Ketika Aparat-aparat Berselingkuh

Ada yang mati berdua berpelukan di kamar hotel masih pakai pakaian seragam

Kemerdekaan Indonesia diperoleh atas berkat dan rahmat Allah Ta’ala dan dipertahankan oleh darah dan nyawa para pahlawan. Namun sayang seribu kali sayang, setelah kemerdekaan berkelanjutan, aparaturnya ada yang diduga gemar berselingkuh (berzina). Ironisnya lagi, ada saja dari pendapat ahli yang ‘membenarkan’ perilaku gemar selingkuh itu dengan menyebutnya sebagai rekreasi yang biasa terjadi di kalangan para aparatur akibat adanya tekanan pekerjaan dan tanggung jawab yang tinggi. Bahkan, berselingkuh (berzina) kadang sudah menjadi paket gratifikasi (hadiah kerja) tersendiri yang diberikan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan para aparat itu sendiri.

Tulisan berikut ini hanya mengungkap secuplik kasus perselingkuhan yang terjadi di kalangan sebagian aparat. Dan aparat yang berhasil diungkap kasusnya oleh media massa lebih sering aparat kelas teri.

Di Sumatera Barat, akhir Januari 2010 lalu, tiga aparat di lingkungan Kabupaten Mentawai terancam dipecat karena perselingkuhan. Ketiganya adalah Tarminta Sakerebau (Kepala Bappeda, yang juga merangkap jabatan Plt –pelaksana tugas- Kepala Dinas Pendidikan Nasional Pemda Mentawai), Nurdin (Asisten Tata Praja atau assisten I Pemkab yang juga merangkap Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah), dan Halomoan Pardede (Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Keluarga Berencana).

Perselingkuhan ketiga aparat tersebut sudah lama menjadi pembicaraan di kalangan PNS (pegawai negeri sipil) Mentawai. Bupati Mentawai kala itu sudah merekomendasikan tiga hal, yaitu: dipecat dengan tidak hormat, dipecat dengan hormat dan mendapat hak pensiun, pencopotan dari jabatan. (okezone, Kamis, 28 Januari 2010 – 13:23 wib).

Di lingkungan Pemkab Barito Utara, Kalimantan Tengah, terjadi perselingkuhan yang dilakoni salah seorang oknum aparatnya, dan uniknya perselingkuhan itu diungkap dan dibeberkan kepada sejumlah wartawan oleh istri sah oknum aparat tadi.

Di hadapan sejumlah insan pers, Kamis 4 Maret 2010, sang istri oknum aparat tadi mengatakan, dirinya sudah tidak tahan terus disakiti oleh sang suami yang berselingkuh dengan seorang wanita pemilik salon kecantikan di Buntok Kabupaten Barito Selatan, dan perselingkuhan itu sudah berjalan cukup lama.

Sang istri membeberkan perselingkuhan suaminya ini ke media, dengan harapan ada kesadaran dan keinsyafan yang timbul dari sang suami. Namun ia belum berani melaporkan kasus perselingkuhan itu ke atasan suaminya, karena takut dipecat dari jabatannya.

Mungkin, perselingkuhan sang oknum aparat Pemkab Barito Utara ini merupakan dampak negatif dari istri yang bekerja. Sebagaimana diberitakan media massa, istri sang oknum aparat tadi bekerja sebagai PNS di salah satu instansi di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Suami-istri sama-sama bekerja sebagai PNS di tempat yang berbeda.

Perselingkuhan ada kalanya berujung kepada kematian. Hal ini sebagaimana terjadi di antara dua PNS di Depok, Jawa Barat. Pada hari Selasa sore tanggal 18 Mei 2010, dua PNS di lingkungan Pemerintah Kota Depok, tewas di kamar 30-A Hotel Parung Transit, Bogor, Jawa Barat. Keduanya tewas dalam keadaan saling berpelukan dengan seragam lengkap PNS.

Diduga, keduanya tewas akibat keracunan karbonmonoksida lantaran posisi kamar hotel yang mereka tempati berada tepat di atas garasi mobil. Gas racun karbonmonoksida diperkirakan berasal dari mobil dinas yang mereka gunakan dan terparkir di garasi dalam kondisi hidup, kemudian gas beracun itu masuk melalui AC kamar. Penyebab kematian juga diduga akibat overdosis menggunakan obat kuat.

Korban pertama adalah I Y istri dari Teddy Hasanudin (mantan Camat Sawangan yang kini menjabat sebagai Kabid Trantib Satpol PP Kota Depok). Selama ini Ine dikenal sebagai guru. Ia sudah mengabdi selama 20 tahun. Selain cantik, Ine juga dikenal sebagai guru andalan. Delapan tahun belakangan, Ine mengajar di SD Pasir Putih 3 Sawangan Depok sebagai seorang guru Bahasa Sunda. Terakhir, Ine Y berada pada golongan III-B. Di Kelurahan, dengan pangkat setingkat itu paling rendah bisa menjabat Wakil Lurah.

Sedangkan korban kedua adalah Spyt (Sekretaris Bina Perhubungan Kota Depok). Selama ini Spyt dikenal sebagai sosok pemimpin yang bijaksana dan tegas terhadap anggotanya. Keduanya masuk ke hotel sekitar pukul 11:00 wib dan ditemukan dalam keadaan tewas oleh room boy hotel sekitar pukul 14:30 wib.

Dari Maluku, ada anggota DPRD yang berselingkuh digerebek istrinya sendiri. Hal ini sebagaimana terjadi pada Yusri Arifin (50 tahun), anggota DPRD Maluku dari Fraksi Golkar; yang kedapatan berselingkuh dengan Nurmaya Thalib (40 tahun) PNS Dinas Perindustrian dan Koperasi Halmahera Selatan. Perselingkuhan berlangsung di Jakarta, jauh dari kampung halaman mereka.

Bermula dari informasi yang diperoleh Nailah Ibrahim (istri Yusri Arfin) bahwa sang suami sedang berada di kawasan jalan Mardani Raya No 36, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, bersama pasangan selingkuhnya. Informasi itu diteruskan Nailah ke Polres Jakarta Pusat. Bersama aparat polisi, Nailah ikut melakukan penggerebekan, sekitar pukul 20:30 wib, hari Kamis tanggal 27 Mei 2010. Dari situ kedua pasangan selingkuh tertangkap tangan sedang melakukan zina.

Bila Menteri Berselingkuh

Rakyat Merdeka Online edisi Ahad, 29 Agustus 2010 pernah memberitakan tentang dugaan perselingkuhan yang dilakukan seorang Menteri KIB II (Kabinet Indonesia Bersatu jilid dua) dengan sekretaris pribadinya. Sang menteri yang dituding adalah D Z. S (Menteri Energi dan Sumber Daya Manusia). Konon perselingkuhan itu sudah berlangsung sejak setahun sebelumnya, ketika sang menteri masih berada di satu pos kementerian pada Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) I.

Sedangkan Banjarmasinpost edisi Kamis, 2 September 2010 pernah memberitakan tentang perselingkuhan antara Freddy Numberi (Menteri Perhubungan KIB II), dengan Risty Rustarto (jurnalis TVRI). Jalinan perselingkuhan diantara keduanya dikabarkan terjadi sejak acara WOC 2009 di Manado. Dugaan perselingkuhan ini sudah diakui oleh istri Freddy Numberi (01 Agustus 2010), bahkan sang istri sudah pula melaporkan kepada Ibu Ani Yudhoyono. Namun, sebulan kemudian (02 September 2010), sang istri membantah adanya perselingkuhan itu.

Begitulah faktanya. Bila dugaan perselingkuhan itu terjadi di tingkat atas, sebisa mungkin diredam. Bahkan Anni Numberi yang semula menjadi sumber pertama dan utama kasus dugaan perselingkuhan suaminya Freddy Numberi dengan Risty Ristarto, setelah menghadap dan melaporkan keadaan kepada ibu negara, justru berubah bahasa: “Maaf ya, saya tidak pernah diwawancarai. Itu semua tidak benar…”

Tapi, kalau perselingkuhan itu terjadi di tingkat yang rendah, justru cepat diproses dan diambil tindakan, sebagaimana terjadi di Kabupaten Penajam, Kalimantan Timur. Menurut pemberitaan metrobalikpapan edisi 20 September 2010, terdapat 8 oknum PNS golongan II dan III terbukti menjalin asmara terlarang atau berselingkuh. Kedelapan orang itu, terdiri dari 3 laki-laki dan 5 perempuan, mereka langsung dikenai sanksi tegas oleh atasannya berupa penurunan pangkat.

Masih mending, sanksi tegas datangnya dari atasan dan ‘hanya’ berupa penurunan pangkat. Lebih parah lagi, bila ‘sanksi’ tegas justru datangnya dari bawahan sendiri terhadap atasan yang berselingkuh.

Hal tersebut sebagaimaan terjadi di Depok. Dua pejabat satpol PP Depok (IP dan DJ), pada 16 Agustus 2010 lalu kedapatan berselingkuh di dalam mobil yang diparkir di RS Hermina Jalan Sriwijaya, Kota Depok, pada malam hari di bulan puasa. Perbuatan mereka dipergoki petugas parkir. IP sempat berusaha menyogok petugas parkir dengan iming-iming uang Rp 15 juta, namun ditolaknya.

IP (35 tahun) adalah pejabat eselon III yang menjabat sebagai Kepala Bidang, dan sudah beristri. Sedangkan wanita pasangan selingkuhnya adalah DJ (28 tahun) pejabat eselon IV, sudah bersuami dan punya dua anak.

Kelakuan keduanya baru diketahui rekan-rekan kerja mereka sekitar tanggal 22 September 2010. Dua hari kemudian, Jum’at pagi tanggal 24 September 2010, terjadi aksi anarkis: puluhan anggota Satpol PP merangsek mengambil papan nama IP dan DJ, lalu membakar papan nama itu di pelataran gedung patpol PP, ruangan kerja IP dan DJ diobrak-abrik.

Selain itu, para anak buah ini menandatangani surat pernyataan yang isinya meminta IP dan DJ dipecat. Belum cukup sampai di situ, puluhan anggota Satpol PP ini juga berunjuk rasa di depan Kantor Walikota Depok, menuntut walikota memecat keduanya.

Begitulah adanya. Meski sama-sama selingkuh, jika perselingkuhan itu terjadi di tingkatan yang lebih rendah, maka ‘sanksi’ tegasnya jauh lebih dahsyat. Tidak hanya didemo, dipermalukan, juga dipecat. Padahal, di mata Islam perselingkuhan siapapun pelakunya, sama-sama dikenai hukum yang setimpal.

Hukuman bagi orang yang berzina, kalau itu zina muhshon (laki-laki ataupun perempuan) sudah pernah menikah dan bersetubuh karena nikahnya itu lalu dia berzina maka dirajam, dilempari batu sampai mati. Sedang kalau yang berzina itu orang yang belum pernah nikah (ghairu muhshon) maka hukumannya dijilid atau didera yakni dicambuk 100 kali dan diasingkan setahun.

Inilah penjelasannya:

Hukum Rajam dalam Islam

وقال بن بطال أجمع الصحابة وأئمة الأمصار على أن المحصن إذا زنى عامدا عالما مختارا فعليه الرجم ودفع ذلك الخوارج وبعض المعتزلة واعتلوا بأن الرجم لم يذكر في القرآن وحكاه بن العربي عن طائفة من أهل المغرب لقيهم وهم من بقايا الخوارج واحتج الجمهور بأن النبي صلى الله عليه وسلم رجم وكذلك الأئمة بعده ولذلك أشار علي رضي الله عنه بقوله في أول أحاديث الباب ورجمتها بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم وثبت في صحيح مسلم عن عبادة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال خذوا عني قد جعل الله لهن سبيلا الثيب بالثيب الرجم. )فتح الباري ج: 12 ص: 118 )

Ibnu Bathol berkata, para sahabat dan para imam kota-kota besar bersepakat bahwa orang-orang muhshon (yang sudah pernah nikah dan bersetubuh karena pernikahannya, pen) apabila ia berzina dengan sengaja, secara tahu, atas kehendaknya sendiri (tidak ada paksaan atasnya) maka wajib dikenakan atasnya rajam. Orang-orang Khawarij dan sebagian orang Mu’tazilah menolak hukuman itu, dan mereka beralasan bahwa rajam itu tdak disebutkan dalam Al-Qur’an. Dikisahkan hal itu oleh Ibnul Arabi (ahli tafsir, bukan tokoh shufi yang bernama Ibnu Arabi, pen) dari segolongan penduduk Maghribi, ia jumpa mereka sedang mereka termasuk sisa-sisa orang khawarij.

Jumhur ulama berargumentasi bahwa Nabi saw telah merajam, begitu juga para imam sesudahnya. Oleh karena itu Ali radhiyallahu ‘anhu menunjukkan dengan perkataannya pada awal bab ini “dan aku merajamnya dengan (berlandaskan) sunnah Rasul saw”. Dan telah tetap (shahihnya) dalam kitab Shahih Muslim (riwayat) dari Ubadah bahwa Nabi saw bersabda,

خُذُوا عَنِّي: قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَهُنَّ سَبِيلا: الثَّيِّبُ بِالثَّيِّبِ، وَالْبِكْرُ بِالْبِكْرِ، الثَّيِّبُ جَلْدُ مِائَةٍ ثُمَّ رَجْمٌ بِالْحِجَارَةِ، وَالْبِكْرُ جَلْدُ مِائَةٍ ثُمَّ نَفْيُ سَنَةٍ. رواه مسلم)

“Ambillah dariku yang telah Allah jadikan sebagai jalan (keluar) untuk mereka (dalam kasus zina) wanita yang sudah nikah dengan laki-laki yang telah nikah, dan gadis dengan bujang. Yang sudah pernah nikah dijilid (dicambuk) 100 kali kemudian dirajam dengan batu (sampai mati), dan gadis / bujang dijilid (dicambuk) 100 kali kemudian diisolir (diasingkan) setahun. (HR Muslim). (Fathul Bari juz 12 hal 118).

(tede/ haji)

(nahimunkar.com)