DAMASKUS – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan laporan terbaru mengenai korban tewas akibat kekerasan yang terjadi di Suriah. PBB mengatakan lebih dari 5.000 jiwa tewas hingga saat ini.

Meskipun pemilu mulai dilakukan saat ini, tetap saja aksi kekerasan yang terkait dengan protes anti-pemerintah masih terus berlangsung.

Utusan Khusus HAM PBB Navi Pillay memaparkan laporannya bahwa 5.000 warga tewas dalam aksi kekerasan tersebut. Sementara lebih dari 14.000 orang ditahan serta 12.400 lainnya mengungsi untuk menghindari pertempuran yang terjadi antara pasukan pemerintah dengan kelompok anti-pemerintah.

“Situasi ini tidak dapat ditolerir, tanpa ada aksi dari komunitas internasional maka pihak Suriah akan semakin berani,” ucap Pillay seperti dikutip Associated Press, Selasa (13/12).

Sementara Duta Besar Prancis untuk PBB Gerard Araud mengecam sikap diam dari Dewan Keamanan PBB (DK PBB) atau kondisi yang terjadi di Suriah. Araud menilai perilaku DK PBB adalah sebuah skandal memalukan.

Namun Duta Besar Rusia untuk PBB Vitaly Churkin menilai DK PBB mengaku terus memantau kondisi yang terjadi di Suriah. Rusia pun mendesak dilakukannya negosiasi serta dialog agar transisi pemerintahan di Suriah dapat segera berlangsung.

Churkin tidak mengatakan apakah Rusia akan melakukan veto terhadap resolusi yang kemungkinan akan diajukan untuk Suriah. Sebelumnya pada Oktober lalu, Rusia bersama China menolak resolusi yang ditujukan untuk memadamkan kerusuhan yang terjadi.

Serangan demi serangan masih terus terjadi di kota Damaskus dan Daraa yang menjadi pusat aksi protes anti-Presiden Bashar al-Assad. Namun demikian, pemerintah masih terus mengupayakan  pemilihan umum bagi kursi parlemen.

Sekira 14 juta warga Suriah dikabarkan melakukan pemilihan terhadap 2.889 kandidat yang hendak mencari peluang untuk menduduki 17.588 kursi di parlemen.

13-12-2011 09:59

Sumber: , PESATNEWS

(nahimunkar.com)