Jual Kemusyrikan ke Pengungsi Merapi, Mengaku Titisan Mbah Petruk

Zaenuddin MZ dan Hasyim Muzadi Perlu Bertanggung Jawab

Walaupun Presiden SBY sudah menganjurkan untuk meninggalkan takhayul (keyakinan batil hanya berdasar khayalan) dan kemusyrikan (menyekutukan Allah Ta’ala dengan selain-Nya, dosa paling besar) berkaitan dengan bencana letusan Gunung Merapi, namun malah ada tiga orang yang mengaku sebagai titisan Mbah Petruk dan Kiai Sapu Jagat.

Siapakah Mbah petruk dan Kiai Sapu Jagat itu? Mereka adalah nama roh yang dipercayai (secara batil) sebagai penguasa Merapi dan diyakini (secara batil) sebagai penjaga keamanan Kraton dan warga Yogyakarta .

Adapun lafal titisan, menurut KBBI –Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah jelmaan, inkarnasi — penjelmaan roh dalam wujud makhluk lain (ter-utama manusia) atau perwujudan makhluk halus dalam bentuk yg nyata. Jadi orang yang mengaku sebagai titisan Mbah Petruk dan Kiai Sapu Jagat itu artinya adalah orang yang mengaku sebagai jelmaan atau perwujudan dari roh tersebut.

Na’udzubillahi min dzalik! Itu adalah keyakinan orang kafir. Namun itulah yang didemonstrasikan oleh tiga orang di hadapan para pengungsi Merapi, dengan mengadakan pidato segala, yang isinya tentu saja sangat merusak iman. Di samping itu dibumbui pula dengan aksi menjedotkan keningnya sendiri ke aspal untuk memamerkan agar dianggap sakti.

Terhadap kasus yang sangat merusak iman para pengungsi bencana letusan Merapi itu, orang seperti Zaenuddin MZ dan Hasyim Muzadi perlu dimintai tanggung jawabnya. Sebab ucapan dan sikap dua tokoh itu telah menjadikan lesatirnya atau mungkin makin kuatnya kemusyrikan yang berlangsung di sekitar Merapi bahkan Yogyakarta, karena dua tokoh itu telah memuji-muji Mbah Maridjan, tokoh labuh sesaji terhadap roh-roh tersebut. Bahkan Zaenuddin MZ jelas-jelas menganjurkan untuk meneladani Mbah Maridjan. (lihat nahimunkar.com, Al-Qur’an Bilang Teladani Rasulullah, Zaenuddin MZ Bilang Teladani Mbah Maridjan, November 5, 2010).

Mengenai kafirnya pemahaman inkarnasi atau titisan, insya Allah akan dapat dibaca di bagian bawah. Sedang berita tentang mereka yang mengaku titisan Mbah Petruk adalah sebagai berikut:

Minggu, 07/11/2010 13:01 WIB

3 Pria Mengaku Titisan Mbah Petruk & Kiai Sapu Jagat, Orasi di Depan Pengungsi
Bagus Kurniawan – detikNews

Klaten – Sekitar pukul 11.30 WIB, tiba-tiba saja Posko SAR Balerante di Kecamatan Manisrenggo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, kedatangan tiga laki-laki yang bikin heboh. Ketiga warga Desa Talun, Kecamatan Kemalang, itu mengaku titisan Mbah Petruk dan Kiai Sapu Jagat — yang menurut cerita rakyat setempat merupakan penguasa Gunung Merapi.

Tiga laki-laki bernama Warjo, Walidi dan Pardiyo, datang menggunakan sepeda motor. Setibanya di lokasi ketiganya langsung menghampiri para pengungsi dan relawan.

Walidi bertindak sebagai juru bicara. Walidi mengatakan, sebagai titisan Mbah Petruk, dia diamanatkan untuk menyampaikan pesan agar para warga yang menjadi korban letusan Merapi agar sebaiknya mengungsi ke daerah Klaten yang dianggap lebih aman.

“Saya ini titisan Mbah Petruk, Yogya akan saya bumi hanguskan karena Raja tidak menurut pada penguasa Merapi dan penguasa Pantai Selatan,” ujar Walidi yang mengenakan batik lengan panjang sambil berteriak-teriak di depan para pengungsi.

Sambil mengacungkan salah satu jarinya, dia meminta warga tidak menyepelekan amanat yang dibawanya itu.

“Saya meminta warga untuk mengungsi di Klaten saja, karena akan selamat, sebab yang akan dibumihanguskan, oleh Mbah Petruk adalah wilayah Yogyakarta yang masuk di dalam wiyah kekuasaan Keraton Yogya,” katanya dengan suara nyaring dalam bahasa Indonesia.

Dia lalu menyambung dengan bahasa Jawa. “Nek arep ngungsi neng Klaten wae, mesti slamet (Kalau mau mengungsi ke Klaten saja, pasti selamat),” katanya.

Aksi Walidi ini mencuri perhatian warga yang mengungnsi. Para relawan berusaha meminta Walidi agar tetap tenang. Walidi mencoba mengarah ke barak pengungsian, namun petugas buru-buru menghalaunya.

Pardiyo juga tak mau kalah untuk ikut berorasi. Dia mengatakan kepemimpinan SBY sudah tidak bisa dipercaya lagi.

“Kita tidak percaya pada kepemimpinan SBY. Yudhoyono suruh ke sini karena tidak bisa menyelesaikan krisis Merapi,” ucap Pardiyo.

Mencegah aksi ini terus berlanjut, Tim SAR kemudian mengamankan ketiganya dan membawa mereka masuk ke dalam ambulans. Ketika diboyong menuju ambulans, Walidi yang mengaku sebagai titisan Mbah Petruk tersebut sempat memamerkan “kesaktian”-nya. Walidi sempat membenturkan keningnya di aspal, yang memicu ketakutan para warga. (lia/nrl) detikNews

Berikut ini tentang keyakinan kufur mengenai titisan atau reinkarnasi.

Reinkarnasi, faham kafir

1. Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi, Al-Mubarokafuri Abul ‘ala w 1353H, 10 juz, Darul Kutub Ilmiyyah, Beirut, tt., Juz 5, h 222 menegaskan:

Ketahuilah, tanasukh/ reinkarnasi adalah kembalinya roh-roh ke badan-badan di dunia ini tidak di akherat karena mereka mengingkari akherat, surga, dan neraka, maka karena itu mereka kafir. Titik. Aku (Al-Mubarokafuri, penulis Tuhfatul Ahwadzi, Syarah Kitab Hadits Jami’ at-Tirmidzi) katakan atas batilnya tanasukh/ reinkarnasi itu ada dalil-dalil yang banyak lagi jelas di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Di antaranya:

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ(99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ(100)

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan (QS Al-Mukminun: 99-100).[1]

2. Dalam Kitab al-Muhalla, Ibnu Hazm mengemukakan hadits dari Ibnu Umar berkata, Rasulullah saw bersabda: “Apabila seseorang meninggal maka dibentangkan atasnya tempat duduknya pagi dan sore. Apabila ia termasuk ahli surga maka surga lah (yang dibentangkan padanya) dan apabila dia termasuk ahli neraka maka neraka lah (yang dibentangkan padanya). Kemudian dikatakan padanya, ini tempat dudukmu yang kamu dibangkitkan kepadanya pada hari qiyamat. Maka dalam hadits ini bahwa ruh-ruh itu merasakan mengetahui dipilah-pilah setelah berpisahnya dari jasad. Adapun orang yang mengira bahwa ruh-ruh itu berpindah ke jasad-jasad lain maka persangkaan itu adalah perkataan orang-orang berfaham reinkarnasi/ tanasukh, dan itu adalah kekafiran menurut seluruh umat Islam. Wabillahit taufiq.[2]

Tentang faham kufur reinkarnasi ini, Kitab Al-farq bainal Firaq menjelaskan, telah ada sebelum Islam dan sesudah datangnya masa daulah Islam. Berikut ini kutipannya:

Pengikut faham reinkarnasi keluar dari golongan Islam.

Orang-orang yang berfaham reinkarnasi ada beberapa golongan. Segolongan dari filsafat dan segolongan dari samaniyah (perdukunan –animisme). Dua golongan ini telah ada sebelum daulah Islam. Dua golongan lainnya muncul di masa daulah Islam, yang satu dari kelompok qodariyah (tak begitu percaya taqdir, sejalan dengan Mu’tazilah) dan yang lain dari golongan (Syi’ah) Rafidhah ekstrim.

Pengikut faham reinkarnasi samaniyah (perdukunan –animisme) berkata, alam ini qodim/ dahulu (sudah ada sejak dulunya). Mereka berpendapat juga tentang batalnya teori dan dalil. Mereka menyangka bahwa tidak ada pengetahuan kecuali dari arah lima indera. Sebagian banyak dari mereka mengingkari hari qiyamat dan kebangkitan setelah mati.

Sebagian mereka berpendapat dengan penjelmaan kembali ruh dalam bentuk berbeda-beda, dan mereka membolehkan berpindahnya ruh manusia ke anjing dan ruh anjing ke manusia. Aqlotharkhas menceritakan seperti ini dari sebagian filsafat dan mereka menyangka bahwa orang yang berdosa dalam satu lubang maka dia memperoleh siksa atas dosanya itu dalam lubang yang lain. Demikian pula pendapat mengenai pahala di sisi mereka. Dan hal yang sangat mengherankan adalah pengakuan golongan samaniyah (dukun –animisme) mengenai reinkarnasi/ penjelmaan kembali yang tidak diketahui dengan indera, padahal mereka katakan, tidak ada pengetahuan kecuali dari arah indera.[1]

Golongan Manawiyah (Manichaeisme)[1] ikut pula pendapat reinkarnasi. Mani berkata di sebagian kitabnya, bahwa ruh-ruh yang berpisah dengan jasad ada dua macam: ruh-ruh orang yang benar dan ruh-ruh orang yang sesat. Ruh-ruh orang yang benar apabila berpisah dengan jasadnya maka berjalan dalam tiang subuh ke cahaya yang di atas falak maka menetap di alam yang demikian itu dalam keadaan bergembira selalu. Dan ruh-ruh orang sesat apabila berpisah dari badan dan ingin berjumpa dengan nur cahaya yang tinggi dibalikkan terpental ke bawah, maka menjelma kembali/ reinkarnasi dalam badan-badan hewan sampai dia bersih dari daki-daki kegelapan. Kemudian dia berjumpa dengan nur yang tinggi.[1]

Dan disebutkan, pengikut pendapat dari Socrates dan Platon serta pengikut -pengikut faham keduanya dari kalangan filsafat, bahwa mereka berkata mengenai reinkarnasi ruh secara terinci, telah kami (penulis kitab alfarq bainal firaq) ceritakannya di kitab al-milal wan-nihal.

Dan sebagian orang Yahudi berkata mengenai reinkarnasi, mereka menyangka bahwa ada di kitab Daniel, Allah Ta’ala menjelmakan Bukhtanshar (Nebukatnezar) dalam 7 bentuk binatang ternak dan srigala, dan Dia mengadzabnya pada binatang-binatang itu semua, kemudian membangkitkannya dalam bentuk lainnya dengan menyatu.[1]

Adapun pengikut faham reinkarnasi pada masa daulah Islam, yaitu al-bayaniyyah, al-janahiyyah, al-khothobiyyah, dan ar-rawandiyah dari kalangan (Syi’ah) Rafidhah hululiyyah (menganggap Allah menyatu dengan diri manusia). Semuanya berpendapat dengan reinkarnasi ruh Tuhan pada imam-imam dengan persangkaan mereka.

Yang pertama mengatakan faham sesat reinkarnasi ini adalah As-Saba’iyyah (pengikut Abdullah bin Saba’) dari (Syi’ah) Rafidhah karena mereka mendakwa bahwa Ali menjadi Tuhan ketika ruh Tuhan menyatu pada Ali.[1]

Imam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya, Risalah Fit Taubah, menjelaskan: Dan demikian juga pertama-tama pendapat ekstrim yang dibuat dalam Islam adalah dari sebagian orang yang telah masuk Islam dan bergabung dalam kelompok Syi’ah. Dan dikatakan, orang pertama yang menampakkan faham ekstrim (melampaui batas) adalah Abdullah bin Saba’ yang dulunya Yahudi lalu masuk Islam dan ia lah orang yang melakukan fitnah atas Utsman. Kemudian ia menampakkan berwalikan kepada Ali, dan dialah yang membuat bid’ah ghuluw/ ekstrim terhadap Ali sehingga tampak pada zamannya orang yang mengaku dalam diri Ali ada ketuhanan, dan orang itu bersujud kepada Ali ketika Ali keluar dari Masjid Kindah. Maka Ali memerintahkan untuk membakar mereka dengan api setelah diberi waktu tangguh 3 hari.[1]

Al-Bayaniyyah menyangka, bahwa ruh Tuhan berputar pada nabi-nabi kemudian imam-imam sampai masuk ke dalam (diri) Bayan bin Sam’an.

Al-Janahiyyah mengaku seperti itu juga mengenai Abdullah bin Mu’awiyah bin Abdullah bin ja’far. Demikian pula pengakuan Al-Khothobiyyah mengenai Al-Khothob. Begitu juga dakwaan kaum Ar-Rawandiyah mengenai Abi Muslim pemilik Daulah Bani Abbas. Maka mereka berpendapat dengan (mempercayai) reinkarnasi ruh Tuhan, bukan ruh-ruh manusia. Maha Tinggi Allah dari yang demikian itu. Allah Maha Tinggi Maha Agung.

(lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, Nabi-Nabi Palsu dan Para Penyesat Umat, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta 2008, halaman 246-249).

(nahimunkar.com)


[1] Tuhfatul Ahwadzi, Al-Mubarokafuri Abul ‘ala w 1353H. 10 juz, Darul Kutub ilmiyyah, Beirut, tt., Juz 5, h 222

تحفة الأحوذي ج: 5 ص: 222

إعلم أن التناسخ ثم أهله هو رد الأرواح إلى الأبدان في هذا العالم لا في الاخرة إذ هم ينكرون الاخرة والجنة والنار ولذا كفروا انتهى قلت على بطلان التناسخ دلائل كثيرة واضحة في الكتاب والسنة منها قوله تعالى حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ(99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ(100)

[2]Ibnu Hazm (383-456H), Al-Muhalla, 11 juz, darul Afaq al-jadidah, Beirut, tt, juz 1, halaman 26.

المحلى ج: 1 ص: 26

ثنا معمر عن الزهري عن سالم عن ابن عمر قال قال النبي صلى الله عليه وسلم إذا مات الرجل عرض عليه مقعده بالغداة والعشي إن كان من أهل الجنة فالجنة وإن كان من أهل النار فالنار ثم يقال له هذا مقعدك الذي تبعث إليه يوم القيامة ففي هذا الحديث أن الأرواح حساسة عالمة مميزة بعد فراقها الأجساد وأما من زعم أن الأرواح تنقل إلى أجساد أخر فهو قول أصحاب التناسخ وهو كفر ثم جميع أهل الإسلام وبالله تعالى التوفيق