Kasus Bank Cetury dan Pasar Terbakar

(Pembunuhan Ekonomi Pribumi Muslim?)

Kebakaran pasar tradisional terjadi di mana-mana, dan anehnya sangat banyak terjadi kebakaran itu di bulan September 2009.

Para pedagang di pasar tradisional pada umumnya adalah pribumi muslim yang tidak terlalu mendapat perhatian dari pemerintah. Kalau pasar terbakar dan modalnya juga ikut ludes, maka tidak ada lembaga yang menjamin mereka. Paling-paling yang diupayakan pemerintah adalah membangun kembali pasar yang terbakar atau merelokasi pasar terbakar tersebut. Sama sekali tidak ada upaya untuk memberikan suntikan modal kepada para pedagang yang modalnya hangus terbakar. Kalau begini caranya, bagaimana mungkin pedagang kecil dan menengah yang hampir seratus persen dari kalangan pribumi muslim ini bisa naik kelas menjadi pengusaha menengah ke atas atau menjadi konglomerat.

Kebijakan dan sistem ekonomi kita lebih berpihak kepada kalangan tertentu. Boediono yang saat menjabat sebagai Gubernur BI diduga terlibat kasus Bank Century, malah digandeng SBY menjadi Wapres 2009-2014. Begitu juga dengan Sri Mulyani yang terlibat kasus Bank Century, dipertahankan kembali oleh SBY sebagai Menteri Keuangan. Fakta ini jelas menunjukkan ke arah mana kebijakan SBY berpihak.

Kebijakan diskriminatif di bidang ekonomi masih terasa hingga kini. Industri batik yang dulu digerakkan oleh kalangan pribumi muslim termasuk yang berbasis pesantren, kini juga telah dilumpuhkan dengan memasukkan pemain-pemain baru yang non muslim. Nampaknya umat Islam tidak bisa berharap banyak dari pemerintah yang ahli ekonominya hampir seluruhnya lulusan Amerika dan menganut liberalisme ekonomi yang tidak memihak kepada rakyat kebanyakan, dan rakyat kebanyakan itu adalah kalangan pribumi muslim.

*****

Sekitar November 2008, Bank Century mengalami kegagalan kliring. Saat itu Boediono yang masih menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) mengatakan BI senantiasa memonitor apa yang terjadi di Bank Century sekaligus mengupayakan pemecahan masalah bank tersebut. Bank Century merupakan gabungan tiga bank yaitu CIC International, Bank Danpac dan Bank Pikko. Biasanya, penggabungan beberapa bank (merger) terjadi karena beberapa di antara bank itu (atau keseluruhannya) bermasalah, dan disehatkan dengan cara digabung.

Di bulan September 2009, hampir setahun kemudian, Jusuf Kalla yang saat itu masih menjabat sebagai Wapres mengatakan, kasus Bank Century merupakan kasus penggelapan uang, yang kalau dibuka akan panjang dan melebar ke mana-mana. Oleh karena itu, sejak awal Jusuf Kalla tidak memilih solusi berupa bail out, karena kasus Bank Century merupakan kasus perampokan dana nasabah yang dilakukan oleh pemilik dan pengelolanya.

Pernyataan Jusuf Kalla saat itu, sebenarnya sudah basi, karena kenyatannya pemerintah (khususnya Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan) telah menempuh langkah penyelamatan dengan menggelontorkan dana segar sebesar Rp 6,77 triliun secara bertahap sejak 21 November 2008 hingga 21 Juli 2009. Pengucuran dana kepada Bank Century ini menjadi kian menarik karena semula hanya dianggarkan sebesar Rp 1,7 triliun namun membengkak hingga Rp 6,77 triliun. Pembengkakan inilah yang menjadi tanda tanya besar karena menggerogoti APBN.

Namun demikian, meski dana segar telah dikucurkan sebanyak Rp 6,77 triliun, demo sejumlah nasabah Bank Century masih terjadi hingga saat tulisan ini dibuat (19 Oktober 2009). Pertanyaannya, ke mana dana Rp 6,77 triliun itu mengalir? Padahal, dana Rp 6,77 triliun itu dimungkinkan dikucurkan kepada Bank Century dari LPS (Lembaga Penjamin Simpanan). Simpanan siapa yang telah dibayarkan melalui uang Rp 6,77 triliun tadi?

Di masa orde baru ada skandal BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia), yang nilainya mencapai ratusan triliun, dan hingga kini belum tuntas. Kini, muncul lagi kasus Bank Century yang oleh sebagian kalangan disebut sebagai skandal BLBI kedua, yang intinya merupakan perampokan terhadap uang rakyat.

Pasar Terbakar Siapa Yang Jamin?

Kalau untuk kasus atau skandal perbankan seperti yang terjadi pada Bank Century ada solusi berupa mengucurkan dana hingga triliunan rupiah dari LPS (Lembaga Penjamin Simpanan), bagaimana dengan kasus pasar terbakar yang mengakibatkan ratusan pengusaha menengah ke bawah mengalami kerugian? Sampai sejauh ini rasanya belum ada semacam LPS bagi kasus-kasus pasar terbakar. Padahal, kasus pasar terbakar sering kali diakibatkan oleh arus pendek, yang merupakan kesalahan manajemen pasar.

Sepanjang tahun 2009 saja, kasus pasar terbakar banyak menghiasi media massa. Terutama, pada bulan September 2009. Pada 19 Februari 2009, beberapa stan di Pasar Bangkalan yang terletak di Jl. A. Yani, mengalami kebakaran di saat pedagangnya sedang boyongan pindah ke pasar Lemah Dhuwur yang terletak di Jl. Halim Perdana Kusuma, Bangkalan, Madura. Menurut Polres Bangkalan, ada dugaan terbakarnya beberapa stan di pasar lama itu karena ada unsur kesengajaan dari orang yang iseng. Sebab, aliran listrik di pasar ini beberapa hari lalu sudah diputus PLN sehingga tidak mungkin kebakaran diakibatkan oleh hubungan pendek aliran listrik.

Pada tanggal 23 Maret 2009, kebakaran melanda sebuah pasar di kawasan Senen, Jakarta Pusat, yang lokasinya berdekatan dengan terminal Senen yang banyak menjual buku-buku dan barang-barang lainnya. Api diketahui mulai melalap kawasan tersebut sejak pukul 01.08 WIB. Sejumlah 24 unit pemadam kebakaran yang diturunkan, berhasil memadamkan api pada sekitar pukul 03.15 WIB. Saat itu, penyebab kebakaran belum diketahui pasti. Bahkan hingga kini.

Pada hari Jum’at dini hari tanggal 01 Mei 2009, pasar desa Tunglur Kecamatan Badas terbakar, Kediri, Jawa Timur. Kebakaran diduga berasal dari kompor kios warung yang berada di dalam pasar. Karena letak kios yang berdekatan dengan sebagian kantor desa, maka kobaran api sebagian juga menghanguskan beberapa lokal bangunan kantor Desa Tunglur. Kerugian diperkirakan mencapai Rp 340 juta termasuk kerusakan 9 los, 2 bango, dan 6 lokal kantor desa setempat.

Selang dua pekan kemudian, 14 Mei 2009, di Batang Jawa Tengah terjadi kebakaran di Pasar Bandar. Api diduga berasal dari hubungan pendek arus listrik, dari sebuah kios sembako yang ada di tengah ratusan kios milik para pedagang. Sejak sekitar pukul 11 Kamis malam itu, api dengan cepat membesar dan merambat membakar kios-kios di sebelahnya.

Pada pukul 18:00 wib tanggal 19 Juli 2009, terjadi kebakaran di Pasar Badak Pandeglang, Banten. Kebakaran terjadi secara tiba-tiba, membuat ratusan pemilik kios panik dan berusaha menyelamatkan barang danganganya. Sementara pengunjung pasar yang masih ramai berhamburan menyelamatkan diri. Petugas pemadam kebakaran Kabuaten Pandeglang sempat kewalahan menjinakkan api. Kerugian ditaksir mencapai miliaran rupiah. Ismail, salah seorang pedagang mengatakan, ia mengalami kerugian ratusan juta rupiah. Ada berapa banyak Ismail di pasar terbakar itu, dan siapa yang mau menolong Ismail-Ismail untuk kembali bangkit sebagai pedagang?

Sekitar sepekan kemudian, 28 Juli 2009, terjadi kebakaran di gedung Pasar Rakyat Jalan Sudirman Tembilahan, Indragiri Hilir, Jambi. Api mulai menjalar sekitar pukul 01:15 Wib dinihari, menyebabkan hampir empat ratus kios yang berada di dalamnya hangus terbakar.

Di Boyolali, Jawa Tengah, sebanyak delapan kios di Pasar Gagan Lama Desa Donohudan, Kecamatan Ngemplak, terbakar sekitar pukul 02.00 WIB, Rabu 12 Agustus 2009. Kebakaran diduga berasal dari kios kelontong milik Hartutik (40 tahun). Dugaan api muncul disebabkan hubungan arus pendek. Meski demikian, sejumlah pedagang menampiknya, mereka menduga ada upaya pembakaran pasar tradisional itu.

Sekitar dua belas hari kemudian, kebakaran terjadi lagi. Kali ini di Pasar Parung, Kabupaten Bogor. Satu blok pasar yang terdiri dari puluhan kios terbakar pada Senin 24 Agustus 2009. Kebakaran terjadi sejak pukul 11:30 WIB. Pada bulan berikutnya, September 2009, kasus-kasus pasar terbakar menunjukkan angka yang tertinggi sepanjang Januari-Oktober 2009.

Pada tanggal 6 September 2009, sejumlah 60 buah toko di Pasar Induk Selidah Handil Bhakti, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, terbakar hangus. Kebakaran di pasar tersebut terjadi dalam rangkaian peristiwa kebakaran hutan dan lahan yang kerap terjadi di kawasan Batola (Barito Kuala). Hampir semua pemilik toko tidak mampu menyelamatkan barang dagangannya, karena selain api sudah cukup besar juga bersamaan ketika waktu berbuka puasa.

Sehari kemudian, 7 September 2009, kebakaran terjadi di Pasar Segiri, Samarinda, Kalimantan Timur. Diperkirakan, api sudah menjalar sejak pukul 02:30 WITA, dan menghanguskan ratusan los serta puluhan toko sembako. Pada hari yang sama, kebakaran juga terjadi di Pasar Kapal Mengwi, Badung, Bali. Juga, di jalan Raya Pasar Minggu, Jakarta Selatan yang menghanguskan lima kios.

Sepekan setelah tiga kejadian di atas, terjadi lagi kebakaran di Pasar Parang Tambung Makassar, Sulawesi Selatan. Kebakaran terjadi sekitar pukul 00.00 Wita, dan menghanguskan lapak-lapak los pedagang ikan basah, ikan kering serta sayur mayur dengan jumlah 42 los di area Blok A dan 12 petak kios yang berada di Blok B. Pasar Parang Tambung merupakan pasar andalan warga Kecamatan Tamalate, Makassar.

Pada hari Sabtu tanggal 19 September 2009, terjadi kebakaran di areal Pasar Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Api melalap bangunan rumah toko (ruko) yang berada di areal pasar tersebut, sejak pukul 19:30 WIB.

Bertepatan dengan Idul Fitri, 20 September 2009, kebakaran terjadi di Pasar Ciwastra, Kota Bandung, ketika sebagian besar umat Islam sedang menjalankan shalat Ied 1430 H. Sejumlah 7 kios di sayap timur pasar itu ludes terbakar. Api pertama kali diketahui pada pukul 6.55 WIB dan baru bisa dipadamkan oleh petugas pemadam kebakaran satu setengah jam kemudian. Masih dalam suasana Lebaran, 21 September 2009, sekitar pukul 22:30 wib terjadi kebakaran di Blok 1 Pasar Banjaran, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung. Dalam kebakaran itu, sejumlah 6 kios rusak karena dilalap api dan 20 kios lainnya sengaja dirusak pada bagian atapnya untuk mencegah api menjalar lebih luas.

Beberapa hari kemudian, 24 September 2009, Pasar Kecamatan Gayam yang ada Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep, Madura ludes terbakar. Sedikitnya 12 toko sembako dan satu kios BBM hangus. Sumber api pertama kali diduga berasal dari sebuah toko sembako milik Triyani (41 tahun). Lalu api menjalar ke kios BBM. Akibatnya, api membesar dan merembet ke toko lain yang berdampingan. Warga setempat kesulitan menguasai kobaran api. Tak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun kerugian ditaksir lebih dari Rp 500 juta.

Sekitar empat hari kemudian, terjadi kebakaran di Pekanbaru yang melanda beberapa kios di pasar tradisional Sukajadi, Pekanbaru, Riau. Peristiwa kebakaran itu terjadi pada hari Senin tanggal 28 September 2009. Dalam musibah ini satu keluarga tewas terpanggang. Mereka adalah Effendi (27 tahun), Rika (22 tahun) istri Effendi, serta buah hati mereka, Sawil yang baru berusia 4 bulan. Menurut saksi mata, kebakaran bermula dari kobaran api di sebuah kios. Api lantas merambat ke sejumlah kios lain, termasuk kios sembako milik Effendi.

Para pedagang di pasar tradisional pada umumnya adalah pribumi muslim yang tidak terlalu mendapat perhatian dari pemerintah. Kalau pasar terbakar dan modalnya juga ikut ludes, maka tidak ada lembaga yang menjamin mereka. Paling-paling yang diupayakan pemerintah adalah membangun kembali pasar yang terbakar atau merelokasi pasar terbakar tersebut. Sama sekali tidak ada upaya untuk memberikan suntikan modal kepada para pedagang yang modalnya hangus terbakar. Kalau begini caranya, bagaimana mungkin pedagang kecil dan menengah yang hampir seratus persen dari kalangan pribumi muslim ini bisa naik kelas menjadi pengusaha menengah ke atas atau menjadi konglomerat.

Kebijakan dan sistem ekonomi kita lebih berpihak kepada kalangan tertentu. Boediono yang saat menjabat sebagai Gubernur BI diduga terlibat kasus Bank Century, malah digandeng SBY menjadi Wapres 2009-2014. Begitu juga dengan Sri Mulyani yang terlibat kasus Bank Century, dipertahankan kembali oleh SBY sebagai Menteri Keuangan. Fakta ini jelas menunjukkan ke arah mana kebijakan SBY berpihak.

Kejayaan pribumi Muslim dibumi hanguskan?

Di masa lampau kalangan pribumi muslim pernah berjaya di sektor industri textil, misalnya di Majalaya, Jawa Barat. Bahkan Majalaya dinobatkan sebagai sentra industri textil yang produknya menguasai kawasan Asia Tenggara. Di masa orde baru, kelompok ini tidak dibina semestinya. Malahan yang dibina dan dikembangkan adalah WNI keturunan India yang hingga kini mendominasi industri textil.

Begitu juga dengan industri genteng, yang pada umumnya dikuasai kalangan muslim keturunan Arab, juga tidak dibina, malahan ditumbangkan dengan cara membesarkan dan membina pemain-pemain baru dari kalangan WNI keturunan Cina. Kini, industri genteng yang dilakoni muslim keturunan Arab kalah bersaing dengan pelaku bisnis serupa dari kalangan WNI keturunan Cina.

Kebijakan diskriminatif di bidang ekonomi masih terasa hingga kini. Industri batik yang dulu digerakkan oleh kalangan pribumi muslim termasuk yang berbasis pesantren, kini juga telah dilumpuhkan dengan memasukkan pemain-pemain baru yang non muslim. Nampaknya umat Islam tidak bisa berharap banyak dari pemerintah yang ahli ekonominya hampir seluruhnya lulusan Amerika dan menganut liberalisme ekonomi yang tidak memihak kepada rakyat kebanyakan, dan rakyat kebanyakan itu adalah kalangan pribumi muslim.

Jadi, tidak heran bila kelompok-kelompok Islam (pribumi Muslim) di Indonesia meski mayoritas namun tidak berdaya secara signifikan di sektor ekonomi. Bukan karena mereka tidak berupaya, tetapi karena meski sudah berupaya dan berdaya namun akan dilemahkan dengan memasukkan pemain-pemain baru yang dibina oleh pemerintah dan lembaga perbankan milik pemerintah. Dana triliunan rupiah begitu mudah digelontorkan untuk sekelompok kecil pengusaha, namun hanya sedikit saja yang digelontorkan untuk kalangan mayoritas.

Mudah-mudahan gambaran perbandingan tentang kasus Bank Century dan kasus kebakaran pasar tradisional yang kerap terjadi ini dapat menyadarkan kita bahwa ketidak adilan di sektor ekonomi ini harus diatasi sendiri oleh umat Islam melalui Jihad Ekonomi yang mampu membangkitkan pengusaha-pengusaha pribumi muslim, dan memberi jaminan bagi pengusaha (pedagang menengah ke bawah) di bidang permodalan bila kelak mereka terkena musibah seperti kebakaran pasar. Karena pemerintah sampai saat ini belum punya pollitical will untuk membentuk semacam LPS bagi mereka. (haji/tede)