{بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ} [الحشر: 14]

Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti. (QS Al-Hasyr/ 59: 14).

Inilah beritanya.

***

Ketika Pastor Jesuit Gigih Bela Syiah Dan Ahmadiyah

By Pizaro on May 24, 2013 pastor

DIPO Alam kembali menjadi pembicaraan. Ucapannya kembali menjadi pemberitaan. Kali ini sasarannya bukan para lawan politik SBY, tapi Franz Magnis Suseno. Pasalnya tokoh Kristen Jesuit itu melakukan protes atas penghargaan negarawan dunia 2013 kepada Presiden SBY oleh Appeal of Conscience Foundation (ACF).

Dipo balik protes kepada Profesor Filsafat Driyarkara itu yang menilai SBY tidak layak menerima penghargaan karena abai membela kaum minoritas di Indonesia. Franz mengambil sample Syiah, Ahmadiyah, dan GKI Yasmin.

Dipo mengingatkan bahwa rakyat Indonesia berjumlah 250 juta orang. Ia meminta agar jangan hanya melihat Indonesia dari media yang memberitakan masalah kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah, Syiah, umat Kristiani, dan lainnya.

“Jangan masalahnya andai kata Ahmadiyah, Syiah, Gereja GKI Yasmin dibawa-bawa. Kita 250 juta orang. Jangan hanya melihat yang ada di televisi, misalnya bakar-bakaran. Jadi kata-kata Pak Magnis, dia matanya dangkal, melihat Indonesia seolah-olah hanya ada di TV,” kata Dipo.

“Kan, Ahmadiyah konfliknya dari dulu, sejak zaman Bung Karno sudah ada. Bahkan sejak zaman Jepang. Masalah mayoritas-minoritas janganlah diperdebatkan. Kita negara demokrasi, tidak mudah misalnya mayoritas di suatu daerah, ada pendirian rumah ibadah (minoritas). Di beberapa negara juga begitu,” kata Dipo

Meski seorang Pastor, Franz sangat sering ikut urusan persoalan umat Islam, terutama dalam pembelaaanya kepada Syiah dan Ahmadiyah. Tanpa melihat perasaan umat Islam yang berang akidahnya dicatut oleh kedua aliran itu, tokoh yang pernah mengikuti sabbatical year di Paroki Hati Kudus Yesus di Sukoharjo Jawa Tengah itu tetap menerjang membela kedua aliran sesat yang difatwa sesat oleh MUI dan para tokohnya.

Pria kelahiran 1926 itu menuturkan ratusan orang Ahmadiyah dan Syiah yang dianggap sesat diusir dari tempat tinggal mereka. Akibatnya, mereka mengungsi ke tempat-tempat seperti ruang olahraga. Bahkan, ada beberapa kasus terbunuhnya orang Ahmadiyah dan Syiah. “Sehingga muncul pertanyaan apakah Indonesia akan memburuk kondisinya seperti Pakistan dan Irak di mana setiap bulan orang Syiah dibunuh karena motivasi agama?” tulis Franz Magnis. Dalam surat protesnya.

Bila hadiah ini tetap diberikan kepada SBY, kata Franz, hal tersebut sungguh akan memalukan. “Ini mendiskreditkan seluruh klaim Anda sebagai lembaga yang bertujuan moral,” katanya.

Menarik memang dalam situsnya, ACF justru didirikan oleh Rabbi Arthur Schneier pada 1965. Lembaga menyebut diri sebagai organisasi yang mempromosikan perdamaian, demokrasi, toleransi, dan dialog antarkepercayaan yang berbasis di New York, Amerika Serikat. Ya, organisasi yang justru punya concern sama dengan Franz Magnis Soeseno./ http://islampos.com

 (nahimunkar.com)

{بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ} [الحشر: 14]

Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti. (QS Al-Hasyr/ 59: 14).

Inilah beritanya.

***

 

 

Ketika Pastor Jesuit Gigih Bela Syiah Dan Ahmadiyah

By Pizaro on May 24, 2013

 

DIPO Alam kembali menjadi pembicaraan. Ucapannya kembali menjadi pemberitaan. Kali ini sasarannya bukan para lawan politik SBY, tapi Franz Magnis Suseno. Pasalnya tokoh Kristen Jesuit itu melakukan protes atas penghargaan negarawan dunia 2013 kepada Presiden SBY oleh Appeal of Conscience Foundation (ACF).

Dipo balik protes kepada Profesor Filsafat Driyarkara itu yang menilai SBY tidak layak menerima penghargaan karena abai membela kaum minoritas di Indonesia. Franz mengambil sample Syiah, Ahmadiyah, dan GKI Yasmin.

Dipo mengingatkan bahwa rakyat Indonesia berjumlah 250 juta orang. Ia meminta agar jangan hanya melihat Indonesia dari media yang memberitakan masalah kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah, Syiah, umat Kristiani, dan lainnya.

“Jangan masalahnya andai kata Ahmadiyah, Syiah, Gereja GKI Yasmin dibawa-bawa. Kita 250 juta orang. Jangan hanya melihat yang ada di televisi, misalnya bakar-bakaran. Jadi kata-kata Pak Magnis, dia matanya dangkal, melihat Indonesia seolah-olah hanya ada di TV,” kata Dipo.

“Kan, Ahmadiyah konfliknya dari dulu, sejak zaman Bung Karno sudah ada. Bahkan sejak zaman Jepang. Masalah mayoritas-minoritas janganlah diperdebatkan. Kita negara demokrasi, tidak mudah misalnya mayoritas di suatu daerah, ada pendirian rumah ibadah (minoritas). Di beberapa negara juga begitu,” kata Dipo

Meski seorang Pastor, Franz sangat sering ikut urusan persoalan umat Islam, terutama dalam pembelaaanya kepada Syiah dan Ahmadiyah. Tanpa melihat perasaan umat Islam yang berang akidahnya dicatut oleh kedua aliran itu, tokoh yang pernah mengikuti sabbatical year di Paroki Hati Kudus Yesus di Sukoharjo Jawa Tengah itu tetap menerjang membela kedua aliran sesat yang difatwa sesat oleh MUI dan para tokohnya.

Pria kelahiran 1926 itu menuturkan ratusan orang Ahmadiyah dan Syiah yang dianggap sesat diusir dari tempat tinggal mereka. Akibatnya, mereka mengungsi ke tempat-tempat seperti ruang olahraga. Bahkan, ada beberapa kasus terbunuhnya orang Ahmadiyah dan Syiah. “Sehingga muncul pertanyaan apakah Indonesia akan memburuk kondisinya seperti Pakistan dan Irak di mana setiap bulan orang Syiah dibunuh karena motivasi agama?” tulis Franz Magnis. Dalam surat protesnya.

Bila hadiah ini tetap diberikan kepada SBY, kata Franz, hal tersebut sungguh akan memalukan. “Ini mendiskreditkan seluruh klaim Anda sebagai lembaga yang bertujuan moral,” katanya.

Menarik memang dalam situsnya, ACF justru didirikan oleh Rabbi Arthur Schneier pada 1965. Lembaga menyebut diri sebagai organisasi yang mempromosikan perdamaian, demokrasi, toleransi, dan dialog antarkepercayaan yang berbasis di New York, Amerika Serikat. Ya, organisasi yang justru punya concern sama dengan Franz Magnis Soeseno./ http://islampos.com

(nahimunkar.com)