Keputusan MUI tentang Vaksin Meningitis untuk Jama’ah Haji

Setelah MUI (Majelis Ulama Indonesia) berkonsultasi dengan Mufti Arab Saudi mengenai vaksin meningitis untuk jama’ah haji yang terbukti mengandung enzim babi, maka MUI memutuskan:

“Keputusannya, bahwa vaksin Meningitis produksi Belgia itu yang digunakan oleh Depkes untuk jamaah haji kita, adalah haram karena mengandung enzim babi,” tegas KH Ma’ruf Amin, Ketua MUI.

“Namun, karena untuk calon jamaah haji intinya wajib harus divaksin karena ketentuan dari pemerintah Arab saudi, maka kita perbolehkan dengan hukum darurat bagi yang berhaji wajib atau pertamakali haji,” tambah Kiai Ma’ruf.

“Namun hukum darurat ini tidak berlaku bagi yang berhaji yang kedua dan seterusnya,”

tambahnya.

Beritanya sebagai berikut:

MUI: Vaksin Boleh untuk Haji Wajib

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Juli 2009 pukul 17:09:00

vaksin.jurnalhaji.com

JAKARTA–Majelis Ulama Indonesia  (MUI) berkesimpulan bahwa vaksin meningitis produksi Belgia yang digunakan jamaah Indonesia dan puluhan negara lainnya adalah haram.

“Keputusannya, bahwa vaksin Meningitis produksi Belgia itu yang digunakan oleh Depkes untuk jamaah haji kita, adalah haram karena mengandung enzim babi,” tegas KH Ma’ruf Amin, Ketua MUI, pada Republika usai rapat MUI yang membahas vaksin di Kantor MUI, Jakarta, Kamis (16/7).

“Namun, karena untuk calon jamaah haji intinya wajib harus divaksin karena ketentuan dari pemerintah Arab saudi, maka kita perbolehkan dengan hukum darurat bagi yang berhaji wajib atau pertamakali haji,” tambah Kiai Ma’ruf.

“Namun hukum darurat ini tidak berlaku bagi yang berhaji yang kedua dan seterusnya,” tambahnya.

Dikatakan Kiai Ma’ruf bahwa Fatwa MUI ini sifatnya sementara sampai ditemukan vaksin yang halal. “Atau sampai kebijakan pemerintah Arab saudi yang mengharuskan vaksin meningitis ini dicabut,” tutur Kiai Ma’ruf. “Kami juga merekomendasikan paling lambat tahun 2010, pemerintah sudah harus memperoleh vaksin yang halal atau memproduksi sendiri vaksin yang halal,” tegas Kiai Ma’ruf. osa/taq

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/62792/MUI_Vaksin_Boleh_untuk_Haji_Wajib

Sebelumnya, dberitakan:

Vaksin Berbabi, Mufti Saudi Terkejut

By Republika Newsroom
Rabu, 15 Juli 2009 pukul 08:05:00

JAKARTA — Delegasi ulama Indonesia telah bertemu dengan Mufti Agung Kerajaan Arab Saudi, Syekh Abdul Aziz bin Abdullah Ahal Syekh, untuk membicarakan masalah kandungan babi dalam vaksin meningitis bagi jamaah haji.

”Mufti Agung terkejut dengan temuan itu dan berterima kasih kepada ulama Indonesia, yang begitu peduli dengan hal-hal seperti ini,” ujar Ketua Bidang Luar Negeri MUI, KH Muhyiddin Junaidi, kepada Republika , Selasa (14/7). Delegasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang dipimpin KH Amidhan itu bertemu dengan Syekh Abdul Aziz pada Senin (13/7).

Kepada delegasi ulama Indonesia, papar Kiai Junaidi, Mufti Agung berjanji akan melakukan penelitian dan pengujian laboratorium untuk memastikan kandungan vaksin meningitis bagi jamaah haji itu. Syekh Abdul Aziz mengungkapkan, pihaknya belum bisa mengeluarkan fatwa, sebelum penelitian dilakukan.

Menurut Kiai Junaidi, kemungkinan besar masalah vaksin meningitis itu akan bergulir dan dibahas secara khusus oleh Organisasi Konferensi Islam (OKI). Nantinya, masalah vaksin itu juga akan dibahas para ulama fikih dunia Islam. ”Kami diterima dengan sangat baik. Mufti Agung malah berharap ulama Indonesia terus memberi masukan demi perbaikan pelaksanaan ibadah haji.”

Selain itu, delegasi ulama Indonesia yang terdiri atas KH Amidhan, ketua MUI; Anwar Ibrahim, ketua Komisi Fatwa MUI; KH Muhyiddin Junaidi, ketua Hubungan Luar Negeri MUI; Muhammad Nadratuzzaman Hose, direktur eksekutif LPPOM MUI; serta Anwar Abbas, wakil sekretaris MUI, juga menemui Wakil Menteri Urusan Haji Arab Saudi, Hatim Hasan Qadi. ”Dia juga terkejut mendengar temuan ini.”

Rencananya, MUI akan menetapkan fatwa penggunaan vaksin meningitis pada pertengahan Juli ini. Pemerintah, menurut Sekretaris Ditjen Penyelenggaraan Haji Departemen Agama (Depag), Abdul Ghofur Djawahir, mengatakan, masih menunggu fatwa dari MUI terkait penggunaan vaksin meningitis.

“Keputusan vaksin sementara masih menunggu MUI. Namun, kami masih terus jalan. Departemen kesehatan (Depkes) tetap melakukan langkah-langkah, seperti pemeriksaan awal dan pengiriman vaksin ke daerah-daerah sudah disiapkan,” ungkapnya. Vaksin meningitis, kata dia, disediakan untuk 210 ribu jamaah haji ditambah satu persen untuk mengantisipasi kerusakan.

Terkait paspor hijau, Depag dan Departemen Hukum dan HAM (Depkumham) telah membentuk tim untuk menerbitkan paspor internasional bagi calon jamaah haji (calhaj) 2009.”Kami telah membentuk tim bersama untuk menyelesaikan masalah paspor ini dengan cepat,” ujar Ghofur.

Tugas pokok tim itu, lanjut Ghofur, menyusun peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu). “Tadi kami sudah rapat dan diharapkan Jumat (17/7) nanti adalah rapat terakhir. Mudah-mudahan pekan depan perppu-nya sudah diserahkan kepada presiden,” tutur Ghofur. Selain itu, papar dia, tim juga akan membahas masalah teknis penerbitan paspor. ”Kami tak akan memberatkan calon jamaah haji.” Ghofur berharap surat keputusan bersama (SKB) antara Depag dan Depkum akan terbit pekan depan.she/taq

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/62412/Vaksin_Berbabi_Mufti_Saudi_Terkejut

Di Malaysia dikabarkan, vaksinnya tidak mengandung enzim babi. Beritanya sebagai berikut:

Vaksin Haji di Malaysia Dijamin tidak Mengandung Babi

Buat halaman ini dalam format PDF

Cetak halaman ini

KESRA– 11 JUNI: Pemerintah Malaysia menjamin penuh bahwa suntikan vaksin meningitis yang disuntikkan untuk jemaah umrah dan haji di negara itu tak mengandung babi dan tak berkaitan dengan babi.

Hal ini dikemukakan Wakil Menteri Kesehatan Malaysia, Datuk Rosnah Abdul Rashid Shirlin yang dikutip harian Utusan Malaysiaedisi Rabu, (10 Juni).

Menurut Rosnah, vaksin yang dihebohkan di Indonesia tidak terjadi di Malaysia. Vaksin meningitis yang diberikan kepada jemaah haji dan umrah yang dilakukan di Malaysia telah diuji dan melalui proses penelitian terlebih dahulu dan ternyata tidak menimbulkan masalah hingga kini.

“Jadi, ini bukan merupakan isu di negara ini. Justeru rakyat Malaysia tidak perlu meragui mengenai kandungan yang terdapat pada vaksin berkenaan. Kita juga akan meneruskan pelaksanaan suntikan itu karena ia tidak mendatangkan masalah kepada kita,” kata Rosnah.

Seperti diketahui, Senin, 8 Juni lalu, Majlis Ulama Indonesia (MUI) meminta Kerajaan Arab Saudi menggugurkan syarat yang mewajibkan semua jemaah haji dan umrah menerima suntikan vaksin meningitis kerana vaksin itu dikatakan mengandungi enzim babi.

Menurut Rosnah, isu kandungan unsur babi dalam vaksin meningitis timbul disebabkan keraguan pihak tertentu terhadap penggunaan vaksin tersebut. Setiap negara mempunyai kebijakan dan pelaksanaan yang berbeda mengenai pemberian suntikan vaksin tersebut. Lembaga Tabung Haji merupakan pihak yang mengeluarkan vaksin itu. (ro/hr)

Sumber: http://www.menkokesra.go.id/content/view/11525/39/

Sebelumnya, MUI meminta agar Departemen Kesehatan memberikan vaksin yang halal. Ini beritanya:

20/06/2009 – 20:11

MUI: Vaksin Haji Jangan Lemak Babi

INILAH.COM, Medan – Vaksin meningitis yang mengandung lemak babi untuk jamaah haji masih belum jelas penggantinya. Namun MUI meminta Depkes agar memberikan vaksin harus dengan yang halal.

“Pemberian vaksin itu harus sesuai dengan ketentuan dalam ajaran agama Islam dan jangan yang diharamkan,” kata Ketua MUI Sumut Abdullah Syah di Medan, Sabtu (20/6).

Menurut dia, pihak Depkes jangan terkesan memaksakan pemberian vaksin yang mengandung haram terhadap jamaah calon haji. Sebab hal itu jelas akan berdampak kurang baik.

Selain itu, calon jamaah haji bisa dianggap tidak keadaan bersih atau suci dalam melaksanakan niatnya ke Makkah. “Hal-hal yang seperti ini harus dihindari dan jangan sampai terjadi,” terang Abdullah.

Ia mengatakan, pemberian vaksin tidak sesuai aturan yang berlaku itu, jelas akan merugikan bagi calon jemaah haji. Untuk itu, pihak Depkes dapat mencari vaksin lain sebagai pengganti vaksin meningitis yang diduga mengandung bahan-bahan yang haram dan tidak bisa diberikan pada calon jemaah haji.

Pihak Depkes yang bertanggung jawab dalam pemberian vaksin terhadap calon jamaah haji itu, bisa saja membeli vaksin lain seperti yang digunakan Malaysia.

“Vaksin yang digunakan calon jemaah haji di negara jiran tersebut tidak mengandung barang yang haram,” ujar Guru Besar IAIN Sumut itu.

“Pihak MUI tetap akan mengawasi vaksin yang akan diberikan kepada calon jemaah haji yang akan berangkat ke Makkah,” tegasnya. [*/ana]

Sumber: http://www.inilah.com/berita/politik/2009/06/20/118180/mui-vaksin-haji-jangan-lemak-babi/

Diberitakan pula, Ulama Indonesia meminta kepada Kerajaan Arab Saudi agar vaksinasi meningitis untuk jamaah haji ditiadakan, karena mengandung enzim babi. Beritanya sebagai berikut:

اندونيسيا: طلب بإلغاء تطعيم الحجاج ضد الحمى الشوكية بسبب إنزيم الخنازير


أضيف في :9 – 6 – 2009

طلبت أكبر هيئة دينية مسلمة في إندونيسيا، الاثنين، من المملكة العربية السعودية إعفاء الحجاج من الخضوع لتطعيم وقائي ضد الحمى الشوكية، بسبباحتواء اللقاح على إنزيم مستخرج من vaksin-1الخنازير“.

وقال معروف أمين، رئيس مجلس العلماء الإندونيسي، لوكالة “فرانس برس”: “بعثنا برسالة للحكومة السعودية متعلقة بلقاح الحمى الشوكية المطلوب من الحجاج، بعد اكتشافنا أنه يحتوي على مادة “مستخرجة” من الخنازير“.

وأضاف: إن شركة “جلاكسوسميثكلاين” التي تصنع اللقاح، أكدت أن أنزيمًا مستخرجًا من الخنازير يستخدم في المراحل الأولى من إنتاج اللقاح، لكنه غير موجود في المنتج النهائي، موضحًا أن: “الشركة المصنعة قالت: إن استخدام إنزيم من الخنازير في المراحل الأولى للتصنيع أمر لا يمكن تجنبه“.

وأشار إلى أنه: “وبما أن الحج فريضة دينية، طلبنا من السلطات السعودية عدم الإصرار على شرط الحصول على شهادة التطعيم ضد الحمى الشوكية”، لافتًا إلى أنه يمكن إيجاد بديل عند الضرورة.

وقال مسئول في وزارة الشئون الدينية الإندونيسية: إن السعودية تفرض على الحجاج منذ 10 سنوات تقديم شهادة تطعيم ضد الحمى الشوكية، في أعقاب تفشي هذا المرض بين حجاج أفارقة، ونقلت صحيفة “جاكرتا جلوب” عن المسئول عبد الغفور جواهر قوله: “هل يمكنك أن تتصور إذا عاد أحد حجاجنا مصابًا بالحمى الشوكية؟ يمكن أن يؤدي هذا الأمر إلى انتشار المرض“.

وتفرض السلطات السعودية على الحجاج قبل القدوم إلى المشاعر المقدسة إجراء عدد من التطعيمات، بهدف الوقاية من أية أمراض معدية، وأهمها التطعيم ضد مرض الحمى الشوكية، وهو من الأمراض المعدية الخطيرة، وإذا لم تعالج فإنها تؤدي غالبًا إلى الوفاة، وفي حالة تأخر العلاج قد تؤدي إلى إعاقات عصبية، واللقاح عبارة عن جرعة واحدة “نصف ملل” تحقن تحت الجلد.

والحمى الشوكية مرض يصيب سحايا المخ، وعادة ما تكون بسبب ميكروب فيروسي أو بكتيري، وتكمن الخطورة في أنها قد تؤدي إلى الوفاة في نسبة بسيطة من المصابين، كما قد تؤدي إلى آثار جانبية مزمنة؛ مثل: الصمم، والنقص في النمو الحركي والعقلي، وذلك بالنسبة للأطفال.

ويعتبر موسم الحج والعمرة من المناسبات التي قد يصاحبها انتشار لهذا المرض، حيث يفد خلاله حجاج قادمون من مناطق يتوطن فيها المرض، إضافة لعامل الزحام والإجهاد، الذي يساعد على سرعة وكفاءة انتقاله بين الأشخاص.

Sumber: http://www.shareah.com/index.php?/news/view/action/view/id/13401/

(Redaksi nahimunkar.com).