Jakarta, Aktual.com – Pekan depan, tepatnya 3 Januari 2016, persidangan kasus dugaan penistaan agama atas terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok memasuki tahap pembuktian.

Sebelum menghadapi proses pembuktian, ada baiknya bagi penuntut umum untuk mempertimbangkan beberapa hal, terutama soal kompetensi saksi yang dihadirkan.

“Itu benar soal saksi, terutama yang memang hadir di Kepulauan Seribu itu. Saksi itu nggak usah semua dihadirkan, karena sudah diback up sama rekaman,” kata ahli pidana Mudzakkir saat dihubungi, Rabu (28/12).

Saran dia, penuntut umum harus bisa mencari saksi yang memang memiliki keterangan untuk membuktikan dakwaan. Saksi yang didatangkan harus punya kepekaan terhadap pernyataan Ahok saat kunjungan kerja ke Kepulauan Seribu, 27 September 2016.

“Cari saksi yang punya kualitas yang bagus, cari kesaksian yang punya kekuatan hukum primer. Artinya, orang yang dengar langsung di ruangan itu, cari saksi yang punya ketajaman mendengar.”

Menurut ahli dari Universitas Islam Indonesia ini, para saksi yang dihadirkan nanti bakal jadi salah satu senjata. Jangan sampai kesaksiannya justru menjadi jalan buntu bagi jaksa.

Sebab, sebuah kesaksian dalam persidangan merupakan faktor yang meyakinkan majelis hakim bahwasanya memang telah terjadi penistaan agama.

“Jangan saksi yang asal hadir saja. Nanti jangan sampai pas ditanya jawabnya ‘saya nggak ngerti, nggak ngerti’. Ambil saksi yang memiliki kualitas primer dalam pembuktian. Jadi keterangan yang disampaikan punya kekuatan bukti yang primer.”

Dalam sidang pekan depan, penuntut umum rencananya akan menghadirkan 5-6 saksi. Pihak jaksa sendiri akan melakukan koordinasi untuk kemudian menentukan saksi mana yang akan dihadirkan ke persidangan kasus Ahok.

“Kita akan berkoordinasi, (pemeriksaan pertama) sekitar 5-6 orang. Kalau diberkas perkara seluruh saksinya ada 20 lebih, itu dari jaksa dan pihak terdakwa,” kata Ketua Tim JPU Ali Mukartono di gedung bekas Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, Selasa (27/12).

Laporan: M Zhacky Kusumo

(Wisnu)

http://www.aktual.com/

***

Enam Saksi Beratkan Ahok di Persidangan

Ahok


POJOKSATU.id, JAKARTA – Ketua Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU), Ali Mukartono akan mempersiapkan enam saksi yang memberatkan terdakwa kasus penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pada sidang selanjutnya, setelah Ketua Majelis Hakim Dwiyarso Budi Santiarto menolak eksepsi (pembelaan) dari penasehat hukum.

Ali mengatakan sesuai KUHAP, kalau keberatan penasehat hukum ditolak, maka dilanjutkan pembuktian dengan menghadirkan saksi.

“Ada sekitar lima sampai enam saksi dulu. Kalau diberkas perkaranya ada sekitar 20 lebih dari dua-duanya (terlapor dan pelapor),” kata Ali usai sidang ketiga yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (27/12/2016).

Ali optimistis dengan dakwaan kasuspenistaan agama. Dirinya juga mengapresiasi dengan putusan sela oleh hakim yang melanjutkan perkara penistaa agama.

“Intinya apa yang disampaikan pendapat penuntut umum diterima. Kami sampaikan terima kasih dan apresiasi. Kita optimis dari saat pelimpahan berkas,” tandasnya.

Sebelumnya, Ketua Majelis Hakim Dwiyarso Budi Santiarto mengatakan, keputusan ini diambil setelah melihat secara komprehensif dakwaan jaksa penuntut umum (JPU) dan eksepsi kubu terdakwa.

“Surat dakwaan penuntut umum harus dinyatakan sah sebagai dasar pemeriksaan terdakwa di persidangan. Mengadili, menyatakan keberatan terdakwa dan penasihat hukumnya tidak dapat diterima,” kata Dwiyarso membacakan keputusannya.

Di samping itu, Dwiyarso menyampaikan bahwa keputusan majelis hakim bisa digugat, jika kubu terdakwa tidak menerimanya.

“Bisa mengajukan upaya hukum, bila tak sependapat majelis. Akan kami catat dan kami kirimkan ke Pengadilan Tinggi,” tanya Dwiyarso kepada Ahok yang duduk di kursi panas.

Sementara itu, Ahok kepada majelis hakim mengatakan, akan membicarakannya dengan penasihat hukum. “Yang mulia hakim, kami akan pertimbangkan,” tandas Ahok. (yud/pojoksatu)

http://pojoksatu.id/

(nahimunkar.com)