Kenapa Menang di IBF, Buku yang Jauh dari Kesan Ilmiah

Abdul Hakim GIP: Ada Isu Sebenarnya Bukan Buku Syafi’i Ma’arif yang Menang

Keluarnya buku berjudul “Indonesia Dalam Bingkai Kebhinekaan dan Kemanusiaan” sebagai pemenang Buku non fiksi dewasa terbaik di Islamic Book Fair 2011 ternyata menuai kecaman.

Keputusan Dewan Juri memenangkan buku karya Profesor Ahmad Syafi’i Ma’arif itu dinilai penuh kelemahan. Beberapa penerbit dikabarkan memprotes keputusan tersebut sebab buku terbitan Mizan ini hanyalah kumpulan tulisan dan jauh dari kesan ilmiah.

Ada dugaan keputusan memberikan trofi terbaik ini tidak lepas dari nama Azyumardi Azra sebagai ketua dewan juri. Nama Ahmad Syafi’i Maarif selama ini dikenal sebagai aktor pengusung Pluralisme Agama di Indonesia. Bagian investigasi eramuslim.com mencoba menelusuri perkembangan seputar kasus tersebut.

Berikut wawancara Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi dari Eramuslim.com dengan Abdul Hakim selaku perwakilan dari Penerbit Gema Insani Press (GIP), kamis malam 10/3.

Kami dengar ada kisruh seputar terpilihnya buku Syafi’i Ma’arif sebagai buku terbaik dalam Islamic Book Fair tahun ini. Bagaimana anda sendiri melihatnya?

Yang menjadi pertanyaan, paling tidak ada dua hal terkait buku itu. Pertama, apakah memang benar buku Syafi’i Ma’arif sebagai sebuah karya orisinil dan pemikiran yang utuh, sehingga memenuhi kriteria sebagaimana disebut dalam kriteria buku terbaik di IBF yakni bukanlah sebuah kumpulan tulisan ilmiah.

Setahu kami buku Indonesia Dalam Bingkai Kebhinekaan dan Kemanusiaan tersebut adalah kumpulan berbagai esai beliau?

Dari sistematika buku itu sepertinya dipaksakan, di bab-bab itu harusnya saling terkait. Seperti kalau masing-masing bab diuraikan dengan sub judul. Kemudian di buku Indonesia Dalam Bingkai Kebhinekaan ini ada bab tertentu hanya berisi judul besar tersendiri bukan sub judul.

Setahu anda, buku Ma’arif ini kumpulan-kumpulan tulisan beliau saja, seperti di salah satu harian?

Saya tidak tahu apakah hasil dari makalah beliau dalam setiap seminar. Kemudian itu terkait dengan sisi keilmiahan sebuah tulisan ya. Belum lagi misalnya dalam sisi konteks buku yang diangkat harus berangkat dari frame pemikiran Islam.

Lalu apakah anda menyampaikan keberatan ini ke Dewan Juri?

Tidak ada, karena saya memang bukan pihak pantia. Kami hanya dari dunia penerbitan. Kami menilai kalau buku dari GIP memang masuk nominasi juara. Bahkan isunya buku kita (Kritik Terhadap Studi Qur’an Kaum liberal karya Fahmi Salim. red) itulah yang keluar sebagai pemenang. Karena itu karya tesis yang memang teruji dari sisi keilmiahan dan dunia akademis.

Iya, memang banyak kalangan merasa heran kenapa buku Fahmi Salim tidak keluar sebagai juara, padahal itu karya tesis yang teruji di Kairo dan bukan kumpulan tulisan.

Nah itulah kenapa. Isitilahnya, kan kalau kita obyektif ukurannya apa?

Sehingga peserta yang memenuhi kualifikasi kebenaran kok tidak masuk menjadi pemenang. Kalaulah memang argumentasinya jelas, obyektif tidak masalah.

Saya teringat pada tahun 2005 saat Komaruddin Hidayat menilai bukunya sendiri Psikologi Kematian. Saat itu buku Adian Husaini, Wajah Peradaan Barat, keluar sebagai juara.

Pada saat itu, Komaruddin Hidayat sendiri mengakui buku Adian-lah yang memang layak keluar sebagai pemenang. Itu jika objektif.

Jadi memang anda belum sampai mengklarifikasi ke Dewan Juri? Ini hanya bentuk kekecewaan anda saja?

Iya sebenarnya kita kan berharap di dunia IBF minimal sebagai sebuah event yang mendorong para penulis untuk menulis dengan baik. Ide yang baik juga, sebagaimana disampaikan panitia ingin menghargai kualitas penulis yang baik dan contoh argumentasi yang benar.

Apakah ada penerbit lain yang sempat melakukan klarifikasi langsung ke Azyumardi Azra?

Konon katanya hanya mengirim SMS ke panitia. Kemudian panitia mempersilahkan. Kata panitia ya silahkan saja ditulis. Apakah lewat surat pembaca atau surat resmi.

Berarti ke Panitia bukan Dewan Juri?

Iya mungkin ke panitia kenapa menunjuk Azyumardi.

Apakah pada pargelaran IBF sebelumnya Dewan Juri bukan Azyumardi?

Konon beberapa orang yang diusulkan. Itu saya tidak paham kenapa dia. Konon katanya Syafi’i Ma’arif sebelumnya tidak masuk kandidat, tapi tiba-tiba muncul sebagai pemenang. Anda bisa cek ke panitia.

Berarti buku Kritik Terhadap Studi Qur’an Kaum Liberal meraih juara dua?

Tidak ada istilah juara dua sekarang, yang ada hanya nominasi. Begitu diumumkan langsung terkalahkan. Nah itu juga apakah aturan baru demikian. Padahal kalau dibaca secara obyektif, kita bisa lihat buku-nya Fahmi Salim yang layak menang. Karena sangat teruji keilmiahannya.(pz)

Sumber: Eramuslim.com, Jumat, 11/03/2011 12:56 WIB

(nahimunkar.com)