Kemenag: Jangan Curigai Pendidikan Islam

Seorang pengamat asing Sidney Jones menuduh gerakan “teroris” sudah  bisa tumbuh lewat studi-studi kajian Islam di kalangan pemuda. Tuduhan itu dibantah keras dalam berita: Analisis Sidney Jones Gunakan Nalar “IQ Jongkok” .

“Saya melihat dia (Sidney Jones) seorang pengamat asing yang membawa misi tertentu, sekaligus, dia seorang pengamat sosial yang menggunakan nalar ‘IQ jongkok’, “ ujar Irfan S. Awwas,  Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin Indonesia kepada hidayatullah.com, Senin (25/4).

Menurut Irfan, pengamatan masalah terorisme yang digunakan Sidney, acap  memojokkan umat Islam dan Islam. (lihat nahimunkar.com, April 25, 2011 3:39 am admin, https://www.nahimunkar.com/analisis-sidney-jones-gunakan-nalar-%E2%80%9Ciq-jongkok%E2%80%9D/

Sanggahan terhadap pengamat yang bicara bukan bidangnya karena dia bukan ahli agama dan bukan pula ahli pendidikan itu dilancarkan pula oleh pejabat dari Kementerian Agama.

Inilah beritanya:

Kemenag: Jangan Curigai Kurikulum Pendidikan Islam

Hidayatullah.comJangan mencurigai kurikulum di lembaga Islam karena materinya sudah sangat baik, kata Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama Muhammad Ali  di Surabaya, Senin (25/4).

Seluruh materi yang disusun dan dimasukkan sebagai kurikulum pada lembaga Islam sudah sejalan dengan pembangunan karakter bangsa. Tidak ada yang menyimpang dari prinsip ajaran agama yang membawa kedamaian bagi seluruh umat.

Muhammad Ali menyatakan itu di sela kunjungan kerjanya di Surabaya untuk memantau jalannya pelaksanaan Ujian Nasional (UN).

Jadi, jangan mencurigai kurikulum yang sudah disusun bermuatan ajaran kekerasan. Apalagi radikalisme yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang rahmatun lil alamin, katanya.
Dirjen Pendis Muhammad Ali mengaku merasa penting memberi penegasan mengenai hal ini terkait adanya penilaian dari pemerhati pendidikan asing.

Kalangan asing, kata Ali, menyebut jika ada tindakan kekerasan, pihaknya dituding memasukkan muatan ajaran kekerasan dalam kurikulum pendidikan Islam.

Ia mengakui, belakangan ini ada pemberitaan di media massa yang menyebut alumni dari perguruan tinggi Islam terlibat dalam aksi teror, melakukan tindakan kekerasan, dan mampu merakit bom.

Orang tersebut lalu dikaitkan dengan latarbelakang pendidikannya. Kemudian diberi label yang bersangkutan berasal dari lembaga pendidikan Islam. Pandangan dan pemberian label seperti itu, menurut Dirjen Pendis, sungguh kejam.

Sebab, perguruan tinggi Islam termasuk lembaga pendidikan di bawahnya tak pernah memasukan materi ajaran kekerasan dalam kurikulum. Karena itu ia berharap semua pihak dapat memberi pencerahan kepada publik bahwa pendidikan Islam yang diajarkan di Indonesia adalah pembawa kedamaian bagi seluruh umat.

Ia berharap berita penculikan dan pencucian otak yang dilakukan di luar kegiatan kampus tidak dikaitkan dengan eksistensi perguruan tinggi Islam, termasuk lembaga pendidikan Islam lainnya.

Pihak kampus sudah memberikan materi pembelajaran yang terbaik bagi anak didik. Karenanya, menurut Muhammad Ali, jangan menilai bahwa peristiwa cuci otak dan radikalisme lalu dikaitkan dengan kurikulum sekolah atau perguruan tinggi Islam.

Ia berharap bagi pihak-pihak yang menaruh curiga bahwa kurikulum di institusi pendidikan Islam tak sesuai dengan asas kedamaian hendaknya dapat mengunjungi lembaga bersangkutan.

“Kita terbuka saja. Semua bisa melihat sebagaimana adanya,” kata Dirjen Pendis Muhammad Ali.
Baru-baru ini dalam dialog kenegaraan dengan tema “Modus Baru Teror Bom dan Stablitas Daerah”  di gedung DPD RI, Jakarta, tokoh LSM International Crisis Group (ICG), Sidney Jones menuduh gerakkan “teroris” tumbuh lewat studi-studi kajian Islam di kalangan pemuda, seperti rohis (rohani Islam) di sekolah menengah atas. Ia bahkan mengajak  kepala sekolah berperan untuk mematikan bibit bibit teroris di sekolah,” imbuhnya (baca:
MMI: Analisis Sidney Jones Gunakan Nalar “IQ Jongkok”).

Sidney juga meminta sekolah mendata dan mengawasi kegiatan ekstrakurikuler.*

Sumber : Ant, CR-3

Red: Syaiful Irwan

Hidayatullah.com— Senin, 25 April 2011

(nahimunkar.com)