Jasa Buruk Inul

dalam Penyebaran Maksiat

Oleh : Mulyawati M. Yasin.

Anak laki-laki dikhitan di Indonesia sudah biasa dipestakan. Bahkan ada yang mengadakan pesta besar-besaran, tak terkecuali dari keluarga yang tak mampu. Padahal Islam tak pernah memerintahkan pesta besar-besaran itu. Tetapi disini saya tidak menyoroti tentang boleh tidaknya pesta besar-besaran dalam khitanan itu, yang saya soroti adalah masalah si empunya pesta yang tidak jarang mengundang musik dangdut dan menampilkan penyanyi-penyanyi perempuan yang seronok.

Sudah sejak lama sebenarnya di perkampungan (di pinggir kota) atau di desa-desa, setiap keluarga yang mengadakan pesta pernikahan bahkan hanya khitanan pun mereka mengadakan pesta dengan mengundang musik dangdut. Sepertinya kalau hajatan ada hiburan dangdutnya atau band-nya atau gambusnya, itu si empunya hajat merasa dirinya sudah bisa dikatakan orang mampu atau orang sukses (wallohu a’lam). Mungkin itu dulu, boleh merasa demikian. Tetapi saat ini orang kaya atau bukan, orang sukses atau tidak, yang namanya mengundang musik dangdut dengan penyanyi yang mengumbar goyangan vulgar pada saat pesta pernikahan atau khitanan itu sepertinya harus ada walau kalau diukur dari kemampuan ekonominya, sebenarnya adalah dipaksakan untuk menampilkan hiburan maksiat itu.

Yang lebih disayangkan lagi, bahkan dikhawatirkan si empunya hajat entah disengaja atau memang bangga mereka menampilkan (mengundang) penyanyi-penyanyi perempuan mengumbar aurat dengan kostum yang transparan (tipis menerawang) dan super ketat, mereka mengumbar goyangan-goyangan yang seronok, serta suara-suara nyanyian yang sengaja didesah-desahkan agar orang yang mendengarnya terangsang. Astaghfirulloh!. Padahal ada ancaman Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam:

(( صِنْفَانِ مِنْ أهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا : قَومٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأذْنَابِ البَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ ، رُؤُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ البُخْتِ المائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الجَنَّةَ ، وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا ، وإنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكذَا )). رواه مسلم .

“Dua macam manusia dari ahli neraka yang aku belum melihatnya sekarang, yaitu: (pertama) kaum yang membawa cemeti-cemeti seperti ekor-ekor sapi, mereka memukul manusia dengannya; dan (kedua) wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, berjalan dengan menggoyang-goyangkan pundaknya dan berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk onta yang condong. Mereka tidak akan masuk surga bahkan tidak akan mendapat wanginya, dan sungguh wangi surga telah tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR Muslim, dan Ahmad dari Abi Hurairah, Shahih).

Bahkan, ada gejala yang sangat luar biasa mencengangkan. Si empunya hajat itu sudah bergelar haji, atau seorang yang punya gelar ustadz (guru ngaji) yang secara jelas sangat mengerti bahwa perbuatan tersebut (menampilkan kemaksiatan) adalah haram. Sepertinya mereka tidak sungkan lagi mengadakan hajatan dengan mengundang penyanyi-penyanyi perangsang nafsu syahwat itu. Agama sepertinya dianggap hanya sebuah teori saja.

Seharusnya mereka tahu ancaman Alloh subhanahu wa ta’ala yang sangat pedih, bila seorang hamba yang beriman mengadakan (menghadirkan) kemaksiatan. Nabi  Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam mengingatkan dalam sebuah hadistnya yang mulia. Di dalam kitab Az-Zawajir, Syaikh Ibnu Hajar mengetengahkan sebuah hadist, bahwa Rosululloh SAW telah bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِى الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ، ثُمَّ تَلاَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: {فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ}.”[الأنعام آية 44] ” مسند أحمد بن حنبل – (ج 4 / ص 145) تعليق شعيب الأرنؤوط : حديث حسن وهذا إسناد ضعيف لضعف رشدين بن سعد وباقي رجال الإسناد ثقات

Apabila kamu sekalian melihat seseorang diberi kenikmatan yang meluap oleh Alloh, sedang dia masih tetap berlaku maksiat, maka hal yang demikian adalah istidraj.” Kemudian Rosululloh membaca firman Alloh subhanahu wa ta’ala,: Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”   (QS Al-An’aam: 44), (HR Ahmad, hadits hasan menurut Syu’aib Al-Arnauth, juga riwayat At-Thabrani, dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman).

Keterangan hadist tersebut sudah sangat gamblang. Dalam persoalan yang kita bicarakan ini, si empunya hajat memang sedang merasakan kenikmatan kegembiraan yang luar biasa, karena menikahkan anak atau mengkhitankan anaknya. Sepatutnya hal itu harus disyukuri dengan mengadakan perbuatan yang sesuai dengan Islam, dan tidak dalam bentuk pesta yang berlebihan apa lagi sampai menghadirkan aneka maksiat, seperti dangdutan, joget-jogetan, atau gaplean dan sebagainya.

Rasa gembira atau luapan kegembiraan karena dapat menikahkan anaknya atau karena dapat mengkhitankan anaknya, yang sudah jelas karena melaksanakan perintah Alloh subhanahu wa ta’ala, maka hal itu patut disyukuri, dan kalau mengadakan pesta maka yang sesuai dengan Islam, bukan dikufuri dengan mengadakan aneka maksiat.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman :

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ(7)

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim : 7).

Bukankah jika mestinya bersyukur tetapi justru yang dilakukan adalah melanggar aturan Islam, seseorang bisa dimasukkan ke dalam bentuk telah ingkar dari nikmat Alloh subhanahu wa ta’ala? Dan harus diwaspadai, kalau sudah mengingkari, apa jadinya?.

Jasa Buruk Inul bagi Para Penyanyi Seronok dan Penyelenggaranya.

Tidak bisa dipungkiri adanya jasa Inul Daratista dalam menyebarkan kemaksiatan, berupa goyang ngebor yang dipromosikan besar-besaran oleh Inul melalui media televisi beberapa tahun lalu, dan itu berdampak sangat luar biasa di kalangan penyanyi-penyanyi dangdut dan pada masyarakat secara meluas sampai saat ini dan entah sampai kapan lagi.

Betapa tidak! Para penyanyi dangdut dengan percaya dirinya tampil memamerkan gerakan joget yang sangat vulgar seperti Inul bahkan lebih vulgar lagi tanpa adanya rasa sungkan dan malu. Astagfirulloh.

Mereka (para penyanyi seronok itu) sudah benar-benar hilang rasa malunya, bahkan seperti merasa sebagai orang terhormat dapat menghibur orang lain, dapat menampilkan kebolehannya dalan berjoget mesum, apalagi jika dapat penghormatan dari si empunya hajat, dan dapat sambutan penonton, maka makin menjadilah lagaknya seperti orang terhormat. Mereka tidak pernah mau tahu ancaman Alloh subhanahu wa ta’ala atas tingkah maksiatnya itu.

Hal semacam itu kenapa bisa terjadi?. Ya karena ada yang mencontohi sebelumnya. Siapa pelopornya?. Yaitu Inul Daratista dan konconya (Anisa Bahar, dan yang belakangan adalah Dewi Persik). Promosi besar-besaran yang dilakukan Inul beberapa tahun lalu bersama konconya, dan yang belakangan penyanyi Dewi Persik juga mempromosikan goyangan menjijikkan itu di media televisi, membuat antrian panjang penyanyi-penyanyi dangdut lain mencontohnya, dan mereka sangat bangga dengan jogetannya yang menjijikkan. Dan itu sudah meluas dari kota sampai desa-desa terpencil. Mereka membuat kerusakan secara serempak, antara penyelenggara dan penyanyi-penyanyinya. Dan Inul harus bertanggung jawab atas kerusakan moral para penyanyi dan penontonnya. Karena atas jasa Inul lah para penyanyi dangdut itu seolah berlomba menampilkan jogetan yang vulgar dan menjijikkan setiap tampil di muka umum, mereka sangat bangga dan percaya diri, karena memang sudah ada yang memulainya, yang menunjukkan dirinya sebagai pelopor goyang ngebor. Yaitu Inul Daratista.

Ingat ancaman Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ*. رواه مسلم والنسائي وابن ماجه والترمذي باختصار القصة).

Barangsiapa membuat/ merintis dalam Islam suatu perbuatan kebaikan maka baginya pahala kebaikan itu dan pahala orang yang mengerjakannya setelahnya tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa membuat/ merintis dalam Islam suatu perbuatan kejelekan maka dosa kejelekan itu (menimpa) atasnya dan (ditambah dengan) dosa orang yang mengerjakannya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun. (HR Muslim, An-Nasaa’I, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi dengan kisah ringkas).

Adapun para penyelenggara, yaitu yang mengundang dangdutan dan penyanyinya, seperti yang mengadakan pesta pernikahan atau khitanan, maka mereka tak pernah berfikir jauh apalagi takut kepada Alloh subhanahu wa ta’ala, bahwa mengadakan hiburan dangdut beserta penyanyi yang vulgar itu adalah bentuk pengrusakan kepada orang lain dan perbuatan haram yang Alloh larang

Penyelenggara, Inul serta konconya, dan penyanyi-penyanyi yang mengekor jogetannya sepertinya merasa aman dengan perbuatannya. Penyelengara (yang mengadakan pesta) hanya berfikir untuk memuaskah hatinya, Inul berfikir bangganya jadi pelopor joget ngebornya, penyanyi-penyanyi hanya berfikir untuk memuaskan pengundang dan penontonnya (jangan lupa supaya gede sawerannya). Mereka merasa perbuatan mereka itu aman! Padahal itu jelas kemaksiatan dan merusak moral. Maka seharusnya ingat satu hal yang sangat penting, yaitu satu ayat Al-Qur’an yang berbunyi.

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ(99)

Maka apakah mereka merasa aman dari azab Alloh (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Alloh kecuali orang-orang yang merugi. (QS. Al-A’raf: 99).

Renungkanlah sebelum menyesal!!!


Jakarta, 28.7.2008.