Kenapa Dibiarkan?

Satu Syawal Tarekat Naqsabandiyah Berbeda-beda

Pada tahun ini, pengikut tarekat yang sama-sama berlabel naqsabandiyah, menetapkan tanggal 1 Syawal pada saat yang berbeda-beda. Jama’ah Naqsabandiyah di Padang, melaksanakan shalat Ied pada tanggal 19 September 2009 (okezone.com edisi 19 Sep 2009). Sedangkan Jamaah Tariqat Naqsabandiyah Khalidiyah yang berada di Dusun Kapas Desa Dukuhklopo Kecamatan Peterongan, Jombang Jawa Timur baru menggelar shalat Ied pada hari Senin tangal 21 Sep 2009 (poskota.co.id edisi 12 Sep 2009). Bersama dengan jamaah naqsabandiyah di Jombang, ternyata jamaah Satariyah di Padang juga melaksanakan shalat Ied tanggal 21 Sep 2009.

Sebelum jamaah naqsabandiyah di Padang melaksanakan shalat Ied pada 19 Sep 2009, ada juga jamaah sufi (tasawuf) yang mendahului sehari sebelumnya (18 Sep 2009) yakni jamaah Rabbani Sufi Institute Indonesia telah melaksanakan Shalat Ied, namun dibubarkan secara paksa oleh warga. Sejak sekitar dua tahun lalu jamaah Rabbani Sufi Institute Indonesia bermarkas di sebuah rumah mewah yang terletak di Jalan Bangau 2 Nomor 18, RT 5 RW 3, Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan. Rabbani Sufi Institute Indonesia merupakan pecahan dari Naqsabandi Rabbani Sufi. Meski namanya berbeda, intinya mereka tetap merupakan aliran naqsabandiyah juga.

Ketika itu, Jum’at 28 Ramadhan 1430 H bertepatan dengan tanggal 18 September 2009, sekitar pukul 06:30 wib, sejumlah jamaah Rabbani Sufi Institute Indonesia sudah menggemakan takbir. Mereka merencanakan shalat Iedul Fithri yang menurut perhitungan mereka jatuh pada hari Jum’at itu. (Berarti 2 hari sebelum Ummat Islam pada umumnya merayakan Iedul Fithri). Sekitar pukul 08:00 wib sejumlah orang yang terdiri dari petugas kepolisian, ketua RW setempat serta 20-an orang laki-laki berusaha membubarkan jamaah.

Meski sempat terjadi adu argumen selama sekitar 30 menit, namun akhirnya jamaah Rabbani Sufi Institute Indonesia mengalah dan bersedia membubarkan diri. Mereka memilih untuk diam dan membereskan peralatan salat Ied yang sudah disiapkan.

Apapun namanya, jama’ah tersebut merupakan jama’ah tarekat yang sejak dulu tidak pernah mau sama di dalam memulai shaum Ramadhan dan melaksanakan shalat Ied. Pada tahun ini saja, bahkan ada jama’ah tarekat yang memperkirakan Iedul Fithri jatuh pada tanggal 17-18 September 2009 (Jamaah tarekat di Jelbuk, Jember, Jawa Timur), dan ada pula yang memperkirakan tangal 23 September 2009. Sementara itu berdasarkan keputusan pemerintah, Iedul Fithri jatuh pada 20 September 2009, yang diikuti oleh ormas besar seperti Muhammadiyah, NU, Dewan Dakwah, Persis, berdasarkan perhitungan hisab dan ru’yah (melihat hilal/ bulan-sabit).

Mereka (jama’ah tarekat) juga beralasan, upaya menetapkan 1 Ramadhan dan 1 Syawal didasarkan pada perhitungan hisab dan ru’yah (melihat munculnya bulan baru). Artinya, mereka juga mengklaim menggunakan metode yang sama sebagaimana dilakukan Ummat Islam lainnya. Namun mengapa hasilnya berbeda? Padahal, buminya satu bulannya juga satu. Boleh jadi, ini bukan sekedar perbedaan yang punya landasan syar’i, tetapi waton suloyo, sengaja tampil beda.

Mengapa harus waton suloyo? Kalau tidak begitu, mustahil media massa apalagi televisi mau meliput ‘perbedaan’ mereka di dalam menjalankan shalat Ied. Dengan tampil beda, maka mereka mendapat liputan gratis, promosi gratis. Dengan demikian, mereka telah mendapat dukungan media massa secara luas, yang akan memudahkan mereka menarik calon jama’ah masing-masing kelompok tarekat ini.

Jangan juga dilupakan, masing-masing kelompok tarekat ini bersaing satu sama lain, saling menebar pengaruh kepada masyarakat awam yang menurut mereka berpotensi dijadikan jama’ah. Oleh karena itu, bisa dimengeti bila antara naqsabandiyah yang satu berbeda dengan naqsabandiyah yang lain di dalam menetapkan 1 Ramadhan maupun 1 Syawal.

Kalau landasan mereka menetapkan 1 Ramadhan dan 1 Syawal bisa dipertanggung jawabkan, mereka pasti berani menunjukkan bukti-bukti kebenaran hasil perhitungan dan ru’yah mereka. Lembaga lain jelas berani menunjukkan bukti-bukti kebenaran metodenya. Apakah kelompok tarekat ini berani? Wallahu a’lam.

Seharusnya, adanya ‘perbedaan’ pelaksanaan shalat Ied yang dilakukan kelompok tarekat ini, tidak perlu diliput media massa, karena liputan itu hanya akan membuat kelompok sejenis tampil ke permukaan dan mencari mangsanya. Komisi penyiaran, Departeman Agama, dan MUI seharusnya membuat aturan (larangan tegas) kepada media massa agar tidak mempromosikan keberadaan dan kiprah jama’ah tarekat yang waton suloyo ini.

Apa itu Tarekat dan Tasawuf?

Untuk memahami Tarekat dan Tasawuf, redaksi nahimunkar sepenuhnya mengutip dari buku karya Hartono Ahmad Jaiz berjudul Nab-nabi Palsu dan Para Penyesat Umat halaman 317 hingga 321, sebagai berikut:

Istilah tasawuf sesungguhnya tidak dikenal di dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Istilah Tasawuf (ajaran) atau Sufi (orang yang mempraktekkan tasawuf) baru muncul menjelang tahun dua ratus hijriah.

Pada mulanya, istilah tasawuf digunakan untuk melabeli sebuah ajaran melatih jiwa dan usaha mencegah diri seseorang dari akhlak yang hina menuju kepada akhlak yang mulia untuk mendapatkan pujian di dunia dan pahala di akhirat. Sayangnya, pada perkembangan berikutnya upaya dan ajaran ini tergelincir menjadi sesat.

Di antara mereka ada yang meyakini adanya hulul alias inkarnasi alias penitisan, yaitu Allah memilih tubuh-tubuh manusia tertentu sebagai tempat-Nya menyusup atau menjelma ke dalam diri manusia, setelah sifat-sifat kemanusiaan dalam tubuh tersebut dihilangkan.

Ada pula yang berpaham wihdatul wujud yaitu Allah dapat menyatu dengan makhluk alias manunggaling kawula gusti, tidak ada pemisahan antara Khaliq dan makhluk. Selain wihdatul wujud ada pula paham ittihad, yaitu bersatunya seorang sufi sedemikian rupa dengan Allah SWT setelah terlebih dahulu melalui penghancuran diri (fana) dari keadaan jasmani dan kesadaran rohani untuk kemudian berada dalam keadaan baka (tetap/bersatu dengan Allah SWT).

Di antara para Sufi bahkan ada yang menganggap bahwa Rasulullah saw derajatnya tidak lebih tinggi dari mereka (orang-orang sufi), seperti perkataan Abu Yazid al-Busthami (w. 261H/874M) salah satu tokoh tasawuf asal Persia: “Kami telah masuk lautan, sedang para nabi berdiri di tepinya.” Bahkan ada yang berpendapat bahwa para sufi lebih tahu tentang Allah dan lebih mengerti tentang syari’at-Nya dibanding para Nabi.

Para Sufi ini juga mempercayai eksistensi wali yang mereka sejajarkan dengan Allah dalam segala sifat-Nya, sehingga mereka mempercayai para wali itu dapat mencipta, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, dan mengatur alam. Paham seperti ini tergolong khurafat, yaitu kepercayaan yang menyeleweng dari kemurnian Islam. Pengertian wali menurut Islam (QS Yunus:62-64) berbeda dengan versi tasawuf. Menurut mereka wali dapat mengungkapkan beberapa perkara ghaib, dan memiliki beberapa perilaku luar biasa. Padahal, menurut Al-Qur’an Surat An-Naml ayat 65 Allah SWT menegaskan bahwa tidak ada seorang pun di langit dan bumi yang dapat mengetahui perkara ghaib kecuali Allah.

Bagaimana pula filsafat tasawuf tentang surga? Beribadah kepada Allah dengan mengharapkan surga adalah sebuah aib. Karena, yang seharusnya diharapkan atau dituntut adalah al-fana yaitu menghancurkan diri dalam proses untuk menyatu dengan Allah SWT. Juga, diberi kemampuan melihat keghaiban, dan mengatur alam. Itulah balasan yang mereka (para sufi) tuntut kepada Allah.

Sedangkan beribadah kepada Allah karena takut masuk neraka adalah sikap tidak layak bagi seorang sufi yang sempurna. Karena, takut terhadap neraka itu watak budak dan bukan orang-orang merdeka.

Padahal, janji surga dan ancaman neraka itu datangnya dari Allah sendiri. Bahkan Allah menyebutkan surga (jannah dan jannaat) sebanyak lebih dari seratus kali di dalam Al-Qur’an. Antara lain seperti tertuang di dalam surat Az-Zukhruf ayat 72: “Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.”

Berkenaan dengan iblis, para sufi berkeyakinan bahwa iblis adalah hamba yang paling sempurna dan makhluk yang paling utama tauhidnya. Karena menurut anggapan mereka, iblis tidak mau sujud kecuali kepada Allah. Dan mereka mengklaim bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosa iblis dan akan memasukkannya ke surga. Pandangan sesat sufi ini pernah diadopsi mendiang Nurcholish Madjid puluhan tahun silam, dan ia tidak pernah meralat pendiriannya itu sampai akhir hayatnya.

Sedangkan terhadap Fir’aun yang menyombongkan dirinya dengan mengatakan: “Saya adalah Tuhanmu yang tertinggi…,” oleh kalangan sufi justru dianggap sebagai manusia utama yang mengetahui hakekat mengesakan Allah. Karena, menurut filsafat tasawuf, setiap yang wujud itu adalah Allah. Bahkan menurut para sufi sesat, Fir’aun yang sombong dan menyekutukan Allah ini dianggap telah beriman dan masuk surga.

Tasawuf telah menjadi sarang tempat berlangsungnya penyelewengan akidah Islam. Dan orang Barat faham betul efektifnya merusak Islam lewat tasawuf itu, lalu mereka membuka studi Islam yang menu utamanya hanya menjajakan tasawuf.

Dari dunia tasawuf ini pada perkembangan berikutnya lahir sebuah istilah yang kemudian lebih populer dari tasawuf itu sendiri, yaitu Tarekat atau Tarikat yang berasal dari lafal Arab Thariqah yang berarti jalan, maksudnya adalah jalan menuju Tuhan dengan mengamalkan ajaran tasawuf.

Tarekat sejatinya tidak bersentuhan dengan filsafat tasawuf sebagaimana contoh di atas seperti bagaimana para sufi memandang Nabi, Wali, Iblis dan Fir’aun; tetapi lebih menitik-beratkan kepada menjalankan berbagai amalan tasawuf dalam rangka mendekatkan diri kepada tuhan. Meski begitu, dalam prakteknya para pemimpin tarekat tidak bisa bebas dari persentuhannya dengan filsafat tasawuf saat mereka berhadapan dengan pengikutnya.

Amalan-amalan yang diajarkan di lingkungan tarekat ada yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, namun banyak pula yang tidak ada hubungannya dengan Al-Qur’an dan Sunnah namun tetap menempelkan label Islam, padahal praktek yang dijalankannya adalah perdukunan semata.

Dalam perkembangannya ajaran tarekat beranak-pinak mengikuti jumlah tokoh-tokohnya. Seperti, Tarekat Haddadiah yang didirikan oleh Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad yang wafat 1095M di Yaman. Ada juga Tarikat Maulawiah yang didirikan oleh Maulwi Jalaluddin Ar-Rumi (meninggal dunia di Anatoila, Turki). Contoh lainnya adalah Tarekat Naqsyabandiah yang didirikan oleh Bahiruddin (Bahauddin?) Naqsyabandi di Turkistan. Tarekat ini di Indonesia termasuk tarekat yang paling berpengaruh. Sedangkan Tarekat Qadiriah dianggap didirikan oleh Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani (1077-1166M) di Baghdad.

Di Indonesia, ajaran tasawuf/tarekat antara lain dijajakan oleh para ulama tradisionalis, juga oleh para misionaris Syiah. Tasawuf/tarekat oleh para misionaris Syiah seperti Jalaluddin Rahmat dan kawan-kawan dijadikan medium mensosialisasikan paham sesat Syiah. Belakangan, Jalaluddin Rakhmat menjajakan paham sepilis, pluralisme agama. Itu tidak mengherankan, karena sufi sesat masa lalu juga dikenal dengan paham sesat wihdatul adyan, menganggap semua agama sama, yang kini istilahnya pluralisme agama. Begitu juga dengan sebagian habib baik yang berpaham Syiah ekstrim maupun lunak, mereka cenderung memadukan antara ajaran Syiah dengan tasawuf/tarekat. Salah satu ciri pengikut tarekat yang dijajakan habib adalah memajang foto sang guru spiritual pada salah satu ruangan di rumah mereka.

Perkembangan tarekat (atau tasawuf) di Indonesia sudah sedemikian berkembang, sebagaimana bisa dilihat dari banyaknya kalangan tertentu (seperti artis) yang punya guru spiritual. Ini berarti sejalan dengan perkembangan Syiah, karena para guru spiritual itu seringkali berujud seorang habib yang memadukan Syiah dan tarekat sesat.

Salah satu contoh aktual dan kongkrit adalah pemusik beken Ahmad Dhani dari kelompok Dewa 19. Dia memiliki seorang guru spiritual yang sangat dihormatinya bernama Habib Umar. Salah satu dari sekian banyak lagu yang pernah digubah Ahmad Dhani berjudul “Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada”. Lirik pada lagu tersebut amat sangat sejiwa dengan filosofi sesat para sufi tentang keberadaan surga dan neraka sebagaimana diuraikan pada tulisan di atas. Cuplikan dari lirik lagu tersebut antara lain:

apakah kita semua

benar-benar tulus menyembah pada-Nya

atau mungkin kita hanya

takut pada neraka dan inginkan surga

jika surga dan neraka tak pernah ada

masihkah kau sujud kepada-Nya

jika surga dan neraka tak pernah ada

masihkah kau menyebut nama-Nya

Dari fenomena di atas, kita sudah sepatutnya kian waspada, karena aliran dan paham sesat tidak saja disosialisasikan secara mewah di hotel berbintang, tapi juga sudah menjadikan lirik lagu sebagai media promosi.

***

Perbedaan di dalam menetapkan awal Ramadhan dan 1 Syawal, yang terjadi di kalangan tarekat, seharusnya tidak lagi ‘dibenarkan’ dengan argumen ‘perbedaan merupakan rahmat’ yang tidak jelas dasar pijaknya. Namun, sudah seharusnya disikapi dengan tegas oleh pejabat terkait, seperti Departemen Agama, MUI dan ormas Islam yang tidak sesat.

Inisiatif warga di Cilandak (Jakarta Selatan) yang membubarkan rencana pelaksanaan shalat Iedul Fithri oleh Rabbani Sufi Institute Indonesia yang menyelisihi 2 hari sebelum Iedul Fithri Muslimin pada umumnya, seharusnya diberlakukan untuk semua kelompok tarekat. Apalagi selama ini Departemen Agama dan MUI tidak pernah meminta pertanggung jawaban mereka atas upaya menetapkan tanggal 1 Ramadhan dan 1 Syawal. Depag dan MUI tutup mata atas kebohongan yang mereka perbuat. Sebab, bagaimana mungkin untuk melihat bulan yang sama dari bumi yang sama dalam jarak yang masih dalam satu kota tetapi menghasilkan keputusan yang jauh berbeda? Ini jelas-jelas merupakan pembodohan publik. (haji/tede)