“نحو 30 جثة قتل أصحابها إثر قصف قام به الجيش الأربعاء، دفنت في عدة حدائق عامة صغيرة”.

Di kota Hama jalan-jalan sepi. Puing-puing berserakan. Gedung-gedung dan bangunan serta rumah berlubang menganga, akibat tembakan senjata berat pasukan al-Assad. Bangunan lima lantai di pinggir-pinggir jalan, di sepanjang jalan utama, hitam legam, terbakar.

Penduduk menghadapi kondisi darurat. Pasukan militer berada di setiap sudut jalan. Rakyat memblokir jalan-jalan, agar tank baja, tak dapat melewatinya. Tetapi, pasukan tank baja Bashar al-Assad, tak peduli semua itu. Mereka terus memasuki kota Hama, dan memuntahkan peluru dari moncong-moncong senjata, dan membawa kematian.

Pada radius sepanjang 40 km persegi, terutama sepanjang jalan utama, semuanya porak-poranda. Hanya kehancuran. Kota yang sangat indah itu, kini hanya tinggal menjadi puing-puing belaka. Tak nampak adanya kehidupan. Semuanya dihancurkan oleh Bashar al-Assad. Seonggok mobil pemadam kebakaran yang ikut hancur. Kebakaran di mana-mana. Tetapi, tak menghentikan gerak pasukan al-Assad, dan terus membumi hanguskan kota Hama, yang menjadi pusat gerakan perlawanan.

Sebagian besar tentara yang menyerbu kota ini, mereka merasa bangga dapat menghancurkan “pemberontak” atau “teroris”, menurut al-Assad, yang berlangsung selama hampir dua minggu, lalu mundur ke pinggiran kota pada 9 Agustus. Sebagian besar wartawan asing dilarang memasuki Suriah, khususnya kota Hama.

Konvoi puluhan tank, truk pengangkut personil, keluar dari kota Hama, dan di sepanjang jalan raya utama menuju Homs, yang berjarak 40 km, diikuti oleh truk yang sudah rusak, dan penuh pasukan mengibarkan bendera Suriah, dengan senjata di tangan mereka melewati mobil-mobil penduduk sipil.

Namun, tidak semua pasukan Assad meninggalkan Hama, masih ada unit militer di kota itu yang akan terus mengawasi situasi di Assi Square, tempat aksi protes besar-besaran yang menentang rezim Assad selama berminggu-minggu. Ini adalah wilayah yang menjadi tempat gerakan warga sipil yang menentang pemerintah.

Ada juga kelompok tank di lokasi beberapa tempat strategis di Hama, termasuk di depan dua rumah sakit utama kota itu, Al-Hourani dan Al-Bader, yang penduduk mengatakan telah dikosongkan dari pasien. Rumah sakti dikontrol oleh militer dengan sangat ketat, tak bisa orang masuk ke rumah sakit itu. Semuanya pasien yang masuk rumah sakit itu, menjadi urusan militer. Semua yang ingin berkunjung ke rumah sakit diperiksa ID cardnya.

Kebiadaban pasukan al-Assad sudah melampui batas. Mereka yang sudah tergolek di rumah sakitpun dibunuh. Para demonstran yang terluka, dan dirawat di rumah sakit, bukannya mendapatkan pertolongan, tetapi justru dibunuh oleh pasukan al-Assad dengan beberapa tembakan.

Em Mahmoud, mantan perawat yang sudah bekerja di rumah sakit itu, selama 22 tahun dan yang bekerja di sebuah rumah sakit swasta 30 tahun, melihat demonstran yang terluka di tempat tidur, lebih dari 40 orang, mengatakan bahwa demonstran yang terluka dan cidera, dibawa oleh tentara, kemudian ditembak kepala dan dadanya, kemudian tewas. “Tentara datang ke rumah sakit untuk mencari demonstran terluka,” katanya. “Kami menyembunyikan tiga orang demonstran, dan kami telah pindahkan mereka di usung dan di kursi roda menuju pintu belakang. Dan dari sana kami membawa mereka ke tempat yang aman.”

Warga tidak mampu mengambil mayat-mayat yang berserak di jalanan, karena ada sniper diatas gedung-gedung, yang menargetkan orang-orang di rumah mereka, dan terus mengawasi rumah-rumah yang ada, tanpa pandang bulu.

Kekejaman yang tanpa batas terus berlangsung, seperti penangkapan, penahanan, penjarahan dan bahkan pemerkosaan. Ada mobil di jalan-jalan yang telah disingkirkan, beberapa dengan lubang peluru yang menembus kaca jendela di sisi pengemudi, yang mengarah ke kepala pengemudi.

Tidak jelas berapa banyak orang tewas, meskipun berbicara tentang ratusan warga mati. Dalam beberapa hari kekerasan di Hama. Tak ada data yang akurat berapa orang yang tewas di tangan tentara? Karena, semuanya ditutup, dan diblokir oleh tentara. Banyak korban yang hilang, dan keluarga yang kehilangan sanak-familinya, dan tidak ada kejelasan, di mana mereka. Sampai berhari-hari, dan berminggu.

Tapi mungkin lebih menyakitkan daripada kehancuran fisik, penduduk mengatakan, adalah penghinaan. Pasukan Assad menuliskan grafiti di seluruh jalan-jalan utama, banyak yang dianggap menghujat, dan sangat menyinggung perasaan penduduk kota ini yang mayoritas Sunni. “Tidak ada Tuhan selain Bashar” ditulis di dinding dengan cat hitam di Souk al-Farwatiye. Tulisan itu sangat mencolok, karena di tulis diatas batu putih besar yang ada di seberang jalan, yang tidak jauh dari markas Partai Baath di kota Hama. “Bashar adalah Tuhan Maha Agung”. “Maher adalah Muhamad”. Tulisan grafiti di buat oleh adik Bashar al-Assad, yaitu Maher Assad, komandan Divisi ke-4 pasukan lapis baja. Sengaja menghina umat Islam di kota itu, yang mayoritas Sunni. Dialah yang bertanggung jawab banyaknya pertumpahan darah selama lima bulan terakhir.

Grafiti tentang Bashar Assad yang disetarakan dengan Allah dan saudaranya, Maher yang disetarakan dengan Nabi Muhammad. “Tuhan menginginkan Bashar,” dan “Singa Assad lewat sini” dan “Kami memilih tiga: Tuhan, Bashar dan Maher,” itulah bunyi tulisan grafiti. Padahal, rezim yang berkuasa di Suriah adalah penganut Alawiyyin, Syiah. Ada pula grafiti yang ditunjukkan kepada kelompok anti-rezim seperti, “Jika anda kembali, kami kembali.”

Hama kota yang dikepung selama hampir satu bulan sampai 31 Juli, menjelang bulan Ramadan, ketika militer menyerbu kota, yang kemudian menjadikan kota menjadi puing-puing. Penduduk mengatakan hari itu adalah yang paling berdarah.

“Mereka melakukan operasi militer terhadap penduduk di kota itu, terus menerus dari pukul 5 pagi sampai jam 10 pagi setiap hari. Kemudian dari sore sampaimalam, tanpa henti,” kata seorang pria muda yang menggunaka kaossinglet putih yang menolak untuk memberikan namanya.

Dia meminta saya untuk menunggu sebelum kembali setelah beberapa menit dengan kantong plastik penuh selongsong peluru kosong dan yang berukuran 15-14,5 kaliber anti-pesawat, yang senjata seperti itu tidak digunakan pada warga sipil.

Orang-orang Hama mengubur mayat mereka di tempat umum, tidak dapat mencapai kuburan kota karena tembakan senjata berat. Meskipun, serangan militer yang besar terhadap penduduk sipil, tidak ada renca tentang balas dendam atau marah terhadap para prajurit tentara. Dalam puluhan percakapan dengan Hamwis, sebagai warga menyebut diri mereka, selama beberapa hari terakhir, semua mengatakan hal yang sama: para prajurit dipaksa untuk mengikuti perintah, dan pasukan itu menghindari kematian. “Mereka semua anak-anak kita,” kata seorang pria, 55, yang memberikan namanya sebagai Abu Ali.

Kemarahan di kota ini diarahkan kepada pasukan keamanan dan intelijen serta pasukan khusus yag menggunakan seragam hitam, dan bersenjata yang dikenal sebagai shabiha, yang melakukan pemeriksaan di pos-pos yang akan dilewati pendudk di seluruh kota. “Kami tidak bersengketa dengan tentara. Ini dengan rezim,” kata Abu Abdo, 30 tahun yang rumahnya telah dihancurkan. “Mereka diberitahu bahwa penduduk Hama adalah gerombolan bersenjata. Kami ingin rezim ini jatuh..”

Abu Ali, 25, hidungnya patah dan berdarah. Pada 5 Agustus, ia pulang dengan ibunya ketika shabiha dan pasukan keamanan menendang pintu. “Saya tidak punya waktu untuk mendengar apa-apa, ketika mereka berbicara,” katanya. “Ada sekitar lima dari mereka. Mereka berjalan masuk dan mulai memukulku..” Dia bilang dia tidak tahu alasan penyerangan atau berapa lama berlangsung. Seorang pria pendek berbulu, ia mengangkat T-shirt abu-abu, mengungkapkan dua luka diagonal masih baru di perut bagian kanan, sebelum berbalik, dan mengungkapkan tujuh luka bakar melingkar di punggungnya, yang dibuat oleh rokok, katanya. “Mereka mengambil uang kita, TV kita dan emas ibu saya. Semoga Allah melaknat mereka,” katanya getir.

Listrik dan saluran telepon sekarang bekerja normal kembali. Meskipun saluran telpon dan aliran listrik dipadamkan selama lima hari pertama pengepungan. Makanan sangat sedikit, tetapi masyarakat tidak kehabisan, berkat upaya dari kota-kota terdekat yang diselundupkan oleh keluarga-keluarga yang dekat, dan persediaan yang ada cepat didistribusikan kepada mereka yang membutuhkan.

Hama kota yang sangat bersejarah dalam kehidupan kaum Sunni di Suriah. Kota ini telah memendam sejarah panjang perjuangan melawan rezim Syiah (Alawiyyin) yang sangat kejam dan biadab.

Peristiwa berdarah tahun 1982 – ketika ayah Presiden Hafez Assad, ayah Bashar al-Assad, menghancurkan Hama dari darat dan udara, yang tujuan untuk memadamkan pemberontakan Islam di kota ini. Hampir setiap keluarga di kota yang berpenduduk sekitar 800.000, semuanya kehilangan kerabat selama periode yang berlumuran darah.

Hafez Assad menyalahkan serangan terhadap saudaranya Rifaat, seorang komandan militer, dan Hama terus menjadi musuh rezim yang berkuasa, sampai kematian Hafez di tahun 2000.

Orang-orang Hama mengatakan, sekarang mereka tidak akan membiarkan Bashar untuk pergi meninggalkan kekuasaannya dengan begitu saja. Apa yang dilakukan terhadap kota Hama, merupakan tindakan kejam dari adik Bashar, yaitu Maher, seorang komandan militer yang bertanggung jawab, atas semua kehancuran kota ini. “Pada hari Jumat ini kita akan melakukan protes kembali di kota masing-masing, karena kita tidak dapat mencapai Assi,” kata penduduk. “Kami akan terus memprotes. “Sampai Assad pergi”, ujar mereka. (mas/tm)

ERAMUSLIM > LAPORAN KHUSUS
http://www.eramuslim.com/berita/laporan-khusus/kisah-hama-kota-sunni-yang-hancur-oleh-bashar-al-assad.htm
Publikasi: Jumat, 12/08/2011 07:53 WIB

(nahimunkar.com)

 

رمضان سوريا .. بطعم الدم والكآبة !

الأربعاء, 03 آب/أغسطس 2011

موقع أون إسلام

حالة من الوجوم والحزن تسيطر على السوريين مع بداية شهر رمضان الكريم الاثنين 1-8-2011م، بعدما اقتحمت قوات الجيش مدينة حماة التي شهدت مذبحة 1982م في واحد من أكثر الأيام دموية في الانتفاضة المستمرة منذ خمسة أشهر ضد الرئيس السوري بشار الأسد.

وقال ناشطون حقوقيون: إن أكثر من 100 مدنيًّا قتلوا في هجوم دعمته الدبابات أمس الأحد في المدينة التي تقع وسط سوريا، والتي قمع فيها الرئيس السوري الراحل حافظ الأسد والد بشار تمردًا مسلحًا للإخوان المسلمين منذ 29 عامًا، حيث دمرت أحياء وقتل عدة آلاف.

وفي وقت لاحق قال اثنان من سكان مدينة حماة: إن دبابات سورية قصفت منطقة بشمال شرق المدينة مما أسفر عن مقتل أربعة مدنيين على الأقل في اليوم الثاني من الهجوم العسكري، بحسب ما ذكرت وكالة “رويترز”.

وحاصرت قوات الأمن السورية المدينة التي يقطنها 700 ألف شخص لقرابة شهر قبل الحملة القمعية التي بدأت عشية رمضان.

وتدفق الكثيرون إلى المساجد لأداء صلاة التراويح، وهي مناسبة ربما تشكل فرصة لزيادة الاحتجاجات في جميع أنحاء سوريا.

الأسد: سوريا تواجه مؤامرة أجنبية

وفي خطاب إلى الجيش أكد الرئيس السوري بشار الأسد مجددًا على أن سوريا تواجه مؤامرة أجنبية لإذكاء التوتر الطائفي، وقال: إننا على ثقة مطلقة بأننا قادرون بوعي شعبنا وبوحدتنا الوطنية أن نسقط هذا الفصل الجديد من المؤامرة التي نسجت خيوطها بدقة وإحكام بهدف تفتيت سوريا، تمهيدًا لتفتيت المنطقة برمتها إلى دويلات متناحرة تتسابق لكسب رضا من عملوا على تفتيتها.

وأضاف: إن هؤلاء المتآمرين أرادوها فتنة لا تبقي ولا تذر، لكن الشعب العربي السوري كان أكبر من كل ما تم رسمه والتخطيط له، واستطعنا معًا أن نئد الفتنة، وأن نقف مع الذات وقفة جادة ومسئولة تستكشف مواطن الخلل والوهن وتعمل على معالجتها، وتفتح الآفاق الرحبة أمام الإصلاح الشامل الذي انطلقت عربته ولن تتوقف.

وطبعت مذبحة حماة في 1982م في الذهن قدرًا كبيرًا من الخوف، لدرجة أن أقلية من السوريين على استعداد لتحدي حكم عائلة الأسد علانية حتى هذا العام عندما استلهم العديد الانتفاضات الشعبية السلمية على نطاق واسع التي أطاحت برئيسي مصر وتونس.

واتهم الإخوان المسلمون النخبة العلوية بشن حرب طائفية على السنة بهجوم حماة، وقالوا في بيان: إن سوريا تشهد حرب تطهير طائفي، وأن النظام ربط بين إبادته الصريحة وهلال رمضان، وأنها حرب على الهوية ومعتقدات الشعب السوري وعلى سوريا العربية المسلمة.

ويتهم نظام الأسد “جماعات إرهابية مسلحة” بمسئوليتها عن أغلب أحداث القتل خلال الانتفاضة وقالت: إن أكثر من 500 من أفراد الجيش وقوات الأمن قتلوا.

وذكرت الوكالة العربية السورية للأنباء أن الجيش دخل حماة لتطهيرها من جماعات مسلحة “قامت بقطع الطرق وإقامة حواجز وإطلاق النار عشوائيًّا في شوارع المدينة وإرهاب المواطنين”.

وأضافت الوكالة أن ثمانية من أفراد الشرطة قتلوا خلال “مواجهة جماعات إرهابية مسلحة” في حماة.

وقال سكان: إن دبابات بدأت قصف أحياء المدينة بعد هجوم من اتجاهات مختلفة في الفجر.

وقال الملحق الصحفي الأمريكي جيه جيه هاردر لرويترز: السلطات تعتقد إنها تستطيع بطريقة أو بأخرى إطالة أمد بقائها من خلال الانخراط في حرب شاملة ضد مواطنيها.

وأظهرت لقطات بُثت على وسائل إعلام اجتماعية أجزاء كبيرة من المدينة يغطيها الدخان ومجموعات مذعورة تحيط بجثث القتلى أو الأشخاص المصابين في الشوارع مع تصاعد إطلاق النار. ولم يتسن لرويترز أن تتأكد على نحو مستقل من محتوى اللقطات المصورة.

كما أظهرت لقطات قيل إنها من حماة حشودًا تهتف “يا حماة نحن معاك للموت.. دير الزور نحن معاك للموت”.

وقال سكان: إن 11 مدنيًّا قتلوا في حملة قمعية بمحافظة دير الزور بشرق البلاد يومي السبت والأحد.

في مدينة دير الزور ترددت أصداء الأعيرة النارية في الشوارع الخالية قبل صلاة الفجر. وقال أحد السكان: أغلب الناس موجودون في منازلهم.. لكن يمكننا سماع الأعيرة النارية في الشوارع.

ويحاول الأسد سحق انتفاضة اندلعت في مارس 2011م ضد حكمه المستمر منذ 11 عامًا مستوحية ثورتي تونس ومصر، وانتشرت في شتى أنحاء سوريا.

وطردت السلطات السورية معظم الصحفيين المستقلين منذ بدء الانتفاضة مما يصعب من التحقق من صحة تقارير الاشتباكات.

وتلقي السلطات السورية باللوم على “جماعات إرهابية تخريبية” في معظم حالات القتل خلال الثورة قائلة: إن أكثر من 500 جندي ورجل أمن قتلوا.

وقالت جماعة أفاز العالمية النشطة لحقوق الإنسان في تقرير جديد: إن قوات الأمن السورية قتلت 1634 شخصًا، كما اختفى 2918 على الأقل في الحملة التي يشنها الأسد، وقالت: إن 26 ألفًا اعتقلوا من بينهم عدد كبير تعرض للضرب والتعذيب، وأن 12617 ما زالوا في الحجز.

المصدر: موقع أون إسلام.

http://www.islamstory.com

 

شهود يشيرون إلى “إبادة جماعية” ببعض مناطق حماة ودفنهم في حدائق عامة

08-04-2011 08:44 PM

عاجل – ( وكالات )

قال أحد سكان مدينة حماة السورية المحاصرة منذ بداية شهر رمضان قبل أربعة أيام أن العملية العسكرية التي يشنها الجيش السوري ما تزال مستمرة، مشيراً إلى وجود قتلى سقطوا متأثرين بجراحهم حتى بعد وصولهم إلى المستشفيات بسبب انقطاع الكهرباء ونقص المعدات، متحدثاً عن وجود ما وصفها بـ”الإبادة الجماعية” في أحد الأحياء.

وقال شاهد العيان الذي تحدث لـCNN من حماة مشترطاً عدم كشف اسمه أن سكان المدينة يعانون جراء انقطاع الاتصالات والكهرباء، مضيفاً أن الجيش يقوم بقصف حماة بعدما أحكم الطوق حولها، مانعاً الدخول إليها أو الخروج منها.

وبحسب ما قاله الشاهد فإن القناصة انتشروا في أماكن حيوية المدينة، وهم يقومون بإطلاق النار على الذين يحاولون الفرار إلى خارج حماة.

وقال الشاهد إنه علم بسقوط عشرة قتلى على الأقل الخميس، وجرح العشرات، وأضاف أنه سمع عن “إبادة جماعية” في منطقة محددة من المدينة.

وكانت منظمات حقوقية قد أشارت إلى سقوط العديد من القتلى برابع أيام العملية الأمنية التي ينفذها الجيش السوري في مدينة حماة الخميس، في حين تواصلت المظاهرات المناهضة لحكم الرئيس بشار الأسد في عدة مدن، بينما أنذرت قبائل وعشائر دير الزور الجيش بسحب قواته، مهددة بـالدفاع” عن السكان في حال حصول هجوم.

وجاء في البيان الصادر عن عشائر وقبائل ديرالزور مطالبة الجيش بسحب قواته والمجموعات الأمنية من مدن ومناطق وأرياف المحافظة وعودتها إلى مقراتها، والإفراج عن المعتقلين وعلى رأسهم الشيخ نواف البشير (أحد أبرز شيوخ قبيلة البكارة) وإيقاف الاعتقالات وإعادة الحياة إلى طبيعتها في دير الزور عبر رفع الحواجز.

وهددت العشائر في حال عدم الاستجابة للمطالب فإنها ستقوم جميعها بـ”الدفاع عن أهالي دير الزور وحمايتهم” محددين مهلة لا تتجاوز 24 ساعة لتنفيذ المطالب، وفقاً لنص البيان الذي نقلته صفحة “اتحاد تنسيقيات الثورة السورية” على موقع فيسبوك.

أما وكالة الأنباء السورية الرسمية، سانا، فقد تابعت بدورها مواقف العشائر، ولكن من زاوية الشخصيات المؤيدة لها، فنقلت بياناً منسوباً إلى وجهاء عشائر البكارة والعكيدات والبوشعبان في محافظة حلب أعلنوا فيه تأييدهم لبرنامج الإصلاح الشامل الذي يقوده الرئيس الأسد و”رفضهم لكل أشكال التدخل الخارجي في شؤون سوريا الداخلية.”

وبحسب ما نقلته الوكالة عن البيان الذي وقعه الشيخ عقل حمادين الإبراهيم والشيخ محمد عبد الرزاق العيس والشيخ أحمد المحمد، فإن قبيلة البكارة في حلب “غير مسؤولة عن تصرفات نواف البشير المعادية لتطلعات المواطنين وأن البشير لا يمثل إلا رأيه” وفق تعبيره.

وأوردت الوكالة السورية أن رئيس مجلس الشعب، محمود الأبرش، أصدر قراراً يقضي بالدعوة إلى انعقاد مجلس الشعب عند الساعة الثانية عشرة من ظهر الأحد في السابع من الشهر الجاري، أما البرنامج فهو يشمل وفق الأبرش “مناقشة مواضيع تهم الوطن والمواطن.”

يشار إلى أن المظاهرات مستمرة في سوريا منذ منتصف مارس/أيار، وتشير أرقام المرصد السوري لحقوق الإنسان إلى سقوط 1637 قتيلاً مدنياً، و386 من الجيش وقوى الأمن الداخلي.

من جهته أكد أحد سكان حماة، والذي تمكن من مغادرة المدينة، لوكالة “فرانس برس”، طالباً عدم كشف هويته، أن “نحو 30 جثة قتل أصحابها إثر قصف قام به الجيش الأربعاء، دفنت في عدة حدائق عامة صغيرة”.

وأضاف أن “عدداً من المباني أحرق جراء القصف، إلا أنها ليست مدمرة بالكامل”. وتحدث عن “انتشار للدبابات في المدينة وخصوصاً في ساحة العاصي وأمام القلعة” وسط المدينة.

وأشار إلى “استخدام قنابل تطلق شظايا عند انفجارها”، لكنه أوضح أن “القصف توقف بينما يسمع دوي إطلاق نار من الرشاشات الثقيلة” صباح اليوم الخميس.

وألمح الشاهد إلى “تواجد للقناصة على أسطح المشافي الخاصة”.

وذكر أن “الوضع الإنساني صعب للغاية في المدينة التي تعاني من انقطاع للتيار الكهربائي والمياه والاتصالات ونقص في المواد الغذائية”.

إلى ذلك أصدر الرئيس السورى بشار الأسد اليوم الخميس مرسومين تشريعين الأول يتعلق بقانون الأحزاب والثاني بتنظيم الانتخابات.
وذكرت تقارير إعلامية أن الأسد “اصدر اليوم المرسوم التشريعى الخاص بقانون الأحزاب” حول تأسيس الأحزاب وتنظيم عملها.
ويذكر أن الحكومة السورية سبق وأن أقرت مشروع قانون يسمح بتأسيس الأحزاب وينظم عملها، وكذلك مشروع قانون الانتخابات العامة.
وتدخل هذه الخطوة في سياق سلسلة إجراءات أقرتها دمشق بهدف تهدئة حركة الاحتجاج غير المسبوقة التي تعرفها البلاد، وشملت أيضا إلغاء العمل بحالة الطوارئ المفروضة منذ 1963،إضافة إلى صدور عفو عام يشمل جميع المعتقلين السياسيين، وتشيكل هيئة “للحوار الوطني” ولجنة لوضع قانون جديد للإعلام.
إلا أن هذه الإجراءات المعلن عنها صاحبتها على أرض الواقع حملات قمع دموية واسعة النطاق أودت بحياة أكثر من 1600 مدني واعتقال أكثر من 12 ألفا ونزوح الآلاف وفق بيانات المنظمات الحقوقية المتابعة لتطورات الوضع في سوريا. فيما تتهم السلطات في روايتها الرسمية من تسميهم “جماعات إرهابية مسلحة” بقتل المتظاهرين ورجال الأمن والقيام بعمليات تخريبية.
من ناحية أخرى تتواصل الحملة العسكرية للجيش السوري في مناطق مختلفة من البلاد بهدف إجهاض حركة الاحتجاجات الشعبية.
وأخبرناشط حقوقي تمكن من مغادرة مدينة حماة مقتل ما لا يقل عن 45 مدنيا في هجوم بالدبابات شنه الجيش السوري لاحتلال وسط المدينة.
وقال سكان في حماة إن الدبابات تقدمت إلي وسط المدينة أمس واحتلت الميدان الرئيسي الذي شهد بعضا من أكبر الاحتجاجات ضد الأسد. وأضافوا أن قناصة انتشروا على أسطح المباني وفي قلعة حماة. وقالوا إن القصف تركز في حي الحاضر الذي دمرت أجزاء كبيرة منه في عام 1982 عندما اجتاحت القوات الموالية للرئيس الراحل حافظ الأسد حماة لسحق متمردين إسلاميين وقتلت عدة آلاف من الأشخاص.
وقالت منظمات حقوقية إن حصيلة اجتياح الجيش السوري لحماة تتجاوز تسعين قتيلا شخصا لحد الآن.

http://www.burnews.com/news-action-show-id-25881.htm