Kelicikan ESQ: Di Depan Pengkritik Mengakui Salah, di Medianya Memfardhu Kifayahkan

Ini benar-benar kelicikan ESQ Ary Ginanjar dan perangkatnya. Di depan pengkritiknya, Ary Ginanjar mengakui salah. Tetapi hanya berjangka empat hari, medianya, esqmagazine.com, malah langsung memuat judul ESQ Fardhu Kifayah.

Betapa memprihatinkannya cara-cara yang seperti itu. Makanya wajar kalau ada pihak yang sudah mencium gelagat kelicikan itu enggan ditemui oleh pihak ESQ. Sebagaimana yang pernah muncul dalam berita:

…sebenarnya pada tahun 2006, Ustadz Farid Okbah, pimpinan Pondok Pesantren Al Islam, Bekasi, telah memberikan penilaian terhadap penyimpangan-penyimpangan ESQ dan disampaikan oleh beliau di Radio Dakta, Bekasi. Ustadz Farid Okbah dapat memberikan penilaian terhadap penyimpangan ESQ karena beliau sendiri pernah ikut langsung training tersebut dan sudah pernah secara tertulis menyampaikan hal tersebut kepada ESQ. Namun, hingga saat ini tidak pernah ada tanggapan dari ESQ.

Terhadap hal ini, Ary Ginanjar mengaku bersedia untuk bersilaturrahmi menemui Ustadz Farid Okbah mendiskusikan dan membahas permasalahan agar tuntas. Sementara itu, Ustadz Hajaiz agak keberatan dan pesimis bertemu dengan ESQ karena dianggap tidak bisa berlaku jujur. Hal ini sebagaimana SMS beliau kepada salah seorang rekan di media Islam.

“Dengan Pak Amin Djamaluddin yang sudah 3 kali saja masih diklaim bahwa hanya persoalan redaksional. Padahal kata Pak Amin, bukan soal redaksional tapi masalah aqidah! Dengan Pak Amin (Usdtadz Amin Djamaluddin) yang duduk di lembaga saja bisa diplintir apalagi dengan saya yang perorangan, “, ujar Beliau. (nahimunkar.com, Di antara Dampak Fatwa Haram dan Sesatnya ESQ Ary Ginanjar, 1:33 am).

Sebagai salah satu bukti liciknya pihak ESQ Ary Ginanjar berikut ini apa yang ditampilkan esqmagazine.com yang waktunya adalah 4 hari setelah Ary Ginanjar pemimpin ESQ mengakui salah di depan pengkritiknya. Pernyataan ini pun sangat mengada-ada, tampaknya, karena ESQ disebut fardhu kifayah.

Inilah beritanya:

Sabtu, 24/7/2010 – 16:36 WIB

Ketua PBNU KH Marsudi Syuhud: ESQ ‘Fardhu Kifayah’

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Marsudi Syuhud menyatakan lembaga SDM ESQ Leadership Center (ESQ LC) akan menjadi tradisi atau budaya bagi umat NU, karena hal seperti ini merupakan suatu yang sudah biasa dilakukan oleh NU.

“Acara seperti ini sudah biasa di kalangan umat NU, Insya Allah ESQ akan kita masukkan ke dalam tradisi atau budaya nahdliyin. Dalam NU kita boleh melakukan apa saja, selama tidak melanggar hal-hal yang dilarang dan janganlah kita mudah berkomentar itu bid’ah dan haram,” ucap KH Marsudi Syuhud saat membuka training ESQ kelas Eksekutif angkatan 92 Jumat (23/7) Menara 165, Cilandak, Jakarta.

Marsudi tidak setuju bila ada pelarangan terhadap training pimpinan Ary Ginanjar Agustian tersebut. NU akan selalu menjaga ajaran-ajaran yang sudah ada dari zaman Rasulullah, namun NU akan mengambil sesuatu metode yang baru dan modern agar sesuai dengan peradaban saat ini tetapi tidak melanggar ajaran dalam agama. Semua itu dilakukan agar umat menjadi lebih baik, ESQ termasuk ke dalam pelatihan yang menggunakan metode baru.

“Kalau ada yang mengatakan atau mengkritik ini bukan budaya atau ajaran agama Islam saya tidak setuju, bagi orang yang cerdas dan tahu apa itu jihad, training sangat dianjurkan. Bila ingin berjihad tidak perlu membuat bom, karena ESQ sudah termasuk jihad,” tegasnya.

Menurut Kiai Marsudi ada beberapa bentuk jihad yang sesungguhnya berarti ‘sungguh-sungguh’ itu, yang pertama adalah bagaimana menyampaikan tentang Ketuhanan atau Keesaan Allah SWT, perdamaian, dan hal-hal yang kita butuhkan dalam kehidupan ini sesuai dengan tatanan moral agama.

Yang kedua memberikan ilmu-ilmu syariah yaitu menyampaikan ilmu tafsir, hadis, fikih, dan apa saja yang berhubungan dengannya baik pekerjaan, kehidupan sosial.

Yang ketiga adalah memberikan pencerahan bagaimana menyelesaikan masalah kepada saudara, teman, tetangga ataupun mahluk di bumi baik umat Muslim atau non-Muslim.

“Bila kita dapat menyajikan sesuatu yang berharga buat mereka, itu termasuk jihad fii sabilillah.”

Yang keempat adalah memberikan sesuatu yang baik dan mencegah sesuatu yang kurang baik dan hal-hal yang dilarang. Jika ESQ melaksanakan ini semua, saya yakin ESQ telah melaksanakan ‘jihad fii sabilillah’.

Dengan demikian training ESQ termasuk ke dalam fardhu kifayah yaitu status hukum dari sebuah aktivitas dalam Islam yang wajib dilakukan, namun bila sudah dilakukan oleh muslim yang lain maka kewajiban ini gugur.

“Semoga yang mengikuti training ESQ mendapat keberkahan dan hidayah dari Allah SWT serta mendapatkan hidup yang barokah,” katanya. (jos)

http://esqmagazine.com/nasional/2010/07/24/ketua-pbnu-kh-marsudi-syuhud-esq-fardhu-kifayah.html

Betapa jauh bedanya dengan tulisan seorang saksi yang menyatakan Ary Ginanjar mengakui kesalahan di depan seorang Ustadz yang mengkritiknya. Pengakuan Ary Ginanjar pemimpin ESQ itu tanggal 20 Juli 2010 di Radio Dakta Bekasi. Namun hasilnya, pengakuan itu tidak ditulis di media ESQ, justru yang memfardhu kifayahkan Ummat Islam untuk ikut ESQ dipajang di esqmagazine.com seperti tersebut di atas.

Untuk membuktikan bahwa kasus itu terjadi benar-benar, inilah tulisan seorang saksi dari Radio Dakta Bekasi yang juga seorang Ustadz di Dewan Dakwah (DDII):

Senin, 26 Jul 2010

Akhirnya Ary Ginanjar Akui Kekeliruan ESQ

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Di tengah gonjang-ganjing status “keabsanan” ESQ Ary Ginanjar setelah difatwa sesat oleh Mufti Malaysia, alhamdulillah, di Bekasi Jawa Barat terjadi dialog dari hati ke hati antara seorang alumnus training ESQ, Ustadz Farid Achmad Okbah MA dengan pendiri ESQ, Bapak Dr Ary Ginanjar Agustian. Dialog diadakan pada hari selasa 20 Juli 2010 pukul 18.30 – 20.00 WIB di Meeting Room Radio DAKTA Jl. KH. Agus Salim Bekasi.

Saya adalah salah satu saksi mata pertemuan antara Bapak Dr. Ary Ginanjar Agustian dengan Ustadz Farid Ahmad Oqbah, MA (Direktur Islamic Center Al-Islam Bekasi dan narasumber Kajian Aqidah Radio Dakta 107 FM Bekasi). Pertemuan ini terkait penjelasan atas beberapa koreksi Ustadz Farid terhadap ESQ yang dimuat di berbagai media, antara lain voa-islam.com (baca:Nasihat Alumnus ESQ untuk Ary Ginanjar Agustian).

Ustadz Farid Okbah berani mengoreksi beberapa ajaran ESQ Ary Ginanjar, karena beliau telah mengikuti pelatihan ESQ tahun 2006 silam. Ust Farid sendiri adalah alumni ESQ ke-46.

Dalam pertemuan itu sangat jelas dan terang Bapak Ary Ginanjar menerima semua koreksi Ustadz Farid dan berjanji akan memperbaiki kekeliruan-kekeliruannya. Di samping memang Pak Ary sendiri sangat kooperatif, terbuka dan jujur menerima semua masukan Ustadz Farid. Perlu dicatat bahwa hampir semua nasihat dan koreksi Ustadz Farid sama persis dengan Fatwa Ulama Persekutuan Malasyia yang menyesatkan ajaran ESQ. Dan itu tidak dibantah sedikit pun oleh Pak Ary. (Adalah urusan Allah yang tahu apakah Pak Ary menerimanya atau tidak)

Sebelumnya kita tahu betul bahwa Bapak Ary Ginanjar menolak semua dakwaan bahkan cenderung membenturkan ulama dengan ulama. Sementara Majelis Fatwa Mudzakarah Malasyia yang mendukung ESQ pun tetap dengan syarat ESQ memperbetul (memperbaiki) kekeliruan yang sudah terjadi. (Karena kebenaran tidak bisa dikalahkan dengan banyaknya jumlah yang mayoritas).

Sementara itu, Ust Farid memandang bagaimanapun juga ESQ adalah aset umat yang sangat berharga yang harus dijaga dan didukung namun tetap harus dikoreksi jika terdapat kekeliruannya di dalamnya, sebagai kewajiban saudara muslim terhadap muslim lainnya agar sama-sama selamat dunia akhirat.

…Ary Ginanjar dengan besar hati mengakui kekeliruannya. Ia menegaskan bahwa dari awal ESQ sangat komitmen terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hanya beliau menyadari ada kekeliruan dalam memahami tafsir dansyarah keduanya….

Ustadz Farid Okbah juga sangat menyayangkan pembelaan membuta KH Said Agil Siradj dan Prof Dr Din Syamsuddin terhadap ESQ. Sementara Bapak Ary Ginanjar sendiri dengan besar hati mengakui kekeliruannya. Pak Ary menegaskan bahwa dari awal ESQ sangat komitmen terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah dan akan terus berpegang teguh kepada keduanya. Hanya beliau menyadari ada kekeliruan dalam memahami tafsirdan syarah keduanya.

Pertemuan di atas berjalan penuh dengan nuansa kekeluargaan, akrab, hangat dan cair. Salut buat Pak Ary yang bersedia mendatangi Ulama untuk meminta taushiah, dan mengakui kekeliruannya. Semoga urusan umat ini semakin melancarkan perjuangan Da’wah ilallah. Perbaiki Bangkit, maju dan berkibarlah ESQ dengan semangat li’ilai kalimatillah. Amien.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Wildan Hasan (Penyiar Radio Dakta 107 FM Bekasi)

Pusdiklat Dewan Da’wah Kp. Bulu Setiamekar Tambun Bekasi 17510

HP. 0813 8665 7822

http://www.voa-islam.com/news/citizens-jurnalism/2010/07/26/8596/akhirnya-ary-ginanjar-akui-kekeliruan-esq/

Dalam bahasa Jawa sikap plintat-plintut yang tidak mudah dipegangi seperti itu sering disebut esok dele sore tempe. Pagi hari masih berupa kedelai, sore hari sudah berubah menjadi tempe. Ya plintat-plintut namanya. (nahimunkar.com).