فضل قيام ليالي رمضان

كتاب قيام رمضان  المؤلف محمد ناصر الد ين الالباني رحمه الله

 

Apa keutamaan qiyam Ramadhan?

Alhamdulillah.

Keutamaan shalat pada malam-malam bulan Ramadhan adalah;

Dari Abu Hurairah radhiallahu ’anhu, dia berkata: Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan menunaikan qiyam Ramadhan tanpa memerintahkan dengan kuat (baca: bukan wajib). Kemudian beliau bersabda:

« مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ».

”Barangsiapa yang menunaikan shalat malam di bulan Ramadhan dengan iman dan mengharap (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”

Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan pelaksanaannya tetap seperti itu (yakni meninggalkan berjama’ah dalam Taraweh), kemudian terus seperti itu pada zaman khalifah Abu Bakar radhiallahu ’anhu dan di permulaan kekhalifahan Umar radhiallahu ’anhu.

و عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ الْجُهَنِيِّ ، قَالَ:

جَاءَ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم رَجُلٌ مِنْ قُضَاعَةَ ، فَقَالَ لَهُ : يَا رَسُولَ اللهِ ، أَرَأَيْتَ إِنْ شَهِدْتُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ، وَأَنَّكَ رَسُولُ اللهِ ، وَصَلَّيْتُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ ، وَصُمْتُ الشَّهْرَ ، وَقُمْتُ رَمَضَانَ ، وَآتَيْتُ الزَّكَاةَ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم : مَنْ مَاتَ عَلَى هَذَا كَانَ مِنَ الصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ. “

Dari Amr bin Murroh Al-Juhany, dia berkata: Ada seseorang dari suku Qudho’ah datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu bertanya: “Wahai Rasulullah! Bagaimana pendapat anda kalau sekiranya saya bersaksi tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan sesungguhnya engkau adalah Muhammad utusan Allah, lalu saya menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menunaikan qiyam Ramadhan dan saya mengeluarkan zakat?”, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersada: “Barangsia yang meninggal dunia dalam kondisi seperti ini, maka dia termasuk orang-orang shiddiq (jujur) dan syuhada (orang yang mati syahid).

Lailatul qadar dan Ketetapan Waktunya:

1.      Sebaik-baik malam Ramadhan adalah Lailatul qadar, berdasarkan sabda Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada Lailatul Qadar (kemudian dia ditakdirkan dapat menemuinya) dengan iman dan harap akan pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Muttafaq alaihi)

2.      Ia adalah malam kedua puluh tujuh di bulan Ramadhan menurut pendapat yang paling kuat. Dan kebanyakan hadits menunjukkan seperti itu. Di antaranya hadits Zir bin Hubaisy, dia berkata: Aku mendengar Ubay bin Ka’ab berkata –dikatakan kepadanya- : Sesungguhnya Abdullah bin Mas’ud berkata: “Barangsiapa yang menunaikan sunnah, dia akan mendapatkan Lailatul Qadar! Kemudian Ubay radhiyallahu ‘anhu berkata: “Semoga Allah merahmati beliau, dia menginginkan agar orang-orang tidak bergantung terhadapnya. Dan demi yang tiada tuhan yang berhak disembah selain Dia, sesungguhnya ia ada di bulan Ramadhan –dia bersumpah adanya pengecualian-, dan Demi Allah, sesungguhnya saya sungguh mengetahuinya malam apa itu? Dia adalah malam yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami untuk melaksanakannya. Dia adalah  malam yang di pagi harinya adalah hari ke dua puluh tujuh. Dan tanda-tandanya adalah matahari terbit di pagi harinya dengan cerah namun tidak terasa terik menyengat.” Riwayat ini bersambung sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya.

Anjuran berjama’ah dalam qiyamul lail:

Dianjurkan melaksanakan qiyam Ramadhan secara berjama’ah, bahkan (berjamaah) lebih utama  daripada (shalat) seorang diri. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri melaksanakannya dan menjelaskan keutamaannya dengan sabdanya. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Kami melaksanakan puasa bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam di bulan Ramadhan. Beliau tidak shalat bersama kita sedikitpun dalam bulan itu hingga tinggal tujuh (hari), lalu beliau menunaikan qiyam bersama kami sampai habis sepertiga malam. Ketika tinggal enam (hari), beliau tidak shalat bersama kami. Ketika tinggal lima (hari), beliau shalat bersama kami sampai habis pertengahan malan. Kemudian saya bertanya: “Wahai Rasulullah! bagaimana kalau engkau tambah untuk kami qiyam (semua) malam ini. Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya jika seseorang  shalat bersama imam sampai selesai, maka dihitung baginya qiyam semalam (penuh).” Maka ketika (tinggal hari) keempat, beliau tidak shalat (bersama kami). Dan ketika (tinggal hari) ketiga, beliau kumpulkan keluarga, istri-istrinya dan orang-orang. Dan beliau berdiri (shalat) bersama kami sampai kami khawatir  tidak mendapatkan falah (sahur). Saya bertanya: “Apa falah itu?” dia menjawab: “Sahur”. Kemudian beliau tidak shalat (lagi) bersama kami sisa bulan (Ramadhan). Hadits shaheh, dikeluarkan oleh ashabus sunan (pemilik kitab-kitab sunan).

Sebab tidak kontinyunya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (shalat qiyam) dengan berjama’ah di bulan Ramadhan, di antaranya:

Beliau khawatir hal itu (shalat malam) akan diwajibkan kepada umatnya di bulan Ramadhan. Sehingga mereka tidak sanggup menunaikannya sebagaimana dalam hadits Aisyah dalam dua kitab shahih  (Sahih Bukhari dan Muslim) dan di selainnya. Kekhawatiran ini telah lenyap bersamaan dengan wafatnya  beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah Allah sempurnakan syariat (Islam). Dengan demikian, maka ma’lul (tindakan karena adanya sebab) tidak berlaku lagi, yaitu meninggalkan jama’ah dalam qiyam Ramadhan, dan hukum yang  berlaku adalah dianjurkannya berjama’ah (dalam qiyam Ramadhan). Oleh karena itu, Umat Islam menghidupkan lagi sebagaimana dalam shahih Bukhari dan lainnya.

Dianjurkannya berjama’ah bagi para wanita

Dianjurkan bagi para wanita untuk menghadirinya, sebagaimana hadits Abu Dzar tadi, bahkan dibolehkan menjadikan wanita sebagai imam yang khusus untuk para wanita, bukan imam laki-laki.

Terdapat riwayat dari Umar radhiallahu ’anhu ketika mengumpulkan orang-orang untuk (menunaikan) qiyam, beliau menjadikan Ubay bin Ka’ab untuk para laki-laki dan Sulaiman bin Abu khotsmah untuk para wanita. Dan dari Arfaja Ats-Tsaqafi berkata: “Dahulu Ali bin Abu Thalib radhiallahu ’anhu  menyuruh orang-orang untuk menunaikan qiyam di bulan Ramadhan, dan menjadikan imam untuk para laki-laki dan imam untuk para wanita. Beliau berkata: Maka saya menjadi Imam para wanita.

Aku berkata: Hal ini menurutku apabila masjidnya luas, agar tidak mengganggu antara satu dengan yang lainnya.

Bilangan raka’at qiyam

Raka’atnya adalah sebelas raka’at. Kami memilih tidak ditambah untuk mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena beliau tidak menambahnya sampai meninggalkan dunia. Aisyah radhiallahu ’anha pernah ditanya tentang shalatnya Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) di bulan Ramadhan?, kemudian beliau berkata:

مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثًا (أخرجه الشيخان وغيرهما)

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah (bilangan raka’at) baik di bulan Ramadhan atau selainnya dari sebelas raka’at. Maka beliau shalat empat raka’at, jangan anda bertanya akan bagus dan lamanya. Kemudian shalat empat raka’at, dan jangan anda bertanya akan bagus dan lamanya. Kemudian beliau shalat tiga (raka’at).” (HR. Bukhari dan Muslim dan selain keduanya)

Dibolehkan mengurangi raka’atnya, bahkan walau dikurangi sampai satu raka’at witir saja, dengan dalil perbuatan dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tentang perbuatan (Nabi), Aisyah radhiallahu ’anha, beliau ditanya. Berapa (banyak) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat witir? Beliau menjawab: “Beliau witir dengan empat dan tiga (raka’at). Dan enam dan tiga (raka’at). Dan sepuluh dengan tiga (raka’at). Beliau tidak pernah witir kurang dari tujuh raka’at dan tidak pernah lebih dari tiga belas raka’at.” (HR.Abu Daud, Ahmad dan selain dari keduanya)

Sementara sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:

« الْوِتْرُ حَقٌّ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُوتِرْ بِخَمْسٍ وَمَنْ شَاءَ فَلْيُوتِرْ بِثَلاَثٍ وَمَنْ شَاءَ فَلْيُوتِرْ بِوَاحِدَةٍ ».

 “Witir adalah haq, yang ingin melakukan witir lima raka’at, silakan, yang ingin melakukan Witir tiga raka’at silakan, dan yang ingin melaukan Witir satu raka’at, silakan.”

Bacaan dalam qiyam

Sementara (berkaitan) dengan bacaan shalat malam di qiyam Ramadhan atau lainnya. Tidak didapatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketentuan pasti yang tidak boleh melebihi atau kurang. Bahkan bacaannya di shalat malam berlainan, terkadang pendek dan terkadang panjang. Terkadang beliau membaca pada satu raka’at sekitar (surat ya ayyuhal muzzammil) yaitu dua puluh ayat. Terkadang lima puluh ayat. Dan beliau berkata:

مَنْ صَلَّى فِي لَيْلَةٍ بِمِائَةِ آيَةٍ ، لَمْ يُكْتَبْ مِنَ الْغَافِلِينَ ،(وفي حديث آخر)  وَمَنْ صَلَّى فِي لَيْلَةٍ بِمِائَتَيْ آيَةٍ ، فَإِنَّهُ يُكْتَبُ مِنَ الْقَانِتِينَ الْمخَلصِّينَ.

“Barangsiapa shalat malam dengan membaca seratus ayat, maka tidak akan ditulis sebagai golongan orang-orang yang lalai.” Dalam hadits lain; “… dengan dua ratus ayat, maka dia akan ditulis di antara (golongan) orang-orang qanitin (ta’at beribadah) yang ikhlas.

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca waktu qiyam ketika dalam kondisi sakit tujuh surat panjang yaitu surat Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisaa’, Al-Maidah, Al-An’am, Al-A’raf dan At-taubah.

Dalam kisah shalat Hudzaifah bin Al-Yaman di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca dalam satu raka’at surat Al-Baqarah kemudian An-Nisaa’ kemudian Ali Imran. Dan beliau membacanya dalam kondisi tenang dan pelan.

Terdapat riwayat dengan sanad yang paling shahih, sesungghunya Umar radhiyallahu ‘anhu ketika memerintahkan Ubay bin Ka’ab (mengimami) orang-orang dalam shalat dengan sebelas raka’at di bulan Ramadhan, saat itu Ubay radhiyallahu ‘anhu membaca dua ratus (ayat), sampai orang yang di belakangnya bersandar dengan tongkat karena lamanya berdiri. Mereka baru selesai shalat menjelang fajar.

Juga terdapat riwayat shahih dari Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau mengundang para qurra’ (pembaca Al-Qur’an), lalu meminta yang paling cepat bacaanya  untuk membaca  tiga puluh ayat, yang pertengahan membaca dua puluh lima ayat, dan yang lambat, dua puluh ayat.

Kesimpulannya, kalau seseorang shalat (qiyam) seorang diri, dipersilahkan baginya memanjangkan bacaan sesuai keinginannya, begitu juga jika bersamanya orang sepakat. Semakin panjang bacaannya, semakin baik. Namun, jangan sampai terlalu panjang hingga seluruh malam semuanya untuk shalat dan tersisa sedikit sekali. Sebagai upaya meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda: “Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad”.

Adapun kalau dia shalat (sebagai) imam, maka dia dibolehkan memparpanjang (shalat) yang tidak sampai memberatkan orang yang ada di belakangnya. Berdasarkan sabda Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 إذا قام أحدكم للناس فليخفف الصلاة ، فإن فيهم الصغير والكبير وفيهم الضعيف ، والمريض ، وذا الحاجة ، وإذا قام وحده فليُطل صلاته ما شاء .

“Jika seseorang menjadi imam shalat, maka ringankan shalatnya. Karena di sana ada anak kecil, orang tua, dan juga ada orang lemah, orang sakit dan orang yang mempunyai keperluan. Kalau dia shalat sendiri, maka silakan perpanjang shalatnya sesukanya.”

Waktu qiyamul-lail:

Waktu qiyamul-lail dimulai setelah shalat Isya’ hingga fajar. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa salllam:

إِنَّ اللهَ زَادَكُمْ صَلاَةً ، وَهِيَ الْوِتْرُ ، فَصَلُّوْهَا بَيْنَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى صَلاَةِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Allah memberikan kalian bekal berupa shalat. Yaitu (shalat) Witir, maka shalatlah antara Isya hingga shalat fajar.”

Shalat di penghujung malam lebih baik bagi yang mudah melakukannya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ خَافَ أَن لاَ يَقُوْمَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ أَوَّلَهُ ، وَمَنْ طَمَعَ أَنْ يَقُومَ آخِرَهُ فَلْيُوتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ ، فَإِنَّ صَلاَةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُودَةٌ ، وَذَلِكَ أَفْضَلُ.

“Siapa yang khawatir tidak dapat menunaikan shalat di penghujung malam, maka shalat witirlah di awal malam. Dan siapa yang dapat menunaikannya di penghujung malam, maka hendaklah dia shalat Witir di akhir malam. Karena shalat akhir malam itu disaksikan (malaikat) dan itu adalah yang paling baik.”

Kalau masalahnya seputar antara shalat awal malam dengan berjama’ah dengan shalat akhir malam sendirian (mana yang lebih baik), maka shalat berjama’ah (meskipun di awal malam) lebih baik. Karena hal tersebut dinilai qiyamul-lail secara sempurna. Seperti inilah yang amalan para shahabat yang berlaku di masa Umar radhiyallahu ‘anhu.

Abdurrhaman bin Abdun Al-Qari berkata: “Suatu malam di bulan Ramadhan, saya bersama Umar berangkat menuju ke masjid. Ternyata orang-orang shalat berpencar-pencar. Ada yang shalat seorang diri, dan ada yang shalat dengan sejumlah orang yang mengikuti. Maka beliau berkata: “Demi Allah, sesungguhnya aku berpandangan, lebih baik kalau mereka dikumpulkan di belakang satu qari’ (imam). Setelah keinginan beliau bulat, mereka dikumpulkan dengan imam Ubay bin Ka’b. Kemudian saya keluar lagi bersama Umar pada malam lain. Sementara (kini) orang-orang menunaikan shalat dengan satu qari’ (imam). Maka Umat berkomentar:  “Inilah sebaik-baik bid’ah (sesuatu yang baru) adalah ini, waktu yang mereka gunakan untuk tidur (akhir malam) lebih baik dibandingkan waktu yang mereka gunakan untuk shalat –maksudnya akhir malam-. Pada awalnya, orang-orang waktu itu menunaikan shalat pada awal malam.

Zaid bin Wahb berkata: Dahulu Abdullah shalat bersama kami di bulan Ramadhan dan baru selesai di waktu malam.”

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat witir tiga raka’at, beliau menyebutkan illat-nya (sebabnya) dengan berkata: “Jangan kalian menyerupai (Witir) dengan shalat Magrib”. Oleh karena itu, bagi orang yang menunaikan shalat Witir tiga raka’at, maka harus menghindari praktek yang menyerupai (shalat Maghrib). Hal itu dapat dilakukan dengan dua cara:

Salah satunya adalah, salam antara (bilangan) genap dan ganjil. Ini yang lebih kuat dan lebih baik. Yang lainnya adalah, agar tidak duduk di antara yang genap dan yang ganjil. Wallahu’alam

Bacaan dalam tiga (raka’at) Witir:

Termasuk sunnah pada tiga raka’at shalat Witir, pada raka’at pertama membaca Sabbihisma rabbika al-a’la’ (surat Al-A’la), pada raka’at kedua membaca Qul ya ayyuhal kafirun (surat Al-Kafirun). Dan pada raka’at ketiga (membaca) qul huwallahu ahad (surat Al-Ikhlas). Terkadang ditambah (dengan membaca) qul a’udzubi robbil falaq (surat Al-Falaq) dan qul a’udzu birabbin nass (surat an-nass).

Terdapat riwayat yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau pernah membaca dalam raka’at witir seratus ayat dari surat An-Nisaa’.

Doa qunut

Membaca doa qunut (dalam shalat Witir) dengan doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada cucunya; Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, yaitu:

اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيْمَنْ هَدَيْت وَعَافِنِي فِيْمَنْ عَافَيْت وَتَوَلَّنِي فِيْمَنْ تَوَلَّيْت ، وَبَارِكْ لِي فِيْمَا أَعْطَيت ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْت ، فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلاَ يُقْضَى عَلَيْك ، وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيت ، وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيت ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْت ، لاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ )

“Ya Allah, berilah aku petunjuk sebagaimana orang-orang yang Engkau beri petunjuk, berilah aku perlindungan sebagaimana orang yang telah Engkau lindungi, uruslah aku sebagaimana  orang yang telah Engkau urus. Berilah berkah apa yang Engkau berikan kepadaku, jauhkan aku dari kejelekan apa yang Engkau tetapkan. Sesungguhnya Engkau yang menjatuhkan qada’ (ketetapan), dan tidak ada orang yang memberikan hukuman kepada-Mu. Sesungguhnya orang yang Engkau cintai tidak akan hina dan orang yang Engkau musuhi tidak akan mulia. Maha Suci Engkau, wahai Rabb kami dan Maha Tinggi Engkau.”

Terkadang setelahnya bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Tidak mengapa ditambah dengan doa yang dianjurkan dan baik.

Tidak mengapa menjadikan qunut setelah ruku, ditambah dengan melaknat orang-orang kafir, shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berdoa untuk umat Islam pada pertengahan kedua di bulan Ramadhan. Karena hal ini terdapat riwayat bahwa hal ini dilakukan para imam zaman Umar radhiyallahu ‘anhu.

Terdapat di penghujung hadits Abdurrahman bin Abdun Al-Qari tadi:

 

“Mereka melaknat orang-orang kafir pada pertengahan (Ramadhan), Ya Allah, perangilah orang-orang kafir yang menghalangi jalan-Mu, dan mendustakan utusan-utusan-Mu, dan tidak mengimani janji-Mu, cerai beraikan pendapat-pendapat mereka. Dan turunkan ketakutan di hati mereka, dan berikan balasan dan siksa-Mu kepada mereka, (Engkau adalah) Tuhan yang benar. Kemudian bershalawat kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan berdoa untuk (kebaikan) umat Islam semampunya. Kemudian memohon ampunan untuk orang-orang mukmin.

Setelah selesai melaknat orang-orang kafir dan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta memohon ampunan dan permintaan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan  (mereka membaca):

اللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ ، وَلَكَ نُصَلِّى وَنَسْجُدُ ، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ ، نَرْجُو رَحْمَتَكَ وَنَخَافُ عَذَابَكَ الْجَدَّ ، إِنَّ عَذَابَكَ بِالْكَافِرِينَ مُلْحَقٌ.

“Ya Allah hanya kepada-Mu kami menyembah, hanya KepadaMu kami shalat dan bersujud, hanya kepadaMu kami segera beramal dan berbakti, dan kami memohon rahmat-Mu wahai Tuhan kami. Dan kami takut akan siksa-Mu yang keras. Sesungguhnya siksa-Mu bagi orang-orang yang memusuhi-Mu pasti akan mengenai.” Kemudian takbir dan turun dalam kondisi sujud.

Apa yang dibaca di akhir witir

Termasuk sunnah, di penghujung witir (sebelum atau sesudah salam) membaca:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ ، وَبِمَعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ ، لاَ أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan ridha-Mu dari kemurkaan-Mu, dengan ampunan-Mu dari siksaan-Mu, dan saya berlindung denganMu dan dariMu. Saya tidak bisa menghitung (untuk) memujiMu. Engkau sebagaimana yang telah Engkau puji pada diriMu.”

Ketika salam dari witir mengucapkan:

سُبْحَانَ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ ، سُبْحَانَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ ، سُبْحَانَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ ( ثلاثاً )

“Maha suci (Engkau) Raja yang Suci, Maha suci (Engkau) Raja yang Suci, Maha suci (Engkau) Raja yang Suci.” Dibaca tiga kali, dan pada bacaan yang ketiga suaranya dipanjangkan dan ditinggikan.

Dua raka’at setelahnya

Dibolehkan melakukan shalat dua raka’at (setelah witir jika dia mau), karena telah ada ketetapan dari contoh perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan (beliau) bersabda:

« إِنَّ هَذَا السَّفَرَ جَهْدٌ وَثِقَلٌ فَإِذَا أَوْتَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ فَإِنِ اسْتَيْقَظَ وَإِلاَّ كَانَتَا لَهُ ».

“Sesungguhnya perjalanan ini memayahkan dan berat, kalau salah satu di antara kalian (telah) menunaikan witir, maka ruku’lah dua raka’at, kalau dia dapat bangun (dia dapat shalat malam). Kalau tidak, maka dua raka’at tadi cukup baginya.”

Di antara sunnahnya, membaca di (dua raka’at) tadi: idza zulzilatil ardhu (surat Az-Zalzalah) dan qul yaa ayyuhal kafirun (surat Al-Kafirun).

 

Dari kitab Qiyam Ramadhan karangan Syekh Al-Albany
http://islamqa.com/id/ref/3452/witir

foto: algerieeduc.com

(nahimunkar.com)

فضل قيام رمضان – 3452

ما فضل قيام رمضان ؟.

1-      فضل قيام ليالي رمضان :

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : ( كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يُرغب في قيام رمضان ، من غير أن يأمرهم بعزيمة ، ثم يقول : ” من قام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه ” فتوفي رسول الله صلى الله عليه وسلم والأمر على ذلك ( أي على ترك الجماعة في التراويح ) ثم كان الأمر على ذلك في خلافة أبي بكر رضي الله عنه ، وصدرٍ من خلافة عمر رضي الله عنه .

وعن عمرو بن مرة الجهني قال : جاء رسول الله صلى الله عليه وسلم رجل من قضاعة فقال: يا رسول الله ! أرأيت إن شهدت أن لا إله إلا الله ، وأنك محمد رسول الله ، وصليت الصلوات الخمس ، وصمت الشهر ، وقمت رمضان ، وآتيت الزكاة ؟ فقال النبي صلى الله عليه وسلم : ” من مات على هذا كان من الصديقين والشهداء “

ليلة القدر وتحديدها :

2- وأفضل لياليه ليلة القدر ، لقوله صلى الله عليه وسلم : ” من قام ليلة القدر { ثم وُفّقت له } ، إيماناً واحتساباً ، غفر له ما تقدم من ذنبه “

3- وهي ليلة سابع وعشرين من رمضان على الأرجح ، وعليه أكثر الأحاديث منها حديث زر بن حبيش قال : سمعت أبي ابن كعب يقول  – وقيل له : إن عبد الله بن مسعود يقول : من قام السنة اصاب ليلة القدر ! – فقال أُبيّ رضي الله عنه : رحمه الله ، أراد أن لا يتكل الناس ، والذي لا إله إلا هو ، إنها لفي رمضان – يحلف ما يستثني  – ووالله إني لأعلم أي ليلة هي ؟ هي الليلة التي أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم بقيامها ، هي ليلة صبيحة سبع وعشرين وأمارتها أن تطلع الشمس في صبيحة يومها بيضاء لا شعاع لها . ورفع ذلك في رواية إلى النبي صلى الله عليه وسلم . أخرجه مسلم وغيره .

مشروعية الجماعة في القيام :

4- وتشرع الجماعة في قيام رمضان ، بل هي أفضل من الانفراد ، لإقامة النبي صلى الله عليه وسلم لها بنفسه ، وبيانه لفضلها بقوله ، كما في حديث أبي ذر رضي الله عنه قال :     ” صمنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم رمضان ، فلم يقم بنا شيئاً من الشهر حتى بقي سبع فقام بنا حتى ذهب ثلث الليل ، فلما كانت السادسة لم يقم بنا ، فلما كانت الخامسة قام بنا حتى ذهب شطر الليل ، فقلت : يا رسول الله ! لو نفّلتنا قيام هذه الليلة ، فقال : ” إن الرجل إذا صلى مع الإمام حتى ينصرف حسب له قيام ليلة ” فلما كانت الرابعة لم يقم ، فلما كانت الثالثة جمع أهله ونساءه والناس ، فقام بنا حتى خشينا أن يفوتنا الفلاح ، قال : قلت : وما الفلاح ؟ قال : السحور ، ثم لم يقم بنا بقية الشهر ) حديث صحيح ، أخرجه أصحاب السنن .

السبب في عدم استمرار النبي صلى الله عليه وسلم بالجماعة فيه :

5- وإنما لم يقم بهم عليه الصلاة والسلام بقية الشهر خشية أن تُفرض عليهم صلاة الليل في رمضان ، فيعجزوا عنها كما جاء في حديث عائشة في الصحيحين وغيرهما ، وقد زالت هذه الخشية بوفاته صلى الله عليه وسلم بعد أن أكمل الله الشريعة ، وبذلك زال المعلول ، وهو ترك الجماعة في قيام رمضان ، وبقي الحكم السابق وهو مشروعية الجماعة ، ولذلك أحياها عمر رضي الله عنه كما في صحيح البخاري وغيره .

مشروعية الجماعة للنساء :

6- ويشرع للنساء حضورها كما في حديث أبي ذر السابق بل يجوز أن يُجعل لهن إمام خاص بهن ، غير إمام الرجال ، فقد ثبت أن عمر رضي الله عنه لما جمع الناس على القيام ، جعل على الرجال أبيّ بن كعب ، وعلى النساء سليمان بن أبي حثمة ، فعن عرفجة الثقفي قال : ( كان علي بن أبي طالب رضي الله عنه يأمر الناس بقيام شهر رمضان ويجعل للرجال إماماً وللنساء إماماً ، قال : فكنت أنا إمام النساء “

قلت : وهذا محله عندي إذا كان المسجد واسعاً ، لئلا يشوش أحدهما على الآخر .

عدد ركعات القيام :

7- وركعاتها إحدى عشرة ركعة ، ونختار أن لا يزيد عليها اتباعاً لرسول الله صلى الله عليه وسلم ، فإنه لم يزد عليها حتى فارق الدنيا ، فقد سئلت عائشة رضي الله عنها عن صلاته في رمضان ؟ فقالت : ” ما كان رسول الله يزيد في رمضان ولا في غيره على إحدى عشرة ركعة ، يصلي أربعاً فلا تسل عن حسنهن وطولهن ، ثم يصلي أربعاُ فلا تسل عن حسنهن وطولهن ، ثم يصلي ثلاثاً ” أخرجه الشيخان وغيرهما

8- وله أن ينقص منها ، حتى لو اقتصر على ركعة الوتر فقط ، بدليل فعله صلى الله عليه وسلم وقوله .

أما الفعل ، فقد سئلت عائشة رضي الله عنها : بكم كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يوتر ؟ قالت : ” كان يوتر بأربع وثلاث ، وست وثلاث ، وعشر وثلاث ، ولم يكن يوتر بأنقص من سبع ، ولا بأكثر من ثلاث عشرة ” رواه ابو داود وأحمد وغيرهما .

وأما قوله صلى الله عليه وسلم فهو : ” الوتر حق ، فمن شاء فليوتر بخمس ، ومن شاء فليوتر بثلاث ، ومن شاء فليوتر بواحدة ” .

القراءة في القيام :

9- وأما القراءة في صلاة الليل في قيام رمضان أو غيره ، فلم يحُد فيها النبي صلى الله عليه وسلم حداً لا يتعداه بزيادة أو نقص ، بل كانت قراءته فيها تختلف قصراً وطولاً ، فكان تارة يقرأ في كل ركعة قدر ( يا أيها المزمل ) وهي عشرون آية ، وتارة قدر خمسين آية ، وكان يقول : ” من صلى في ليلة بمائة آية لم يكتب من الغافلين ” ، وفي حديث آخر : ” .. بمائتي آية فإنه يُكتب من القانتين المخلصين ” .

وقرأ صلى الله عليه وسلم في ليلة وهو مريض السبع الطوال ، وهي سورة ( البقرة ) و ( آل عمران ) و ( النساء ) و ( المائدة ) و ( الأنعام ) و ( الأعراف ) و ( التوبة ) .

وفي قصة صلاة حذيفة بن اليمان وراء النبي صلى الله عليه وسلم أنه صلى الله عليه وسلم قرأ في ركعة واحدة ( البقرة ) ثم ( النساء ) ثم ( آل عمران ) ، وكان يقرؤها مترسلا متمهلاً

وثبت بأصح إسناد أن عمر رضي الله عنه لما أمر أبيّ بن كعب أن يصلي للناس بإحدى عشرة ركعة في رمضان ، كان أبيّ رضي الله عنه يقرأ بالمئين ، حتى كان الذين خلفه يعتمدون على العصي من طول القيام ، وما كانوا ينصرفون إلا في أوائل الفجر .

وصح عن عمر أيضاً أنه دعا القراء في رمضان ، فأمر أسرعهم قراءة أن يقرأ ثلاثين آية ، والوسط خمساً وعشرين آية ، والبطيء عشرين آية .

وعلى ذلك فإن صلى القائم لنفسه فليطوّل ما شاء ، وكذلك إذا كان معه من يوافقه ، وكلما أطال فهو أفضل ، إلا أنه لا يبالغ في الإطالة حتى يحيي الليل كله إلا نادراً ، اتباعاً للنبي صلى الله عليه وسلم القائل : ” وخير الهدي هدي محمد ” ، وأما إذا صلى إماماً ، فعليه أن يطيل بما لا يشق على من وراءه لقوله صلى الله عليه وسلم : ( إذا قام أحدكم للناس فليخفف الصلاة ، فإن فيهم الصغير والكبير وفيهم الضعيف ، والمريض ، وذا الحاجة ، وإذا قام وحده فليُطل صلاته ما شاء .

وقت القيام :

10- ووقت صلاة الليل من بعد صلاة العشاء إلى الفجر ، لقوله صلى الله عليه وسلم : ( إن الله زادكم صلاة ، وهي الوتر ، فصلوها بين صلاة العشاء إلى صلاة الفجر “

11- والصلاة في آخر الليل أفضل لمن تيسر له ذلك لقوله صلى الله عليه وسلم : ” من خاف أن لا يقوم من آخر الليل فليوتر أوله ، ومن طمع أن يقوم آخره فليوتر آخر الليل ، فإن صلاة آخر الليل مشهودة ، وذلك أفضل “

12- وإذا دار الأمر بين الصلاة أول الليل مع الجماعة ، وبين الصلاة آخر الليل منفرداً ، فالصلاة مع الجماعة أفضل ، لأنه يحسب له قيام ليلة تامة .

وعلى ذلك جرى عمل الصحابة في عهد عمر رضي الله عنه ، فقال عبد الرحمن بن عبيد القاري : ” خرجت مع عمر بن الخطاب ليلة في رمضان إلى المسجد ، فإذا الناس أوزاع متفرقون ، يصلي الرجل لنفسه ، ويصلي الرجل فيصلي بصلاته الرّهط ، فقال : والله إني لأرى لو جمعت هؤلاء على قارئ واحد لكان أمثل ، ثم عزم ، فجمعهم على أبيّ بن كعب ، قال : ثم خرجت معه ليلة أخرى ، والناس يصلون بصلاة قارئهم ، فقال : عمر ، نعمت البدعة هذه ، والتي ينامون عنها أفضل من التي يقومون – يريد آخر الليل – وكان الناس يقومون أوله “

وقال زيد بن وهب : ( كان عبد الله يصلي بنا في شهر رمضان فينصرف بليل )

13- لما كان النبي صلى الله عليه وسلم قد نهى عن الإيتار بثلاث ، وعلل ذلك بقوله : ” ولا تشبهوا بصلاة المغرب ” فحينئذ لا بد لمن صلى الوتر ثلاثاً من الخروج من هذه المشابهة ، وذلك يكون بوجهين :

أحدهما : التسليم بين الشفع والوتر ، وهو الأقوى والأفضل .

والآخر : أن لا يقعد بين الشفع والوتر ، والله تعالى أعلم .

القراءة في ثلاث الوتر :

14- ومن السنة أن يقرأ في الركعة الأولى من ثلاث الوتر : ( سبح اسم ربك الأعلى ) ، وفي الثانية : ( قل يا أيها الكافرون ) ، وفي الثالثة : ( قل هو الله أحد ) ويضيف إليها أحياناُ : ( قل أعوذ برب الفلق ) و ( قل أعوذ برب الناس ) .

وقد صح عنه صلى الله عليه وسلم أنه قرأ مرة في ركعة الوتر بمائة آية من سورة ( النساء )

دعاء القنوت :

15- و.. يقنت .. بالدعاء الذي علمه النبي صلى الله عليه وسلم سبطه الحسن بن علي رضي الله عنهما وهو : ( اللهم اهدني فيمن هديت وعافني فيمن عافيت وتولني فيمن توليت ، وبارك لي فيما أعطيت ، وقني شر ما قضيت ، فإنك تقضي ولا يقضى عليك ، وإنه لا يذل من واليت ، ولا يعز من عاديت ، تباركت ربنا وتعاليت ، لا منجا منك إلا إليك ) ويصلي على النبي صلى الله عليه وسلم أحياناً ، لما يأتي بعده . ( ولا بأس أن يزيد عليه من الدعاء المشروع والطيّب الصحيح ) .

16- ولا بأس من جعل القنوت بعد الركوع ، ومن الزيادة عليه بلعن الكفرة ، والصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم والدعاء للمسلمين في النصف الثاني من رمضان ، لثبوت ذلك عن الأئمة في عهد عمر رضي الله عنه ، فقد جاء في آخر حديث عبد الرحمن بن عبيد القاري المتقدم : ” وكانوا يلعنون الكفرة في النصف : اللهم قاتل الكفرة الذين يصدون عن سبيلك ، ويكذبون رسلك ، ولا يؤمنون بوعدك ، وخالف بين كلمتهم ، وألق في قلوبهم الرعب ، وألق عليهم رجزك وعذابك ، إله الحق ) ثم يصلي على النبي صلى الله عليه وسلم ، ويدعو للمسلمين بما استطاع من خير ، ثم يستغفر للمؤمنين .

قال : وكان يقول إذا فرغ من لعنة الكفرة وصلاته على النبي واستغفاره للمؤمنين والمؤمنات ومسألته : ( اللهم إياك نعبد ، ولك نصلي ونسجد ، وإليك نسعى ونحفد ، ونرجو رحمتك ربنا ، ونخاف عذابك الجد ، إن عذابك لمن عاديت ملحق ” ثم يكبر ويهوي ساجداً .

ما يقول في آخر الوتر :

17- ومن السنة أن يقول في آخر وتره ( قبل السلام أو بعده ) :

” اللهم إني أعوذ برضاك من سخطك ، وبمعافاتك من عقوبتك ، وأعوذ بك منك ، لا أحصي ثناء عليك ، أنت كما اثنيت على نفسك “

18- وإذا سلم من الوتر ، قال : سبحان الملك القدوس ، سبحان الملك القدوس ، سبحان الملك القدوس ( ثلاثاً ) ويمد بها صوته ، ويرفع في الثالثة .

الركعتان بعده :

19- وله أن يصلي ركعتين ( بعد الوتر إن شاء ) ، لثبوتهما عن النبي صلى الله عليه وسلم فعلاً بل .. قال : ” إن هذا السفر جهد وثقل ، فإذا أوتر أحدكم ، فليركع ركعتين ، فإن استيقظ وإلا كانتا له ” .

20- والسنة أن يقرأ فيهما : ( إذا زلزلت الأرض ) و ( قل يا أيها الكافرون ) .

من كتاب قيام رمضان للألباني .

http://islamqa.com/ar/ref/3452