(Niruin Siapa ya? Ini Kesaksian Para Pelayan  Perjalanan)

Pengakuan para pramugara/i kereta api eksekutif dalam  suatu laporan di media online ini pantas disimak. Bagaimana sikap para penumpang dari kalangan menengah yang mereka layani dalam perjalanan, ternyata mudah marah.

“Penumpang adalah raja, titik. Itulah semboyan kami semua. Karena raja, harus dilayani sebaik-baiknya,” terang Agustina. “Tapi meski raja, kami berharap penumpang tidak berubah menjadi raja yang sewenang-wenang. Kami toh juga manusia. Punya rasa sedih, tersinggung, mengkal dan sebagainya. Kami dibayar tidak untuk dimaki-maki,” ujarnya menambahkan.

Silakan simak penggalannya berikut  ini.

***

Menurut seorang pramugari kereta eksekutif, tidak hanya dalam perjalanan, selama persiapan hingga tempat tujuan, mereka dituntut bekerja. Dalam keadaan normal, mereka harus sudah siap dua jam sebelum kereta berangkat. Berdiri di depan pintu gerbong dan memberikan bantuan kepada penumpang sebelum kereta bertolak dari stasiun keberangkatan. Setibanya di kota tujuan, mereka hanya bisa beristirahat sejenak. Kemudian sore harinya sudah harus berangkat lagi.

Padahal, dalam perjalanan, mereka harus wara-wiri dari gerbong-ke gerbong. Membagikan makanan, selimut, atau mengantar makanan yang dipesan. Mereka harus bolak-balik dalam memberikan layanan bagi penumpang. Misalkan dihitung, entah berapa kilometer jarak yang mereka tempuh selama setiap harinya selama bekerja di atas kereta.

Sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan

Mereka juga mengaku sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan. Sebut saja Sahril. Menurut pengakuannya, ia pernah ditodong oleh penumpang karena dianggap terlambat ketika mengantar makanan. “Seorang penumpang bahkan pernah menodongkan pistol ke rekan saya, hanya gara-gara terlambat mengirim makanan yang dipesan,” ujarnya.

Lain lagi dengan yang dialami Agus. Lorinya pernah ditendang dengan kasar oleh penumpang. Sebabnya juga hanya persoalan sepele. Saat berjalan, lorinya menyenggol salah seorang penumpang. Menurutnya, lori tersebut susah berjalan karena terhalang travel bag penumpang. Karena menghindari travel bag, lori seberat lebih dari 50 kg tersebut justru menabrak penumpang.

Menurut mereka, penghargaan penumpang terhadap pramugari sangat minim. Tak sedikit penumpang yang kebanyakan dari kalangan atas tersebut berperangai penuh emosional. “Teman saya pernah menangis gara-gara dimaki-maki penumpang. Kamu ini kan di sini hanya pelayan. Jadi melayani yang benar. Dibayar berapa sih!” kata Yeni menirukan ocehan seorang penumpang yang marah pada rekannya itu.

Omelan penumpang semakin banyak diarahkan pada mereka saat kereta api mengalami keterlambatan. Padahal, keterlambatan kereta sama sekali tak terkait dengan tugas mereka. Belum lagi jika ada toilet yang bau, atau mesin pendingin yang rusak. Meski itu semua bukan tanggung jawab mereka, penumpang tidak mau tahu, dan justru melampiaskan amarah pada pramugari. Merekalah yang selalu kena damprat penumpang.

Menurut Agustina, dirinya hanya bersikap wajar menghadapi penumpang. “Penumpang adalah raja, titik. Itulah semboyan kami semua. Karena raja, harus dilayani sebaik-baiknya,” terang Agustina. “Tapi meski raja, kami berharap penumpang tidak berubah menjadi raja yang sewenang-wenang. Kami toh juga manusia. Punya rasa sedih, tersinggung, mengkal dan sebagainya. Kami dibayar tidak untuk dimaki-maki,” ujarnya menambahkan.

Hal senada diungkapkan iin. Bahkan menurutnya, tidak hanya sabar menghadapi penumpang juga sabar menghadapi resiko bekerja yang memakasanya untuk begadang semalam suntuk. Kalaupun bisa memejamkan mata, itu tidak lama. Ruang istirahat pun hanya ala kadarnya, berupa ruangan sempit berukuran dua kali dua meter yang diisi lima orang. “Jadi kalau sedang bertugas, istirahat dan tidurnya mencuri-curi waktu kalau sedang kosong tugas di dalam kereta” terang iin.

Bagi mereka yang laki-laki lebih parah lagi. Tidak ada ruang istirahat untuk mereka. Jika ingin meluruskan badan barang sejenak, mereka harus mencari tempat kosong. Seringkali mereka harus melepas penat di tempat sekenanya karena kereta penuh. Restorasi yang biasa menjadi wilayah mereka-pun seringkali dipakai penumpang.

Dicuplik dari judul: Penampilan Eksekutif, Nasib Mencekik

BY YAPHI ON 3 OKTOBER 2016/suarakeadilan.org

***

Jangan Marah, maka Kamu  Akan Masuk Surga

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang keutamaan orang yang dapat menahan amarahnya, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللهُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ مَا شَاءَ.

Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu melakukannya, pada hari Kiamat Allah k akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai.[11]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada seorang sahabatnya,

لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ.

Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk Surga.[12]

[11]. Hasan. HR Ahmad (III/440), Abu Dawud (no. 4777), at-Tirmidzi (no. 2021), dan Ibnu Majah (no. 4286) dari Sahabat Mu’adz bin Anas al-Juhani Radhiyallahu anhu. Dihasankan oleh Syaikh al-Albâni dalam Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 6522).
[12]. Shahîh. HR ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausath (no. 2374) dari Sahabat Abu Darda Radhiyallahu anhu. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albâni dalam Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 7374) dan Shahîh at-Targhîb wat-Tarhîb (no. 2749).

Sumber: almanhaj.or.id

(nahimunkar.com)