Isu Jilbab dan Santet Pada Pilpres 2009

Dunia politik dapat mengubah seseorang atau sekelompok orang. Perubahan itu bisa berupa sikap pragmatis, bahkan bisa lebih jauh lagi. Menjadikan ranah politik sebagai lahan dakwah, sungguh penuh tantangan. Sebab, bukan mustahil pragmatisme khas ranah politik justru membuat sifat dasar dakwah menjadi samar-samar.

Sudah sejak lama, keterlibatan tokoh agama dari berbagai ormas Islam di ranah politik membawa harapan umat berupa wujudnya kultur politik yang Islami: santun, bersih dan peduli rakyat kecil. Terbukti, setelah sekian lama berjalan, politik telah membawa mereka kepada pragmatisme, hedonisme, borjuisme, bahkan menjauh dari harapan ummat. Banyak yang tak tahan dengan daya tarik duniawi.

Akhirnya, sebagaimana bisa dilihat, Islam dijadikan komoditas politik untuk merebut kursi kekuasaan, kekayaan, dan popularitas. Untungya, ummat Islam kian hari kian sadar adanya fenomena yang membahayakan ini. Sehingga, partai dan tokohnya yang menjual Islam semata kini semakin ditinggal. Perolehan suaranya tidak signifikan. Paling tinggi, hanya di bawah sepuluh persen.

Menjelang Pemilu legislatif 2009, Partai Keadilan Sejahtera yang selama ini dikenal sebagai partai dakwah dengan citra bersih dan peduli, sikap pragmatisnya sudah mulai kelihatan. Melalui iklan yang mereka tayangkan, PKS tidak sekedar pragmatis, bahkan oleh sebagian orang dinilai sudah mulai kehilangan ideologinya. Ada salah seorang petingginya yang bahkan pernah mengatakan bahwa memperjuangkan syari’at Islam adalah agenda masa lalu. Ada juga yang ketika baru selesai studi di Timur Tengah begitu kental perlawanannya terhadap induk kesesatan (Syi’ah), kini sudah mulai cair.

Isu Jilbab

Menjelang pemilihan umum presiden yang akan berlangsung 8 Juli 2009, keberadaan dan ke-istiqomah-an PKS kembali mendapat ujian. Antara lain melalui isu Jilbab. Adalah Zulkieflimansyah, yang pertama kali mengungkapkan kegundahannya soal adanya kecenderungan konstituen PKS yang condong kepada pasangan JK-Win, padahal secara resmi PKS mendukung pasangan SBY-Boediono.

Kegundahan itu beralasan, karena berdasarkan survey internal yang dilakukan PKS sendiri, konstituen PKS lebih menaruh hati kepada pasangan JK-Win karena faktor penampilan istri para capres-cawapres yang sudah dari sononya mengenakan jilbab.

Sebagaimana sudah diketahui khalayak luas, isteri Jusuf Kalla dan Wiranto memang mengenakan jilbab, bukan karena mau menghadiri pengajian dan kondangan, atau menghadiri acara-acara keagamaan. Tetapi, sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-harinya. Berbeda dengan istreri-isteri dari pasangan SBY-Boediono.

Ibu Ani Yudhoyono masih mending, ia sewaktu-waktu berjilbab juga demi tuntutan situasi. Sedangkan isteri Boediono, nampaknya sama sekali belum terlihat berjilbab. Mudah-mudahan berjilbab bukan sesuatu yang asing bagi Herawati Boediono.

Pernyataan tulus Zulkieflimansyah yang menyarankan agar para istri dari pasangan capres-cawapres SBY-Boediono agar mengenakan jilbab, kemudian diikuti oleh Mahfudz Siddik (Ketua FPKS) dan Lukman Hakim (Ketua FPPP), ternyata direspon bukan sebagai ajakan moral bernilai amar ma’ruf, tetapi justru dimaknai secara politis, yaitu dinilai menjadi bagian dari materi yang berpotensi mengarah keada black campaign bagi pasngan SBY-Boediono.

Sehingga, Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Marzuki Alie perlu meluangkan waktu khusus menelepon Tifatul Sembiring (Presiden PKS), dalam rangka memberikan teguran kepada PKS yang diangapnya telah mempolitisasi atribut agama menjelang pemilu presiden. Tifatul sendiri menurut Marzuki, mengatakan bahwa hal tersebut sebagai opini pribadi Zulkieflimansyah dan akan menegur kader yang bersangkutan.

Bahkan Soeripto, Ketua Dewan Pakar PKS Soeripto, mengatakan itu merupakan black propaganda yang sengaja dilontarkan kepada PKS, sehingga timbul persepsi PKS sebagai partai Islam malah merangkul pasangan capres-cawapres yang istri-istrinya tidak mengenakan jilbab.

Bila politikus Partai Demokrat ada sedikit saja keberpihakannya kepada Islam, dan keberpihakannya itu tulus bukan mengandung unsur politis, tentu mereka akan merespon positif ajakan moral bernilai amar ma’ruf yang disuarakan Zulkieflimansyah. Apalagi bila Zul mendasarkan ajakannya itu pada hasil suvey internal. Artinya demi kepentingan pasangan SBY-Boediono juga. Kalau ajakan moral itu direspon positif tanpa harus memberi ‘tekanan’ sekecil apapun, justru akan memberi keuntungan bagi pasangan SBY-Boediono.

PKS sendiri bila memang benar-benar istiqomah dengan tekadnya berdakwah di ranah politik, tentu akan mampu memberikan jawaban atau argumen yang cerdas: tidak meninggalkan misi dakwahnya, sekaligus mampu meyakinkan Partai Demokrat akan nilai tambah yang akan diraih bila istri SBY-Boediono mengenakan pakaian muslimah.

Karena mendapat teguran dari Partai Demokrat, PKS justru terlihat tidak teguh pendirian terhadap sesuatu yang jelas perintahnya menurut Al-Qur’an dan Hadits. Sikap tersebut jelas sangat memprihatinkan. Apalagi bila dibandingkan dengan keteguhan hati Permadi, paranormal yang mengumbar ‘ancaman’ akan mengadu santet dengan Rizal Malarangeng dari Partai Demokrat. Padahal, santet-menyantet selain bertentangan dengan Islam juga mengandung unsur pidana.

Berita berikut ini memuat tantangan adu santet itu:

http://inilah.com/berita/politik/2009/05/29/111097/hah-permadi-tantang-rizal-adu-santet/

29/05/2009 – 17:57

Hah! Permadi Tantang Rizal Adu Santet

Julian Edward

INILAH. COM, Jakarta – Saling serang antartim sukses calon presiden ternyata masih berlanjut hingga kini. Pernyataan Rizal Mallarangeng dari Tim Sukses SBY-Boediono yang mempersoalkan harga kuda milik Prabowo, dibalas Permadi dari Tim Mega-Pro. Ia kini tak ragu mengajak Rizal untuk beradu fisik, bahkan juga ilmu gaib. Buset!

Hal itu diutarakan Permadi kepada INILAH.COM, sebelum memasuki studio salah satu televisi swasta untuk mengikuti sebuah program talkshow, di Jakarta, Jumat (29/5).

“Pokoknya, apa yang mereka ngomong aku bales. Mau main silat oke, main tinju oke. Main santet lebih oke lagi,” ujarnya.

Ia menilai, pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oleh Rizal justru akan menjadi blunder bagi kubu SBY-Boediono yang selama ini menekankan politik santun. Ia pun lebih senang jika pernyataan serupa terus dilontarkan adik kandung juru bicara kepresidenan Andi Mallarangeng itu.

“Itu malah menguntungkan Prabowo dan menghancurkan SBY. Tim sukses kayak gitu kok dipakai terus. Justru akan menghancurkan,” tegas mantan politisi PDIP yang juga dikenal sebagai paranormal ini.

Permadi juga menampik tuduhan Rizal bahwa bermain polo tidak mencerminkan kepekaan terhadap penderitaan rakyat kecil. Justru, ia menuding itu hanya sikap iri yang ditunjukkan Rizal. “Kalau dia punya duit juga pasti akan bermain polo,” cetusnya.

Ia justru menuding gaya berpakaian Rizal yang tidak mencerminkan kepedulian pada rakyat kecil. “Memangnya, kalau pakai dasi itu mencerminkan rakyat kecil?” tanyanya.

Permadi juga mempertanyakan sumber dana Rizal saat dia beriklan menjadi capres dari jalur independen pada tahun lalu. “Justru itu yang harus diselidiki. Dari mana uangnya ketika ngiklan berbulan-bulan dulu,” beber Permadi. [nuz]

Mosok sih kader PKS di dalam menyuarakan kebenaran kalah berani dengan Permadi (paranormal) tukang santet? Fenomena ini jadi menarik, karena terlihat suara syetan jadi lebih berani di dalam menyalurkan misinya. Zulkieflimansyah sendiri jadi terkejut sendiri karena lontaran pernyataannya menjadi diperbincangkan secara berkepanjangan. Bahkan pada suatu kesempatan ia mengkhawatirkan isu jilbab jadi blunder bagi PKS dan pasangan SBY-Boediono.

Beritanya sebagai berikut:

http://inilah.com/berita/politik/2009/05/29/111061/pks-sesali-isu-jilbab-blunder/

29/05/2009 – 16:27

PKS Sesali Isu Jilbab Blunder

Vina Nurul Iklima

INILAH.COM, Jakarta – PKS menyesalkan isu jilbab yang ditujukan kepada Ani Yudhoyono menjadi hal yang diperdebatkan panjang. PKS khawatir isu itu menjadi blunder hanya karena menjelang pilpres. Kok bisa?

“Saya menyayangkan, padahal itu dari diri pribadi saya sendiri, tapi kok jadi begini. Masalah jilbab seharusnya tak menjadi isu besar, kalau tiba-tiba terkait elektabilitasnya kan ini jadi blunder,” kata Wakil Ketua DPP PKS Zulkieflimansyah usai dialektika ‘Benarkah konsep politik ekonomi neolib dan kerakyatan memperjuangkan parlemen?’ di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (29/5).

PKS, menurut Zul tak memaksa Ani Yudhoyono untuk memakai jibab. Apalagi hanya karena tekanan dari kompetitor capres lain. “Bu Ani jangan memakai jilbab menjelang mau pemilu. Tidak ada PKS memaksa-maksa wanita memakai jilbab, apalagi kalau hanya tekanan kompetitor,” ujarnya.

Zul mengelak jika PKS disebut parpol yang rewel dan mendikte SBY. Ia menuturkan dalam Islam wanita memang dianjurkan untuk memakai jilbab. “Tidak begitu, PKS tidak memaksa-maksa Bu Ani memakai jilbab. Dalam Islam itu kan dianjurkan memakai jilbab, kelihatan anggun saja, seperti Bu Ani yang sebagai simbol negara,” tandasnya.

Sebelumnya, Zul yang menjabat Wakil Ketua DPP PKS sebelumnya sempat mengungkapkan fakta cukup menghebohkan di kalangan internal. Menurutnya, survei PKS menunjukkan elektabilitas SBY dan JK bersaing ketat. “Kami khawatir kalau SBY kalah karena untuk mendapatkan kemenangan tidak mudah. Kalau melihat survei terbaru, jarak ketiganya masih dekat. Selisih yang paling tinggi dengan yang paling rendah hanya 10 persen,” urai dia.

Tidak berhenti begitu saja, Zul juga memaparkan sebagian kader juga menaruh hati pada duet JK Win. Alasannya pun tidak jauh dari isu agama. Istri JK dan Wiranto sama-sama mengenakan jilbab saat tampil ke publik. “Kalau pemilih kita tidak bisa karena pemilih PKS jauh lebih besar dari kader. Kader PKS jumlahnya 3 jutaan sedangkan pemilih 28 juta,” terang Zul. [ikl/ton]

Fenomena di atas merupakan salah satu contoh saja, betapa dahsyatnya ranah politik mempengaruhi pendirian seseorang terhadap suatu hal. Berdakwah di ranah politik nampaknya harus berhadapan dengan kendala yang besar, terutama kendala yang berasal dari dalam diri pelakunya sendiri. (tede)