Foto: Pengunjung Social Kitchen (Sumber Foto: Tripadvisor


KIBLAT.NET, Surakarta – Social Kitchen, sebuah klub malam penyuguh tarian telanjang, yang terletak di Stabelan, Banjarsari, Solo belakangan jadi perhatian publik setelah didatangi aktivis Islam, pada Ahad (18/12/2016) dini hari.

Outlet penjual miras yang berkedok restoran ini telah beroperasi sejak Mei 2013. Social Kitchen memanfaatkan bangunan rumah berarsitektur kolonial lama di kawasan dekat Monumen 45 Banjarsari yang kini menjadi ruang terbuka hijau. Social Kitchen boleh dibilang restoran elite yang menjual makanan dan minuman dengan harga selangit.

Seperti dilansir dari media lokal, Solopos, berbeda halnya dengan restoran lain yang biasanya menata kursi dan meja berjajar di ruang berukuran besar, Social Kitchen juga menawarkan ruang-ruang privat untuk menikmati santapan.

Ukuran ruang privat ini bervariasi tergantung kocek konsumen. Semakin luas ukuran ruangannya maka kocek yang dirogoh makin dalam. Fasilitas dalam ruangan memang lumayan bikin nyaman, selain meja kursi yang tertata rapi juga tersaji pesawat televisi ukuran besar sebagai “teman” bersantap.

Ruang-ruang privat ini banyak dimanfaatkan oleh konsumen dari kalangan keluarga, perusahaan untuk menjamu relasi hingga para remaja. Layanan para pelayan pun bak layanan hotel. Mereka dengan sigap akan datang dan mengambil piring-piring bekas makanan, cukup dengan kita melambaikan tangan.

Dalam beberapa bulan terakhir, Social Kicthen menambah layanan bar yang memanfaatkan bagian teras samping resto tersebut. Bar yang buka hingga dini hari itu menyajikan live music dan minuman beralkohol.

Warga Mengeluh

Warga RT 002/RW 003 Kelurahan Stabelan, Banjarsari, mengeluhkan operasional restoran di wilayah mereka yang beroperasi hingga larut malam bahkan dini hari.

Salah satu warga RT 002/RW 003 Kelurahan Stabelan, S, 45, merasa terganggu dengan operasional restoran di dekat rumahnya yang kerap memperdengarkan suara musik begitu keras hingga larut malam bahkan dini hari. Dia menyebut suara musik keras tersebut mengganggu jam istirahat warga.

“Suara musiknya sampai menggetarkan kaca rumah saya. Bentuknya restoran tapi untuk dugem. Hal itu rasa sudah tidak sesuai. Suara musik keras bahkan kerap terdengar hingga menjelang subuh pada pukul 03.30 WIB,” kata S yang enggan disebut nama terangnya pada Ahad (18/12/2016) malam.

S menyampaikan gangguan yang dikeluhkan warga bukan hanya suara musik yang begitu keras, melainkan juga sikap para pengunjung restoran tersebut. Menurut dia, para pengunjung restoran kerap kali menggeber kendaraan begitu keras saat hendak pulang dari restoran. S menyebut beberapa kali pengunjung bahkan terlibat dalam perselisihan atau konflik.

“Warga jelas usul restoran ditutup. Pada Mei lalu saya sempat mengirim surat pemberitahuan kepada Pemkot. Warga mengeluh karena restoran beroperasi hingga larut malam dan mengganggu jam istirahat warga. Tapi sepertinya tidak ada tanggapan. Sampai sekarang tidak pernah ada petugas yang datang untuk mengkonfirmasi ke warga. Operasional restoran juga masih saja mengganggu,” jelas S.

Aksi Laskar 

S enggan disebut namanya karena khawatir mendapat ancaman dari pihak-pihak terkait. Dia berharap Pemkot segera ambil tindakan untuk mendengar aspirasi warga Stabelan terkait operasional restoran di Jl. Abdul Rahman Saleh itu. Sementara itu, S menceritakan terjadi keributan di restoran yang dikeluhkan warga tersebut pada Minggu sekitar pukul 01.45 WIB.

“Ada keramaian. Ada aksi dari laskar ke restoran. Saya tidak tahu pasti kejadiannya seperti apa. Mungkin mereka juga terganggu dengan apa yang terjadi di restoran itu. Yang jelas warga Stabelan meminta pemerintah untuk bisa menindaklanjuti keluhan warga. Apa betul operasional restoran tersebut sudah sesuai aturan? Kami merasa tidak pas,” jelas S.

Berdasarkan informasi yang dikumpulkan Kiblatnet, sejumlah aktivis LUIS dengan mengendarai satu mobil mendatangi  Social Kitchen, sebuah klub malam  berkedok restoran pada Ahad pukul 01.45-02.35 WIB.

Kedatangan mereka bertujuan untuk menyampaikan surat somasi setelah surat peringatan yang disampaikan pada September 2016 lalu tidak digubris pihak Social Kitchen. Surat peringatan tersebut berisi keberatan masyarakat atas penjualan miras, adanya pertunjukan tari telanjang dan jam operasional yang melampaui batas di Social Kitchen.

Bersama dengan sebuah mobil yang ditumpangi aktivis LUIS, puluhan orang dengan mengendarai sepeda motor turut datang ke Social Kitchen. Saat itu, suasana di klub malam tersebut sedang ramai oleh pengunjung yang tengah menikmati alunan musik dan minuman beralkohol.

Massa yang datang memasang pamflet bertuliskan “Social Kitchen Langgar Perda” dan disebut-sebut melakukan penyerangan hingga mengakibatkan adanya kerusakan pada Social Kitchen.

Humas LUIS, Endro Sudarsono membantah adanya penyerangan ke Social Kitchen. Ia mengatakan anggota LUIS datang ke Social Kitchen untuk menyodorkan surat permohonan penutupan Sosial Kitchen karena dugaan penyalahgunaan izin.

“Kami datang baik-baik hanya dengan satu mobil. Saat kami mau bertemu pengelola, tiba-tiba ada masa datang dan masuk ke ruangan. Masa aksi di luar kendali LUIS. Rencana kami ke sana kemungkinan bocor dulu,” kata Endro sebelum dijemput polisi.

Kasus sweeping Social Kitchen kini ditangani Polda Jateng. Hari Senin (19/12/2016) malam Polda Jateng menangkap lima orang yang terlibat dalam aksi tersebut.

Sumber: kiblat.net/ Jum’at, 23 Desember

(nahimunkar.com)