gembong syiah

gembong syiah/ foto viva

Setelah  Ketua MUI Pusat Bidang Fatwa, KH Ma’ruf Amin, menulis opini di harian Republika berjudul “Menyikapi Fatwa MUI Jatim” tanggal 8 Nopember 2012 yang mendukung fatwa tersebut akan sesatnya Syi’ah, dua hari kemudian, tepatnya pada 10 Nopember, dedengkot Syi’ah Indonesia, Jalaludin Rakhmat memberikan jawaban pada Koran yang sama dengan tulisan berjudul “Menyikapi Fatwa Tentang Fatwa.”

Secara sekilas, tulisan Jalaludin ini terkesan Ilmiyah, dengan menukil ucapan para ulama yang mu’tabar seperti imam Malik, Imam Ahmad dan Imam Syafi’i. Jelas sekali dalam tulisan gembong Syi’ah ini berupa data  yang sengaja dipelintir  sehingga seolah-olah para ulama sepakat bahwa Syi’ah adalah ajaran yang tidak sesat.

Tentang fatwa sesatnya Syi’ah  yang telah dikeluarkan oleh MUI Jatim, Jalal menilainya bahwa para ulama yang tergabung dalam majelis tersebut telah lancang dan tidak hati-hati dalam berbicara serta membentur-benturkan antar pendapat ulama yang sebenarnya tidak pas untuk dibenturkan.

Jalaludin Rakhmat berkata:

“Imam Ahmad bin Hanbal adalah imam besar, pendiri mazhab  besar.  Bagaimana ia menyikapi fatwa?  Ia berkata,  “Barangsiapa yang melibatkan diri dalam fatwa, ia telah melibatkan diri dalam urusan besar; kecuali jika terpaksa….”

Kemudian pada paragrap selanjutnya dia melanjutkan:

“Ketika Imam Syafi’i ditanya satu masalah dan ia diam, orang bertanya: Mengapa tidak menjawab?. Ia berkata: Aku tidak menjawab sampai aku mengetahui apakah yang baik itu diam atau menjawab.”

Dalam paragrap setelahnya Jalal melanjutkan:

“Fatwa Imam Malik: Tanya dulu yang lebih berilmu.  Marilah kita belajar dari Imam Malik, salaf kita yang saleh.  Ia berkata, “Aku tidak akan memberi fatwa sebelum tujuh puluh orang (ulama) bersaksi bahwa aku ahli untuk memberikan fatwa.”  Kapan seseorang berhak  disebut ahli? “Seseorang tidak layak  menyebut dirinya ahli sebelum ia bertanya kepada orang yang lebih tahu dari dirinya. Aku tidak memberikan fatwa sebelum aku bertanya kepada Rabi’ah dan Yahya bin Sa’id”  kata Imam Malik.”

MUI Diminta Diam Terhadap Kesesatan Syi’ah

Apa yang telah dikatakan oleh Jalal dalam menukil ucapan para ulama Ahlussunnah tersebut tentang berhati-hati dalam fatwa adalah jelas agar MUI diminta untuk diam saja dan membiarkan kesesatan Syi’ah yang sudah jelas-jelas sesatnya.

Padahal maksud dari para ulama agar hati-hati dalam berfatwa bukanlah seperti yang diinginkan oleh Jalal. Karena para ulama tidak diam terhadap kesesatan yang membahayakan aqidah umat, terlebih lagi Syi’ah yang jelas-jelas memiliki keyakinan kufur mengkafirkan para Sahabat Nabi yang utama dan para Istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ucapan Jalal yang meminta MUI agar diam terhadap kesesatan Syi’ah ini telah terbantah oleh Imam Ahmad, yang kata Jalal sendiri, beliau adalah imam besar.

Suatu ketika Muhammad bin Bundar As-Sabbak Al-Jurjani-rahimahullah- berkata: “Aku berkata kepada Imam Ahmad bin Hambal, “Sungguh amat berat aku bilang, “si Fulan orangnya lemah, si fulan pendusta”. Imam Ahmad berkata, “Jika kau diam, dan aku juga diam, maka siapakah yang akan memberitahukan seorang yang jahil bahwa ini yang benar, dan ini yang sakit (salah)”. (Lihat Thobaqot Al-Hanabilah (1/287).

Kemudian Jalal mengolok-olok  KH. Ma’ruf Amin dengan congkak: “Apakah  Anda lebih berilmu dari mereka (para ulama yang  ucapannya dinukil diatas)?

Tentu yang dilakukan oleh KH. Ma’ruf Amin dan MUI adalah benar. Sebagai lembaga yang membimbing dan mengarahkan umat Islam, MUI dan para ulama sudah semestinya  memberikan peringatan akan bahayanya sebuah ajaran dan wajib menerangkan mana yang benar dan mana yang salah.

Apakah Imam Malik, Imam Ahmad dan Imam Syafi’i Diam Terhadap Kesesatan Syi’ah?

Para ulama Ahlussunnah seperti Imam Malik, Imam Ahmad dan Imam Syafi’i tidak tinggal diam terhadap kesesatan dan kekufuran yang telah disebarkan oleh Syi’ah.

Al-Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar al Marwadzi, ia berkata: “Saya mendengar Abu Abdillah berkata, bahwa Imam Malik berkata:

“Orang yang mencela shahabat-shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka ia tidak termasuk dalam golongan Islam.” (As Sunnah, milik Al-Khalal:  2/557).

Ucapan Imam Ahmad tentang Syi’ah: Al-Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar al Marwadzi, ia berkata: “Aku bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad) tentang orang yang mencela Abu Bakar, Umar, dan ‘Aisyah?” Beliau menjawab,

“Aku tidak melihatnya di atas Islam.”

Al-Khalal berkata lagi: Abdul Malik bin Abdul Hamid memberitakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah (imam Ahmad) berkata:”Barang siapa mencela (sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) maka aku khawatir ia menjadi kafir seperti halnya orang-orang Rafidhah.” Kemudian beliau berkata: “Barangsiapa mencela Shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam maka kami khawatir ia telah keluar dari Islam (tanpa disadari).” (Al-Sunnah, Al-Khalal: 2/557-558).

Ucapan Imam Syafi’i tentang Syi’ah: Dari Yunus bin Abdil A’la, beliau berkata: “Saya telah mendengar Imam Syafi’i, apabila disebut nama Syi’ah Rafidhah, maka ia mencelanya dengan sangat keras, dan berkata: “Syiah itu Kelompok terjelek.”(Manaqib Imam as-Syafi’i oleh Imam Baihaqi, Juz 2:486).

Kesimpulan

Begitulah tabiat penyeru kesesatan. Mengambil dan menukil ucapan ulama Ahlussunnah disesuaikan dengan hawa nafsunya. Jika Jalal ingin MUI agar diam dan tidak berfatwa dengan menukil ucapan para ulama Ahlussunnah seperti Imam Malik, Imam ahmad dan Imam Syafi’i,  maka mestinya Jalal juga bertaubat kepada Allah terhadap ajaran Syi’ahnya yang sesat sebagaimana telah dikatakan oleh Imam Malik, Imam Ahmad dan Imam Syafi’i. Dan MUI pun tidak akan mengeluarkan fatwa sesat kepada Syi’ah jika para pengklaim Ahlul bait tersebut tidak menyebarkan ajaran kekufurannya kepada umat Islam Indonesia.(Budi Marta Saudin) gemaislam.com, 13 Nov 2012

(nahimunkar.com)