordinasi dengan Tim Pembela Muslim (TPM) serta melakukan komunikasi dengan kepolisian untuk melakukan pembelaan,” tegasnya.

Hal senada diutarakan Wakil Direktur LBH Medan Muslim Muis SH, menurutnya kepolisian dalam hal ini Densus 88 telah melakukan hal yang tidak semestinya dilakukan. “Ini melanggar HAM. Dalam hukum, ada beberapa tempat yang tidak bisa dilakukannya penangkapan antara lain, pengadilan, rumah ibadah dan beberapa tempat lainnya,’’jelasnya.

Nah, dalam kasus Ghojali kejadiannya malah lebih tragis di mana orang yang sedang ibadah langsung ditangkap dengan cara-cara yang berlebihan. Untuk itu, sebaiknya keberadaan Densus 88 Antiteror ditinjau ulang. ‘’Karena jika terus-terusan seperti ini, pelanggaran HAM akan semakin banyak,” tandasnya. (Ibnudzar/trb)

Voaislam, Senin, 27 Sep 2010

(nahimunkar.com)