Israel Bantu Iran karena Berlaku Kejam terhadap Islam

Perusahaan dan korporasi Israel—apapun kemasannya—telah dengan jelas membantu perekonomian Iran yang memperkuat rezim Mahmoud Ahmadinejad, yang selalu menggembor-gemborkan mengancam akan menghancurkan Israel namun tidak pernah terjadi.

Negeri Syi’ah Iran lebih kejam terhadap Islam dibanding negeri-negeri kafir

Perlu diketahui, sikap Iran terhadap Islam (Sunni) lebih kejam dibanding sikap negeri-negeri kafir sekalipun. Hingga di Iran terutama ibukotanya, Teheran, tidak ada masjid Islam (Sunni). Hingga Ummat Islam (Sunni) bila berjum’atan maka ke kedutaan-kedutaan Negara-negara Timur Tengah di Teheran. Tidak ada pula Madrasah Islam (Sunni). Karena semuanya sudah dihancurkan. Para ulama Sunni pun sudah disembelihi atau dibunuhi.

Tentang bagaimana Israel membantu Iran, inilah beritanya:

Bagaimana Israel Membantu Iran

Haldor Topsoe adalah sebuah perusahaan internasional Denmark dengan hubungan bisnis yang luas di Iran. Perusahaan ini sibuk menyiapkan dua kilang metanol besar untuk lapangan gas yang bernama Fars di Iran yang juga sangat besar.

Haldor Tapsoe diawasi langsung oleh pemerintah AS terkait penyusunan daftar perusahaan Amerika dan perusahaan internasional lainnya yang membangun perekonomian Iran, dan terutama di sektor gas dan industri minyak, yang merupakan sumber utama pendapatan Teheran. Jelas, perusahaan Denmark ini tidak sendirian dalam hal ini. Ada ratusan perusahaan lain dari lusinan negara yang berdagang dengan Iran di berbagai bidang. Termasuk Israel.

Salah satunya adalah Israel Electric Corporation (IEC) yang memberikan kontrak senilai 500 juta NIS (mata uang Israel atau Shekel dalam bahasa Ibrani-nya) kepada Haldor Topsoe. Haldor Tapsoe digambarkan sebagai subkontraktor atas sebuah perusahaan Jerman yang membangun pengatur udara untuk pembangkit listrik di Ashkelon dan Hadera. Haldor Topsoe adalah finalis dalam tender IEC, dan yang lainnya adalah perusahaan Hitachi Jepang.

Seiring dengan tawaran dari perusahaan Denmark itu yang secara substansial lebih rendah daripada Hitachi, muncul pertanyaan; apakah pertimbangan keuangan menjadi satu-satunya kriteria dalam keputusan Israel? Bagaimana dengan pertimbangan politik dan etis?

Selama bertahun-tahun, pemerintah Israel telah menyebarkan kampanye kepada negara-negara lain tentang perlunya memperketat sanksi terhadap Iran. Itu terkait program nuklir Iran. Kementerian Luar Negeri Israel, secara tidak langsung dan dengan bantuan dari organisasi Yahudi, telah melakukan kampanye internasional yang luas; demonstrasi, petisi, mengumpulkan anggota parlemen dan media melawan pemerintah dan perusahaan perdagangan dengan Iran.

Tapi, tampaknya, pemerintah Israel tidak mempraktikkan apa yang mereka tuntut pada orang lain; ini munafik dan bermuka tebal. Sekitar setahun yang lalu, Haaretz mengungkapkan adanya kesepakatan kontrak senilai 150 juta NIS antara Otoritas Bandar udara dan Siemens, mitra dagang terbesar Iran di Jerman. Otoritas Bandar udara juga membenarkan berita itu.

Ada hukum di Israel yang menyatakan secara eksplisit bahwa dilarang untuk berinvestasi lebih dari $ 20 juta pada perusahaan perdagangan dengan Iran, tetapi hukum itu jelas-jelas tidak ditegakkan. Ada apa ini? Bahkan lebih buruk lagi, tidak ada otoritas sentral Israel yang menangani masalah penting ini.

Masalah ini menjadi perhatian Perdana Menteri dan Penasihat Keamanan Nasional Israel, Uzi Arad namun—baik Netanyahu dan Arad, yang tidak pernah melewatkan kesempatan apapun untuk mengingatkan semua orang dari ancaman eksistensial yang ditimbulkan oleh Iran, tidak pernah melakukan apa pun. Jika ini tidak menarik bagi mereka, lalu apa?

Panitia tender IEC yang telah memutuskan untuk menandatangani kontrak dengan Haldor Topsoe, berargumen bahwa ini “hanya” anak perusahaan mereka belaka di Amerika Serikat. Mungkin benar, namun undang-undang yang sedang disiapkan di AS akan mencegah perusahaan-perusahaan Amerika atau perusahaan asing yang beroperasi di sana berinvestasi di sektor energi Iran.

Setelah tawaran menit-menit terakhir oleh perusahaan Jepang yang saling bersaing, IEC membawa masalah ini ke Menteri Infrastruktur Nasional Israel, Uzi Landau untuk mengambil keputusan. Juru bicaran mengatakan bahwa “sang menteri secara serius tengah mempertimbangkan masalah ini.”

Ini tidak cukup. Jika benar memboikot Iran, Israel harus mengambil sikap yang jelas dan tidak menghindari isu tersebut. Perusahaan dan korporasi Israel—apapun kemasannya—telah dengan jelas membantu perekonomian Iran yang memperkuat rezim Mahmoud Ahmadinejad, yang selalu menggembor-gemborkan mengancam akan menghancurkan Israel namun tidak pernah terjadi.

Israel harus tegas bahwa orang yang melakukan bisnis dengan Iran tidak bisa mendapatkan keuntungan bersama Israel. Ini juga mungkin seperti kebalikannya di pihak yang lain, yang menyatakan memusuhi Israel namun masih tetap menggunakan produk-produk Israel yang menggurita dan bahkan sampai ke pelosok-pelosok desa. Jadi, Vice Versa! (sa/haaretz)

Eramuslim, Rabu, 22 Sep 2010

Negeri Syi’ah Iran lebih kejam terhadap Islam dibanding negeri-negeri kafir

Perlu diketahui, sikap Iran terhadap Islam (Sunni) lebih kejam dibanding sikap negeri-negeri kafir sekalipun. Hingga di Iran terutama ibukotanya, Teheran, tidak ada masjid Islam (Sunni). Hingga Ummat Islam (Sunni) bila berjum’atan maka ke kedutaan-kedutaan Negara-negara Timur Tengah di Teheran. Tidak ada pula Madrasah Islam (Sunni). Karena semuanya sudah dihancurkan. Para ulama Sunni pun sudah disembelihi atau dibunuhi. (Lihat Ma’satu Ahlis Sunnah fi Iran, oleh Abu Sulaiman Abdul Munim bin Mahmud Al-Balusy, diindonesiakan dengan judul Kedholiman Syi’ah terhadap Ahlus Sunnah di Iran, LPPI, Jakarta, 1420H/ 1999).

Di Iran tidak ada pula anggota parlemen dari Islam (Sunni) apalagi menteri. Padahal dari Yahudi diberi prioritas jadi anggota parlemen, punya tempat-tempat ibadah (sinagog) dan sekolah-sekolah Yahudi di Iran.

Ulama Syiah terkemuka Iran, Taskhiri, pernah ditanya wartawan di satu negeri di Afrika Utara, apakah tidak boleh di Iran didirikan Masjid Islam Sunni. Pertanyaan itu dijawab, sampai sekarang belum saatnya.

Demikianlah kenyataan di Iran. Ummat Islam Sunni sekitar 20 persen namun tidak diberi hak-haknya alias telah dirampas, dan bahkan lebih kejam dibanding sikap orang kafir di berbagai negeri yang kenyataannya rata-rata masih ada di mana-mana masjid Ummat Islam (Sunni). Sedang di Iran justru masjid-masjid Islam Sunni dihancurkan, ulamanya dibunuhi. Mulutnya berkoar mengecam Yahudi, namun tindakannya justru menikam Islam (Sunni alias Ahlus Sunnah). Dendamnya terhadap Islam bahkan terhadap para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mendalam. Sekarang pun mereka masih menyebarkan kebencian yang sangat terhadap Isteri-isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terutama Aisyah dan Hafshah. Sebagaimana mereka sangat benci kepada bapak dari kedua isteri Nabi tersebut yakni sahabat dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar bin al-Khatthab radyiyallahu ‘anhuma.

Orang Syi’ah di Iran mengaku beragama dengan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun sikapnya sangat berbalikan dengan sikap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sangat mencintai ‘Aisyah dan ayahnya (Abu Bakar as-Shiddiq), namun orang Syi’ah sangat membenci kedua-duanya.

Kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam saja bersikap dengan sikap dusta, apalagi kepada Ummat Islam. Maka tidak mengherankan, mulutnya mengecam Israel, tapi kelakuannya jilat-jilatan. Anehnya, di antara tokoh Islam Indonesia, hanya karena pernah dijalan-jalankan ke Iran kemudian ada yang lidahnya jadi pelo, tidak fasih lagi dalam membela Islam, dan tampak belajar bagaimana cara membela Syi’ah. Na’udzubillahi min dzalik!

(nahimunkar.com).