Kasus Bank Century dan Dugaan Keterlibatan Tokoh Aliran Sesat Ma’had Al-Zaytun –NII KW9

Data Deposan/DPK Inti Bank Century dari Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK) yang diperoleh primaironline.com, Jakarta, Sabtu (23/1), menyebutkan, “Tercatat pula adanya deposan inti perorangan an. Abu Ma’arik dengan total simpanan dana Rp45.967 juta (sekitar Rp45 miliar).

“Sesuai informasi yang didapat melalui internet adalah salah satu pemilik Bank CIC (2001) dan pendiri Pondok Pesantren Al-Zaytun. Memiliki nama lain yaitu Abu Toto alias Syekh Abdus Salam Panji Gumilang,” tulis PPATK. (primaironline.com)

Majalah Tempo memberitakan, Dokumen juga melaporkan rekening atas nama Abu Ma’arik dengan total simpanan Rp 45,9 miliar. Abu Ma’arik pada 2001 tercatat sebagai pemilik Bank CIC. Ia punya nama lain Abu Toto alias Syekh Abdus Salam Panji Gumilang, pendiri Pondok Pesantren Ma’had al-Zaytun, Indramayu, Jawa Barat. Tapi info ini dibantah pihak pesantren. Abdul Halim, sekretaris Ma’had al-Zaytun, mengatakan, ”Tidak mungkin Syekh (Abu Toto) kami punya uang sebesar itu.” Abu Toto, kata Halim, hanya punya nama lain Panji Gumilang.

Situs nii crisis center memberitakan: Sudah dua tahun ini rekening Panji Gumilang jadi pembicaraan khalayak ramai. Al-Zaytun dan NII KW9 bahkan dicap aliran sesat oleh Forum Ulama Umat di Jawa Barat. Selain dituduh telah menyempal dari akidah, kelompok ini juga dicurigai telah menggalang dana umat lewat cara-cara manipulatif. Berpuluh korban telah datang mengadu, merasa diperalat jaringan ini untuk mengumpulkan uang dalam jumlah yang mencengangkan.
Seorang komisaris besar polisi yang intensif mengintai gerakan ini, misalnya, mencatat tiap wilayah NII dalam sebulan menyetor sekitar Rp 7 miliar. Jurnal Van Zorge mencatat pendapatan Al-Zaytun mencapai Rp 162 miliar setahun.

Inilah berita-berita tentang kasus Bank Century dan dugaan keterlibatan Abdus Salam Abu Toto Panji Gumilang pendiri Ma’had Al-Zaytun di Indramayu yang juga tokoh aliran sesat NII KW9.

Pendiri Ponpes Al-Zaytun simpan Rp45 miliar di Century

Agustinus Edy Kristianto

23 Januari 2010 | 13:37 | Politik

Jakarta, primaironline.com – Pada November 2008, PPATK mencatat, dari 50 deposan/DPK Inti yang tercatat di Bank Century, diketahui total keseluruhan simpanan dana senilai Rp2.870.052 juta (sekitar Rp2,8 triliun). Keputusan KSSK untuk bail out Century pada 20-21 November 2008.

Data Deposan/DPK Inti Bank Century dari Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK) yang diperoleh primaironline.com, Jakarta, Sabtu (23/1), menyebutkan, deposan terbesar adalah PT Lancar Sampoerna dengan jumlah Rp539.924 juta diikuti oleh Boedi Sampoerna dengan jumlah Rp506.470 juta.

Selain itu, tercatat adanya dana simpanan an. YKKBI-II sebesar Rp20 miliar dan PT ASABRI sebesar Rp18,5 miliar.

“Tercatat pula adanya deposan inti perorangan an. Abu Ma’arik dengan total simpanan dana Rp45.967 juta (sekitar Rp45 miliar).

“Sesuai informasi yang didapat melalui internet adalah salah satu pemilik Bank CIC (2001) dan pendiri Pondok Pesantren Al-Zaytun. Memiliki nama lain yaitu Abu Toto alias Syekh Abdus Salam Panji Gumilang,” tulis PPATK.

Dari data yang ada, diketahui pula nama deposan an. Farouk Muhammad dengan jumlah simpanan Rp29.332 juta.

“Dari hasil klarifikasi dengan pihak Bank Mutiara diperoleh informasi bahwa nasabah tersebut tidak sama dengan mantan Gubernur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian yang saat ini menjadi anggota DPD RI,” tulis PPATK.

(aka)

http://www.primaironline.com/berita/detail.php?catid=Politik&artid=pendiri-ponpes-al-zaytun-simpan-rp45-miliar-di-century

Berita lebih rinci sebagai berikut:

Tergiur Rayuan dan Bunga Tinggi

Pengusaha kaya, perusahaan negara, hingga pendiri pesantren memiliki rekening di Bank Century. Sejumlah rekening menyusut menjelang pemilihan umum dan pemilihan presiden.

SALINAN dokumen berklasifikasi sangat rahasia ini memuat 88 nasabah terbesar Bank Century. Ada dua bundel. Yang pertama terdiri atas lima lembar, termasuk surat pengantar Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan Yunus Husein. Bundel lainnya berisi matriks pola perubahan isi rekening sejak November 2008 hingga Agustus 2009. Hasil analisis Pusat Pelaporan itulah yang terus ditunggu Panitia Khusus Hak Angket Dewan Perwakilan Rakyat. Dalam rapat konsultasi dengan Yunus Husein, Kamis dua pekan lalu, Panitia Angket mendesak lembaga itu membuat laporan nama-nama nasabah Bank Century, termasuk klarifikasinya. Seorang sumber memberi Tempo kesempatan membaca salinan dokumen itu.

Yunus Husein dalam rapat itu sebenarnya telah menyerahkan dokumen hasil analisis terhadap 64 rekening yang mencurigakan tadi. Analisis yang sama telah diserahkan ke Badan Pemeriksa Keuangan, yang baru saja mengaudit investigatif Bank Century. Namun Panitia Angket menganggap hasil analisis itu tidak mengungkapkan rekening mencurigakan. ”Itu bukan kewenangan kami,” Yunus menjawab pertanyaan itu.

Dewan tetap ngotot agar Pusat Pelaporan memenuhi permintaan mereka. Rupanya, Pusat Pelaporan diam-diam ”patuh” pada desakan Dewan. Keluarlah dokumen edisi Senin pekan lalu itu. Analisis itu menyebutkan ada 50 deposan inti yang tercatat di Bank Century pada November 2008. Seluruh simpanan mereka berjumlah Rp 2,8 triliun atau sekitar 40 persen dari total dana pihak ketiga bank itu. Nasabah terbesar adalah PT Lancar Sampoerna, perusahaan milik pengusaha Budi Sampoerna. Mantan wakil presiden komisaris perusahaan rokok raksasa PT HM Sampoerna itu memiliki rekening Rp 539 miliar. Atas nama pribadi, paman taipan Putera Sampoerna ini punya rekening dengan isi yang setara, sekitar setengah triliun rupiah.

Pada Desember 2008, isi rekening nasabah bertambah menjadi Rp 3,1 triliun atau 62 persen dari total dana pihak ketiga. Pada Januari 2009, jumlahnya masih sama, tapi porsinya meningkat menjadi 64 persen dari total dana pihak ketiga. Deposan terbesar masih PT Lancar dan Budi Sampoerna. Namun, pada Februari, jumlah nasabah inti turun tinggal 25 pihak dengan total simpanan hampir Rp 3 triliun atau 60 persen total dana pihak ketiga.

Hasil analisis November 2008 menyatakan ada simpanan atas nama Menteri Keuangan qq (transaksi melalui pihak lain) Mega bernilai Rp 20 miliar. Pusat Pelaporan menjelaskan, berdasarkan penelusurannya, nama pemilik rekening itu sebenarnya adalah Menteri Keuangan melalui PT Asuransi Jiwa Mega. Anggota Panitia Angket Bank Century dari Fraksi Hanura, Akbar Faizal, sempat mempertanyakan rekening itu kepada Yunus Husein. Tapi Yunus tak bisa menjelaskan. Menurut Akbar, uang itu merupakan hibah dari Amerika Serikat yang seharusnya disimpan di rekening pemerintah. Duit hibah awalnya berjumlah US$ 24 juta untuk keperluan pertanian dan jaminan produk pertanian negeri itu di Indonesia. ”Uang itu disimpan di Century ketika masih bernama Bank CIC,” kata Akbar.

Juru bicara Departemen Keuangan, Harry Z. Soeratin, menyatakan rekening itu merupakan penampungan sementara yang dibuka pada masa Menteri Keuangan Jusuf Anwar, November 2005. Jumlahnya US$ 17,279 juta, jauh lebih kecil dibandingkan dengan versi laporan Pusat Pelaporan. Rekening itu, menurut Harry, berfungsi sebagai jaminan akibat adanya permasalahan antara PT Bank Century Tbk. dan debitornya, yakni Induk Koperasi Tempe Tahu Indonesia, Induk Koperasi Kesejahteraan Umat, dan Induk Koperasi Unit Desa. Para debitor itu gagal membayar ke Bank CIC, yang kemudian bergabung ke dalam Century.

l l l

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan juga menyebutkan adanya simpanan uang dua badan usaha milik negara. Di antaranya PT Jamsostek, sebesar Rp 225 miliar. Direktur Utama PT Jamsostek Hotbonar Sinaga tak menampik adanya rekening itu. Jamsostek memasukkannya pada 2004 di salah satu bank yang kemudian bermerger menjadi Bank Century. Namun, kata dia, uang itu sudah ditarik habis Oktober lalu. Penarikan terakhir Rp 8,7 miliar. ”Ini karena sudah jatuh tempo,” kata Hotbonar.

Ada juga uang milik PT Telkom, Rp 110 miliar. Seperti Jamsostek, Telkom mengakui punya rekening di Century. Rekening itu dibuka Desember 2007, berjumlah Rp 165 miliar. Tapi, sejak November tahun lalu, semua uang sudah ditarik. Ada juga simpanan atas nama Yayasan Kesejahteraan Karyawan Bank Indonesia sebesar Rp 20 miliar dan PT Asabri Rp 18,5 miliar.

Dokumen juga melaporkan rekening atas nama Abu Ma’arik dengan total simpanan Rp 45,9 miliar. Abu Ma’arik pada 2001 tercatat sebagai pemilik Bank CIC. Ia punya nama lain Abu Toto alias Syekh Abdus Salam Panji Gumilang, pendiri Pondok Pesantren Ma’had al-Zaytun, Indramayu, Jawa Barat. Tapi info ini dibantah pihak pesantren. Abdul Halim, sekretaris Ma’had al-Zaytun, mengatakan, ”Tidak mungkin Syekh (Abu Toto) kami punya uang sebesar itu.” Abu Toto, kata Halim, hanya punya nama lain Panji Gumilang.

Ada juga nama yang mirip nama bekas Gubernur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian Farouk Muhammad. Kini Farouk anggota Dewan Perwakilan Daerah. Namun klarifikasi Pusat Pelaporan memastikan nasabah itu orang lain. Namanya saja yang memper-memper.

Mengapa para nasabah kakap menaruh uang di Century? Tawaran bunga tinggi adalah salah satu alasannya. Setidaknya, ini yang terungkap dari juru bicara Telkom, Eddy Kurnia. Sewaktu perusahaan ini mengambil keputusan menaruh uang di Century, laporan keuangan bank itu baik. Telkom, kata Eddy, menjunjung tinggi asas kehati-hatian. ”Tentu salah satunya karena bunga yang kompetitif,” ujarnya.

Selain iming-iming bunga, menurut sumber Tempo, sosok Lila Komaladewi Gondokusumo, Direktur Pemasaran Bank Century untuk Wilayah Jawa Timur dan Bali, juga penting. Ini terutama untuk menggaet deposan besar sekelas Budi Sampoerna. Lila sangat dekat dengan Budi sehingga berhasil membujuk sang pengusaha menaruh uang di Century. Tapi Lila menyatakan hubungan itu profesional. ”Kami kolega bisnis,” katanya. Saking percayanya kepada Lila, kata sumber itu, suatu ketika Budi pernah menyimpan dana sampai Rp 3 triliun di Bank Century Cabang Surabaya. ”Lila tipe perempuan yang menarik dan pandai memikat,” ujar sumber itu.

Lila kini mendekam di Rumah Tahanan Medaeng, Sidoarjo, Jawa Timur. Ia dihukum satu setengah tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Surabaya, Oktober lalu, karena terbukti menipu 250 nasabah Bank Century sebesar Rp 450 miliar. Kasus ini bermula ketika Bank Century membuat perjanjian kerja sama dengan PT Antaboga Delta Sekuritas pada 2005. Bank milik Robert Tantular itu menjadi sub-agen penjualan reksa dana buat para nasabah. Bank Century lalu mengeluarkan surat edaran kepada kepala cabang Bank Century Panglima Sudirman, Rajawali, dan Kertajaya, semuanya di Surabaya.

Belakangan, nasabah tidak bisa mencairkan uangnya ke Antaboga. Itu karena uang nasabah digelapkan mantan Direktur Bank Century Robert Tantular. Salah seorang anggota direksi Antaboga adalah adik Robert Tantular yang bernama Anton Tantular. Namun, dalam prakteknya, Antaboga banyak disetir Robert.

Soal kepincutnya Budi Sampoerna ini terungkap dari kesaksiannya dalam sidang kasus Lila, Agustus lalu. Budi memang tidak hadir di persidangan dengan alasan sakit dan dirawat di Singapura. Kesaksian itu dia sampaikan dalam berita acara pemeriksaan polisi. Jaksa penuntut umum Raimel Jesaya membacakannya dalam sidang. Menurut keterangannya, Budi memasukkan uangnya ke Bank Century Cabang Kertajaya, Surabaya, pada 2004. Dua tahun kemudian, Budi membeli reksa dana Antaboga. Budi tergiur bunga yang lebih tinggi dibanding Bank Century. Budi semula tahunya reksa dana itu produk Bank Century, bukan Antaboga. Sebab, yang menawari adalah Lila, yang tak lain petinggi Bank Century. ”Pak Budi tahu Bank Century ada hubungan dengan Antaboga dari berita media massa,” kata Raimel.

l l l

Temuan lain dalam dokumen itu adalah berkurangnya uang milik deposan besar pada Maret, April, Mei, Juni, dan Juli 2009. Pada masa itu sedang berlangsung kampanye pemilihan anggota parlemen dan pemilihan presiden. Misalnya, pada Maret 2009 simpanan Telkom berkurang Rp 70 miliar, dari Rp 110 miliar pada Desember 2008, sehingga tersisa Rp 40 miliar. Pada Mei 2009 juga ada penarikan simpanan sejumlah Rp 10 miliar. Pada bulan yang sama, uang Budi Sampoerna juga susut senilai Rp 207 miliar.

Berkurangnya uang simpanan ini memunculkan spekulasi untuk kepentingan dana politik. Tapi juru bicara Telkom, Eddy Kurnia, membantah. Penarikan dana, kata dia, tak ada hubungannya dengan politik. Sebagai perusahaan publik yang terdaftar dalam pasar modal New York dengan syarat ketat, perhatian Telkom hanya untuk pertumbuhan bisnis. ”Tidak ada kepentingan selain bisnis,” kata Eddy.

Sumber di Dewan Perwakilan Rakyat mengatakan Panitia Angket menemukan aliran dana Bank Century masuk ke rekening petinggi partai. Kata sumber ini, aliran itu tak hanya masuk ke rekening petinggi partai tertentu, tapi ke sejumlah petinggi partai besar dan menengah. Ini seperti menegaskan pernyataan Yunus Husein bahwa duit Century mengalir ke sejumlah rekening yang nama pemiliknya mirip-mirip nama petinggi partai. Yunus mengatakan pemilik rekening yang petinggi partai itu belum tentu berasal dari partai besar. Belum tentu juga dari partai kecil. ”Masih dalam proses klarifikasi,” kata Yunus.

Anggota Panitia Angket, Marwan Ja’far, menyatakan sudah mendengar informasi ini. Tapi, hingga kini, Panitia Angket belum punya bukti otentik aliran dana itu. Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa ini mengatakan siapa pun yang terlibat harus diungkap. Tapi ia wanti-wanti agar kasus Century ini tidak berujung pada huru-hara politik. ”Jangan juga diseret ke urusan orang yang punya ambisi politik pribadi dalam kasus ini,” kata Marwan.

Sunudyantoro, Rieka Rahadiana (Jakarta), Kukuh S.W. (Surabaya), Ivansyah (Cirebon) (MBM Tempo, 45/XXXVIII 28 Desember 2009)

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/12/28/NAS/mbm.20091228.NAS132350.id.html

Ada tulisan tentang Bank CIC dan Panji Gumilang sebagai berikut:

BANK CIC / CENTURY DI RAMPOK DALANG NII KW9 PESANTREN AL-ZAYTUN INDRAMAYU

30 November 2009

Pundi-Pundi Sang Syekh Panji Gumilang

Inilah salah satu pemilik Bank CIC / CENTURY : Panji Gumilang, pendiri Pondok Pesantren Al-Zaytun.

UNIK nian nama itu : Abu Ma’arik. Tapi janganlah dulu anggap remeh. Ini bukan nama penjual kambing di Tanah Abang. Jelas tertera di dokumen laporan pemeriksaan Bank Indonesia, bersama sejumlah institusi keuangan ternama semacam Bank Amex, Morgan Stanley, atau UBS AG, Abu Ma’arik adalah salah satu pemilik Bank CIC Internasional. Pada posisi per tanggal 30 Juni 2001, nama itu tercatat menguasai 3,16 persen saham CIC. Nilainya? Rp 7,6 miliar.

Siapa dia? Menurut sejumlah sumber tepercaya di Bank CIC / CENTURY, tak lain tak bukan dia adalah Abu Toto alias Syekh Abdus Salam Panji Gumilang, pendiri Pondok Pesantren Al-Zaytun seluas 1.200 hektare di Indramayu, Jawa Barat, yang juga diyakini merupakan pusat gerakan Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah 9 (NII KW9). “Saya pernah dua kali datang ke Al-Zaytun menemui Abu Ma’arik ( Panji Gumilang ), orangnya ya sama dengan foto Panji Gumilang yang ada di koran-koran itu,” kata seorang staf CIC / CENTURY.

Sudah dua tahun ini rekening Panji Gumilang jadi pembicaraan khalayak ramai. Al-Zaytun dan NII KW9 bahkan dicap aliran sesat oleh Forum Ulama Umat di Jawa Barat. Selain dituduh telah menyempal dari akidah, kelompok ini juga dicurigai telah menggalang dana umat lewat cara-cara manipulatif. Berpuluh korban telah datang mengadu, merasa diperalat jaringan ini untuk mengumpulkan uang dalam jumlah yang mencengangkan.
Seorang komisaris besar polisi yang intensif mengintai gerakan ini, misalnya, mencatat tiap wilayah NII dalam sebulan menyetor sekitar Rp 7 miliar. Jurnal Van Zorge mencatat pendapatan Al-Zaytun mencapai Rp 162 miliar setahun.

Yang menarik, sebagian besar uang itu ternyata ditanamkan di Bank CIC / CENTURY. Data hasil penyelidikan Solidaritas Umat Islam untuk Korban NII KW9 Al Zaytun Abu Toto (SIKAT) menunjukkan, pada bulan Juni 2001, di Bank CIC Pusat dan kantor cabang Fatmawati, Jakarta, tercatat 27 bilyet deposito atas nama Abu Ma’arik dan YPI (Yayasan Pesantren Indonesia, pengelola Al-Zaytun) senilai Rp 26,8 miliar.
Dua tahun sebelumnya, tahun 2000, kata seorang mantan petinggi CIC yang pernah mengelola dana ini, jumlah totalnya mencapai lebih dari Rp 250 miliar. Belakangan nilainya terus menyusut hingga diperkirakan tinggal Rp 80 miliar saja. “Rekening Abu Ma’arik banyak menampung kiriman uang dari negara Timur Tengah,” ujarnya.
Panji memilih CIC / CENTURY sebagai pundi-pundinya setelah bersahabat dengan Robert Tantular, pemilik bank ini, sejak akhir 1990 lampau. Perkenalan mereka diawali pertemanan lama tangan kanan masing-masing: Sriyono, orang kepercayaan Robert dan Sekretaris Korporat CIC / CENTURY ketika itu, dan Syarwani, Ketua YPI yang juga disebut-sebut merupakan salah satu petinggi NII KW9.

Disatukan kepentingan saling menguntungkan, hubungan keduanya berlangsung seperti panci bertemu tutupnya. Klop. Robert membantu mengelola duit Panji, sebaliknya kucuran rupiah segar dari Al-Zaytun amatlah bermanfaat untuk menjaga kas CIC / CENTURY tetap segar-bugar. “Keduanya sudah seperti saudara,” kata sumber itu.
Sayang, Panji menolak memberikan penjelasan. “Pertanyaan itu terlalu mengada-ada dan tidak proporsional. Ini kan sangat rahasia, ditanya polisi pun kami belum tentu mau menjawab,” katanya melalui telepon seluler. Cuma, dalam sebuah wawancara dengan majalah ini beberapa waktu lalu, ia membantah punya nama alias Abu Ma’arik, “Saya nggak pernah punya nama-nama begitu.”

Robert pun menyangkal. Adapun Sriyono cuma menjawab pendek sebelum buru-buru mematikan telepon genggamnya, “Wah, nggak tahu saya.” Direktur Operasional CIC / CENTURY, Hamidi, juga menyatakan tak tahu ihwal saham Abu Ma’arik ( Panji Gumilang) di banknya. Tapi ia mengakui ada deposito atas nama itu, meski menolak merincinya karena alasan kerahasiaan bank. Kalau soal Abu Ma’arik adalah nama lain Abu Toto alias Panji Gumilang? Hamidi spontan menjawabnya, “Pokoknya yang di Pesantren Al-Zaytun itu.”

Sumber : www.akhir-kehancuran-alzaytun.blogspot.com

Bentuk Propaganda baru NII KW9 Alzaytun Indramayu
www.video-documenter.blogspot.com
www.nii-alzaytun-sesat.blogspot.com

Sumber: http://www.nii-crisis-center.com/

Kejahatan dan aliran sesat adalah dua masalah yang berkait berkelindan. Hampir tidak ada aliran sesat yang tidak melakukan kejahatan. Seandainya tanpa kejahatan pun aliran sesat itu itu sendiri sudah merupakan sumber kejahatan. Apalagi masih pula bertingkah dengan kejahatan lain yang mengakibatkan gonjang-ganjingnya negeri ini. Maka benarlah saran-saran para ulama bahwa aliran sesat itu tidak boleh dibiarkan. Sebagaimana kejahatan pun tidak boleh dibiarkan merajalela. (nahimunkar.com)