Kesesatan Merancukan Pemahaman Agama[1]

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Aliran dan faham-faham sesat tampak makin marak, bahkan mengalami euforia (mabuk kebebasan) di masa Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (Oktober 1999 sampai 23 Juli 2001). Setidaknya ada beberapa kelompok sesat yang muncul saat itu. Di antaranya JIL (Jaringan Islam Liberal) yang dikordinir Ulil Abshar Abdalla, dengan “boss”nya Gunawan Muhammad, Maret 2001. Ijabi (Ikatan Jama’ah Ahlul Bait) pun muncul mengusung faham Syi’ah yang selama ini malu-malu, namun begitu Presidennya Gus Dur maka di antara tokohnya Jalaluddin Rakhmat mengambil kesempatan, konon dengan ungkapan mumpung presidennya Gus Dur. Bahkan aliran yang jelas sesat, Baha’I (mencampuradukkan Islam, Yahudi, dan Kristen) pun diresmikan Gus Dur di Bandung, maka besok harinya didemo oleh NU (Nahdlatul Ulama) wilayah bawahan Gus Dur sendiri. Konghucu yang tadinya tak diakui sebagai agama pun diresmikan Gus Dur sebagai agama.[2]

Orang mulai bingung tentang maraknya aneka aliran sesat yang menjamur dan mendapat angin segar itu. Lantas ketika terbit buku berjudul Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, Maret 2002, terbelalaklah masyarakat di mana-mana. Alhamdulillah, tidak sedikit orang yang simpati, walau tidak sedikit pula orang yang gerah. Sampai kini orang masih banyak yang ingin tahu seluk beluk aliran sesat dan bagaimana perkembangan, jurus-jurus penipuan, dan bagaimana jalan keluarnya.

Penyakit berupa aliran sesat sudah mewabah, masing-masing harus mampu menjaga diri secara prefentif, bahkan bila sudah terjangkiti maka perlu mendiagnosis, dan mengobati. Untuk itu diperlukan pengetahuan tentang anatomi aliran-aliran sesat..

Dari sisi lain, orang masih ada yang berkelit bahwa siapa saja yang berani mengatakan sesatnya kelompok sesat itu berarti mengaku dirinya Tuhan. Karena yang berhak menentukan sesat –menurut pendapat orang sesat– itu hanyalah Tuhan.

Ungkapan semacam itu jadi senjata bagi siapa saja yang melindungi kesesatan, bahkan sekaligus mempropagandakan kesesatan agar merata dan tidak boleh seorangpun menudingnya sebagai sesat. Padahal sudah jelas, bila kesesatan tidak boleh dibilang sesat maka semua orang akan jadi sesat. Contoh nyata, Allah menegaskan, Allah itu satu, tidak ada Tuhan selain Dia. Lalu ada kelompok yang bertuhan dua. Kalau orang Muslim tidak berani menyatakan bahwa yang bertuhan dua itu sesat, maka si Muslim itu sendiri menjadi sesat. Maka benarlah sabda Rasulullah dalam haditsnya:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلَّا كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنْ الْإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ.

Dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah SAW bersabda, Tidak ada seorang nabi pun yang diutus Allah kepada suatu ummat sebelumku, melainkan dari umatnya itu terdapat orang-orang yang menjadi pengikut dan sahabatnya, yang mengamalkan Sunnahnya dan menaati perintahnya. (Dalam riwayat lain dikatakan, Mereka mengikuti petunjuknya dan menjalankan Sunnahnya.) Kemudian setelah terjadi kebusukan, dimana mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan dan mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan, maka orang-orang yang memerangi mereka dengan tangannya, niscaya dia termasuk orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang memerangi mereka dengan tangannya, niscaya dia termasuk orang-orang yang beriman.Demikian juga dengan orang yang memerangi mereka dengan hatinya, niscaya dia termasuk orang yang beriman. Selain itu, maka tidak ada keimanan sebesar biji sawi pun._ (HR. Imam Muslim).

Persoalan lain lagi, seringkali para pembela kesesatan menuduh orang yang berani membongkar kesesatan itu sebagai orang yang memecah belah umat. Ini juga salah satu senjata bagi kelompok sesat. Seakan justru mereka yang sesat itulah pembuat dan penjaga persatuan umat. Padahal justru mereka yang sesat-sesat itulah yang memecah belah umat. Karena persatuan itu hanya ada di atas keimanan yang benar. Sebagaimana Allah telah tegaskan:

فَإِنْ ءَامَنُوا بِمِثْلِ مَا ءَامَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ(137)

“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.( Qs Al-Baqarah : 137).

Kita juga harus menyadari bahwa yang menyatukan hati itu adalah Allah, bukan kita.

وَإِنْ يُرِيدُوا أَنْ يَخْدَعُوكَ فَإِنَّ حَسْبَكَ اللَّهُ هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ(62)

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ(63)

Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mu’min, dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al-Anfaal: 62, 63).

Adanya persatuan itupun hanya kalau berada pada ketaatan kepada Alllah dan Rasul-nya. Bila tidak, maka akan cerai berai. Dalam hadits ditegaskan:

عَنْ أَبِي الْقَاسِمِ الْجُدَلِيِّ قَالَ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ يَقُولُ أَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى النَّاسِ بِوَجْهِهِ فَقَالَ أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ ثَلَاثًا وَاللَّهِ لَتُقِيمُنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ قَالَ فَرَأَيْتُ الرَّجُلَ يَلْزَقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَرُكْبَتَهُ بِرُكْبَةِ صَاحِبِهِ وَكَعْبَهُ بِكَعْبِهِ.

Dari Abil Qosim Al-Judali ia berkata, saya mendengar Nu’man bin Basyir berkata, Rasulullah saw menghadapkan wajahnya kepada para manusia, lalu beliau bersabda: Tegakkanlah shaf-shaf (barisan shalat) kalian (diucapkan) tiga kali. Wallahi, kamu sekalian mau menegakkan shaf-shafmu atau (kalau kalian tidak mau) maka Allah pasti akan mencerai beraikan di antara hati-hati kalian.” Nu’man berkata, maka aku lihat orang lelaki melekatkan pundaknya dengan pundak temannya (dalam shaf shalat), dengkulnya dengan dengkul temannya, dan mata kakinya dengan mata kaki temannya.” (HR Abu Dawud dan Ahmad, sanadnya terpercaya).

Di hadits itu, Nabi saw mengancam, kalau jama’ah shalat tidak mau meluruskan dan merapatkan shafnya maka Allah akan mencerai beraikan antara hati mereka. Imam An-Nawawi menjelaskan, yakni menjatuhkan dalam permusuhan, benci membenci, dan perselisihan hati.

Dengan demikian, anugerah Allah berupa persatuan hati kaum mukminin itu erat kaitannya dengan benarnya amal ibadah dan ketaatan mereka kepada Allah dan RasulNya. Sebaliknya, ketidak taatan dan kesesatan (tidak pada jalan yang benar) mengakibatkan datangnya perpecahan hati di antara umat.

Pengertian sesat

Sesat atau kesesatan itu bahasa Arabnya dholal. Yaitu setiap yang menyimpang dari jalan yang dituju (yang benar) dan setiap yang berjalan bukan pada jalan yang benar, itulah kesesatan. Demikian menurut Tafsir At-Thobari Juz 1 halaman 84.

Dalam Al-Qur’an disebutkan, setiap yang di luar kebenaran itu adalah sesat. Allah SWT berfirman:

فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ(32).

“…maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)? (QS Yunus: 32).

Kebenaran itu datangnya dari Allah. Sebagaimana telah Allah tegaskan:

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ(147).

Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS Al-Baqarah: 147).

Apa-apa yang dari Tuhan berupa kebenaran itu disampaikan kepada manusia ini lewat wahyu Allah yang diberikan kepada Nabi Muhammad saw. Dalam hadits dijelaskan:

16546 حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ قَالَ أَخْبَرَنَا حَرِيزٌ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي عَوْفٍ الْجُرَشِيِّ عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ الْكِنْدِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا إِنِّي أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ أَلَا إِنِّي أُوتِيتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ. (أحمد).

Hadits dari Miqdam bin Ma’di Karib Al-Kindi yang berkata, Rasulullah saw bersabda: Ingatlah sesungguhnya aku diberi Al-Kitab (Al-Qur’an) dan yang sesamanya bersamanya. Ingatlah sesungguhnya aku diberi Al-Qur’an dan yang sesamanya bersamanya. (HR Ahmad).

Hadits itu menjelaskan bahwa Nabi saw diberi wahyu berupa Al-Qur’an dan wahyu yang sesamanya besertanya, yaitu wahyu berupa hadits. Sehingga Al-Qur’an dan Al-Hadits yang menjadi sumber Islam itu sebenarnya adalah wahyu dari Allah. Maka benarlah bahwa Islam itu agama dari sisi Allah, karena memang berupa wahyu dari Allah SWT.

Dari pengertian tersebut maka hal-hal yang tidak sesuai atau menyimpang dari Al-Qur’an dan Al-Hadits/ As-Sunnah itu adalah kesesatan.

Meskipun demikian, orang masih ada yang bertanya lagi, Al-Qur’an dan as-Sunnah yang jalan pemahaman/ penafsirannya (manhajnya) model siapa?

Pertanyaan itu sudah ada jawabannya, yakni dalam hadits tentang 73 golongan:

َ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلَانِيَةً لَكَانَ فِي أُمَّتِي مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مُفَسَّرٌ لَا نَعْرِفُهُ مِثْلَ هَذَا إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ.

Dari Abdullah bin Amr, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Pasti akan datang kepada umatku apa yang telah datang kepada Bani Israel, persisnya seperti satu sandal dengan sandal lainnya (ukuran dan potongannya sama) sehingga apabila di antara mereka ada orang yang mendatangi ibunya (menggauli) secara terang-terangan pasti ada di umatku orang yang berbuat begitu. Dan sesungguhnya Bani Israel telah terpecah menjadi 72 golongan, dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan semuanya di dalam neraka kecuali satu golongan. Mereka (para sahabat) bertanya, “Siapakah dia (golongan yang satu itu) wahai Rasulallah?” Beliau menjawab, “(Mereka yang mengikuti apa) yang aku dan sahabatku berada di atasnya.” (Sunan At-Tirmidzi, 2641, hadits hasan gharib, dan banyak hadits lain sebagai penguat).

Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan berkomentar, ketika beliau saw ditanya tentang siapakah satu yang selamat itu, beliau menjawab, mereka adalah orang-orang yang menempuh jalan seperti yang aku dan sahabatku tempuh. Maka barangsiapa yang tetap di atas jalan yang ditempuh Rasul saw dan para sahabatnya, maka dia termasuk yang selamat dari neraka. Dan barangsiapa yang menyelisihi dari hal tersebut sesungguhnya dia diancam dengan neraka sesuai dengan kadar jauhnya dari alhaq. Jika penyimpangannya termasuk dari kekafiran dan kemurtadan, maka dia termasuk penghuni neraka yang kekal di dalamnya. Dan jika penyimpangannya selain itu, maka dia diancam dengan neraka, akan tetapi tidak kekal di dalamnya, selama penyimpangannya tidak mengeluarkannya dari iman dan dia tetap diancam dengan ancaman yang keras. Dan tidaklah selamat dari ancaman ini kecuaali satu golongan dari 73 golongan yaitu “golongan yang selamat” yang dia berpijak dengan apa yang ditempuh oleh Rasul saw dan para sahabatnya, yaitu di atas Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya saw, manhaj yang selamat serta hujjah yang jelas.

Inilah jalan yang Rasul saw tempuh, sehingga Allah swt berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ(100)

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (QS At-Taubah: 100).

Allah swt berfirman:

وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ

dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Hal ini menunjukkan bahwa akhir umat ini dituntut mengikuti manhaj (jalan/ sistem pemahaman Islam) orang-orang terdahulu, lagi yang pertama-tama (masuk Islam) baik dari orang-orang Muhajirin maupun Anshar yaitu manhaj Rasul saw dan apa-apa yang dibawa oleh beliau saw.

Barangsiapa yang menyelisihi manhaj (sitem pemahaman Islam) orang-orang terdahulu dan pertama-tama masuk Islam yakni orang-orang Muhajirin dan Anshar, maka dia termasuk orang-orang yang sesat. (Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, Lamhah ‘anil firaq adh-dhaallah, Membongkar Firqah-Firqah Sesat, terjemahan Abu Ahmad, Pustaka As-Salaf, Solo, cetakan pertama, 1999, halaman 25-27).

Biang kesesatan

Dari kapan kesesatan itu ada dan apa biangnya?

Tentang dari kapan tentunya perlu penelitian untuk menjawabnya. Namun untuk mengungkap dalam kaitan siapa yang paling sesat dan apa penyebab utamanya maka bisa dijawab bahwa yang paling sesat adalah orang-orang Nasrani, menurut Ibnu taimiyyah, sedang penyebab utamanya adalah ghuluw (melampaui batas). Allah swt berfirman:

قُلْ يَاأَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ(77)

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (Al-Maaidah: 77).

Dalam hadits ada penjelasan tentang rusaknya agama umat terdahulu.

Nabi saw bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّينِ. (أخرجه أحمد والنسائي وابن ماجه وغيرهم إسناده صحيح ورجاله ثقات)

“Jauhilah olehmu sekalian sikap melampaui batas (di dalam agama). Karena sesungguhnya rusaknya orang sebelum kamu sekalian hanyalah karena ghuluw/ melampaui batas dalam agama. (HR Ahmad, An-Nasai, Ibnu Majah dan lainnya, sanadnya shahih, dan rijalnya kuat).

Ibnu Taimiyyah sebagaimana dikutip Al-Munawi dalam Faidhul Qodir mengatakan: “Jauhilah olehmu sekalian ghuluw/ melampaui batas di dalam agama” itu adalah umum mengenai segala macam ghuluw dalam I’tiqad/ keyakinan dan perbuatan. Ghuluw adalah mujawazatul haddi (melampaui batas), dengan menambah dalam memuji atau mencela sesuatu melebihi apa yang sebenarnya. Demikian pula hal-hal semacamnya. Orang-orang Nasrani lah yang paling banyak melampaui batas dalam kepercayaan dan perbuatan di antara seluruh kelompok (yang ada), maka jauhilah mereka. Allah telah melarang sikap berlebih-lebihan, dengan firman-Nya dalam Al-Qur’an: “…janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu.” (QS Al-Maaidah: 77). (Faidhul Qadir juz 3 halaman 126). [3]

Sesat ramai-ramai dan sendiri

Orang yang sesat itu menurut Al-Qur’an ada yang disebutkan secara banyak orang, ada yang secara perorangan (sendiri). Yang disebutkan berupa banyak orang itu bisa jadi mereka itu berlaku sesat secara bersama-sama, dan bisa pula sendiri-sendiri. Demikian pula yang disebutkan secara perorangan itu bisa hanya dilakukan sendiri saja, bisa pula bareng-bareng dengan lainnya, atau satu sama lain melakukan kesesatan yang sama, namun tidak ada komando. Kesesatan yang disebutkan dengan banyak orang di antaranya:

Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (QS Al-Kahfi/ 18: 104).

Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. (QS Al-Kahfi/ 18: 105).

Kesesatan yang disebutkan secara perorangan di antaranya:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ(11).

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS Al-Hajj: 11).


[1] Makalah ini disampaikan dalam seminar Anti Aliran Sesat, di Aula Student Center FEUI (Fakultas Ekonomi Universiatas Indonesia) Depok, Jawa Barat, Senin 10 Ramadhan 1430H/ 31 Agustus 2009. Pembicara dari MUI (Majelis Ulama Indonesia), Aminuddin Ya’qub, menjelaskan bahwa MUI selama ini masih menyatakan LDII itu aliran sesat karena jelmaan dari Islam Jama’ah yang telah difatwakan sesat. Namun pihak LDII menyatakan kepada MUI bahwa sekarang LDII telah berubah. Apakah benar LDII sudah berubah, sekarang masih dalam proses untuk menentukannya. Terhadap keterangan pembicara dari MUI itu ada yang langsung membacakan sebuah Majalah Hidayatullah Edisi Juli 2009/ Rajab 1430 berjudul MUI Telah Dibohongi. (Di antara isi judul itu adalah) Agus Suwarno mantan LDII yang keluar akhir tahun 2008 menyatakan, bagi LDII bersumpah palsu terhadap orang-orang kafir di luar jamaah LDII diperbolehkan. Ini pernah dilakukan pengurus LDII di hadapan MUI Pusat. “Meskipun sudah bersumpah, (bahwa) tidak ada lagi bai’at dan mengkafir-kafirkan orang lain di depan MUI, tapi sumpah itu boleh dilanggar karena MUI bukan orang LDII,” ujar Agus. Agus sendiri mengaku siap dihadapkan dengan petinggi LDII untuk mempertanggung jawabkan pernyataannya. (Majalah Hidayatullah, edisi 03/ XXII/ Juli 2009/ Rajab 1430, halaman 32).

[2] hingga penampilan bahkan festival barongsai marak di mana-mana. Tentang Konghuchu itu apakah memang agama atau hanya budaya, perlu diteliti. Saya pernah bertanya kepada seorang Cina dalam perjalanan ke Medan, apakah Konghuchu itu agama, dia jawab bahwa Konghu (sebutan singkat untuk Konghuchu) itu bukan agama, tapi budaya. “Agama saya Budha, tetapi adat Konghu dipakai juga,’ ujarnya. Itu pengakuan seseorang, dan bukan seorang ahli. Maka masih diperlukan penjelasan yang pasti.

[3] قال ابن تيمية قوله إياكم والغلو في الدين عام في جميع أنواع الغلو في الاعتقادات والأعمال والغلو مجاوزة الحد بأن يزاد في مدح الشيء أو ذمه على ما يستحق ونحو ذلك والنصارى أكثر غلوا في الاعتقاد والعمل من سائر الطوائف وإياهم نهى الله عن الغلو في القرآن بقوله تعالى لا تغلوا في دينكم المائدة وسبب هذا الأمر العام رمي الجمار وهو داخل فيه مثل الرمي بالحجارة الكبار على أنه أبلغ من الصغار ثم علله بقوله بما يقتضي أن مجانبة هديهم مطلقا أبعد عن الوقوع فيما به هلكوا وأن المشارك لهم في بعض هديهم يخاف عليه الهلاك حم ن ه ك عن ابن عباس ورواه عنه أيضا ابن منيع والحلواني والديلمي وغيرهم قال ابن تيمية هذا إسناد صحيح على شرط مسلم (فيض القدير ج: 3 ص: 126).