Kasus Musdah Mulia-AKKBB

 Dukung Mendukung dalam Penghancuran Ummat

 

DARI momen pemberian Yap Thiam Hien Award 2008 (YTH Award 2008) kepada Musdah Mulia, secara jelas masyarakat disuguhi sebuah informasi sampah, bahwa pemberi dan penerima award tersebut berasal dari kalangan sejenis. Maksudnya, dari komunitas AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan) untuk kalangan AKKBB sendiri. Dari mereka untuk mereka.

 

YTH Award didirikan antara lain oleh Jakob Oetama, Goenawan Mohamad, Dhaniel Dhakidae, serta pengacara Todung Mulya Lubis. Tiga dari empat nama tadi (kecuali Jakob Oetama), namanya tercantum di dalam daftar nama pendukung petisi AKKBB pertengahan tahun 2008 lalu. Todung Mulya Lubis bahkan bertindak sebagai juri, yang menentukan siapa-siapa yang layak menerima YTH Award 2008. Nah, Musdah Mulia sebagai penerima YTH Award, sudah jelas pendukung AKKBB.

 

Dari fakta-fakta itu, tidak bisa disalahkan bila ada yang menyimpulkan, bahwa  para penganjur pluralisme dan inklusifisme itu ternyata sekatrian juga. Mereka bersusah-payah menggelar sebuah event nasional, dipublikasikan media massa secara meluas, seraya memberikan kesan seolah-olah mereka telah benar-benar turut menegakkan HAM melalui pemberian YTH Award, yang ternyata penerimanya dari kalangan sejenis mereka sendiri.

 

Mengapa Musdah Mulia yang bukan sarjana hukum dan tidak berkiprah di dunia hukum memperoleh YTH Award 2008? Menurut Todung Mulya Lubis, karena Musdah merupakan tokoh perempuan yang cerdas, berani dan gigih memperjuangkan pluralisme, hak-hak perempuan dalam Islam, civil liberties dan kesetaraan hak-hak konstitusional setiap warga negara dalam demokrasi Indonesia. Penilaian itu disampaikan Todung pada hari Kamis, 4 Desember 2008, saat berlangsungnya penyerahan YTH Award 2008.

 

Musdah yang merupakan Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, menurut Todung, selain pernah menawarkan gagasan baru di dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) dengan pendekatan jender, hak asasi manusia, dan demokrasi; ia juga dianggap giat mengadvokasi kelompok minoritas, seperti Ahmadiyah, serta kelompok gay dan lesbian.

 

Menjelang akhir Maret 2008 lalu, Musdah pernah mengatakan bahwa homoseksual dan homoseksualitas adalah alami dan diciptakan oleh Tuhan, karena itu dihalalkan dalam Islam. Pernyataannya itu antara lain dikutip oleh harian berbahasa Inggris The Jakarta Post edisi 28 Maret 2008. Musdah tidak tanggung-tanggung, pernyataan bathilnya itu disandarkan pula pada Al-Qur’an surat ke-49 ayat 3.

 

Menurut hawa nafsu Musdah yang bermuatan fitnah kepada Allah SWT, seolah-olah Tuhan berpandangan bahwa manusia dihargai hanya berdasarkan ketaatannya saja, meski ia mempunyai orientasi seks menyimpang (gay atau lesbian). Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk menolak homoseksual. Begitu kata Musdah. Sedangkan munculnya kecaman terhadap homoseksual atau homoseksualitas yang berasal dari kalangan ulama arus utama dan Muslim lainnya, menurut Musdah, hanyalah didasarkan pada penafsiran sempit terhadap ajaran Islam. (lihat tulisan berjudul Profesor Kok Ngawur, nahimunkar.com, edisi April 20, 2008 11:35 pm).

Saking ngawurnya, Musdah Mulia sampai menulis untuk menerapkan ‘iddah bagi laki-laki. ‘Iddah itu di dalam Islam, hanya untuk perempuan. Jadi kalau ‘iddah itu untuk laki-laki, artinya adalah masa tunggu ketika isterinya wafat atau cerai, tidak boleh nikah dalam masa tertentu. Itu dituangkan dalam buku yang kemudian dipuji oleh Todung tersebut dengan ungkapan “menawarkan gagasan baru di dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) dengan pendekatan jender”. Antara yang memuji dan yang dipuji sama-sama tidak warasnya dalam hal menyikapi Hukum Islam. Dan yang masih waras justru dua orang menteri agama yang telah membredel buku Musdah dengan konco-konconya itu. Jadi buku musdah yang mengkonter Kompilasi Hukum Islam (yang kemudian dipuji Todung) itu telah dibredel oleh dua menteri agama yakni Said Agil Al-Munawar dan kemudian Maftuh Basyuni. Walaupun karya Musdah dkk itu dibredel, tapi yang jelas, menurut Majalah Sabili, buku yang mewajibkan lelaki dikenai masa ‘iddah (masa tunggu ketika isterinya wafat atau cerai, tidak boleh nikah dalam masa tertentu) itu mendapat dana dari The Asia Foundation (?) sebanyak 6 miliyar rupiah. Dan kini mendapat pujian dan hadiah lagi dari kelompok AKKBB. Ini antara yang mendanai, menghadiahi, dan yang didanai/ diahadiahi adalah merupakan gerombolan perusak dan penghancur Islam. Jelas!!!  

 

Menjerumuskan rakyat Indonesia ke arah kehancuran

Kasihan sekali. Tinggi-tinggi ia belajar Islam, hanya untuk memfitnah Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rasul-Nya, dan para ulama; hanya untuk mendapatkan popularitas dan penghargaan (materi). Mungkin bukan sekedar itu, boleh jadi Musdah sedang memainkan peranan penting di dalam menjerumuskan rakyat Indonesia kepada kehancuran, melalui pembenaran secara teologis bahwa homoseks dan lesbian tidak dikutuk oleh Allah Ta’ala.

 

Mengapa dikatakan demikian? Karena, pada satu sisi ditemukan sejumlah orang dengan alasan mencegah berjangkitnya virus HIV-AIDS justru menganjurkan kondomisasi (termasuk pemberian kondom gratis) kepada rakyat Indonesia yang sudah terlanjur menganut seks bebas atau menganut jenis-jenis perzinaan lainnya. Bahkan mereka juga mengupayakan diberikan suntikan secara cuma-cuma kepada pemakai narkoba suntik yang sudah terlanjur ketagihan, sehingga dengan suntikan gratis itu kecenderungan menggunakan jarum suntik bersama-sama dapat ditekan. Sebab, pemakaian jarum suntik dengan cara itu memberikan kontribusi signifikan di dalam penyebaran birus HIV-AIDS. (lihat tulisan berjudul Pembunuhan Massal Melalui Kondomisasi, nahimunkar.com, edisi December 16, 2008 11:49 pm).

 

Dalam hal ini, posisi Musdah justru melengkapi upaya-upaya pembunuhan massal yang sedang dijalankan oleh para aktivis HIV-AIDS dengan cara kondomisasi tadi, yaitu memberi landasan teologis bahwa gay dan lesbian itu sah menurut agama. Sebagaimana diungkap oleh M. Al Khaththath di www.suara-islam.com melalui sebuah tulisan berjudul Awas Bahaya Kondomisasi (Tuesday, 09 December 2008), penularan virus HIV melalui hubungan seksual sebanyak 46,2 persen, terdiri dari 42,1 persen untuk hubungan heteroseksual sedangkan hubungan homoseksual (gay dan lesbian) hanya 4,1 persen.

 

Jadi, pelaku seks bebas yang berorientasi gay dan lesbian ‘hanya’ menyumbang  sekitar 10 persen saja dari total penularan virus HIV-AIDS yang dihasilkan pelaku zina heteroseksual (dengan teman atau pelacur). Maka, di sinilah peranan penting seorang Musdah. Dengan adanya pembenaran (baca: pembodohan) secara teologis itu, diharapkan sumbangan dari kaum gay dan lesbian meningkat pesat di dalam mendongkrak angka penularan virus HIV-AIDS.

Merajalelanya AIDS di Indonesia sangat mengkhawatirkan

Orang-orang seperti Musdah inilah yang cenderung diberikan award oleh YTH, karena peranannya sangat penting di dalam meyakinkan rakyat Indonesia untuk terus terperosok ke dalam lubang kematian. Tanpa adanya pembenaran teologis dari Musdah saja, penderita HIV-AIDS dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Menurut data Departemen Kesehatan, hingga akhir September 2008 sebanyak 21.151 jiwa rakyat Indonesia telah terinfeksi virus HIV. Dari jumlah itu, sebanyak 15.136 jiwa di antaranya berada dalam fase AIDS. Ini menunjukkan bahwa epidemi AIDS di Indonesia merupakan yang tercepat di Asia. Lebih memprihatinkan, sekitar 54,3 persen di antara rakyat Indonesia yang sudah berada dalam fase AIDS tadi, berada dalam kisaran usia 15 sampai 29 tahun. (Koran Tempo, 3 Desember 2008).

 

Menurut Nancy Fee, Country Coordinator UNAIDS, di Indonesia tidak ada provinsi bebas HIV dan AIDS. Di Papua, yang tertular bukan hanya rakyatnya, tetapi juga pejabatnya. Sebagaimana diberitakan harian Suara Pembaruan edisi 7 Juni 2006,  sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi Papua diindikasikan terinfeksi HIV/AIDS, bahkan tokoh agama pun ada yang terindikasi telah terinfeksi virus ini. Hal itu diungkapkan Ketua Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Provinsi Papua drh Constan Karma. Menurut Karma, penyebaran HIV/AIDS di Papua, sudah sedemikian memprihatinkan.

 

Hingga September 2007, menurut data Dinas Kesehatan Provinsi Papua, bahwa penderita HIV/AIDS mencapai 3.434 kasus HIV/AIDS di seluruh Papua. Berdasarkan jenis kelamin, menurut Constan Karma , jumlah kasus HIV/AIDS jenis kelamin, pria sebanyak 1.774 kasus dan perempuan sebanyak 1.602 kasus. “Kita harus berani mengatakan tidak kepada seks bebas. Karena untuk dapat mencegah penyebaran virus mematikan ini adalah melalui pertobatan total. Dan melalui upaya ini, kita yakin jumlah kasus HIV/AIDS akan bisa ditekan seminimal mungkin,” kata Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua ini. (okezone.com Kamis, 22 November 2007 – 19:36 wib).

 

Menurut Rustam Effendi, Manajer Program Kesehatan Yayasan Sri Mersing, sejak tahun 1993 hingga 2008, penderita HIV/AIDS di wilayah Karimun (Batam) mencapai 240 kasus. Dari jumlah tersebut, 36 di antaranya, termasuk anak-anak, sudah meninggal. (http://satudunia.oneworld.net/node/2983).

 

Menurut Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Jateng, sejak 1993 hingga 30 Juni 2008 jumlah penderita HIV/AIDS di Jateng mencapai 1.747 orang. Berdasarkan data tersebut, sebanyak 1.296 orang mengidap HIV, sedangkan 452 sudah mengidap AIDS. Dari jumlah itu, 195 di antaranya meninggal dunia. (okezone.com Rabu, 27 Agustus 2008 – 01:00 wib).

 

Di Tangerang, menurut dr Yulia Soenar Dewanti, Kepala bidang Pencegahan Penangulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, jumlah orang yang telah terinfeksi AIDS, sejauh ini yang terdata sekitar 160 orang. Sementara 508 lainnya dinyatakan sebagai Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA). Ironisnya, mereka yang terinfeksi sebagian besar adalah usia produktif seperti pelajar SMP dan SMU. (okezone.com Kamis, 7 Agustus 2008 – 16:37 wib).

 

Di Bali, menurut catatan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bali, sejak kasus HIV pertamakali ditemukan di Bali pada tahun 1987 hingga 31 Mei 2008, ada sebanyak 200 ibu rumah tangga telah terinfeksi HIV. Tuti Parwati Merati, Koordinator Pokja Pengobatan Perawatan dan Dukungan KPA Bali, para Ibu rumahtangga itu terinfeksi dari suami mereka yang menjadi pelanggan pekerja seks. Selain ibu rumah tangga, ada sekitar 185 perempuan bukan pelacur dan bukan pengguna narkoba suntik yang juga terinfeksi HIV. (okezone.com Rabu, 30 Juli 2008 – 15:02 wib).

 

Perlu diketahui, menurut catatan Arli Aditya Parikesit kasus HIV/AIDS ditemukan untuk pertama kalinya hanya di Pulau Bali pada tahun 1987 (berarti hanya perlu waktu enam tahun sejak pertama kali kasus AIDS ditemukan di Los Angeles tahun 1981). Begitu juga dengan ekstasi, sebelum bisa ditemukan di Jakarta, ia pertama kali ditemukan hanya di Bali. Kini, dengan jumlah penduduk sekitar 3,2 juta jiwa, jumlah penderita HIV/AIDS yang terdata hingga akhir September 2008 mencapai 2.323 kasus, menempati posisi kelima terbanyak secara nasional. (Kompas.com Selasa, 4 November 2008 | 21:37 WIB)

 

Menurut estimasi Nur Munawaroh, Kasubdin Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, sedikitnya 900 warga di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, diduga terinfeksi penyakit HIV/AIDS. Saat ini keberadaan mereka tersebar di seluruh lapisan masyarakat dan berpotensi menularkan kepada orang lain. Namun berdasarkan data yang berhasil diinventarisir petugas, jumlah penderita HIV/AIDS sejak Januari hingga Juni 2008 mencapai 85 orang. Jumlah tersebut terdiri dari 42 penderita HIV dengan 6 orang tidak terpantau keberadaannya, 23 penderita AIDS dengan 2 orang tidak terpantau keberadaannya. Dari jumlah itu, sebanyak 16 orang sudah meninggal dunia dalam kurun waktu lima bulan. Untuk bulan Juni saja, jumlah penderita yang berhasil diketahui sebanyak 5 orang, yang terdiri dari 1 orang TKI, 2 pelacur, dan 2 lelaki pezina.

 

Di Surabaya, penyebarannya virus HIV/AIDS selama tujuh tahun terkahir sudah ada sekitar 1.500 kasus HIV dan sekitar 600 kasus AIDS. Pada tahun 2008 ini saja, Dinas Kesehatan Surabaya sudah menemukan 110 kasus dengan korban meninggal sebanyak 18 orang. Rata-rata korban HIV/AIDS di Surabaya adalah perempuan. (Okezone.com Rabu, 28 November 2007 – 13:38 wib).

 

Di Jawa Barat, Bandung merupakan kota yang memiliki penderita HIV/AIDS terbanyak terjangkit penularan virus HIV/AIDS. Sejak 1989 hingga Juni 2007, dari sekitar 2.716 warga Jawa Barat yang terjangkit HIV/AIDS, sejumlah 1.201 di antaranya berasal dari Kota Bandung. Demikian penjelasan Irwandi Widjaya yang menjabat sebagai Humas Yayasan Rumah Cemara, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang mempunyai kepedulian di bidang rehabilitasi HIV/AIDS. Dari sekitar 1.201 warga Bandung yang mengidap penyakit tersebut, 62 penderita di antaranya meninggal, sekitar 695 penderita AIDS, 506 penderita HIV Positif.

 

Di Malang, Jawa Timur, penderita HIV/AIDS dalam 11 tahun terakhir meningkat dari sekitar 588 orang pada akhir tahun 2007 menjadi 770 orang pada Juni 2008. Menurut Sutiarsi, Ketua Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD), sebagian besar dari penderita HIV/AIDS itu masih berusia produktif antara 15 hingga 35 tahun yakni 599 orang penderita. Prosentase penderita bila dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin, perempuan mencapai 196 orang dan laki-laki sebanyak 574 orang. (http://www.aidsindonesia.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=2717&Itemid=135)

 

Menurut data Komite Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Manado, 83,4% penderita HIV/AIDS masih berusia produktif, yaitu mereka yang masih berusia 20-39 tahun. Hingga Juli 2008 sudah 163 kasus yang ditemukan KPA, namun hanya 77% (atau 125 penderita) yang masih hidup, sedangkan 31 penderita lain sudah meninggal. (http://mdopost.com/news/index.php?option=com_content&task=view&id=3420&Itemid=40)

 

Bagaimana dengan DKI Jakarta? Jumlah pengidap HIV/AIDS bertambah dua kali lipat dalam kurun waktu dua tahun sepuluh bulan. Pada akhir 2005, jumlah warga Jakarta yang diketahui mengidap HIV/AIDS mencapai sekitar 1.800 orang. Jumlah itu berlipat ganda menjadi 3.607 orang pada Oktober 2008.

 

Menurut Rohana Manggala, Ketua Harian KPA DKI Jakarta, berdasarkan perhitungan dengan model Asian Epidemic Modelling, jumlah pengidap HIV/AIDS di Jakarta pada tahun 2008 sebenarnya mencapai 41.240 orang. Bila tidak dikendalikan, jumlah pengidap HIV/AIDS akan mencapai 85.460 orang pada 2012. Jumlah itu sangat menakutkan karena dapat lebih cepat menyebar dan menulari lebih banyak orang lagi. (http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/11/04/01310138/jumlah.pengidap.hiv/aids.naik)

 

Risiko masuknya virus HIV dari orang yang sudah terinfeksi kepada orang yang belum terinfeksi, melalui hubungan seks anal (sodomi) lebih besar daripada risiko hubungan seksual dan seks oral (http://id.wikipedia.org/wiki/AIDS). Seks anal (sodomi) hampir selalu dilakukan oleh pasangan gay. Perlu diingat, AIDS pertama kali dilaporkan pada tanggal 5 Juni 1981, pada lima laki-laki homoseksual di Los Angeles.

 

Kalau saja sejak awal perilaku homoseksual ini dibatasi bahkan diperangi, nisaya kasus AIDS tidak sebesar saat ini. Semula kasus AIDS hanya ditemukan di kalangan gay saja. Namun, dari komunitas penganut seks bebas juga terdapat kalangan yang disebut biseksual, yaitu laki-laki yang orientasi seksualnya ganda (bisa berhubungan seks dengan sesama laki-laki tetapi dapat juga dengan perempuan). Sehingga, kasus AIDS yang semula hanya terdapat pada kaum gay menulari juga wanita-wanita pengikut seks bebas, menulari wanita pelacur, menulari wanita baik-baik yang suaminya pezina, menulari bayi-bayi yang ibunya terinfeksi HIV-AIDS, menulari sesama pemakai narkoba suntik. Dan seterusnya.

 

Artinya, dari pasangan gay (homoseksual) inilah kasus AIDS bermula. Ironisnya, oleh Musdah dengan argumen telogis yang tidak punya dasar berpijak, dia memfitnah Allah SWT seolah-olah orientasi seks menyimpang merupakan sunatullah, dihalalkan oleh Allah Ta’ala, sehingga dapat diterima sebagaimana adanya. Lebih ironis lagi, sosok ngawur seperti itu justru diberi award. Ini benar-benar gila.

 

Kecamam Allah Ta’ala

Allah Ta’ala telah mengecam perbuatan dusta atas nama Allah, Bantu membantu dalam kemunkaran, dan lindung melindungi dalam kerusakan.

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ اْفتَرَى عَلىَ اللهِ كَذِباً أُوْلَئِكَ يُعْرَضُوْنَ عَلَى رَبَّهِمْ وَيَقُوْلُ اْلأَشْهاَدُ هَؤُلاَءِ الًّذِيْنَ كَذَبوُا عَلىَ رَبِّهِمْ أَلاَ لَعْنَةُ اللهِ عَلىَ الظَّالِمِيْنَ

18.  Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah?. mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi[716] akan berkata: “Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka”. Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim. (QS Huud: 18).

 

[716]  maksud para saksi di sini ialah: malaikat, nabi-nabi dan anggota-anggota badannya sendiri.

الُمنَافِقُوْنَ وَاْلمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُوْنَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوْفِ وَيَقْبِضُوْنَ أَيْدِيْهِمْ نَسُوْا اللهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ اْلمُنَافِقِيْنَ هُمُ اْلفَاسِقُوْنَ

67.  Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya[648]. mereka Telah lupa kepada Allah, Maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik. (QS At-Taubah: 67).

 

[648]  Maksudnya: berlaku kikir

 

وَالَّذِيْنَ كَفَروُا بَعْضُهُمْ أَوْلِياَءُ بَعْضٍ إِلاَّ تَفْعَلُوْهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فيِ اْلأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيْرٌ

73.  Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu[625], niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (QS Al-Anfal: 73)

 [625]  yang dimaksud dengan apa yang telah diperintahkan Allah itu: keharusan adanya persaudaraan yang teguh antara kaum muslimin.

 

(haji/tede)