Kasus Gantung Diri Sepanjang 2010 di Celah-celah Tingkah Elite Durhaka


وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا [الإسراء/16]

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (QS Al-Israa’/ 17: 16).

Ketika musibah dan bencana menimpa di mana-mana, bahkan sebagian rakyat berduyun-duyun gantung diri karena himpitan ekonomi dan sebagainya, tahu-tahu sejumlah wakil rakyat berduyun-duyun studi banding ke luar negeri yang bermakna plesiran (bahkan direncanakan ada yang bawa isteri segala) dengan menghabiskan dana luar biasa banyak. Bahkan di antara plesiran berdalih studi banding atau apalah kilahnya, itu ada yang atas nama belajar etika. Anehnya, di antara etika yang akan dipelajari adalah etika merokok, dan belajarnya pun ke Yunani. Weleh… weleh… belajar etika merokok??? Ke Yunani?? Memangnya negeri ini dirancang untuk lomba sopan-sopanan dalam merokok ya? Aneh tenan!

Menurut Fitra (Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran), biaya yang dihabiskan oleh Pemerintah mulai Presiden hingga 13 kementerian atau lembaga dan DPR untuk kegiatan study banding ke luar negeri mencapai Rp 19,5 triliun.

Dana sebanyak itu diambil dari APBN (Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara) 2010. Sementara itu, program BOS (Program Bantuan Operasional Sekolah yang dimulai sejak bulan Juli 2005) dan penanggulangan kemiskinan, seperti PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat/ Penanggulangan Kemiskinan Berbasis Pemberdayaan Masyarakat) sebesar Rp 7,4 trilun yang seharusnya dibiayai APBN justru berasal dari utang.

Diberitakan pula, Dana Bencana Rp 400 Juta Dipakai untuk Sambut SBY, SBY Dinggap Sebagai Bencana? (lihat voaislam, Kamis, 21 Oct 2010, tentang dana bencana di Kota Batu).

Itulah di antara tingkah janggal (baca durhaka dan dhalim) kaum elite yang dalam Al-Qur’an disebut مُتْرَفِيهَا (orang-orang yang hidup mewah di negeri itu) melakukan kedurhakaan dalam negeri itu

Sesuai dengan ancaman Allah –yang akan menghancurkan suatu negeri bila para elit-nya diperintahkan untuk mentaati Allah Ta’ala namun justru mereka durhaka– tersebut di atas, terbukti bencana menimpa orang Indonesia di mana-mana, bertubi-tubi, bareng-bareng dan susul menyusul. Itu mestinya jadi peringatan benar-benar, agar manusianya wabil khusus para elite-nya mau sadar dan bertaubat. Insaflah wahai manusia, kalau toh selamat di dunia, bila bekal amalnya adalah kedurhakaan, maka celakalah di akherat kelak.

Mengenai bencana, nahimunkar sudah menurunkan tulisan-tulisan, di antaranya Pelajaran dari Meletusnya Gunung Merapi,Surat Terbuka untuk Sinuhun Sultan Yogyakarta dan Para Pejabat Pusat serta Daerah, dan berita-berita lainnya. Kini nahimunkar.com menurunkan tulisan berupa data dan fakta mengenai bencana kemanusiaan yang tidak kalah dahsyatnya, yaitu bunuh diri yang special dengan cara gantung diri.

Inilah bencana yang perlu dijadikan pelajaran bagi yang masih hidup, agar memperbaiki dan meingkatkan imannya, jangan sampai berbuat seperti orang-orang yang gantung diri berikut ini:

Tindakan bunuh diri jelas merupakan perbuatan yang tidak dibenarkan agama dan tergolong dosa besar. Entah mengapa, dalam beberapa tahun belakangan ini tindakan bunuh diri begitu mudah dilakukan seseorang. Tampaknya, terjadinya pergeseran nilai di masyakat kita tidak saja berkaitan dengan perilaku seks super bebas (zina), penyalahgunaan madat, dan sebagainya, tetapi juga di dalam hal melakukan bunuh diri.

Salah satu modus bunuh diri yang cukup sering dipilih pelaku selama tahun 2010 adalah gantung diri. Alasannya macam-macam:

01. Putus asa akibat sakit menahun yang diderita tak kunjung sembuh.

02. Depresi akibat putus cinta dan kedua orangtua bercerai.

03. Mengganggur dan tak kunjung mendapat pekerjaan.

04. Sering cekcok dengan istri.

05. Usaha bangkrut.

06. Himpitan ekonomi.

07. Kerap dimarahi orangtua.

08. Stres karena tidak lulus Ujian Nasional (UN).

09. Istri gagal jadi Wakil Walikota (kalah pilkada).

10. Putus cinta.

11. Kesepian akibat ditinggal istri tercinta.

12. Gagal masuk perguruan tinggi favorit.

13. Calon suami sudah berkeluarga.

14. Gagal jadi wakil Bupati.

15. Remaja dilarang pacaran.

16. Kalah taruhan laga final Piala Dunia 2010.

17. Cemburu.

18. Dituntut selingkuhannya.

19. Dililit hutang.

20. Tidak tahan perlakuan suami.

21. Hamil di luar nikah (akibat zina).

22. Tidak mampu membiayai pengobatan.

23. Beban tugas perkuliahan.

24. Gagal panen.

25. Gagal menikah, dan sebagainya.

Apapun motif yang melatari tindakan bunuh diri, menunjukkan adanya pergeseran nilai yang cukup signifikan di dalam masyarakat kita yang konon agamis. Islam sangat melarang perbuatan mengakhiri hidup, karena hidup dan mati seseorang adalah hak Allah.

Januari 2010

Ada beberapa motif gantung diri yang terjadi pada bulan ini, antara lain putus asa karena menderita penyakit menahun, dan menempuh solusi salah berupa gantung diri. Hal ini terjadi pada Nurcahya (bujangan berusia 35 tahun) yang gantung diri di puncak tower BTS seluler di Desa Jamblang, Cirebon Jawa Barat.

Jasad Nurcahya pertama kali ditemukan pada Selasa pagi tanggal 12 Januari 2010, tergantung pada seutas tali rafia, dalam kondisi tanpa busana. Ia nekat gantung diri lantaran penyakit saraf yang dideritanya tak kunjung sembuh. Kebetulan tempat tinggalnya tidak jauh dari tower BTS seluler.

Empat hari kemudian, Sabtu 16 Januari 2010, terjadi kasus gantung diri yang dilakukan Muhammad Ilham (13 tahun), warga Desa Siwulu, Bulak Kamba, Brebes, Jawa Tengah. Ilham nekat mengakhiri hidup dengan cara gantung diri di dalam kamar tidurnya, menggunakan tali tambang, karena depresi setelah putus cinta. Sebelumnya, kedua orangtua Ilham bercerai. Ia merasa tidak ada lagi yang menyayanginya.

Sehari kemudian, Ahad 17 Januari 2010, kasus gantung diri terjadi di Madiun. Pelakunya, Endang Apriani (58 tahun), warga RT 28 RW 08 Desa Gedongan Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Jawa Timur.

Ibu dua anak yang sehar-hari berjualan nasi pecel di rumahnya ini, nekat gantung diri karena sakit komplikasi menahun. Selain itu, Endang diduga tak kuat hidup sendiri. Menurut Keterangan Hadi (Ketua RT setempat), Ahad pagi itu (17 Januari 2010) ia mendapat laporan bahwa rumah Endang masih tertutup rapat, tidak seperti biasanya.

Kemudian Hadi berinisiatif mengintip isi rumah melalui lobang ventilasi. Terlihat, Endang dalam keadaan tergantung di kusen pintu dapur dengan menggunakan kain jarit. Temuan ini dilaporkan ke Polsek Manguharjo untuk ditangani sebagaimana mestinya.

Februari 2010

Di bulan Februari 2010, juga terjadi sejumlah kasus gantung diri, salah satu diantaranya guru ngaji, yang terjadi pada hari Rabu tanggal 24 Februari 2010. Pelakunya bernama Firdaus (28 tahun), beralamat di RT 5 Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi. Ia gantung diri di kuburan alias Tempat Pemakaman Umum (TPU) di KM 25, Desa Nagasari Kecamatan Mestong.

Selama ini Firdaus sering tinggal di masjid dan mengajar mengaji secara keliling pada beberapa masjid di kawasan Muarojambi. Jasad Firdaus ditemukan pertama kali oleh warga kemudian dilaporkan ke Polsek, yang kemudian ditindaklanjuti untuk dievakuasi. Di tubuh korban tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan, sehingga disimpulkan memang murni bunuh diri. Motifnya belum terungkap.

Beberapa hari sebelumnya, Sabtu 20 Februari 2010, ditemukan kasus gantung diri di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Menurut dugaan polisi, kemungkinan upaya gantung diri yang dilakukan Wilson Limston (24 tahun) sudah berlangsung tiga hari sebelum ditemukan.

Kasus ini pertama kali diungkap oleh Sayuti, penjaga kos-kosan di Jalan Tulodong Bawah VII No 48, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Saat itu, Sabtu 20 Februari 2010 sekitar jam 16:30 wib, dia membaui aroma busuk yang menyengat. Setelah ditelusuri, sumber bau itu berasal dari sebuah kamar kos-kosan yang dijaganya. Kamar itu dihuni Wilson Limston yang sehari-hari bekerja di Bursa Efek. Ia gantung diri di kamar mandi. Motifnya belum jelas.

Kasus gantung diri dengan motif yang belum jelas juga terjadi di lingkungan kampus. Pelakunya, Mardatila Iqbal Amin mahasiswi semester pertama Fakultas Kedokteran dan Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Ia gantung diri di gedung asrama mahasiswi, lantai 5. Pertama kali diketahui tewas tergantung dengan sehelai kain oleh salah seorang rekan korban sekitar jam 19:00 wib, Selasa 9 Februari 2010.

Mardatila mahasiswi asal Ternate (Maluku Utara) ini sebelum nekat gantung diri, terlihat sedang membeli voucher handphone dan menghubungi seseorang. Bahkan, saat ditemukan tewas, di telinga Mardatila masih menempel headset handphone-nya.

Sebelum Mardatila gantung diri, sudah ada kasus sebelumnya, sebagaimana dilakukan oleh Irwassyah Nasution (23 tahun). Ia nekat gantung diri di pohon nangka yang terletak di belakang rumah pamannya di Jalan Indrapuri, Kulim, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru, Riau, karena tergoncang jiwanya akibat mengganggur dan tak kunjung dapat kerja.

Irwassyah Nasution yang masih bujang ini berasal dari Padang Lawas (Sumatera Utara). Ia ke Pekanbaru untuk mencari kerja, namun tak kunjung dapat. Akhirnya putus asa dan gantung diri.

April 2010

Di bulan April ini, ada yang gantung diri karena himpitan ekonomi, ada pula yang dilatari masalah keluarga, sering cekcok dengan istri. Misalnya, sebagaimana terjadi pada Mursandi (34 tahun), warga Jalan Maksum RT 19 Nomor 40 Kelurahan Sempaja Utara, Samarinda, Kalimantan Timur.

Sehari-hari Mursandi bekerja sebagai karyawan bagian keamanan di PLN Samarinda. Ia gantung diri dengan cara melilitkan kabel listrik ke lehernya. Ketika ditemukan, jasad Mursandi masih mengenakan seragam kerja. Diduga, Mursandi gantung diri karena tidak tahan meladeni ulah istrinya. (Kaltimpost edisi Selasa, 06 April 2010).

Di Tegal, ada Suhar yang sehari-hari berprofesi sebagai pengepul barang rongsok, melakukan gantung diri gara-gara depresi karena usaha yang digelutinya bangkrut. Jasad Suhar pertama kali ditemukan oleh keponakannya, Sabtu sore tanggal 17 April 2010. Saat itu, sang keponakan baru pulang dari pabrik. Ketika tiba di rumah sang paman, ia merasa aneh pintu rumah dalam keadaan terkunci. Saat masuk, ia melihat tubuh pamannya tergantung di samping kamar mandi.

Gantung diri karena himpitan ekonomi juga terjadi di Dumai, Riau. Pelakunya, Andi Saputra Kaban (26 tahun), warga jalan Salam, Kelurahan Rimba Sekampung, Kecamatan Dumai Barat, Kota Dumai, Riau. Jasad Andi pertama kali ditemukan tergantung di ruangan tamu rumahnya oleh Adi dan Juliana.

Adi (30 tahun) adalah tetangga Andi, sedangkan Juliana (30 tahun), adalah istri Andi. Keduanya menemukan jasad Andi aputra dalam keadaan tergantung sekitar pukul 17.00 wib, pada hari Rabu 28 April 2010.

Semula Adi, sang tetangga, menaruh curiga karena rumah Andi tertutup rapat sejak Selasa. Hingga keesokan harinya rumah Andi tetap dalam keadaan tertutup. Kemudian Adi berinisiatif menelpon Juliana (istri Andi) yang sedang berjualan di pasar senggol. Ketika Juliana sudah tiba, mereka berdua membuka rumah yang masih dalam keadaan terkunci itu dengan mencongkel jendela rumah. Saat itulah mereka menemukan jasad Andi dalam keadaan tergantung.

Temuan tersebut mereka laporkan ke Polsek Dumai Barat, dan selanjutnya jasad Andi dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Kota Dumai (RSUD) Dumai untuk keperluan visum.

Mei 2010

Kasus gantung diri di bulan Mei ada yang karena gagal UN (Ujian Nasional), ada juga yang karena sering dimarahi orangtuanya. Yaitu, sebagaimana terjadi pada Riki (15 tahun), siswa kelas II sebuah SMP swasta di Jakarta Utara. Ia gantung diri pada hari Rabu pagi tanggal 5 Mei 2010, di rumah orangtuanya di Taman Meruya Ilir, Blok G3, Kembangan, Jakarta Barat.

Jasad Riki pertama kali ditemukan ibunya, dalam keadaan tergantung di kamar. Diduga Riki nekat gantung diri karena sering dimarahi orangtuanya akibat sering bolos sekolah. Selain itu, orangtuanya meminta Riki untuk rajin sekolah dan tidak diizinkan mengikuti Kelompok Belajar (Kejar) Paket C. Di mata tetangga, Riki dikenal suka mengikuti balap liar dengan sepeda motor.

Dua hari kemudian, Jum’at 07 Mei 2010, terjadi percobaan bunuh diri dengan cara gantung diri karena tidak lulus Ujian Nasional (UN). Tindakan ini dilakukan Adek (14 tahun), siswi kelas 3 SMP Lancang Kuning, Dumai, Riau.

Beruntung, sang bunda segera mengetahui upaya gantung diri yang dilakukan Adek, warga Kelurahan Bumi Ayu, Kecamatan Dumai Barat, Kota Dumai, Provinsi Riau. Desi (43 tahun) ibunda Adek pagi itu sekitar jam 09:00 wib melihat sang anak tergantung di dekat pintu kamar dalam keadaan lemas terbelit seutas tali, kondisinya pucat dengan mata tertutup dan lidah menjulur. Spontan Desi berteriak dan menangis.

Sejumlah tetangga yang mendengar teriakan Desi kemudian berdatangan dan memotong seutas tali yang membelit leher Adek. Pada saat diturunkan, Adek masih dalam kondisi bernafas sehingga nyawanya dapat diselamatkan.

Tindakan gantung diri ternyata juga bisa terjadi di dalam tahanan polsek. Pelakunya tentu saja pelaku tindak kriminal. Yaitu, Did (24 tahun). Pada hari Jum’at 07 Mei 2010, sekitar jam 08:25 wib, jasad Did ditemukan tewas tergantung di ventilasi WC sel polsek Jamanis Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Did adalah pelaku pencurian handphone. Dalam operasinya Did bekerja sama dengan KK (23 tahun). Pada tanggal 5 Mei 2010, keduanya tertangkap tangan saat menjambret ponsel milik Rahman Juniar (17 tahun). Sebelum gantung diri, Did sempat duel dengan KK, hingga KK pingsan akibat pukulan dan cekikan Did. Ketika itu, Did menyangka KK tewas. Karena panik, dia memutuskan gantung diri. Padahal, KK hanya pingsan.

Empat hari kemudian, Selasa malam tangal 11 Mei 2010, ditemukan jasad Rizal Fitrianur akias Yayan (32 tahun) dalam keadaan tergantung di galangan kapal milik PT Galangan Balikpapan Utama. Rizal adalah warga Jalan Woltermonginsidi RT 29 Nomor 76 Kelurahan Baru Tengah, Balikpapan, Kalimantan Timur. Motifnya, karena urusan cinta.

Sebenarnya upaya gantung diri Rizal sudah diketahui Tamin (40 tahun), kawan Rizal. Namun saat Tamin melakukan upaya penyelamatan, ia terpeleset, sehingga gagal memberikan pertolongan. Tamin warga Jl Woltermonginsidi RT 29 Kelurahan Baru Ulu Kecamatan Balikpapan Barat ini akhirnya dirawat di RST dr Harjanto Balikpapan.

Juni 2010

Sepanjang Juni 2010, terdapat sejumlah kasus gantung diri dengan berbagai motif, antara lain karena istri gagal pilkada memperebutkan kursi wakil walikota, sang suami justru gantung diri. Kasus ini terjadi di Semarang, Jum’at pagi tanggal 4 Juni 2010. Saat itu ditemukan jasad Sutoto Agus Pranoto (47 tahun) dalam keadaan tergantung di kantor yang bersebelahan dengan tempat tinggalnya. Ia gantung diri menggunakan kawat.

Sutoto Agus Pranoto adalah seorang pengusaha dan warga jalan Gajah Birowo 19 Telogosari Semarang Timur, Jawa Tengah. Sutoto diduga nekad gantung diri karena mengalami depresi berat akibat isterinya Dasih Ardiyantari yang berpasangan dengan M Farchan kalah dalam Pilkada (April 2010) memperebutkan kursi walikota dan wakil walikota Semarang.

Kasus di atas merupakan salah satu contoh dari dampak negatif yang ditimbulkan oleh adanya money politics di dalam pemilihan kepala daerah.

Sedangkan kasus di berikut ini merupakan dampak negatif yang ditimbulkan oleh perilaku khas remaja, yaitu pacaran. Chandra Saputra, pelajar sebuah SMP, ditemukan tewas gantung diri di tiang kamar mandi rumah orangtuanya, yang terletak di kawasan Sleman, DI Yogyakarta.

Jasad Chandra pertama kali ditemukan sang ibu yang baru pulang dari pasar (Kamis, 3 Juni 2010), dalam keadaan sudah tidak bernyawa. Diduga, ia gantung diri karena hubungan cintanya diputus oleh sang pacar.

Pada hari yang sama, Kamis 03 Juni 2010, ditemukan jasad Sukarno dalam keadaan tergantung di pohon nangka di belakang rumahnya. Sukarno adalah warga Desa Argotirto, Kecamatan Sumbermanjung Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Pertama kali jasad Sukarno ditemukan sang keponakan sekitar pukul 05:30 wib. Sang keponakan tentu saja kaget dan histeris ketika mendapati pamannya tergantung dalam kondisi tak bernyawa.

Sejak satu tahun lalu, sekembalinya Sukarno dari bekerja sebagai TKI di Malaysia, ia terlihat seperti mengalami masalah kejiwaan. Namun perilaku anehnya sama sekali tidak mengganggu warga, sehingga dibiarkan bebas berkeliaran. Kasus yang menimpa Sukarno boleh jadi merupakan salah satu dampak negatif yang timbul di seputar masalah pengiriman tenaga kerja ke luar negeri.

Ketidakampuan bersikap ikhlas menerima tadir Allah, ternyata dapat membuat seseorang nekat gantung diri. Hal ini sebagaimaan terjadi pada Rohirin (28 tahun), pengusaha salon yang ditemukan tewas gantung diri di rumahnya di Jalan Perintis Kemerdekaan RT 003 RW 003, Kelurahan Pulogadung, Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur.

Jasad Rohirin ditemukan pertama kali oleh Sohadi, salah seorang kerabatnya, pada Rabu dini hari tanggal 9 Juni 2010, sekitar pukul 01:00 wib. Diduga, ia gantung diri karena depresi dan kesepian akibat ditinggal mati istrinya sekitar tujuh bulan lalu sebelum kasus gantung diri ini terjadi. Menurut Sohadi, istri Rohirin meninggal dalam kecelakaan sepeda motor saat dibonceng oleh Rohirin di Jalan Perintis Kemerdekaan. Kejadian itu membuat Rohirin merasa bersalah yang amat sangat. Ia sering terlihat masih meratapi kematian istri yang dicintainya itu.

Sehari kemudian, Kamis 10 Juni 2010, ditemukan jasad Basarman Valentino Sitorus (18 tahun), dalam keadaan tergantung di kamar kosnya, Jalan Pembangunan, Kecamatan Medan Selayang, Medan, Sumatera Utara. Diduga, ia bunuh diri karena stress akibat tidak lulus ujian masuk USU (Universitas Sumatera Utara). Sebenarnya, Basarman diterima di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, NAD. Namun favoritnya adalah USU.

Sepekan kemudian, Kamis 17 Juni 2010, ditemukan jasad Siti Chotimah (21 tahun), dalam keadaan tergantung di kamar kosnya. Siti Chotimah adalah mahasiswi semester 6 STIKES (Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan) di Kendal, Jawa Tengah. Ia nekat gantung diri karena kecewa lantaran orangtuanya tidak merestui hubungan cintanya dengan sang pacar yang sudah beristri.

Empat hari kemudian, Senin 21 Juni 2010, terjadi kasus gantung diri yang terjadi pada Memet Rochmat, mantan Sekretaris Daerah Kabupaten Bekasi (2003-2004). Jasad Memet ditemukan dalam keadaan tergantung di kamar mandi rumahnya, Perumahan Persada Kemala Blok 12 Nomor 9, Kelurahan Jakasampurna, Bekasi Barat, Kota Bekasi.

Sejak 2004 Memet ditarik ke Kementerian Aparatur Negara hingga pensiun. Pada tahun 2007, Memet memasuki area perebutan kursi Bupati Bekasi. Ia berpasangan dengan Jejen Sehuti, dan didukung PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan). Namun gagal. Pasangan Memet-Jejen dikalahkan secara telak oleh pasangan Sa’dudin-Darip yang diudung PKS dan Golkar.

Masih pada hari yang sama, Senin 21 Juni 2010, ditemukan jasad Fahreza Aminudin (16 tahun) dalam keadaan tewas tergantung di pintu depan lantai II rumahnya, sekitar pukul 18.30 wib. Siswa SMP 18 Solo, Jawa Tengah ini saat ditemukan dalam keadaan mulut berbusa. Diduga Fahreza nekat gantung diri karena ia dilarang orangtuanya berpacaran.

Lima hari sebelumnya, Rabu siang tanggal 16 Juni 2010, ditemukan kasus gantung diri yang dilakukan AY (10 tahun), murid kelas II SD Islam Terpadu (SDIT) Al Hikam (Ponpes Al-Hikam) Banyudono, Boyolali, Solo, Jawa Tengah. Siang itu jasad AY ditemukan teman-temannya dalam keadaan tewas gantung diri dengan kabel. AY hidup sebatangkara, keberadaan kedua orangtuanya yang sudah bercerai, sama sekali tidak diketahui. Selama ini, AY juga dikenal agak bandel, dan suka kabur dari Ponpes.

Juli 2010

Gara-gara kalah taruhan bola, seseorang nekat gantung diri. Hal ini terjadi pada seorang pemuda bernama Iway, warga Jelambar, Jakarta Barat. Iway ditemukan tewas gantung diri, pada Selasa sore tanggal 13 Juli 2010. Diduga, ia nekat gantung diri karena tak mampu membayar uang taruhan (judi) laga Final Piala Dunia 2010. Jasad Iway itu pertama kali ditemukan orangtuanya, dalam keadaan tergantung di lantai dua rumahnya. Setelah dievakuasi, jasad Iway akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo untuk diotopsi.

Sekitar enam hari kemudian, Senin 19 Juli 2010, ditemukan jasad Sumi (60 tahun) dalam keadaan tewas gantung diri dengan seutas tali plastik di blandar ruang dapur. Sumi adalah warga Galo, Gambirmanis, Pracimantoro, Wonogiri, Jawa Tengah. Jasad Sumi pertama kali diketahui dua tetangganya bernama Suki Mintorejo (80 tahun) dan Martini (38 tahun) sekitar pukul 07:00 wib. Sumi nekat gantung diri karena putus asa akibat mengidap penyakit menahun yang tak kunjung sembuh.

Ada juga yang gantung diri karena terbakar api cemburu, sebagaimana terjadi pada Salam Zaelani (25 tahun). Pria yang biasa disapa Teo ini pacaran dengan Endah (25 tahun). Bahkan mereka berencana menikah pada bulan Syawal 1431 H. Sabtu malam, 17 Juli 2010, Endah dan Salam sedang berada di Jalan Manunggal Gang Sepakat No 14 RT 2/RW 5 Kelurahan Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur, kediaman Ayahanda Salam yang saat itu sedang pergi ke Sumatera.

Endah dan Salam asyik ngobrol, hingga berujung pada pertengkaran di antara keduanya karena Teo dibakar api cemburu buta. Teo mengira Endah selingkuh. Pasca pertengkaran, Teo ngeloyor ke kamar mandi. Setengah jam berlalu, Teo tak juga muncul di samping Endah. Maka, Endah pun curiga. Kecurigaan itu mendorong kaki Endah melangkah ke kamar mandi yang pintunya tak terkunci. Di situ Endah melihat Salam telah tewas dalam keadaan tergantung. Ia gantung diri mengunakan kain sarung.

Agustus 2010

Himpitan ekonomi dan mengidap penyakit kronis telah menjadi alasan bagi sebagian orang untuk melakukan gantung diri. Apalagi, bila dua hal itu secara bersamaan menghimpit nasib seseorang. Hal ini sebagaimana terjadi pada diri Wahyono alias Sitas (52 tahun). Sitas, selain miskin juga menderita lever sehingga tak bisa meninggalkan tempat tidur sejak awal 2010.

Dua kondisi itu yang membuatnya nekat gantung diri. Jasad Sitas ditemukan sang istri dalam keadaan tergantung tali plastik pada Senin dini hari tanggal 2 Agustus 2010, sekitar jam 01:00 wib di rumahnya di Karangmojo, Weru, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Sepuluh hari berselang, di Bekasi, kasus gantung diri terjadi sebagai akibat dari suka berselingkuh. Hal ini sebagaimana terjadi pada Bedi Raike (25 tahun) yang saat itu baru sebulan menikah dengan Nita (23 tahun). Kamis malam tanggal 12 Agustus 2010, Bedi Raike nekat gantung diri di belakang rumah kontrakannya di Cibitung RT 02 RW 01, Telaga Asih, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Jabar.

Sebelum gantung diri, Bedi Raike didatangi pacar lamanya bernama Laila (23 tahun) yang menuntut pertanggung jawaban akibat hubungan mereka selama ini yang sudah terlalu jauh. Laila saat itu datang bersama ayahnya. Keduanya mendesak Bedi, karena pernah berjanji akan menikahi Laila.

Nita yang menjadi istri sah Bedi tentu kaget dan kecewa mengetahui suaminya ternyata punya selingkuhan. Malam itu juga Nita minggat ke rumah orangtuanya yang terletak tak jauh dari rumah kontrakan mereka. Nita berharap, sang suami akan minta maaf dan menjemputnya pulang. Yang terjadi justru sesuatu yang tak terduga. Sang suami gantung diri.

Apa hubungan Hari Kemerdekaan dengan gantung diri? Jelas tidak ada. Namun, pada tanggal 17 Agustus 2010 lalu, di Kabupaten Garut ada dua kasus gantung diri yang dilakukan Yadi Gilang Ramadhan bin Yana (15 tahun) dan Opik bin Otang (25 tahun).

Yadi Gilang Ramadhan bin Yana ditemukan tewas dalam posisi tergantung di pohon mangga yang berada di depan rumah Enen (65 tahun). Enan adalah nenek Yadi, warga Kampung Malati, Desa Pada Asih, Kecamatan Pasirwangi, Garut, Jawa Barat. Jasad Yadi ditemukan sekitar pukul 05:30 wib oleh Enung (35 tahun) yang masih kerabat Yadi. Diduga, motif himpitan ekonomi yang melatari kenekatan Yadi gantung diri.

Di kampung sebelah, yaitu di Kampung Cidahon RT 02/08, Desa Jatimulya, Kecamatan Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat, ditemukan jasad Opik bin Otang (25 tahun) dalam keadaan tergantung dengan seutas tali pada plang sumur. Pertama kali ditemukan oleh Said bin Sahli (45 tahun). Opik bin Otang sendiri sebenarnya warga Kampung Padasuka RT 02/05, Desa Banjarwangi, Kecamatan Banjarwangi, Garut, Jawa Barat. Motif gantung diri Opik saat itu masih belum jelas.

Sehari sebelumnya, Senin 16 Agustus 2010, ditemukan jasad Tino (75 tahun) dalam keadaan tergantung tali plastik di kamar mandi rumah. Pertama kali jasad Tino ditemukan anaknya sekitar jam 03:00 wib. Entah apa yang melatari warga Desa Selorejo, Kecamatan Girimarto, Wonogiri, Jawa Tengah ini gantung diri di bulan Ramadhan.

Beberapa hari sebelum gantung diri, Tino berpamitan dan pergi dari rumah, sehingga membuat keluarganya panik. Tapi tiga hari kemudian, Tino kembali. Tiga hari berikutnya, Tino ditemukan tewas gantung diri. Sebelum gantung diri, Tino sempat berpesan kepada anak-anaknya agar merawat alat-alat pertanian dan hewan ternaknya.

Lima hari setelah kasus Tino, Sabtu pagi tanggal 21 Agustus 2010, terjadi kasus serupa yang menimpa Sarwiji (40 tahun) warga Dukuh Sidotopo, Desa Cabean Kunti, Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah. Jasad Sarwiji pertama kali ditemukan oleh Rajinem (65 tahun).

Saat itu, sekitar pukul 06:00 wib Rajinem sedang menyapu halaman rumahnya. Saat itulah ia melihat Sarwiji dalam keadaan tewas tergantung di kayu blandar kandang sapi miliknya sendiri. Spontan Rajinem berteriak dan meminta tolong tetangga. Oleh warga, peristiwa itu dilaporkan ke Polsek Cepogo. Diduga, Sarwiji mengalami depresi, sehingga nekat gantung diri menggunakan seutas tali senar plastik sepanjang sekitar 75 sentimeter.

Menutup bulan Agustus 2010, terjadi kasus gantung diri yang melibatkan seorang ibu dan anaknya yang baru berusia 2 tahun. Ni Kadek Ariyani (39 tahun), tewas gantung diri di rumahnya pada Selasa siang tanggal 31 Agustus 2010. Ia tidak sendirian. Kadek membawa serta anaknya bernama Ketut Teguh Ariwiguna.

Jasad keduanya ditemukan pertama kali oleh I Gede Komang Titan Brilianata Pratama (12 tahun), anak pertama Kadek. Saat itu, sekitar pukul 13:30 wita, Komang baru pulang sekolah. Setibanya di rumah yang terletak di Jalan Taman Jimbaran IV No 1, Perum Taman Jimbaran, Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, ia merasa heran mendapati rumah dalam keadaan sepi.

Namun betapa terkejutnya Komang, ketika ia menemukan jasad ibu dan adiknya tergantung di kamar mandi dengan selendang berwarna merah. Komang pun spontan berteriak, menangis dan minta tolong warga. Maka warga pun datang memberi pertolongan, termasuk menghubungi suami Kadek yang sedang bekerja di padang golf Nusa Dua untuk segera pulang.

Diduga, Kadek nekat gantung diri karena memiliki hutang seebsar Rp 150 juta di perusahaan biro jasa tempat ia bekerja.

September 2010

Kasus gantung diri akibat tak tahan menderita penyakit, juga terjadi di bulan September ini, sebagaimana terjadi pada Warni (60 tahun), warga Dusun Kemejing Desa Kemejing, Kecamatan Semin, Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Jasad Warni ditemukan anak kandungnya, Kardi (31 tahun), sekitar pukul 09:30 wib hari Sabtu tanggal 4 September 2010. Warni yang sehari-hari berprofesi sebagai petani ini, nekat gantung diri akibat tidak tahan menderita sakit migrain yang tidak kunjung sembuh.

Sekitar sehari kemudian, Ahad 05 September 2010, terjadi kasus gantung diri Bojonegoro, Jawa Timur. Pelakunya, Sudarti (44 tahun), yang sehari-hari berprofesi sebagai Guru di SDN Kecamatan Kedewan, Bojonegoro. Jasad Sudarti pertama kali ditemukan suaminya sekitar jam 03:00 wib, saat hendak makan sahur, tergantung kaku di blandar rumah, menggunakan selendang warna kuning. Diduga, Sudarti nekat gantung diri karena faktor ekonomi.

Belum genap 24 jam kemudian, Senin 06 September 2010, terjadi kasus gantung diri di Batam. Pelakunya, Martina (22 tahun), warga Komplek Daya Centre Blok A nomor 5 Batuaji, Kota Batam, Kepulauan Riau. Martina ditemukan tewas gantung diri di lantai dua rumahnya, sekitar pukul 22.00 wib. Diduga, Martina tidak tahan lagi dengan ulah suaminya yang suka memukul dan cekcok mulut. Sebelum nekat gantung diri, Martina sempat menitipkan anaknya yang berusia empat bulan di rumah neneknya di Dabo Singkep.

Bukan hanya masalah ekonomi dan menderita sakit yang menyebabkan seseorang nekat gantung diri, teapi juga karena persoalan asmara. Misalnya, sebagaimana terjadi pada remaja pria berusia 17 tahun bernama Tri, warga Desa Sumogawe di Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Tri yang pendiam ini, sehari-hari bekerja mencari rumput. Ia ditemukan tewas tergantung di kandang sapi di belakang rumahnya pada hari Senin tanggal 13 September 2010. Jenazah Tri ditemukan kakak kandungnya sekitar pukul 08.00 wib.

Dua hari kemudian, Rabu 15 September 2010, sekitar 17.30 wib, terjadi kasus bunuh diri yang dilakoni pelajar SMP Negeri 2 Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muaraenim, Sumatera Selatan. Pelakunya bernama Tri Puji Lestari (14 tahun) kelas VIII, warga di BTN Air Paku Blok T No 18 Tanjungenim.

Ternyata, kasus Tri Puji Lestari bagai rangkaian kasus berantai. Karena, di bulan Agustus sebelumnya, dua kasus serupa juga dilakoni Wella Septiandiny kelas VII B dan Elsa Mayora kelas VII A, juga pelajar SMP Negeri 2, dan warga BTN Air Paku. Ketiganya melakukan tindakan bunuh diri dengan cara dan pola yang sama, yaitu gantung diri menggunakan dasi sekolah warna biru, mengikat di lemari. Bahkan, ketiganya merupakan anak bungsu. Selain itu, ketiganya berteman cukup dekat.

Sekitar lima hari kemudian, Senin 20 September 2010, terjadi kasus gantung diri yang dilakoni Satwo bin Ngenre (30 tahun) di tahanan Lapas Bone, Watampone, Sulawesi Selatan. Satwo adalah seorang petani yang divonis 13 tahun penjara atas kasus pembunuhan. Ia gantung diri mengunakan kain sarung yang dililitkan ke lehernya. Jasadnya ditemukan sekitar pukul 03:00 wita.

Satwo dinyatakan bersalah di pengadilan karena telah membunuh istrinya dan seorang pria yang diduga selingkuhan istrinya, dan mulai masuk tahanan Lapas Bone pada Juni 2008 lalu.

Tiga hari berikutnya, Kamis 23 September 2010, sekitar pukul 17:00 wib, terjadi kasus gantung diri yang dilakoni seorang tahanan bernama Tata Winata bin Wijaya (37 tahun). Tata melakukan aksinya di sel tunggu tahanan Pengadilan Negeri Tangerang, Jawa Barat, saat menunggu giliran menjalani proses persidangan. Ia gantung diri dengan menjerat lehernya menggunakan tali.

Enam hari kemudian, Selasa 28 September 2010, terjadi kasus gantung diri yang dilakoni pria gaek berusia 76 tahun bernama Munari. Warga Pandegiling gang 5/19, Surabaya, Jawa Timur ini ditemukan tewas oleh Sumini, menantunya, dengan leher terjerat kain panjang, sekitar pukul 08.30 wib. Munari mungkin kesepian, setelah ditinggal istrinya meninggal dunia sekitar Juli 2010 lalu.

Pada hari yang sama, Selasa 28 September 2010, terjadi kasus gantung diri yang dilakoni Rendi Felny Riansyah (21 tahun), warga Kampung Bantarsari, Kelurahan Nagarasari, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia nekat gantung diri hanya karena terbakar api cemburu akibat pacarnya dilirik lelaki lain.

Jasad Rendi ditemukan tergantung di atas tempat tidur kamarnya sendiri, dengan menggunakan tambang plastik. Pertama kali ditemukan oleh dua temannya yang tengah menunggu Rendi untuk berangkat bersama ke sebuah percetakan.

Bila Rendi gantung diri karena cemburu, di Kebumen, Jawa Tengah, gantung diri yang dilakoni seorang remaja putri berusia 17 tahun, karena hamil di luar nikah. Namanya Elsa Sumatera. Kasus gantung diri ini terjadi pada hari Rabu petang tanggal 29 September 2010, sekitar pukul 18:00 wib. Elsa gantung diri menggunakan seutas tali di rumahnya di Dukuh Bojong, Kelurahan Panjer, Kecamatan Kebumen, Jawa Tengah. Sehari sebelumnya, sang remaja putri ini sempat menuliskan sebuah pesan di akun situs jejaring sosialnya, berisi harapan agar orang yang menghamilinya mau bertanggung jawab. Elsa konon hamil lima bulan karena diperkosa oleh seorang oknum Polisi.

Oktober 2010

Di Situbondo, seorang suami gantung diri karena tidak mampu membiayai istrinya berobat akibat terkena kanker rahim. Abdul Bahar (43 tahun), warga Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan, Situbondo, Jawa Timur, nekat mengakhiri hidup dengan gantung. Bahar gantung diri dengan seutas tali di pohon bakau di desa setempat, pada hari Sabtu malam tanggal 02 Oktober 2010.

Sebelum meninggal, Bahar sempat menulis sepucuk surat dalam bahasa Madura, berisi ungkapan kekecewaan dirinya karena tidak mampu membiayai istrinya, Suariya (35 tahun), yang dirawat di salah satu rumah sakit di Malang karena menderita kanker rahim stadium tiga.

Empat hari kemudian, Rabu 06 Oktober 2010, upaya gantung diri dilakukan oleh Heriyanto (32 tahun), yang sehari-hari bekerja di PT Putri Hijau. Jasad Heriyanto ditemukan tewas gantung diri di rumahnya di Dusun XI HKTI Afdeling II Desa Halaban Kecamatan Besitang Langkat, Sumatera Utara. Ia nekat gantung diri akibat tekanan ekonomi.

Pada hari yang sama, Rabu 06 Oktober 2010, sekitar pukul 12.00 Wita, seorang mahasiswi FKIP Unlam semester III bernama Sri Rezeki Amalia (19 tahun), mengakhiri hidup dengan cara gantung diri di rumahnya, Jalan Sultan Adam, Gang Kartika, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Beberapa hari sebelumnya, Sri Rezeki pernah mengeluhkan tugas Bahasa Inggris tentang cerita keluarga. Mungkn hal ini yang manjadi latar belakang tindakan nekat Sri.

Empat hari kemudian, Ahad 10 Oktober 2010, sekitar pukul 19:30 wib, Feni Ivana (26 tahun) nekat gantung diri dengan cara mengikat lehernya ke sehelai kain panjang kemudian digantungkan di atas pintu kamar rumah. Feni adalah warga Jalan Rama Kasih RT 02 RW 14 Kelurahan Rejosari, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru, Riau yang sebelum nekat gantung diri terlibat pertengkaran dengan sang suami.

Bila di Surabaya ada kakek 76 tahun nekat gantung diri, di Ponorogo, Jawa Timur, seorang kakek berusia 80 tahun mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di pohon jambu. Namanya Soiran. Ia nekat gantung diri pada hari Selasa tanggal 12 Oktober 2010, karena tak menemukan jalan keluar atas penyakit yang dideritanya. Soiran selama ini menderita gangguan ginjal dan mengidap tumor.

Esok harinya, Rabu malam tanggal 13 Oktober 2010, ditemukan kasus gantung diri yang dilakoni Suudi (45 tahun) warga dusun Bandengan Rt 02 Rw VI Desa Poncorejo Kecamatan Gemuh, Kendal, Jawa Tengah. Sehari-hari, Suudi berprofesi sebagai petani bawang merah. Ia nekat gantung diri di atap kamarnya dengan seutas tali, karena gagal panen. Padahal, untuk melakukan perawatan dan penanaman bawang, Suudi telah mengeluarkan modal sebesar Rp 12 juta, yang diperolehnya dari hasil hutang kepada temannya.

Masih pada hari yang sama, Rabu 13 Oktober 2010, Sipti Nur Salsilah (15 tahun), warga Jl Prona Satu RT 14, kelurahan Sepinggan, Balikpapan Selatan, Kalimantan Timur, sekitar jam 10:00 wita, mempertaruhkan nyawanya demi cintanya kepada sang pacar yang terhalang orangtua.

Satu hari berselang, Kamis 14 Oktober 2010, Sri Setyani (47 tahun) tewas gantung diri di halaman belakang rumahnya, Sitinggil RT 3/RW X, Kartasura, Jawa Tengah. Jasad Sri Setyana kali pertama diketahui oleh Mugi dan Martini sekitar pukul 05:00 wib. Sri memiliki riwayat susah tidur, yang disebabkan oleh adanya permasalahan di dalam keluarga dia.

Masih pada hari yang sama, Kamis 14 Oktober 2010, Ir H Kasmal Arifin Lubis Msi (51 tahun) yang sehari-hari berprofesi sebagai dosen Fakultas Pertanian Universitas Su,atera Utara (USU), kedapatan tewas gantung diri di rumahnya, Jalan Kesaktian Pancasila, Dusun III, Medan, sekitar pukul 18.20 wib. Kasmal gantung diri dengan menggunakan tali timba sepanjang sekitar 5 meter yang diikat di kayu penyangga rumah. Sebelum meninggal, Kasmal terlihat cekcok dengan istri pertamanya, sehingga istri pertamanya dan 6 anaknya meninggalkan korban di rumah tersebut. Percekcokan itu sendiri terjadi karena Kamal diketahui menikah lagi sekitar lima bulan sebelum ia nekat gantung diri.

Gantung diri ternyata bisa dilakukan oleh anak usia Sekolah Dasar. Sebagaimana terjadi di Desa Baturiti Kabupaten Tabanan, Bali. Pelakunya, I Wayan Arta (13 tahun) siswa kelas VI SD Banjar Taman Tanda, Desa Baturiti, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Ia ditemukan tewas tergantung di kandang sapi dekat rumahnya, pada hari Jumat petang tanggal 15 Oktober 2010, sekitar pukul 18.00 wita.

Saat ditemukan, leher Arta dalam keadaan terjerat seutas tali plastik, dan dalam posisi menggantung masih lengkap mengenakan pakaian seragam sekolah. Motif gantung diri Arta masih belum bisa disingkap.

Di Batang Kuis, Deli Serdang, Sumatera Utara, kasus KDRT yang dilakukan suami setelah dilaporkan ke kepolisian, berujung pada tindakan nekat sang suami yang gantung diri di ruang tamu rumahnya. Hal ini terjadi pada Rachmat (29 tahun) warga Dusun I Desa Bakaran Batu Kecamatan Batang Kuis. Peristiwa itu terjadi pada hari Senin tanggal 18 Oktober 2010.

Rahmat sehari-hari berkerja di sebuah toko elektronik di kawasan Batang Kuis, dan baru menikah dengan Siti Maulina (25 tahun) sekitar 3 bulan sebelum kejadian. Saat menikah dengan Rahmat, Siti Maulina sudah mempunyai anak 1 dari perkawinan pertamanya dengan seorang pria lain.

Masih di Sumatera, dua hari kemudian, Rabu 20 Oktober 2010, Novi Dayanti (16 tahun), warga Desa Muara Niru, Kecamatan Rambang Dangku, Kabupaten Muaraenim, Sumatera Selatan, nekat gantung diri. Diduga penyebabnya keinginan korban untuk menikah dengan sang pujaan hati tidak kesampaian. Novigantung diri di kusen pintu kamar rumahnya.

Sementara itu, di Sampang, Madura, Jawa Timur, seorang wanita berusia 42 tahun warga Jalan Mutiara gang 03 Sampang, di ketemukan warga tergantung di langit-langit kamar mandi dengan menggunakan kain. Ia ditemukan pertama kali pada pukul 03.30 oleh oleh Suaminya, saat hendak mengambil air wudhu. Tindakan nekat itu dilakukannya karena ia menderita penyakit yang tak kunjung sembuh.

Dua hari kemudian, terjadi kasus gantung diri yang dilakukan Aliny Kusuma (20 tahun) di kamar rumahnya Jalan Danau Bratan G4/H-25 RT 4 RW 7, Perum Sawojajar I, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Jawa Timur. Kejadian itu berlangsung pada hari Jum’at sore tanggal 22 Oktober 2010. Tindakan nekat gantung diri yang dilakukan bungsu dari dua bersaudara ini lantaran keinginannya untuk menikah ditentang kedua orangtuanya.

Pada hari yang sama, Jum’at 22 Oktober 2010, seorang kakek mantan pengusaha minuman Cap Tikus, Jonas Wongkar Katuuk (70 tahun), ditemukan tewas tergantung di kayu atap bagian belakang rumah anaknya di Desa Kauditan Dua Jaga 5 Kecamatan Kauditan, Minahasa Utara, Sulawesi Utara.

Jasad Jonas pertama kali ditemukan Miske Kapero, tetangganya, sekitar pukul 05.30 Wita. Jonas pada masa jayanya adalah seorang pengusaha sukses punya banyak tanah dan rumah. Kini kekayaannya habis, kakinya sulit digunakan berjalan karena asam urat.

Masih pada hari yang sama, Jum’at 22 Oktober 2010, Fadlan Ambia (36 tahun) warga Desa Gampong Tengoh, Kota Langsa nekat gantung diri di salah satu kamar rumahnya di Desa Kampong Terban, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, sekitar pukul 05:15 wib. sehari-hari Fadlan berprofesi sebagai sopir mobil sudako (labi-labi) di Kota Langsa, NAD. Sebelum gantung diri, Fadlan sempat mengeluarkan keluhan: “Kemana kita cari uang sebesar Rp 5 juta untuk uang muka kredit mobil sudako untuk usaha…” Keluhan sering dilontarkan Fadlan kepada istrinya.

Gara-gara dililit hutang, sepasang suami isteri penjual bubur nekat bunuh dri dengan cara berbeda. Ruslianto (28 tahun) dan Rohana (25 tahun) adalah warga RT 003/01, Beji Timur, Depok, Jawa Barat. Saat itu, Sabtu 23 Oktober 2010, sekitar jam 14:00 wib, Rohana gantung diri dengan tali plastik di belakang dapur rumah kontrakan mereka. Sementara itu, suaminya Ruslianto sedang tidak berada di rumah.

Saat pulang ke rumah, Ruslianto mendapati istrinya sudah tewas tergantung. Ia bukannya menyadari kekeliruan yang dilakukan sang istri, malahan ikut melakukan upaya percobaan bunuh diri dengan menyilet nadinya sendiri. Untung Ruslianto masih dapat diselamatkan. Kasus ini terungkap karena pada saat kejadian Inayah anak keduanya menangis keras tanpa henti, sehingga terdengar pemilik kontrakan, yang kemudian menerobos masuk ke rumah kontrakan yang dihuni Rohana dan Ruslianto.

Sehari kemudian, Ahad 24 Oktober 2010, Sunardi (45 tahun), warga Dusun Bibis, Desa Campur Rejo, Kecamatan Sambit, Ponorogo, Jawa Timur, nekat gantung diri karena gagal menikah. Jasad Sunardi pertama kali ditemukan Jemangun (kakak kandung Sunardi). Saat Jemangun hendak pergi ke pasar, ia membuka pintu rumah, dan menemukan tubuh adiknya dalam keadaan tewas tergantung di bawah pohon mangga di depan rumah. Jemangun kemudian melaporkan temuannya itu ke kepala desa.

Keesokan harinya, Senin pagi tanggal 25 Oktober 2010, ditemukan kasus gantung diri yang dilakukan Dewi Puspitasari (22 tahun) dengan menggunakan kain selendang di rumah kontrakannya. Dewi baru beberapa bulan ngontrak di jalan Darma Wanita III Rt 02/RW 01, Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat. Setelah dievakuasi, jasad korban dikirim ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat untuk otopsi.

***

Ketika sebagian rakyat berduyun-duyun gantung diri karena himpitan ekonomi dan sebagainya, sejumlah wakil rakyat berduyun-duyun studi banding ke luar negeri yang bermakna plesiran (bahkan ada yang bawa isteri segala) dengan menghabiskan dana luar biasa banyak. Menurut Fitra (Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran), biaya yang dihabiskan oleh Pemerintah mulai Presiden hingga 13 kementerian atau lembaga dan DPR untuk kegiatan study banding ke luar negeri mencapai Rp 19,5 triliun.

Dana sebanyak itu diambil dari APBN 2010. Sementara itu, program BOS dan penanggulangan kemiskinan, seperti PNPM sebesar Rp 7,4 trilun yang seharusnya dibiayai APBN justru berasal dari utang. Menurut Yuna Farjan (Sekjen Fitra), hal tersebut menunjukkan bahwa pemerintah dan DPR telah mengingkari amanat konstitusi Pasal 23 Ayat 1 yang menyatakan, APBN ditujukan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Dalam bahasa agama, sikap seperti itu namanya mendzalimi rakyat.

Betapa perihnya melihat kenyataan ini: pemimpinnya zalim, rakyatnya gantung diri. Sementara itu, sebagian ulamanya sibuk berpolitik, menebar pesona, siapa tahu dapat kursi. (haji/tede)

(nahimunkar.com)