Kemunafikan Rezim Zionis-Israel

Para pemimpin Zionis-Israel, diantaranya Perdana Menteri Benyamin Netanyahu, masih berbicara tentang perdamaian dengan Palestina.

Netanyahu menginginkan dibukanya kembali pembicaraan perdamaian dengan Palestina. Tetapi, tidak ada keseriusan dari mereka, yang sungguh-sungguh memecahkan persoalan rakyat Palestina, terkait dengan negara Palestina yang merdeka dan berdaulat.

Pernyataan Netanyahu dan para pemimpin Zionis-Israel yang menginginkan perdamaian itu, hanyalah tipuan, yang penuh dengan kemunafikan telanjang. Tak ada sedikitpun keinginan para pemimpin Zionis-Israel untuk hidup berdampingan dengan rakyat Palestina secara damai. Semuanya tergambar dengan sangat gamblang, kebijakan-kebijakan yang diambil rezim Zionis-Israel menghadapi situasi yang ada di wilayah Palestina.

Prinsip dasarnya Zionis-Israel tidak akan pernah memberikan hak kemerdekaan kepada rakyat Palestina. Zionis-Israel akan tetap mempertahankan kebijakannya, melakukan aneksasi (pencaplokan) wilayah-wilayah Arab yang didudukinya sejak perang tahun 1967.

Zionis-Israel tak akan pernah membiarkan Jerusalem Timur menjadi ibukota negara Palestina. Zionis-Israel tak akan pernah memberikan hak kembali kepada rakyat Palestina yang terusir dari kampung halaman mereka, sejak berdirinya negara Zionis-Israel. Zionis-Israel akan terus melakukan politik “contaiment” (pembendungan) setiap aspirasi yang menginginkan negara Palestina merdeka.

Langkah-langkah para pemimpin Zionis-Israel yang “membatu” terhadap aspirasi dan kecenderungan masyarakat dunia, yang terus-menerus tidak memberikan ruang terhadap rakyat Palestina, hanyalah gambaran yang gamblang, tentang karakter dasar rezim Zionis-Israel. Rezim Zionis-Israel tidak pernah mau mengakomodasi hak-hak dasar, serta hidup  bagi bangsa Palestina.

Bagi rezim Zionnis-Israel itu, apa yang disebut negara “Palestina” itu tidak ada dalam kamus kehidupan politik mereka. Karena pandangan rezim Zionis-Israel seperti itu, maka yang muncul gagasan-gagasan yang absurd seperti menyuruh agar rakyat Palestina bergabung dengan Jordania.

Jadi tidak ada apa yang namanya negara “Palestina”. Negara Palestina itu sebuah utopia, yang tak akan pernah terwujud lagi, khususnya bagi orang-orang Israel. Karena itu, setiap gagasan yang ingin mendirikan negara Palestina, pasti akan berhadapan dengan tembok “batu”, yang berasal dari para pemimpin Zionis-Israel.

Bagaimana rezim Zionis-Israel, yang dipimpin Netanyahu masih berbicara tentang perdamaian? Ini hanyalah kampanye “busuk” dari Zionis-Israel, seakan negara Yahudi itu, memerlukan perdamaian.

Hakekatnya , semua kata-kata “perdamaian” itu sudah terhapus, sejak negara Zionis-Israel itu berdiri di tahun 1948. Karena, sejak berdirinya tahun 1948 itu, yang ada hanyalah pengusiran, penculikan, penahanan, pembunuhan, perampasan, dan pembantaian yang dilakukan rezim Zionis-Israel terhadap rakyat Palestina. Tanpa ada jeda.

Kalau Slobodan Milosevic dan Jendral Ratco Mladic diseret ke pengadilan kejahatan perang internasional  (ICC) di Den Haag, karena telah melakuakn “genocide” (pembantaian massal), tetapi hal ini tidak berlaku bagi para pemimpin Zionis-Israel. Kejahatan apapun bentuknya, tak pernah ada pengadilan bagi rezim Zionis-Israel. Inilah kemunafikan yang telanjang. Kemunafikan rezim Zionis-Israel yang terus membantai rakyat Palestina, tanpa sanksi apapun, dan kemunafikan masyarakat dunia, yang membiarkan kejahatan yang dijalankan oleh rezim Zionis-Israel.

Kejahatan rezim Zionis-Israel itu, berlangsung sejak awal, sejak lahirnya negara Zionis-Israel tahun 1948, dan bahkan sebelumnya. Peristiwa pembantaian itu, mulai dari peristiwa Deir Yasin, Perang tahun 1967, pembantaian Sabra-Satila, dan penghancuran Gaza, yang luasnya hanya 45 km persegi, dihujani dengan segala macam jenis senjata Israel, yang mengakibatkan ribuan anak, perempuan, orang tua, semuanya tewas. Tetapi, Perdana Menteri Israel Netanyahu masih berbicara tentang perdamaian, yang membuat masyarakat dunia menjadi tanda-tanya. Benarkah Zionis-Israel mempunyai keinginan berdamai?

Obama berpidato di Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, beberapa waktu yang lalu, dan menegaskan dukungannya berdirinya negara Palestina merdeka, dan dengan dasar substansi perbatasan wilayah sebelum perang tahun 1967. Pidato Obama membuat marah dan panik semua pemimpin Zionis-Israel, termasuk lobi Yahudi yang paling berpengaruh di Amerika Serikat, AIPAC (America-Israel Public Affairs Committee), dan menekan habis-habisan Obama. Saat Netanyahu bertemu dengan Obama di Gedung Putih, dia  menolak terang-terangan gagasan Obama. Semua gagasan tentang dukungan bagi negara Palestina merdeka menjadi gagal alias majal. Tak ada lagi dukungan bagi negara Palestina merdeka.

Tentu, yang paling menyakitkan, jauh-jauh hari Presiden Amerika Serikat Barack Obama, sudah menegaskan bahwa tidak ada dukungan suara bagi negara Palestina merdeka di forum PBB. Artinya, Amerika Serikat akan menggunakan haknya untuk memveto, setiap gagasan yang dilakukan oleh anggota DK PBB yang  mendukung ide negara Palestina merdeka. Sampai di sini sulit mengharapkan negara Palestina merdeka melalui forum multilalteral seperti PBB. Karena dari awal sudah ditolak oleh Amerika Serikat melalui hak veto yang dimilikinya.

Maka, apa gunanya rezim Zionis-Israel masih berbasa-basi memanipulasi masyarakat dunia, dan berbicara tentang perdamaian? Perdamaian hanya semantik, kata-kata belaka, dan tidak ada kesungguhan dari rezim Zionis-Isarel. Zionis-Israel akan terus mengeleminir setiap potensi dari rakyat Palestina yang menginginkan berdirinya negara Palestina merdeka.

Rezim Zionis-Israel bukan hanya menolak Palestina merdeka, tetapi memberikan persyaratan yang tidak masuk akal bagi negara Palestina, misalnya negara Palestina tidak boleh memiliki angkatan perang, tidak memiliki sistem pertahanan, dan masalah keamanan tetap dibawah kontrol rezim Zionis-Israel. Ini  yang diinginkan Israel negara Palestina “bohong-bohongan”.

Tidak ada solusi yang paling “reasonable” (masuk akal), untuk medapatkah hak bagi rakyat Palestina,  kecuali dengan berjihad melawan rezim Zionis-Israel, serta tidak lagi menggunakan kata-kata atau diplomasi. Karena, Zionis-Israel tidak pernah mengerti dengan bahasa kata. Wallahu a’lam.

Eramuslim.com, editorial, Senin, 06/06/2011 09:54 WIB

(nahimunkar.com)