Ilustrasi/goresantintamujahid.blogspot.co.id


Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا

“Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi.”

فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا ، أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ قَالَ « تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنَ الظُّلْمِ ، فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ »

Kemudian ada seseorang bertanya tentang bagaimana cara menolong orang yang berbuat zalim?

Beliau menjawab, “Kamu cegah dia dari berbuat zalim, maka sesungguhnya engkau telah menolongnya.” (HR. Bukhari, no. 6952; Muslim, no. 2584

***

Di saat Umat Islam dizalimi di Suriah, dibantai oleh rezim syiah hingga ratusan ribu Umat Islam termasuk ibu-ibu, anak-anak, dan orang-orang tua meninggal secara mengenaskan. Itu semua akibat dari kekejaman rezim syiah Suriah Bashar Assad didukung syiah Iran, kafir komunis Rusia, kafir komunis China dan lainnya.

Terhadap penderitaan Umat Islam yang sangat mengenaskan itu, jelas ada perintah untuk menolong yang dizalimi. Yakni Umat Islam Suriah. Dan kalau bisa, mencegah kezaliman syiah Iran, komunis Rusia, Komunis China dan lainnya yang sangat kejam tanpa perikemanusiaan itu.

Jangan sampai terkesan, demi menganggap pemahaman kita lebih benar, kemudian melontarkan bahwa mereka sampai bernasib seperti itu karena tidak memakai apa yang benar seperti yang kita pakai, hingga mereka melawan kezalian tersebut.

Kalau sampai ada yang mengedarkan ungkapan seperti itu, bukankah orang akan memahami bahwa sikap itu lebih buruk daripada nyukurin?

Apa gunanya mengklaim kebenaran sambil menyebar-nyebarkan sesuatu yang justru bisa difahami sebagai “nyukurin” orang yang sedang menderita? Padahal, apakah bisa memastikan kalau mereka tidak melawan kezaliman, pasti mereka selamat dari kezaliman, selamat dari pembantaian, perusakan dan sebagainya?

Bukankah di dalam Al-Qur’an disebutkan adanya orang mukminin yang dibakar di parit hanya karena mereka beriman? Bukankah orang-orang Muslim Rohingya di Burma Myanmar dibantai dan rumah-rumahnya bahkan kampungnya dibakar, hanya karena mereka beriman kepada Allah Ta’ala? Bukankah Umat Islam di Andalusia dalam sejarahnya dibantai oleh penguasa salibis hanya karena beriman kepada Allah Ta’ala dan tidak mau murtad?

Bukankah Allah telah berfirman:

 قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ ٤  ٱلنَّارِ ذَاتِ ٱلۡوَقُودِ ٥ إِذۡ هُمۡ عَلَيۡهَا قُعُودٞ ٦  وَهُمۡ عَلَىٰ مَا يَفۡعَلُونَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ شُهُودٞ ٧ وَمَا نَقَمُواْ مِنۡهُمۡ إِلَّآ أَن يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ ٨ ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ٩ إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُواْ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَتُوبُواْ فَلَهُمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمۡ عَذَابُ ٱلۡحَرِيقِ ١٠ [سورة البروج,٤-١٠]

4). Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, 5). yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, 6). ketika mereka duduk di sekitarnya, 7). sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman, 8). Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, 9). Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu, 10). Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar [Al Buruj,4-10]

Para pembesar Najran di Yaman itu telah membakar hidup-hidup orang-orang mukmin dengan mencemplungkan mereka ke parit yang sudah dinyalakan api dengan bahan-bahan bakarnya. Orang-orang mukmin itu sampai dibunuhi dengan cara dibakar hidup-hidup itu, bukan karena mereka bersalah, tetapi hanya karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.

Dalam sejarah masyhur, umat Islam Andalusia dibunuhi kenapa, hanya karena tidak mau murtad.

Pantaskah kita mengklaim bahwa kalau mereka (Umat Islam di Suriah) seperti pemahaman kita, (dan tidak melawan kezaliman), maka mereka tidak akan tertimpa penderitaan seperti yang kita saksikan sekarang di Suriah? Bukankah itu malah terkesan nyakiti, atau nyukurin, walau misalnya kita juga membantu mereka?

Benarlah sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alihi wasallam:

« مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ » .

Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia mengatakan yang baik atau hendaklah ia diam.” (HR. Bukhari).

(nahimunkar.com)