JJ Rizal: Mbah Priok Cuma Mitos, Sejarah yang Dimanipulasi

jj-rizal01

Sejarawan dari Komunitas Bambu JJ Rizal menyayangkan, ketika Gubernur DKI Jakarta Bang Foke, dan termasuk pula Presiden SBY membenarkan Mbah Priok sebagai tokoh penting sejarah dan mengakui makamnya sebagai situs sejarah. Bahkan lebih dari itu, akan dijadikan cagar budaya. Seperti diketahui, SBY sempat mengundang para kuncen ke Istana. Itu sama artinya, mengamini kepalsuan sejarah.

***

Ciputat (voa-islam) – Belum lama ini, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat Jakarta, mengadakan Seminar “Tradisi Ziarah dalam Masyarakat Indonesia”  sekaligus bedah buku  “Kasus Mbah Priok” terbitan MUI Provinsi DKI Jakarta di Gedung Syahida Inn, Kampus II UIN  Syarif Hidayatullah. Hadir sebagai pembicara antara lain: JJ Rizal, Prof. Dr. M. Bambang Pranowo, MA, dan Dr. Jamhari, MA.

Dalam makalahnya, Sejarawan dari Komunitas Bambu JJ Rizal mengatakan, ketika bicara Mbah Priok atau Habib Hasan Al Haddad, banyak pihak yang terlalu mengedepankan story-nya ketimbang bukti sejarah faktual. Yang dikemukakan, kebanyakan mitos-mitos, legenda-legenda berisi sepak terjang serta petualangan ajaib dan fantastik si mbah, ketika masih hidup maupun setelah meninggal dunia. “Story itu disampaikan bukan atas dasar nalar serta akal sehat. Bahkan sering satu cerita dengan cerita lainya bertentangan,” ujarnya.

Menurut JJ Rizal, Habib Hasan Al Haddad adalah mitos yang diciptakan dari sejarah atau peristiwa masa lalu seorang “tokoh” yang diidealisir, seakan-akan si tokoh betul-betul berperanan dan ditransformasi sebagai kebenaran sejarah. Padahal itu hanya pepesan kosong belaka, suatu kepalsuan data yang direkayasa.

“Sebab itu, keramat Habib Hasan Al Haddad boleh dikatakan punya cerita sejarah yang dimanipulasi. Sejarah dalam artian di sini, merupakan kerja kolaborasi si juru kunci dengan para peziarah. Dari tahun ke tahun ditambahkan, kemudian jadi legenda atau sejarah yang diimajinasikan.”

Kata JJ Rizal, mitosnya sengaja dibuat sebagai alat untuk mendukung realitas di lapangan, terkait dengan sengketa kepemilikan tanah antara mereka yang mengaku sebagai ahli waris Habib Hasan Al Haddad dengan pihak PT Pelindo. Pada akhirnya, mitos kekeramatan Mbah Priok itu tidak lagi sekedar urusan sengketa tanah, tapi sudah menyangkut identitas dan status sosial kelompok tertentu di masyarakat.

Sekitar tiga bulan, sebelum kerusuhan berdarah meledak di Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara (14 April 2010), sebuah surat dari Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara dilayangkan kepada Habib Al Idrus dan Habib Abdullah Sting, pengurus makam Mbah Priok yang mengaku sebagai ahli waris. Isinya adalah perintah pengosongan dan pembongkaran bangunan yang berdiri di atas lahan milik PT. Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II, yang mengelola Pelabuhan Tanjung Priok.

Surat ini melanjutkan instruksi Gubernur Jakarta, yang merujuk pada bukti hak pengelolaan dan keputusan Pengadilan Negeri Jakarta Utara yang menyatakan, bahwa gugatan ahli waris atas kepemilikan areal makam tidak diterima.

Dari fakta sejarah, JJ Rizal juga membantah anggapan, Mbak Priok sebagai tokoh yang telah berjasa sebagai pengislam masyarakat Betawi di masa lalu. Padahal, sebelumnya, tak sekalipun nama Mbah Priok disebut dalam network tokoh-tokoh yang dianggap berjasa mengislamkan Jakarta, baik dalam arsip colonial maupun sumber tradisional masyarakat Betawi. Bahkan penduduk Koja, lokasi Habib Hasan Al Haddad dimakamkan pun kurang mengenal tokoh ini. Nama Mbah Priok menjadi popular dan tersiar, ketika kerusuhan Koja terjadi.

JJ Rizal juga menyayangkan, ketika Gubernur DKI Jakarta Bang Foke, termasuk Presiden SBY membenarkan Mbah Priok sebagai tokoh penting sejarah dan mengakui makamnya sebagai situs sejarah. Bahkan lebih dari itu, akan dijadikan cagar budaya. Seperti diketahui, SBY sempat mengundang para kuncen ke Istana. Itu sama artinya, mengamini kepalsuan sejarah.

SBY pun tak membantah ketika para kuncen itu menyebarkan berita, ia adalah pernah menggelar pengajian bersama di makam itu. SBY pun menyatakan siap menjadi pelindung cagar budaya makam “keramat” Mbah Priok. “Tentu saja, dalam konteks ini sikap , presiden itu mesti dlihat sebagai urusan atau kepentingan politik sesaat yang dikaitkan dengan mitos makam keramat,” kata Rizal.

Desastian

Sumber: Voaislam, Senin, 02 May 2011

jj-rizal02

Pengkeramatan kuburan dan kerugian Ummat Islam

Kasus bentrokan di Makam Mbah Priok dengan aneka analisisnya dan kaitannya dengan aqidah Islam telah dibukukan dengan judul Pendangkalan Akidah Berkedok Ziarah, dibalik Kasus Kuburan Keramat Mbah Priok. Buku itu ditulis oleh Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede setebal 203 halaman. Dalam pengantarnya ditulis:

Dalam buku ini dijelaskan peristiwa berdarah yang berkaitan dengan kasus kuburan keramat di Tanjung Priok Jakarta Utara. Bentrokan yang terjadi 14 April 2010 antara para pendukung kuburan keramat Mbah Priok dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) mengakibatkan jatuhnya korban-korban yang tewas, luka-luka, dan dibakarnya sejumlah mobil, alat-alat berat, motor dan lainnya.

Itu yang banyak disoroti dalam berita-berita. Padahal yang lebih penting lagi, dan justru menyangkut inti Islam yaitu aqidah atau keyakinan berkaitan dengan kuburan yang dikeramatkan ini, seharusnya yang jadi perhatian paling utama. Namun sayangnya, justru tidak diperhatikan sama sekali, sampai para ulamanya sekalipun. Semua seolah tersihir oleh peristiwa berdarah dan bakar-bakaran itu, yang dilihat hanyalah kerugian materi belaka.

Lebih parahnya lagi, kasus itu seakan para pembela kuburan yang mereka anggap keramat itu sebagai pembela Islam. Ini menjadikan kelirunya pemandangan. Padahal persoalannya adalah:

1. Terjadi sengketa tanah sudah sejak zaman pemerintahan Soeharto sekitar tahun 1984. Tanah seluas 5,4 hektar itu memang di areal terminal pelabuhan peti kemas internasional. Yang terlibat dalam sengketa ini adalah pihak yang mengaku sebagai ahli waris MBah Priok yang kuburannya diklaim ada di tanah itu dan pihak PT Pelindo II, yang di belakang itu ada Pemda DKI Jakarta yang memiliki tenaga Satpol PP.

2. Sengketa tanah itu yang satu pihak mengandalkan kekuasaan dan tenaga yang dikerahkan adalah Satpol PP. Sedang yang satu pihak mengandalkan apa yang disebut kuburan keramat. Yang dikerahkan adalah tenaga-tenaga yang mempercayai bahwa membela kuburan keramat itu sebagai membela Islam. Karena keyakinannya dibentuk demikian, maka sampai tenaga yang masih ingusan (anak-anak) pun bersedia maju untuk dikerahkan..

Di sini sengketa tanah itu berubah pandangan, seakan perkaranya adalah akan digusurnya kuburan yang mereka anggap keramat, maka harus dilawan. Kuburan keramat seakan harus dibela, seolah membelanya berarti membela Islam. Inilah pangkal persoalan besarnya.

Kenapa?

Karena pengkeramatan kuburan itu sendiri sebenarnya sangat bertentangan dengan Islam, namun justru dianggap bahwa “inilah Islam”. Siapa yang mengusiknya berarti mengusik Islam.

Akibatnya, orang-orang yang menokohkan diri atau meng-ulama’-kan diri ikut bertandang membela kuburan yang dikeramatkan itu seolah memposisikan diri sebagai pembela Islam. Bahkan di antara mereka ada yang mengerahkan massa untuk membela kuburan (padahal belakangan disebut-sebut sebagai fiktif) yang dikeramatkan itu seakan membela Islam.

Di sinilah letak hiruk pikuk slura-sluru tidak keruan ujung pangkalnya, mana yang seharusnya dibela dan yang seharusnya dicegah. Menjadi tidak jelas.

Ada beberapa kerugian:

Pertama, Islam telah disimpangkan dengan adanya pengkeramatan kuburan, yang hal itu bukan ajaran Islam namun seakan dianggap Islami.

Kedua, Islam dijadikan tunggangan, seakan membela kuburan yang mereka keramatkan itu sebagai membela Islam.

Ketiga, membodohi masyarakat bahkan menjerumuskan, bahwa apa yang ditempuh itu seakan benar.

Keempat, dengan turun tangannya para pemuka yang menokohkan diri atau bahkan meng-ulama’-kan diri apalagi ada yang mengerahkan massa untuk membela kuburan yang mereka anggap keramat itu adalah merugikan Islam. Karena seakan mereka sebagai wakil yang membela Islam padahal perkaranya tidak demikian.

Demikian di antara isi pengantar buku Pendangkalan Akidah Berkedok Ziarah, dibalik Kasus Kuburan Keramat Mbah Priok.

(nahimunkar.com)