Karl May dan Adzan Shalat Idul Fitri

Tulisan ini diberi judul “Karl May dan Adzan Shalat Idul Fitri” tentu bukan tanpa maksud. Antara lain, untuk memberikan bukti bahwa beberapa hal yang tidak berhubungan dan tidak faktual, bisa saja memberi kesan begitu indah, inklusif, bahkan sedikit religius.

Karl May jelas tidak ada hubungannya dengan Adzan, dan Adzan tidak ada hubungannya dengan Shalat Idul Fitri. Namun, ketiga hal yang tidak ada hubungannya tadi begitu indah jika ditulis dalam satu rangkaian kalimat. Bahkan mungkin sejumlah orang akan begitu mudah terpesona.

Untuk menuliskan sesuatu yang humanis dan sebagainya, dengan kemampuan dan bakat menulis yang tersedia pada diri seorang penulis, hal itu bukan persoalan berat. Mudah saja.

Karl May, seorang penulis asal Jerman yang lahir pada 25 Februari 1842 dan meninggal pada 30 Maret 1912, begitu memukau pembacanya dengan kisah petualangan ber-setting wild wild west. Misalnya, buku berjudul Winnetou yang sangat terkenal itu.

Padahal, ketika menulis Winnetou, ia sama sekali belum pernah melancong ke daerah yang dijadikannya setting dalam ceritanya itu, yaitu bagian barat Buffalo, New York. Karl May baru sekali mengunjungi kawasan itu pada tahun 1908, jauh sesudah novel Winnetou terbit.

Pembaca yang menggemari dan bahkan mengagumi karya Karl May boleh jadi karena ia merupakan pembaca yang sama sekali belum pernah ke kawasan itu. Tetapi lebih mungkin, karena kehebatan Karl May itu sendiri. Meski tidak punya pengalaman hidup di dunia westen, wild wild west, sang penulis mampu menutupi kelemahannya itu dengan menyodorkan sumber-sumber faktual, pengetahuan antropologi dan linguistik yang digalinya sendiri. Selain juga karena Karl May mempunyai kemampuan berimajinasi yang luar biasa, ditambah pula dengan tingkat kreativitas yang tinggi.

Artinya, seorang penulis bisa saja membuat cerita tentang pegunungan, tanpa harus punya pengalaman berada di pegunungan. Dan para pembaca yang juga belum pernah pergi ke pegunungan akan terkesima dengan kemampuan imajinatif penulisnya.

Para ahli timur (orientalis) sudah membuktikan, mereka bisa saja mendalami Islam sebagai ilmu tanpa harus mengimani apalagi mengamalkannya. Di Indonesia, memposisikan Islam sebagai ilmu semata, yang kosong iman dan amal, sedang diproyekkan oleh para petinggi di UIN (atau IAIN), dengan alasan untuk menjadikan mahasiswanya sebagai lulusan yang lebih bermartabat. (lihat tulisan berjudul Gejala Bahaya Laten Neo Komunisme di UIN edisi November 2, 2008 9:44 pm, dan tulisan berjudul Azyumardi Azra Bilang, “Itu Fitnah…” edisi December 3, 2008 2:05 am di nahimunkar.com).

Berbeda dengan Karl May adalah Andrea Hirata, yang terkenal dengan novel Laskar Pelangi-nya. Bila Karl May belum pernah mengunjungi wild wild west saat menulis Winnetou dan kemudian digemari banyak orang, penulis Laskar Pelangi tidaklah demikian. Andrea Hirata alias Ikal merupakan bagian dari setting yang menjiwai novel laris tersebut.

Novel Laskar Pelangi bahkan berkesempatan merambah dunia film, dan laku keras. Bahkan saat-saat Idul Fitri salah satu stasiun swasta menjadikannya tayangan perdana di TV tersebut selama dua hari berturut-turut. Kini, Ikal alias Andrea Hirata tidak saja kebanjiran rezeki tetapi juga popularitas yang menjulang. Kemampuannya menulis banyak dipuji-puji khalayak.

Sekitar sepekan menjelang Idul Fitri, tepatnya 14 September 2009, harian Kompas memuat tulisan Ikal alias Andrea Hirata bertajuk Lebaran di Negeri Laskar Pelangi. Selengkapnya sebagai berikut:

Lebaran di Negeri Laskar Pelangi

Senin, 14 September 2009 | 03:20 WIB

Oleh ANDREA HIRATA

Menjelang Lebaran seperti sekarang ini, aku selalu ingat kepada guru mengajiku dulu di kampungku yang jauh, udik, dan terpencil, Gantong, nun di tepi timur Pulau Belitong sana di titik paling ujung peradaban Melayu. Namanya Haji Fadillah Fairuz, yang tak pernah marah meski kami, anak-anak didiknya, selalu nakal. Makin nakal kami, makin sabar ia, dan makin sayang kami kepadanya.

Ramadhan menjadi begitu menyenangkan bersamanya. Jika usai berbuka puasa, kami segera menyerbu masjid karena Haji Fairuz akan mengajar kami azan berbagai gaya, mulai dari gaya orang Mesir sampai gaya umat muslim Tionghoa di daratan China. Unik dan lucu.

Sepanjang shalat tarawih, Haji Fairuz bergabung di saf paling belakang bersama kami yang sering ribut. Seusai tarawih, ia akan menceritakan kisah dari jazirah yang membuat kami tertawa sampai berguling-guling. Ia memimpin kami pawai likur pada hari ke-17 puasa. Ia pun membuat lomba membaca puisi berbahasa Arab dan pentas sandiwara Abu Nawas.

Lalu, yang paling istimewa, suatu ketika Haji Fadillah Fairuz menyarankan, tak ada salahnya mengantar hidangan lebaran kepada warga Tionghoa di kampung kami.

Dan, tibalah Lebaran. Pagi-pagi sebelum salat Idul Fitri, aku merepotkan ibuku agar mengisi rantang dengan ketupat dan masakan lebaran. Lalu, aku bergegas ke rumah Nyim Kiun, wanita Tionghoa renta yang hidup sendiri. Ia tertegun menatapku. Aku mesti berkali-kali menjelaskan kepadanya bahwa aku datang sesuai dengan saran Haji Fairuz. Nyim Kiun masih tak mampu berkata-kata waktu menerima rantang itu. Matanya berkaca-kaca. Itulah Lebaran terindah dalam hidupku.

Betapa lembut Islam di tangan Haji Fairuz. Ia pula yang menyadarkanku akan megahnya Lebaran bagi orang Melayu pedalaman seperti kami. Secara kultural, kami tak punya hari besar apa pun. Kami bahkan tak merayakan ulang tahun, jangan kata Valentine’s Day. Jika belakangan banyak orang Melayu merayakan ulang tahun, itu karena mereka terlalu banyak mendengar lagu barat atau nonton TV.

Maka, Idul Fitri menjadi yang terbesar dan teristimewa bagi kami. Orang rela berdesakan dalam kapal lawit, terkapar mabuk laut bertumpuk- tumpuk seperti pindang di geladak. Tetapi, semuanya gembira untuk Lebaran di kampung.

Para penggunjing, jemaah tetap warung kopi dan berandalan pasar bergegas dengan baju-baju terbaiknya, bersepeda kalang kabut karena azan shalat Idul Fitri telah berkumandang. Mereka ingin shalat! Walaupun mungkin hanya sekali itu tahun ini.

Anak-anak Melayu berbondong-bondong ke masjid, semuanya seragam lantaran bahan pakaiannya hanya dari jatah maskapai timah untuk kaum kuli. Walau baju mereka kerap sama dengan gorden dan taplak meja, mereka ingin menghadap Allah dengan baju lebaran paling bagus. Masih demikian banyak sisi indah dalam Islam yang bisa dinikmati, disyukuri, dibanggakan, dan dibela tanpa harus dengan menaikkan darah.

Aku rindu kepada Haji Fairuz dan cantiknya Islam dalam pelukannya. Aku rindu menjadi Muslim yang lebih baik. Aku rindu pada kenakalan-kenakalan di masjid selama Ramadhan, pada keunikan orang Melayu jika Lebaran. Aku rindu pawai likur membawa obor keliling kampung. Aku rindu melihat wajah orang-orang Khek dan Hokian waktu mereka menerima rantang hidangan lebaran.

ANDREA HIRATA Novelis

Tulisan singkat itu ternyata mendapat pujian dari sana sini. Di antaranya ada yang memberikan pujian sebagai berikut: “…Andrea Hirata, seperti biasa, tuturnya mengalir, ada getar dalam setiap kata-nya. Meski sederhana, tetap saja ada yang merinding setelahnya. Ia begitu jeli…” (alimah @ Senin, 14 September 2009 | 11:15 WIB)

Kita percaya itu semua merupakan kisah nyata yang dialami Ikal alias Andrea Hirata. Pengalaman masa kecil yang sederhana, indah, nostalgis. Namun, bagaimana Ikal alias Andrea Hirata menjelaskan kepada pembaca yang kritis tentang “adzan shalat Idul Fitri” yang digambarkannya mampu membuat sejumlah orang bergegas menuju areal shalat Ied berlangsung, meski itu merupakan shalat-nya setahun sekali? Bukankah selama ini tidak pernah ada adzan untuk shalat Idul Fitri, Idul Adha dan shalat sunnah lainnya?

Bila Ikal alias Andrea Hirata mampu mengingat nama-nama yang pernah singgah di masa lalunya belasan tahun silam, seperti Haji Fadillah Fairuz, Nyim Kiun, serta rantang berisi ketupat dan masakan lebaran, seharusnya Ikal tak lupa bahwa untuk shalat Iedul Fithri tidak diperlukan adzan, bukan? (haji/tede)