Lelaki lumpuh yang mengaku berfaham kejawen bernama Jazuli di daerah Probolinggo Jawa Timur melontarkan perkataan: “Mana Allah, kalau ada saya culek matanya, dan saya robek mulutnya.

Di samping itu dia menduduki Alquran, menyobek, bahkan berniat mengkentuti Alquran. Dia juga menantang keesaan Allah SWT.

Kini lelaki pengangguran yang ikut orang tuanya di bengkel tambal ban itu jadi tersangka dalam kasus penistaan agama dan dijerat dengan pasal 156A huruf A KUHP tentang penistaan agama.

Beritanya sebagai berikut:

Inilah Awal Mula Terbongkarnya Pelecehan Alquran di Probolinggo

Jum’at, 31 Juli 2009 17:38:59 WIB
Reporter : Eko Hardianto

Probolinggo (beritajatim.com) – Kasus pelecehan Alquran di Probolinggo, baru kali ini terjadi. Karenanya persoalan tersebut begitu membetot perhatian publik. Lalu bagaimana asal muasal terungkapnya kasus tersebut? Berikut catatan beritajatim.com.

Adalah Lutfi Ahmad, warga Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, yang pertama kali melakukan penyelidikan atas kasus tersebut. Pria keturunan Arab ini merasa tak nyaman setelah mendengar keterangan sejumlah rekannya terkait tindakan pelaku yakni Jazuli.

Menurutnya, kasus tersebut bermula disebuah acara takziah di rumah Jupri, di Dusun Pengadangan, Desa Kebonagung, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, tepatnya sekitar seminggu lalu. Saat itu, Jazuli, yang juga datang melayat tetangganya yang meninggal itu, terlibat perbincangan dengan kawan-kawan sekampungnya.

Lalu entah mengapa, ditengah obrolan itu, tiba-tiba Jazuli, menghardik seorang petakziah lain yang melafalkan kalimat Istigfar (Astagfirullah Halazdim). Ironisnya, Jazuli, bahkan melarang orang itu (belakangan diketahui bernama Rahmad, red) untuk tidak melafalkan kembali kalimat Istigfar, jika dirinya masih berada ditempat itu. “Jazuli, melarang Rahmad membaca Istigfar sambil mencak-mencak dan menutup telinganya,” kata Lutfi Ahmad.

Tak sampai disitu, seolah tanpa beban, dihadapan puluhan petakziah, Jazuli, juga mengatakan jika Allah SWT, itu tidak pernah ada. “Dia bilang Allah tidak ada. Mana Allah, kalau ada saya culek matanya, dan saya robek mulutnya. Mana, mana Allah,” lanjut Lutfi Ahmad, menirukan kata-kata Jazuli, saat itu.

Waktupun terus berlalu. Keesokan harinya, sejumlah pemuda atas saran Lutfi Ahmad, mendatangi rumah Jazuli, untuk memastikan sikap pria asli Dusun Pengadangan, Desa Kebonagung, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, itu terhadap Keesaan Allah. Tak disangka, saat dijumpai dirumahnya, Jazuli makin berani memperlihatkan sikap ketidakwajarannya tersebut. “Dihadapan kami dia menduduki Alquran, menyobek, bahkan berniat mengkentuti Alquran. Dia juga menantang keesaan Allah SWT,” sambung Lutfi Ahmad.

Untuk membuktikan tindakan Jazuli, Lutfi Ahmad, diam-diam juga merekam semua pembicaraan dan tindakan Jazuli, melalui kamera ponsel. “Saat merekam ponsel sengaja kami sembunyikan, karena kami tak ingin Jazuli tahu kalau kami rekam. Kepada kami Jazuli juga mengaku jika sudah memiliki 202 murid,” pungkas Lutfi Ahmad.

Selanjutnya, atas kesepakatan sejumlah pengurus FUIB (Forum Ummat Islam Bersatu) Probolinggo, kasus Jazuli, dibawa ke kepolisian. [koe/kun]

Sumber: http://www.beritajatim.com/detailnews.php/4/Hukum_&_Kriminal/2009-07-31/41363/Inilah_Awal_Mula_Terbongkarnya_Pelecehan_Alquran_di_Probolinggo

Setelah disidik, polisi menegaskan, Jazuli sebagai tersangka penistaan agama. Beritanya sebagai berikut:

Nistakan Agama, Jazuli Jadi Tersangka

Jum’at, 31 Juli 2009 19:17:41 WIB
Reporter : Eko Hardianto

Probolinggo (beritajatim.com) – Jazuli, pelaku pelecehan terhadap Alquran, akhirnya ditetapkan sebagai tersangka atas kasus penistaan agama.

Kasat Reskrim Polres Probolinggo, AKP Sunardi Riyono, Jumat (31/7/2009) malam menegaskan, dari hasil penyidikan dan pemeriksaan saksi-saksi, Jazuli, cukup kuat ditetapkan sebagai tersangka kasus penistaan agama. “Dia (Jazuli red.) kami tahan. Dia telah terbukti melakukan penistaan agama dan dijerat dengan pasal 156A huruf A KUHP tentang penistaan agama,” katanya.

Sementara ancaman hukumannya, menurut AKP Sunardi Riyono, maksimal lima tahun penjara. “Jazuli sudah terbukti menista agama dengan cara menyobek Al Quran,” lanjutnya. Karena perbuatan itu dilakukan sendiri dan dia tidak memiliki pengikut, maka kasus tersebut tidak ada sangkutpautnya dengan aliran kepercayaan. “Ini menjadi tanggungjawab polisi. Jadi karena bukan kasus aliran kepercayaan, Kejaksaan, tidak ikut cawe-cawe soal pengawasan. Kejaksaan hanya akan bertindak dalam kapasitas sebagai penuntut,” kata Sunardi Riyono.

Bila tidak ada aral melintang, minggu depan berkas kasus penistaan agama ini akan dilimpahkan ke Kejakasaan Negeri Karaksaan. [koe/kun]

Sumber: http://www.beritajatim.com/detailnews.php/4/Hukum_&_Kriminal/2009-07-31/41374/Nistakan_Agama,_Jazuli_Jadi_Tersangka

(Redaksi nahimunkar.com).

Foto: Wikipedia