AMBON RUSUH: Kota Ambon kembali dilanda kerusuhan bernuansa sara, Minggu (11/9 2011).

Puluhan kendaraan, rumah serta tempat ibadah terbakar diamuk masa dan mengakibatkan beberapa orang tewas terkena tembakan serta ratusan orang luka-luka. Ameks/Juni Yudhawanto

Kepala Bareskrim Polri, Komjen (Pol) Sutarman mengatakan kerusuhan di Ambon dipicu tewasnya seorang tukang ojek dalam kecelakaan tunggal, namun sempat dipukuli oleh sekelompok orang. Nyawanya tidak tertolong saat dilarikan ke rumah sakit.

Radio Nederland memberitakan, Darmin (tukang ojek, muslim, red) tewas dikeroyok kelompok warga lain. Darmin, menurut cerita warga, mengalami kecelakaan di kawasan Gunung Nona, Kudamati, sebuah wilayah -yang dikenal sebagai daerah- Nasrani. Ia kemudian dipukuli dan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.

Inilah berita-beritanya:

Kota Ambon Rusuh Lagi

Ibukota Maluku, Ambon, kembali dilanda bentrokan antar dua kelompok warga yang mengatasnamakan agama.

Sejauh ini tidak jelas apakah kerusuhan tersebut memakan korban tewas atau tidak. Beberapa media menyebutkan tiga orang tewas, sementara media lain menyebut hanya ada satu korban tewas. Pejabat setempat malah menyatakan tidak ada korban tewas. Korban luka diperkirakan puluhan orang.

Menurut kesaksian, korban tewas disebabkan tembakan peluru. Tidak jelas apakah itu peluru dari pihak keamanan atau perusuh.

Ambon tahun-tahun belakangan boleh dikatakan tenang. Perang bernuansa sektarian antara tahun 1999 sampai 2002 menewaskan 9000 orang.

Tukang ojek

Peristiwa keributan 11 September di kota Ambon bermula dari prosesi pemakaman seorang tukang ojek bernama Darmin Saiman. Massa yang mengantar terbakar amarah karena ada yang menyebut Darmin dibunuh. Kemarahan itu ditumpahkan dengan menyerang kelompok warga lain.

Penyebab kematian Darmin sendiri tidak jelas. Kepolisian Maluku menegaskan, ia meninggal akibat kecelakaan lalu lintas. Namun desas-desus menyebut Darmin tewas dikeroyok kelompok warga lain. Darmin, menurut cerita warga, mengalami kecelakaan di kawasan Gunung Nona, Kudamati, sebuah wilayah -yang dikenal sebagai daerah- Nasrani. Ia kemudian dipukuli dan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.

Tenang namun tegang

Menjelang malam situasi kota Ambon dikabarkan mulai tenang. Ratusan polisi anti huru-hara dari Sulawesi dikirim ke ibukota Maluku. Tank dan panser juga disiagakan.

Kendati mereda, suasana malam di kota Ambon tetap mencekam. Warga dari kedua kelompok masih berjaga-jaga. Kampung Waringin dilaporkan terbakar, sementara warga mulai mengungsi untuk mencari perlindungan.

Pejabat keamanan di pemerintah pusat Jakarta menyatakan akan bersikap keras terhadap pembuat onar di kota Ambon dan meminta agar masyarakat tidak percaya begitu saja atas kabar-kabar yang berkembang. Jakarta juga meminta agar perdamaian yang sudah berhasil dicapai tetap dijaga.

Sumber: rnw.nl, Diterbitkan : 11 September 2011 – 9:38pm

***

Bentrok Warga, Ambon Rusuh

Dipicu Kematian Tukang Ojek Yang Dianggap Tak Wajar

AMBON – Stabilitas keamanan masyarakat Kota Ambon akhirnya ternoda oleh bentrok warga kemarin (11/9). Dalam peristiwa tersebut, seorang warga tewas dan sekitar 68 orang lainnya terluka akibat terkena tembakan maupun lemparan batu. Hal itu berdasar data di RS Al Fatah, Ambon.Korban meninggal bernama Sahroni Elly. Pria berusia 26 tahun itu tewas setelah tubuhnya diterjang peluru saat dua kelompok warga saling menyerang di kawasan Tugu Trikora. Kemudian, di kawasan Batugantung Waringin, ratusan rumah warga ludes dilalap jago merah dalam serangan yang dilakukan salah satu kelompok warga. Tercatat dua mobil dan empat sepeda motor hangus dibakar massa.

Dari informasi yang dikumpulkan Ambon Ekspres (Jawa Pos Group), bentrok itu dilatarbelakangi kematian seorang tukang ojek, Darmin Saiman, di kawasan Gunung Nona, Desa Kudamati, Kecamatan Nusaniwe, Sabtu (10/9). Pihak kepolisian menyatakan, kematian Darmin disebabkan kecelakaan murni saat mengendarai sepeda motor. Namun, pernyataan polisi itu tidak memuaskan warga. Mereka menganggap Darmin meninggal secara tidak wajar ketika mengantar seorang penumpang ke arah kawasan Gunung Nona. Hal itu berdasar sejumlah luka di tubuh korban yang mengindikasikan terjadinya pembunuhan. Polisi tampaknya gagal meyakinkan warga. Akibatnya, setelah pemakaman Darmin, salah satu kelompok warga mengamuk. Mereka emosi dengan menghentikan kendaraan yang melintas. Bahkan, sebagian warga melempar dan membakarnya di kawasan Waihaong.

Kapolres Pulau Ambon AKBP Djoko Susilo beserta jajarannya kesulitan menenangkan warga yang emosi. Meski polisi terus mengeluarkan tembakan peringatan, dua kelompok massa terus saling merengsek maju.Kapolda Maluku Brigjen Pol Syarif Gunawan membenarkan bahwa kematian Darmin menjadi pemicu bentrok tersebut. Dia lantas membeber kronologi bentrok yang diawali spontanitas warga setelah pemakaman Darmin di pekuburan Mangga Dua siang kemarin. ’’Karena (kematian tukang) ojek, setelah diperiksa di rumah sakit (RSUD dr Haulussy, Ambon) ternyata kecelakaan murni. Tetapi, menurut warga dia dibunuh. Nah, seusai korban dimakamkan, terjadi spontanitas massa,” ungkap Gunawan.Dia mengatakan, aparat keamanan yang terdiri atas satuan Brimobda Polda maupun TNI bekerja keras melokalisasi titik-titik rawan bentrok. Diharapkan masyarakat yang mengungsi ke tempat-tempat aman kembali pulang ke rumah masing-masing. Masyarakat Maluku di seluruh Kota Ambon diminta tidak terprovokasi oleh pesan singkat (SMS) dan isu yang tidak jelas kebenarannya. “Ingat, pengalaman kita lebih 10 tahun lalu. Tentu itu harus diambil pelajaran,” tandasnya.

Bentrok yang mengingatkan kerusuhan komunal pada 1999 lalu itu menimbulkan konsentrasi massa di sejumlah titik. Terutama di kawasan Mangga Dua, Batugantung, Waringin, Waihaong, Tugu Trikora, Batumerah, dan Mardika. Di kawasan Tugu Trikora dua kelompok massa berhadap-hadapan. Bahkan, mereka saling menyerang, membawa batu, dan senjata tajam. Sahroni Ely terkena tembakan di depan Masjid An Nur, sekitar 100 meter dari Tugu Trikora. Hingga kini belum diketahui pasti siapa pelaku penembakan tersebut. Saat berita ini ditulis, korban telah dibawa pulang ke kampung halamannya di Assilulu, Kecamatan Leihitu Barat, Kabupaten Maluku Tengah.

Turut datang menjemput jenazah korban adalah Asari Al Fatah, seorang kerabat korban, Ketua DPRD Maluku Tengah Azis Mahulette, dan sejumlah anggota dewan lain.Di kawasan Batugantung Waringin, ratusan rumah warga hangus dilalap api. Warga pun tumpah ruah ke jalan-jalan saat terjadi bentrok untuk menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman. Sebaliknya, tidak sedikit warga lain justru kembali. Saling serang dua kelompok massa pun terjadi.

Mulai petang hingga pukul 20.00 WIT, polisi berhasil mengendalikan situasi. Dua kelompok warga berangsur-angsur bisa dipisahkan. Situasi pun mulai mereda. (mg5/tia/agm)
Sumber: pontianakpost.com, Senin, 12 September 2011 , 08:07:00

 ***

Kronologi Kerusuhan Ambon Versi Mabes Polri

Suasana bentrokan antardua kelompok massa yang terjadi di Kota Ambon sejak Minggu (11/9/2011) siang hingga petang. Bentrokan ini dikabarkan telah menewaskan tiga korban jiwa. (foto: kps)

JAKARTA – Kepala Bareskrim Polri, Komjen (Pol) Sutarman mengatakan kerusuhan di Ambon dipicu tewasnya seorang tukang ojek dalam kecelakaan tunggal, namun sempat dipukuli oleh sekelompok orang. Nyawanya tidak tertolong saat dilarikan ke rumah sakit.

“Ada seorang tukang ojek yang sebenarnya kecelakaan tunggal tapi malah dipukuli kelompok tertentu, sehingga terjadi balas dendam setelah upacara pemakaman,” ujar Sutarman saat hendak mengikuti rapat perihal rusuh Ambon ini di Mabes Polri, Jakarta, Minggu (11/9/2011) petang.

Berdasarkan informasi yang diterima, lanjur Sutarman, tewasnya si tukang ojek adalah murni karena kecelakaan tunggal. Perbedaan keyakinan antara kelompok si tukang ojek dan kelompok pemukul memicu kerusuhan makin meluas.

“Kecelakaan lalulintas tunggal, out of control. Tapi malah dipukuli oleh warga desa itu, ya mungkin oleh kelompok lain. Orang kecelakaan tunggal, kok digebukin?. Itu yang jadi pemicu,” ujarnya.

Sepengetahuan Sutarman, kondisi terakhir di Ambon masih mencekam. Namun, ia belum mendapatkan laporan korban jiwa ataupun luka dalam kerusuhan tersebut.

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Abdul Qodir

TRIBUNNEWS.COM,http://id.berita.yahoo.com

(nahimunkar.com)