Ada upaya memutarbalikkan fakta dan opini dalam kasus tanah milik H Qosim, warga Kelurahan Karang Besuki, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Jawa Timur, yang tertipu KH Said Aqil Siraj, karena dijanjikan dibangun Islamic Center tapi ternyata dijual ke gereja. Namun upaya rekayasa itu tampaknya sia-sia bahkan menjadi bumerang.

Rekayasa pemutarbalikan fakta itu justru menimbulkan reaksi keras para kiai saksi kunci – termasuk keluarga koban – terhadap perilaku dzalim Said Aqil terhadap Abah Qosim (panggilan akrab H Qosim). Mereka yang sebelumnya diam dan menghindari wartawan karena menjaga hubungan baik sesama kiai kini terpanggil untuk memberi kesaksian. Bahkan mereka siap ke pengadilan sekalipun.

“Ini untuk idzharul haq (menunjukkan kebenaran). Saya tidak ada masalah pribadi dengan Pak Said Aqil,” tegas KH Lutfi Abdul Hadi, pendiri dan pengasuh pondok pesantren Nurul Ihsan Bululawang Malang, kepada HARIAN BANGSA dan Bangsaonline.com, Ahad (25/12/2016).

Sebenarnya berita kasus Said Aqil ini sudah hampir tenggelam dan dilupakan publik. Maklum, berita tersebut dimuat HARIAN BANGSA dan bangsaonline.com setahun lalu, tepatnya Sabtu 1 Agustus 2015. Tapi belakangan ada gerakan untuk memutarbalikkan fakta, seolah kasus tersebut tak pernah terjadi.

Bahkan HARIAN BANGSA dan bangsaonline.com yang memuat berita tersebut dibully oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab, termasuk media partisan pendukung Said Aqil yang kredibilitasnya diragukan. Padahal bukan hanya HARIAN BANGSA dan bangsaonline.com yang memuat berita tersebut tapi juga media lain.

Akibatnya berita yang semula sudah tak diingat orang sekarang jadi pusat perhatian. Banyak yang penasaran. Data di bangsaonline.com, berita kasus tanah yang melibatkan Said Aqil itu kini dibaca sekitar 6.000 orang tiap hari.

Berita ini jadi viral gara-gara Subaryo, SH, Ketua Forum Independen Masyarakat Malang (FIMM) yang diwawancarai bangsaonline.com belakangan membuat surat bantahan bermaterai. Surat bantahan ini beredar di media sosial.

Menariknya, surat bantahan itu bertanggal 23 Juli 2016. Jadi bantahan itu muncul satu tahun kemudian mengingat berita kasus tanah Haji Qosim itu dimuat 1 Agustus 2015.

Sejatinya, Subaryo ini hanya salah satu sumber bangsaonline.com, bukan satu-satunya sumber. Bahkan bukan sumber utama. Tapi gara-gara bantahan itu, kasus ini bukan mereda tapi justru memantik reaksi para kiai yang terlibat penanganan kasus tersebut di Malang.

Para kiai yang masih punya integritas, muru’ah dan akhlaqul karimah dalam menegakkan kalimatul haq angkat bicara, “Pak Said Aqil sangat kejam dan sadis,” tegas Kiai Lutfi Abdul Hadi, alumnus Pesantren Roudlatul Ulum Pati Jawa Tengah yang sewaktu jadi santri mengaji kepada KH A Sahal Mahfud dan KH Maksum, Lasem, Jawa Tengah.

KH Dr Imam Muslimin, menantu Abah Qosim, yang merupakan keluarga korban sekaligus sebagai saksi kunci, juga angkat bicara. Padahal sebelumnya kiai santun dan hafidz (hafal al-Quran 30 juz) serta mimpin pesantren ini selalu diam dan terkesan menghindari bicara di depan publik apalagi kepada wartawan.

Padahal Kiai Imam Muslimin yang dosen di sebuah perguruan tinggi Islam di Malang ini selain merupakan keluarga korban juga saksi kunci yang terlibat langsung dengan Kiai Said Aqil saat proses transaksi itu dilakukan. Bahkan Kiai Doktor Imam Muslimin inilah yang memberikan testimoni kepada Ketua PCNU Malang yang saat itu dijabat KH Marzuki Mustamar (kini Wakil Rais Syuriah PWNU Jatim). Testimoni itu juga dilakukan kepada KH Lutfi Abdul Hadi dalam tempat dan waktu yang sama.

Kini Kiai Imam Muslimin sebagai keluarga korban mulai terbuka. Ketika HARIAN BANGSA dan Bangsaonline.com mengkonfirmasi kasus ini, Kiai Imam Muslimin sambil tertawa membenarkan. “Ya, memang benar,” kata Kiai Imam Muslimin tanpa beban kepada HARIAN BANGSA dan Bangsaonline.com, Ahad (25/12/2016).

Nah, agar kasus ini gamblang maka HARIAN BANGSA dan Bangsaonline.com mewawancarai KH Lutfi Abdul Hadi selaku penerima testimoni kasus tersebut dari KH Dr Imam Muslimin.

Atas seizin Kiai Lutfi Abdul Hadi, wawancara ini direkam penuh, untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan di kemudian hari. Penyajian wawancara ini juga ditulis dalam bentuk tanya jawab agar tak tercampur opini. Berikut wawancara HARIAN BANGSA dan Bangsaonline.com dengan KH Lutfi Abdul Hadi:

BANGSAONLINE (BO): Kiai, kasus ini kembali mencuat. Bagaimana sebenarnya. Apa benar terjadi atau bagaimana?

KH Lutfi Abdul Hadi (LAH): Yang jelas saksi masih hidup. Yaitu KH Dr Imam Muslimin. Itu menantu H Qosim. Saat itu (Dr Imam Muslimin) satu mobil dengan Pak Said Aqil Siraj. Kan Pak Said Aqil diundang (ceramah) di UIN (Malang). Kiai Imam Muslimin saat itu menjemput Pak Said Aqil di rumahnya di Blimbing (Malang). Kan Pak Said Aqil punya rumah di Malang. Saat dalam mobil itu Kiai Imam Muslimin telpon Abah Qosim.

Lalu Pak Said Aqil (pakai hp Kiai Doktor Imam Muslimin) ngomong kepada Abah Qosim. Ngomongnya Pak Said Aqil begini, sudah deal harga Rp 1,7 M ya. Akan segera dibangun Islamic Center ji (Kaji Qosim).

Padahal tanah itu sebelumnya ditawar gereja Rp 9 M. Tapi karena Kaji Qosim itu menentang kristenisasi di situ, meski ditawar Rp 9 M gak dikasihkan. Berapa pun tanah itu dihargai (oleh gereja) tak dilepas.

Saat itu HP-nya di-loudspeaker. Waktu Pak Said Aqil bilang mau dibangun Islamic Center, Abah Qosim bahagia sekali. Pak Said Aqil bilang ‘Ji (haji Qosim) mau segera dibangun Islamic Center, segera diberesin ya’. Abah Qosim jawab, ‘o… Ya ya kiai segera saya beresin’.

Jadi sebelum Doktor Imam Muslimin itu menjemput dan ada acara dengan Said Aqil di UIN, Kaji Qosim itu bilang kepada Doktor Imam Muslimin, menantunya, bahwa tanahnya sudah laku kepada Pak Said Aqil.

BO: Berarti dari harga Rp 9 M yang ditawar gereja dikasihkan cuma Rp 1.7 M karena mau dibeli Pak Said Aqil untuk bangun Islamic Center?

LAH: Ya. Abah Qosim bilang ke Dr Imam Muslimin, menantunya, kalau tanahnya sudah laku, mau dibeli Pak Said Aqil. Abah Qosim senang karena ia bisa beramal jariyah.

Akhirnya terjadi jual beli karena Said Aqil bilang mau bikin Islamic Center. Harganya Rp 1,7 M. (Tapi) itupun hingga sekarang tak dibayar semua.

Sekarang Kaji Qosim stres berat kalau disinggung soal tanah itu karena usianya sudah lanjut.

BO: Kenapa stres berat kiai?

LAH: Pertama, dia itu mau amal jariyah tak kesampaian. Said Aqil yang bilang mau dibikin Islamic Center ternyata malah dibangun seminari.

Kedua, karena harganya sudah selisih Rp 7 M (lebih murah) tapi tak dibayar seratus persen. Sampai sekarang baru dibayar Rp 700 juta (dari harga Rp 1.7 M yang disepakati).

Ketiga, Kaji Qosim itu dikecam masyarakat setempat. (Masyakarat bilang) gimana katanya kita sepakat tak boleh dijual ke gereja tapi tanahnya sendiri dijual ke gereja. Enak ya dapat uang banyak.

Karena itu kalau disinggung soal tanah Kaji Qosim langsung seperti semaput seperti orang pingsan. Ini kekejaman Said Aqil. Ia itu kejam sekali.

Makanya nuwun sewu, selama NU dipimpin Said Aqil saya tak mau jadi pengurus NU.

Saya sangat respek, hormat kepada para auliya, para pendiri NU.

Makanya saya kemarin kaget kok Duta (Harian Duta Masyarakat, juga duta.co) nulis seperti itu (menganggap kasus itu tak pernah terjadi). Duta itu salah. Cuma saya tak bisa kontak Cak Anam (pemilik Duta Masyarakat dan mantan ketua DPW PKB Jatim dan ketua umum DPP PKNU) karena Cak Anam itu sekarang, maaf, sejak kemoterapi tak bisa mendengar meski dipasang alat bantu. Saya juga tak bisa SMS (panjang).

Jadi Doktor Imam Muslimin ini saksi otentik. Apa yang ditulis HARIAN BANGSA itu benar.

BO: Harga yang deal dengan Kiai Said Aqil berarti Rp 1,7 M ya kiai?.

LAH: Yang jelas kurang dari Rp 2 M. Yang melakukan pembayaran itu Kaji Deni. Itu orang Chinese. Kaji Deni itu mewakili Said Aqil.

BO: Kalau kaji berarti Cina Muslim ya kiai?

LAH: Ya Cina Muslim. Dia yang mewakili Said Aqil.

BO: Kiai ketemu bapak KH Dr Imam Muslimin kapan? Berarti Imam Muslimin masih istiqamah dan konsisten bahwa kasus itu benar-benar terjadi? Kabarnya banyak sekali sekarang gerakan mendekati tokoh-tokoh kunci kasus ini untuk diredam?

LAH: Ya, Alhamdulillah. Doktor Imam Muslimin tetap integrated. Memang, selama ini dikabarkan berubah, tapi ternyata tidak berubah. Saya sempat percaya. Tapi ternyata tidak berubah. Yang berubah Kiai Marzuki.

BO: Maksudnya Kiai Marzuki Mustamar (Mantan Ketua PCNU Malang, kini Wakil Rais Syuriah PWNU Jatim) yang berubah?

LAH: Ya, Kiai Marzuki Mustamar. Dulu Kiai Imam Muslimin kan testimoni kepada Kiai Marzuki Mustamar dan kepada saya. Tapi menjelang Muktamar NU Jombang, Kiai Marzuki sudah berubah. Saya agak heran juga kenapa Kiai Mustamar berubah.

Kalau pada Muktamar NU di Makassar Kiai Marzuki Mustamar masih kukuh. Tapi menjelang Muktamar NU di Jombang berubah.

BO: Dulu yang melakukan testimoni kasus itu Kiai Imam Muslimin?

LAH: Ya, Kiai Imam Muslimin sendiri sebagai menantu Kaji Qosim. Selain testimoni secara lisan juga testimoni lewat tulisan (tertulis). Testimoni yang tertulis itu diberikan kepada Kiai Marzuki dan juga diberikan kepada saya.

BO: Tempat testimoninya di mana kiai?

LAH: Tempat testimoninya di rumah Kiai Marzuki Mustamar.

BO: Bukan di kantor PCNU?

LAH: Bukan. Bukan. Di rumahnya Kiai Marzuki Mustamar. Dulu HARIAN BANGSA salah tulis. Saya bukan pengurus NU Malang. Dulu saya ditulis pengurus PCNU NU Malang. Saya pengurus PWNU Jatim.

BO: Waktu itu kiai di PWNU Jatim sebagai apa?

LAH: Saya terakhir anggota Lajnah Bahtsul Masail dan sekretaris A’wan. Lalu oleh PWNU saya ditugaskan sebagai sekretaris Dewan Syuro PKB Jawa Timur (saat itu Choirul Anam sebagai ketua PKB Jatim).

BO: Apa masyarakat di kampung sekitar Kaji Qosim tahu kasus ini, kiai?

LAH: Tahunya masyarakat sekitar Abah Qosim itu jual tanahnya ke gereja.

BO: Dari penjelasan kiai ini, berarti Pak Said Aqil itu berposisi sebagai makelar dalam kasus tanah ini ya kiai?

LAH: Ya. Said Aqil ini kejam dan sadis. Kasihan Kaji Qosim. Makanya akan saya kejar Said Aqil ini. Cacing saja kalau diinjak mulet (menggeliat). Masak manusia diam saja. Kasihan Kaji Qosim. Said Aqil itu kejam dan sadis. Masak orang seperti itu jadi ketua umum NU. Kan gak layak mimpin NU.

BO: Sekarang ada upaya untuk memutarbalikkan fakta seolah kasus ini tak pernah terjadi. Bahkan ada informasi orang-orang yang muncul di media massa didekati agar berubah haluan. Bagaimana menurut kiai?

LAH: Ya, memang ada upaya untuk membalik opini. Seolah-olah ini fitnah. Untuk apa memfitnah orang. Doktor Imam Muslimin itu saksi langsung yang mendengarkan omongannya Said Aqil. Dia menantu Kaji Qosim. Saya sudah ngomong ke Doktor Imam Muslimin, kita harus siap jika harus ke pengadilan. Doktor Kiai Imam Muslimin bilang siap.

BO: Beberapa media tampaknya juga didekati?

LAH: Makanya suruh Said Aqil ngomong. Suruh bantah kalau Said Aqil berani. Jangan orang lain yang disuruh ngomong.

Kalau mereka berani, ayo pertemukan saya dan Doktor Imam Muslimin dengan Said Aqil. Undang saya, doktor Muslimin, dan Said Aqil. Biar Kiai Imam Muslimin memberikan testimoni, lalu disaksikan para wartawan. Itu solusi yang baik. Doktor Imam Muslimin ini menantu Kaji Qosim. Berani nggak Said Aqil berhadapan dengan Doktor Imam Muslimin. Tapi syaratnya jangan melibatkan Kaji Qosim karena kalau disinggung masalah tanah dia sangat stres. Kasihan. Cukup diwakili Doktor Imam Muslimin sebagai menantunya. Kecuali kalau nanti sudah sampai di pengadilan gak apa-apa diberi tahu.

BO: Bagaimana kalau misalnya kiai diundang memberi kesaksian masalah ini depan para kiai bahwa kasus ini benar-benar terjadi?

LAH: Saya siap. Saya akan datang bersama Kiai Doktor Imam Muslimin. Ini untuk kebenaran. Saya tak punya tendensi apa-apa. Kasihan Kaji Qosim.

Kalau masalah kebenaran, sampai ke ujung neraka pun saya kejar Said Aqil. Kejam itu Said Aqil. HARIAN BANGSA jangan surut. Ini masalah kebenaran.

BO: Ada informasi beberapa hari lalu Pak Said Aqil diadili para kiai dalam acara silaturahim Rais Am PBNU dan Rais Syuriah PCNU se-Jatim di kantor PWNU Jatim…

LAH: Ada yang mengungkap kasus tanah apa nggak? Kalau saya diundang saya ungkap itu. Saya berani. Kalau saya disumpah 1000 kali pun saya berani. Said Aqil juga akan saya sumpah. Berani nggak Pak Said Aqil sumpah li’an. Sumpah untuk dilaknat Allah.

Suruh Said Aqil membantah. Suruh bilang tidak (maksudnya tak pernah terjadi kasus tanah atau tak terlibat). Berani nggak dia.

Makanya HARIAN BANGSA harus wawancara langsung dengan Kiai Dr Imam Muslimin agar dapat data dan informasi yang otentik. (HARIAN BANGSA dan Bangsaonline.com langsung konfirmasi dan mewawancarai KH Dr Imam Muslimin dan beliau membenarkan semua apa yang disampaikan Kiai Lutfi Abdul Hadi-Red). (tim)

Sumber: dakwahmedia.net

(nahimunkar.com)