Kasus Video Porno: Ariel Divonis 3 ½ Tahun Penjara, Luna Maya dan Cut Tari Dibidik Polisi

Berita dari Mabes Polri: Karena Ariel telah diputus bersalah, berarti apa yang dituduhkan terbukti. Tidak sulit berarti menjerat Luna Maya dan Cut Tari? “Penyidik akan menindaklanjuti.”

Ariel divonis hukuman penjara tiga tahun enam bulan dan denda Rp 250 juta subsider tiga bulan kurungan. Kasus vcd porno itu dijatuhi hukuman oleh majelis hakim yang diketuai Singgih Budi Prakoso di Pengadilan Negeri Bandung, Jawa Barat, Senin (31/1 2011).

Ariel (Nazriel Irham alias ‘Ariel Peterpan’) dinyatakan terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana, memberikan kesempatan pada orang lain untuk menyebarkan pornografi dan membuat serta menyediakan pornografi.

Putusan hakim yang memvonis Ariel terbukti bersalah dalam kasus video porno pata artis itu masih menyisakan pelaku utama lainnya, Cut Tari dan Luna maya dalam lakon zina yang divideokan dan disebarkan. Akibat penyebaran video porno zina itu dikabarkan telah terjadi 64 kasus pencabulan. Maka situs voa Islam.com menurunkan berita dengan judul 64 Anak Jadi Korban Pencabulan, Ariel Cuma Divonis 3 1/2 Tahun Penjara.

Luna Maya dan Cut Tari dibidik polisi

Sementara itu situs detik memberitakan, Polri selanjutnya akan merampungkan berkas untuk Luna Maya dan Cut Tari.

Kadivhumas Mabes Polri Irjen Pol Anton Bachrul Alam mengatakan, penyidik akan melanjutkan berkas penyidikan terhadap dua artis tersebut. Terlebih apa yang selama ini dituduhkan polri kepada Ariel dinyatakanterbukti oleh majelis hakim.

“Kan itu rangkaian satu kegiatan. Tentu akan ada lanjutan, jadwal dan sebagainya kita tunggu penyidik,” tegas mantan Kapolda Jatim ini.

Karena Ariel telah diputus bersalah, berarti apa yang dituduhkan terbukti. Tidak sulit berarti menjerat Luna Maya dan Cut Tari? “Penyidik akan menindaklanjuti,” tutup Anton seperti dikutip situs berita, detik.

Hakim menilai Ariel tidak menyesali perbuatannya

Sementara itu voaislam memberitakan, Hakim menilai hal-hal yang memberatkan adalah Ariel tak menyesali perbuatannya. “Terdakwa masih belum memahami telah menghebohkan masyarakat,” kata Singgih.

Vonis 3,5 tahun penjara oleh Majelis Hakim PN Bandung ini lebih ringan 1,5 tahun dari dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum.

Sebelumnya, pada sidang lanjutan kasus video Porno Kamis (06/01/2011) di PN Bandung, Ariel dituntut 5 tahun oleh Jaksa Penuntu Umum. JPU menjerat dengan tiga pasal berlapis, yakni Pasal 29 UU No 44/2008 tentang Pornografi, Pasal 27 UU No 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), dan Pasal 282 KUHP karena telah menyiarkan sesuatu yang bentuk pornografi dan asusila. Demikian voaislam.com memberitakan.

Kasus video porno ini mengakibatkan pula vonis dua tahun penjara bagi Redjoy yang terbukti ikut menyebarkan dua video porno Ariel Peterpan.

Inilah beritanya:

Penyebar Video Ariel Divonis Dua Tahun

31/01/2011 22:11

Liputan6.com, Bandung: Majelis hakim yang dipimpin Singgih Budi Prakoso memvonis Reza Rizaldy alias Redjoy dengan hukuman dua tahun penjara dan denda Rp 250 juta. Dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Bandung, Jawa Barat, Senin (31/1), majelis hakim menilai Redjoy terbukti ikut mengedarkan dua video porno Ariel Peterpan.

Menanggapi putusan majelis hakim, Jaksa Penuntut Umum Rusmanto menyatakan masih pikir-pikir sebelum memutuskan menerima putusan atau naik banding. Di lain pihak kuasa hukum Redjoy, Yulius Setiarto menyatakan pihaknya tak menerima putusan.

Putusan Redjoy ini lebih rendah dari tuntutan jaksa yakni empat tahun penjara. Vonis ini juga lebih rendah ketimbang vonis hukuman penjara selama 3,5 tahun bagi Ariel.

(CHR/AIS) (Liputan6.com)

Dampak lakon zina artis bejat

Dengan beredarnya video porno para artis berzina itu disamping menghebohkan masyarakat, bahkan Presiden SBY dikabarkan malu karena video memalukan itu tersebar ke seluruh dunia, masih pula mengkibatkan 64-an kasus pencabulan bermunculan di sana-sini menirukan para artis bejat itu. Seperti dilaporkan berikut ini:

Puluhan anak telah jadi korban video porno Ariel

Seperti diberikatan voa-islam.com sebelumnya, dalam sidang ke-7 kasus video porno Ariel Peterpan, saksi ahli dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Hadi Supeno, menyatakan bahwa 59 anak telah menjadi korban pencabulan sebagai dampak dari beredarnya video porno Nazriel Ilham alias Ariel Peterpan.

Dalam kesaksiannya Hadi Supeno menyatakan bahwa KPAI memiliki butki bahwa dari tanggal 14 Juni akhir Juli 2010 ada sekitar 59 anak yang melapor ke kita karena jadi korban video porno.

Menurut Hadi, dampak pornografi terhadap anak jauh lebih bahaya jika dibandingkan terhadap orang dewasa dan jauh lebih berbahaya dari narkoba.

“Anak yang kecanduan atau adiktif terhadap pornografi jauh lebih bahaya daripada kecanduan terhadap narkoba,” katanya.

Selain itu, anak yang kecanduan pornografi juga terancam menjadi proses akil balik (tanda-tanda kedewasaan) sebelum waktunya dan menirukannya.

..anak yang kecanduan pornografi juga terancam menjadi proses akil balik (tanda-tanda kedewasaan) sebelum waktunya dan menirukannya..

“Ini akan merusak hormonal anak, anak dipaksa untuk menjalani proses akil balik sebelum waktunya. Selain itu, mereka juga kecenderung akan menirukan atau action off atas apa yang dia lihat,” katanya.

Hadi mengatakan, kurun waktu dari tanggal 14 Juli sampai akhir bulan Juli 2010 merupakan puncak peredaran dari video porno dari Ariel Peterpan, Cuti Tari dan Luna Maya.

Ia menambahkan, sebelum beredarnya video porno Ariel Peterpan, KPAI paling banyak menerima laporan korban anak karena video porno dalam satu bulan hanya dua atau tiga kasus.

Masih mengenai dampak video porno Ariel, seorang guru di Jakarta Selatan ditahan polisi karena melakukan pencabulan terhadap 5 siswanya.

Yayat Priyatna, oknum guru SD berusia 40 tahun tersebut berterus terang melakukan kekerasan seksual terhadap lima siswa akibat seringnya menonton video porno adegan seks antara artis Ariel “Peterpan” dan Luna Maya.

“Berdasar pengakuan pelaku kepada penyidik, ia bertindak seperti itu setelah menonton video Ariel dan Luna,” kata Inspektur Satu Rita Oktavia, Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Kepolisian Resor Jakarta Selatan, Rabu (26/1/2011). (aa/dbs) voaislam, Senin, 31 Jan 2011

(nahimunkar.com)