Kasus Narkoba dari Anak SD Hingga Jaksa


PADA tahun 2002 BNN (Badan Narkotika Nasional) didirikan. Oleh Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BNN yang saat itu dijabat oleh Komjen Pol Drs Nurfaizi. Ketika itu Nurfaizi sudah menyatakan perang terhadap Narkoba. Karena jumlah pecandu narkoba (narkotika dan obat-obat berbahaya) di Indonesia meningkat tajam dalam lima tahun terakhir (berarti 1997-2002), bahkan anak usia sekolah dasar (SD) pun sudah termasuk incaran pengedar narkoba. Modus operandi penyebaran di kalangan anak-anak pun bermacam-macam, antara lain melalui permen yang dijual pedagang asongan yang sering mangkal di sekolah. (http://www.glorianet.org/arsip/b3132.html)

Pada tahun 2004, BNN menyelenggarakan Survey Nasional Penyalahgunaan Narkoba. Salah satu hasilnya, menunjukkan bahwa anak sekolah dasar sudah mengkonsumsi narkoba. Yang lebih mengejutkan lagi, berdasarkan survey itu terungkap bahwa usia termuda pemakai narkoba adalah anak-anak berusia 7 tahun dengan jenis inhalan (dihirup).

Di kalangan anak jalanan, jauh sebelum survey itu digelar, memang sudah dikenal istililah ‘ngelem’ yaitu perbuatan menghirup lem cair (seperti Aica Aibon). Bila lem tersebut dihirup dalam-dalam, dapat memberi efek melayang sebagaimana dirasakan oleh pengguna narkoba.

Ketika itu, Kamis 8 Juli 2004, Togar M Sianipar Kepala BNN menyampaikan hasil surveynya di Istana Negara, Jalan Veteran, Jakarta Pusat. Menurut Togar, survey diikuti oleh 13.710 responden. Dari hasil survey itu ditemukan, ada anak-anak berusia 8 tahun yang sudah menggunakan ganja. Juga ditemukan, ada anak-anak berusia 10 tahun telah menggunakan narkoba dengan jenis bervariasi (pil penenang, ganja dan morfin).

Secara keseluruhan, menurut Togar, usia 15 tahun merupakan usia rata-rata pertama kali penyalahgunaan narkoba. Dilihat dari segi pendidikan, penggunaan narkoba di Perguruan Tinggi mencapai 9,9 persen, SLTA 4,8 persen dan SLTP 1,4 persen. (http://www.detiknews.com/read/2004/07/08/125438/173388/10/bnn-anak-sd-sudah-konsumsi-narkoba)

Pada tahun 2006, BNN kembali melakukan penelitian. Dari hasil penelitian itu berhasil diungkapkan, sebanyak 8.500 siswa sekolah dasar di Indonesia mulai mengonsumsi bahkan sudah kecanduan Narkoba dalam satu tahun terakhir. (http://www.inilah.com/berita/politik/2007/12/06/3823/ribuan-siswa-sd-kecanduan-narkoba/). Hal itu terjadi akibat mudahnya siswa SD mendapatkan lem aibon yang memberikan efek melayang saat dihirup. Dibandingkan tahun 2004, maka data 2006 menunjukkan adanya kenaikan lebih dari seratus persen.

Data tersebut antara lain diungkapkan oleh Brigjen Pol Mudji Waluyo (Kepala Pusat Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba BNN) di Malang pada hari Kamis tanggal 06 Desember 2007, usai mengevaluasi kinerja Badan Narkotika Kota (BNK) Malang di Balaikota setempat. Menurut Mudji, usia pengguna lem aibon termuda tercatat sekitar 7 tahun. Adanya peningkatan, karena lem aibon itu mudah didapat di mana saja, dan lemahnya faktor pengawasan keluarga.

Menurut Mudji pula, total pengguna narkoba di Indonesia mencapai 3,2 juta orang. Sebanyak 1,1 juta orang di antaranya adalah pengguna dari kalangan SD, SMP, SMA, dan mahasiswa. Apabila pengguna SD menggunakan lem aibon untuk memberi efek melayang, siswa SMP, SMA, dan mahasiswa memakai narkotika dari berbagai jenis untuk memberikan efek melayang. Jenis narkotika campur-campur merupakan jenis yang paling banyak disalahgunakan oleh pelajar dan mahasiswa. Daun ganja merupakan jenis narkoba yang menduduki urutan kedua yang sering digunakan. Sedagkan tumbukan daun kecubung menduduki peringkat ketiga, ekstasi pada urutan keempat, sabu-sabu urutan kelima, dan benzodiazepam atau obat antidepresi urutan terakhir jenis narkotika yang sering dipakai. (http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0711/16/metro/3996665.htm)

Mudji menambahkan, angka tertinggi konsumen Narkoba anak-anak SD ini masih DKI Jakarta, disusul provinsi di daratan Sumatera kemudian Jawa Timur dan beberapa provinsi lain seperti DI Yogyakarta dan Kalimantan Selatan. Khususnya di Jawa Timur, sebagaimana data yang diperoleh dari kepolisian, Kecamatan Bangil memegang rekor tertinggi untuk kasus narkoba di kalangan anak- anak SD di Jawa Timur. (http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=4762)


Beberapa kasus

Di Jombang (Jawa Timur), seorang siswa Sekolah Dasar berinisial BS tertangkap membawa puluhan butir pil koplo ke sekolah, pada hari Kamis tanggal 19 Maret 2009. Saat menjalani pemeriksaan di ruang Satreskrim Polsek Ngoro, Jombang (Jawa Timur), BS mengaku memiliki barang haram tersebut dari sebuah salon yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggalnya. BS tertangkap saat dia bergurau dengan temannya.

Saat itu, BS melempar temannya dengan tas miliknya. Dari tas yang dilempar itu, secara tidak sengaja bungkusan rokok yang berada di dalam tas milik BS terjatuh. Seorang guru yang mengetahui kerjadian itu merasa curiga dan mengambil bungkus rokok itu. Namun saat dibuka di dalam bungkus itu terdapat sekitar 70 butir pil koplo jenis double L, yang dikemas dalam tujuh kantong plastik. Oleh sang guru, temuan itu kemudian dilaporkan ke Polsek Ngoro. (http://nasional.vivanews.com/news/read/42231-kedapatan_miliki_narkoba__siswa_sd_ditahan)

Di Karawang peredaran narkoba telah mencapai kondisi yang cukup memprihatinkan, karena sudah menjalar ke desa-desa dan sekolah, termasuk SD. Wakil Bupati Karawang Hj. Eli Amalia Priatna yang juga sebagai Ketua Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Karawang mengungkapkan hal tersebut pada acara penyuluhan dalam penanggulangan bahaya narkoba bagi kalangan remaja di Aula Kantor Desa Purwasari, pada hari Minggu tanggal 8 Feb 2009. (www.poskota.co.id/news_baca.asp?id=51549&ik=4)

Di tahun 2007, sedikitnya 40-50 siswa sekolah dasar (SD) dari total 40.000 siswa di Kota Bekasi, terindikasi mengonsumsi narkoba, khususnya ganja. Penyalahgunaan narkoba pada murid SD umumnya melalui makanan ringan, seperti permen dan gula manisan. Data tersebut diperoleh Badan Narkotika Kota (BNK) Bekasi dari kepolisian. (http://www.tempointeractive.com/hg/jakarta/2007/06/26/brk,20070626-102579,id.html)

Di Jakarta, dari hasil operasi yang digelar Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya dan jajarannya selama kurun waktu satu bulan (Maret 2009), aparat kepolisian berhasil mengamankan 667 tersangka kasus narkoba. Sekitar 18-19 persen dari 667 tersangka tadi, yaitu sekitar 113 tersangka adalah generasi muda amat belia yaitu mereka yang berada ada kisaran usia anak SD (Sekolah Dasar).

Dari tangan mereka polisi berhasil menyita sejumlah barang bukti berupa pil ekstasi, shabu-shabu, heroin dan ganja. Demikian sebagaimana disampaikan oleh Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Polisi Chysnanda ada hari Senin 13 April 2009. Meski tidak diperoleh data spesifik, namun dari 113 tersangka anak SD tadi, ada yang terolong pengedar dan sebagian lainnya tergolong pemakai.

Di tahun 2004, Muchlis Catyo (Kepala Subdit Kesiswaan Direktorat Pendidikan Menengah Umum Departemen Pendidikan Nasional) yang juga anggota Tim Kelompok Kerja Pemberantasan Penyalahgunaan Narkoba Depdiknas tahun 2004, mengatakan bahwa khusus untuk pengguna narkoba pada anak usia SD, biasanya diawali karena ketidaksengajaan. Misalnya, narkoba masuk lewat permen, bakso, bahkan melalui obat di rumah sakit ketika mereka harus dirawat.

Pernyataan Muchlis Catyo tadi, faktanya memang benar-benar terjadi, misalnya sebagaimana kasus yang menimpa Yerry putra kedua mendiang Ronny Pattinasarrany (mantan pemain sepakbola nasional). Sebagaimana pernah diungkapkan Ronny dalam sebuah buku berjudul Dan, Kedua Anakku Sembuh dari Ketergantungan Narkoba pada buku itu Yerry yang pernah kecanduan putau menuturkan bahwa awalnya ia mengenal narkoba dari seorang penjual minuman ringan didepan SD-nya.

Penjual minuman itu memberinya sebutir pil yang katanya bisa membuat enak badan dan bisa asyik. Awalnya Yerry selalu menolak, tapi suatu hari ia penasaran dan membawanya pulang. Yerry yang kala itu duduk di kelas enam SD kemudian mencoba meminumnya. Ternyata ia memang merasakan apa yang disebutnya sensasi baru. Pikirannya melayang-layang setengah sadar.

Akhirnya, Yerry ketagihan, dan ia datang lagi ke penjual minuman itu. Kali ini ia harus membelinya. Ternyata penjual minuman itu seorang pengedar narkoba, dan ia punya banyak barang, bukan hanya obat-obatan daftar G seperti yang diumpankannya kepada Yerry. Sejak itu Yerry terjerumus ke dalam cengkeraman narkoba, hingga ia bersekolah di SMU. Untunglah akhirnya Yerry berhasil lepas dari narkoba berkat kegigihan kedua orangtuanya.

Menurut BNN, peredaran gelap Narkoba di Indonesia semakin meningkat terutama sejak tahun 2003. Jumlah tersangka kasus Narkoba meningkat setiap tahun, dari sekitar 5.000 tersangka pada tahun 2001 menjadi 32.000 tersangka pada tahun 2006. Dalam kurun waktu 2001-2006 jumlah tersangka kasus mencapai sekitar 85.000 orang. Sejak tahun 1998 Clandestine (gerakan bawah tanah) Narkoba diungkap setiap tahun dengan jumlah yang semakin meningkat.

Selain itu, menurut BNN, pelajar dan mahasiswa di semua propinsi baik di ibu kota maupun di kabupaten rentan penyalah-gunaan Narkoba. Penyalah-gunaan jauh lebih tinggi pada laki-laki dibanding perempuan. Kemampuan ekonomi, pengawasan yang kurang dari orangtua, dan ketidak-taatan ibadah meningkatkan kerentanan penyalah-gunaan Narkoba. Ganja, Ekstasi, dan Shabu merupakan jenis Narkoba yang paling banyak dipakai. Sekitar 40 persen penyalah-guna mulai pakai Narkoba pada umur 11 tahun atau lebih muda. ‘Teman’ merupakan pintu masuk utama penyalah-gunaan Narkoba. Sekolah/Kampus dan rumah teman sering menjadi tempat menawarkan Narkoba. Hanya 2,4 di antara 100 penyalah-guna mengaku pernah menyuntik Narkoba.


Jaksa Narkoba

Ironisnya, ketika kekhawatiran terhadap bahaya narkoba yang sudah kian gencar menyusup ke sekolah-sekolah dasar (SD), terbetik kasus tentang adanya penggelapan barang bukti berupa 343 butir pil ekstasi, yang melibatkan dua jaksa yakni Esther Thanak dan Dara Veranita. Keduanya bertugas di PN Jakarta Utara.

Esther Thanak dan Dara Veranita ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Metro Jaya karena terbukti menjual 343 butir ekstasi yang merupakan barang bukti. Kalau satu butir ekstasi tersebut laku dijual dengan harga Rp 100.000 per butir, maka keseluruhannya bernilai Rp 34.300.000. Penetapan tersangka ini diperoleh setelah keduanya diperiksa secara maraton dua hari berturut-turut. Keduanya terbukti melanggar UU Psikotropika Pasal 60 ayat 1 tentang Pengedar dan Pasal 62 jo Pasal 71 tentang Kepemilikan Psikotropika.

Sehubungan dengan kasus jaksa narkoba Esther Thanak dan Dara Veranita ini, menurut pemberitaan sejumlah media, ratusan orang berunjuk rasa di depan Gedung Kejaksaan Agung, Selasa (14 April 2009). Mereka berasal dari berbagai unsur, di antaranya Gerakan Nasional Anti Narkotika dan Satuan Tugas Anti Narkoba. Mereka mempersoalkan penahanan Esther dan Dara yang tidak diperpanjang saat masa penahanan 20 hari pertama berakhir. Esther dan Dara yang ditahan di Polda Metro Jaya dilepaskan dari tahanan pada 11 April lalu.

Terhadap kasus dua jaksa ini, Jaksa Agung Muda Pengawasan (Jamwas) Kejaksaan Agung (Kejagung) Hamzah Tadja mengakui, terungkapnya penggelapan barang bukti oleh Jaksa Esther menunjukkan pengawasan melekat di internal Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Utara (Jakut) tidak berjalan efektif.

Di tahun 2006, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memvonis jaksa Hendra Ruhendra selama 17 tahun penjara (Rabu, 1 Maret 2006). Dia tertangkap saat memakai narkoba di apartemen Taman Rasuna Said lantai 10 pada Agustus 2005. Jaksa Hendra Ruhendra juga terbukti memiliki 217 gram shabu-shabu, 30 butir ekstasi, dan 2 pucuk senjata api jenis revolver 38 dan FN 22 beserta enam butir peluru.

Dari mana sang jaksa memiliki barang haram itu? Aparat membantah bahwa narkoba yang dimiliki Hendra Ruhendra merupakan barang bukti kejaksaan. Waktu itu Hendra Ruhendra mengaku mendapatkan shabu dan ekstasi dari seseorang yang tinggal di Bali. Setelah aparat polisi melakukan pengejaran dengan berpegangan pada alamat yang diberikan oleh Hendra, ternyata alamat yang diberikan Hendra fiktif belaka.

Dari dua kasus di atas, masyarakat tentu semakin geram, ketika kasus narkoba kian menggerogoti kehidupan generasi muda, aparat penegak hukum (dalam hal ini jaksa) justru menggelapkan barang bukti (narkoba) untuk dipasarkan kembali. Padahal, seharusnya barang bukti itu segera dimusnahkan.

Kalau kasus jaksa menjual barang bukti mengikuti fenomena gunung es, yang berarti masih banyak kasus serupa yang tak terungkap, betapa mengkhawatirkannya kehidupan generasi muda kita. Sebab, aparat yang seharusnya menekan peredaran narkoba melalui kekuasaannya, justru ikut menjadi pengedar. (haji/tede)