abu roban

SEBAGAI salah satu unit khusus Polri, Densus 88 seharusnya cermat dan bertindak sesuai prosedur dalam melakukan operasi penangkapan. Tindakan tembak mati diperlukan jika situasi betul-betul darurat, serta mengancam jiwa aparat. Demikian pernyataan The Islamic Study and Action Center (ISAC) menanggapi tewasnya Abu Robban.

Berdasarkan keterangan saksi-saksi di TKP yang dihimpun ISAC, tidak ada hal yang sifatnya darurat atau mengancam jiwa aparat bagi Densus 88 menembak mati Abu Robban. Ketika Abu Roban sudah ditembak kaki dan tangannya, terduga bisa dikategorikan sudah lumpuh, jadi tidak perlu tembak mati.

“Apalagi kekuatan personil, kemampuan dan persenjataan lebih lengkap dari pada seorang Abu Roban yang hanya lulusan SD,” tandas Humas ISAC Endro Sudarsono kepada Islampos.com, Sabtu (25/5/2013).

Endro menambahkan di Indonesia menembak mati terduga pelaku kejahatan bukanlah satu-satunya prestasi Polri, apalagi oleh Densus 88. Polri dapat dikatakan berprestasi dan profesional justru ketika sanggup membuktikan di pengadilan dengan cara-cara fair, tidak melanggar hukum dan HAM, termasuk adanya kebebasan memilih pengacara.

Jika hal ini tidak dilakukan oleh Polri, kata Endro, dikhawatirkan adanya anggapan bahwa yang dilakukan Densus 88 terdapat unsur kriminalisasi, terorisasi, rekayasa ataupun operasi intelijen yang target operasinya kebanyakan dari kelompok Muslim.

“Jika anggapan ini benar, maka Indonesia telah keliru bekarja sama dengan Amerika dan Australia terhadap pemberantasan terorisme di Indonesia,” paparnya. (Pz/Islampos) By Pizaro on May 26, 2013

***

ISAC: ‘Saksi Menuturkan Densus 88 Langsung Tembak Abu Roban Tanpa Dialog’

By Pizaro on May 26, 2013

SETELAH menjalani otopsi selama dua pekan, jenazah Abu Roban tiba di rumah duka di daerah Desa Timbang, Kecamatan Banyuputih, Batang, Jawa Tengah, Sabtu (25/5/2013). Abu Roban meninggal dalam penggerebekan oleh Detasemen Khusus 88 (Densus 88) Antiteror Polri di Batang, Jawa Tengah, Rabu (8/5/2013).

The Islamic Study and Action Center (ISAC) sebagai tim advokasi menyebutkan terdapat tiga luka tembak pada tubuh Abu Robban, yakni di kaki, tangan sebelah kanan dan dada. Menurut investigasi ISAC yang dihimpun dari saksi di TKP sebenarnya tembak mati terhadap Abu Roban tidak perlu terjadi.

Humas ISAC, Endro Sudarsono, menjelaskan bahwa pada saat pengerebekan Rabu sore tersebut, tidak ada itikad baik dari Densus 88 untuk menangkap Abu Robban. Saksi menuturkan Abu Robban langsung ditembak Densus 88 pada bagian kaki.

Kronologi penangkapan ini bermula saat Abu Robban mengajak Supiyanto (adik kandung) memperbaiki kendaraan roda dua miliknya ke bengkel motor yang berada tak jauh dari rumah kontrakan Abu Roban. Supiyanto membawa motor sendiri berada di belakang dan mengikuti Abu Roban yang berada di depan.

Tak berselang lama, kata Endro, dua orang yang menaiki satu kendaraan bermotor langsung memepet Supiyanto dan menendangnya hingga jatuh tersungkur ke jalan raya.

“Mendengar ada seseorang yang jatuh dari motor, Abu Roban langsung menghentikan motornya dan hendak berusaha untuk menolongnya,” paparnya kepada Islampos.com, Sabtu (25/5/2013).

Orang yang pertama kali hendak menolong Supiyanto adalah Abu Roban. Namun saat hendak membangunkan Supiyanto, Abu Roban langsung dikepung oleh beberapa orang berbadan tinggi besar yang keluar dari mobil Avanza. Seketika itu pula, tanpa adanya percakapan dan percakapan, Abu Roban langsung ditembak kakinya oleh orang tersebut.

“Selanjutnya Abu Roban ditembak lagi di bagian tangan dan dadanya,” ungkapnya. (Pz/Islampos)

***

Dalam hal dibunuhnya Umat Islam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

Sungguh lenyapnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang Muslim. ( Hr. An-Nasa-I (Vii/82), Dari ‘Abdullah Bin ‘Amr Radhiyallahu Anhu. Diriwayatkan Juga Oleh At-Tirmidzi (No. 1395). Hadits Ini Dishahihkan Oleh Syaikh Al-Albani Dalam Shahiih Sunan An-Nasa-I Dan Lihat Ghaayatul Maraam Fii Takhriij Ahaadiitsil Halaal Wal Haraam (No. 439).

Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan dahsyatnya siksa bagi pembunuh orang mu’min dengan sengaja:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا  [النساء : 93]

93. Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (QS AN-NISAA’/4: 93)

Senjata  Umat Islam di antaranya adalah doa. Sedang doa yang paling mustajab adalah doa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah berdoa untuk manusia-manusia semacam itu:

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ (أحمد ، ومسلم عن عائشة)

Ya Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia mempersulit  urusan mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah dia.” (HR Ahmad dan Muslim dari Aisyah).

{ وَمَنْ وَلِيَ مِنْهُمْ شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَعَلَيْهِ بَهْلَةُ اللَّهِ فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا بَهْلَةُ اللَّهِ قَالَ : لَعْنَةُ اللَّهِ } رَوَاهُ أَبُو عَوَانَة فِي صَحِيحِهِ

Dan barangsiapa memimpin mereka dalam suatu urusan lalu menyulitkan mereka maka semoga bahlatullah atasnya. Maka para sahabat  bertanya, ya RasulAllah, apa bahlatullah itu? Beliau menjawab: La’nat Allah. (HR Abu ‘Awanah dalam shahihnya. Terdapat di Subulus Salam syarah hadits nomor 1401).

Amien ya Rabbal ‘alamien.

(nahimunkar.com)