Kisah Kuburan Mbah Priok Fiktif Tidak Layak Dilestarikan

n Kisah berkaitan dengan kuburan Mbah Priok fiktif.

n Kuburan yang disebut makam Mbah Priok belum tentu masih ada di sana menurut mantan pengacara ahli warisnya.

n Kerabat Mbah Priok di Palembang melarang dikeramatkannya kuburan karena menimbulkan kemusyrikan.

n Tafsir Departemen Agama (kini Kementerian Agama) memperingatkan masih banyaknya orang yang melakukan kemusyrikan berkaitan dengan kuburan. Maka pengkeramatan kuburan harus dicegah. (Lihat Al-Qur’an dan Tafsirnya, Departemen Agama RI, Jakarta, 1985/ 1986, jilid 3, halaman 573-574).

n Kesepakatan antara Pemprov DKI, PT Pelindo II, dan pihak ahli waris, bahwa makam Mbah Priok tetap di posisinya, tidak dibongkar ataupun dipindah; perlu dibatalkan. Karena ada berbagai indikasi di atas, yaitu fiktif dan ada fenomena pengkeramatan, sedangkan kerabat di Palembang telah melarangnya.

Pada salah satu wawancara dengan sebuah teve swasta, 18 April 2010, Ridwan Saidi (pemerhati budaya Betawi) dan Alwi Shahab (pemerhati sejarah Betawi) mengatakan bahwa nama Tanjung Priok sudah lebih dulu eksis sebelum kedatangan Hasan Al Haddad yang djuluki sebagai Mbah Priok. Bahkan menurut JJ Rizal, sejak tahun 1500-an nama Tanjung Priok sudah disebut pada peta Pangeran Panembong, sebuah artefak kuno berbahasa Jawa Sunda kuno.

Selain itu, menurut Alwi Shahab (wartawan senior Republika yang juga pemerhati sejarah lisan Betawi), tahun wafat (1756) dan lahirnya (1727) Mbah Priok tak masuk akal. Bukan hanya tak masuk akal, menurut JJ Rizal ada penyebutan yang tidak lazim terhadap sosok yang konon bernama asli Al-Imam al-Arif Billah Sayyidina al-Habib Hasan bin Muhammad al-Haddad RA ini, yaitu sebutan mbah yang biasanya akrab bagi masyarakat Jawa (Tengah dan Timur).

Di kalangan masyarakat pasundan, sebutan yang sering digunakan adalah aki. Sedangkan di kalangan masyarakat Betawi, selain aki sebutan yang lebih sering digunakan dan lebih populer adalah engkong atau Babe. Seharusnya sosok yang diduga sebagai leluhur kawasan priok disebut Aki Priok atau Engkong Priok atau Babe Priok. Adanya sebutan Mbah Priok memberikan kesan yang semakin kuat bahwa sosok tersebut lebih mendekati fiktif ketimbang riel.

Namun demikian, sosok bernama Hasan Al Haddad bukan berarti tidak ada. Menurut Alwi Shahab, Hasan Al Haddad (kelahiran Palembang tahun 1874) bekerja sebagai awak kapal Syekh Mahdiyid, dengan rute pelayaran Palembang-Bangka Belitung. Pada tahun 1927 kapal itu berlayar ke Jawa untuk berziarah ke makam Wali Songo dan makam Habib Husein bin Abubakar Alaydrus (makam keramat Luar Batang). Sebelum kapalnya mendarat, Hasan Al Hadad meninggal dunia.

Pada saat itu (1927), ketika jenazah Hasan Al Haddad mendarat, pelabuhan Tanjung Priok sudah sejak lama beroperasi menggantikan pelabuhan lama (pelabuhan Sunda Kelapa) yang dirasakan terlalu kecil. Berdasarkan catatan sejarah, sejak tahun 1877 Gubernur Jenderal Johan Wilhelm van Lansberge (1875-1881) memulai pembangunan pelabuhan baru bernama Tanjung Priok yang lebih luas sehingga kapal besar bisa merapat. Pelabuhan baru ini terus dikembangkan dan dilengkapi dengan beberapa fasilitas penunjang seperti Stasiun Kereta Api (sejak 1914).

Jenazah Hasan Al Haddad ketika itu (1927) dimakamkan di Pondok Duyung. Sekitar 70 tahun kemudian, Agustus 1997, keberadaan makam Pondok Duyung dipindahkan ke Semper, Cilincing, Jakarta Utara. Menurut Cucu Ahmad Kurnia (Kepala Bidang Informasi dan Publikasi DKI Jakarta), berdasarkan surat Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI tanggal 10 Februari 2009, makam Hasan Al Haddad termasuk yang dipindah ke Semper.

Hasan Al Haddad merupakan cicit dari habib Hamid Al Hadad yang dikenal sebagai seorang Mufti yang meninggal dunia pada tanggal 19 Juli 1820, dan dimakamkan di Babussalam, Kampung Ulu, Palembang. Semasa hidupnya, pandangan-pandangan keagamaan Hamid Al Haddad dijadikan salah satu rujukan oleh Kesultanan Palembang.

Dengan demikian, data-data tentang sosok Mbah Priok yang disodorkan buku panduan bagi peziarah yang diterbitkan pengelola makam keramat Mbah Priok, bila dihadapkan dengan data-data yang diungkap Alwi Shahab, JJ Rizal, dan Ridwan Saidi, menimbulkan dugaan bahwa Mbah Priok adalah tokoh fiktif yang dimunculkan oleh sekelompok orang dengan motif tertentu. Boleh jadi, motif itu adalah penguasaan sebidang lahan yang bernilai miliaran rupiah. Hal ini lebih masuk akal, mengingat pada umumnya pertikaian yang terjadi lebih sering bermotifkan uang atau harta ketimbang ideologi atau akidah.

Miliaran Rupiah Terbuang

Konon, untuk merebut lahan yang diakui sebagai milik ahli waris Mbah Priok ini, pihak PT Pelindo II menggelontorkan dana operasional sebesar Rp 11 milyar. Namun pada Rapat Paripurna Istimewa DPRD DKI Jakarta dengan Gubernur DKI (22 April 2010), Gubernur Fauzi Bowo mengatakan bahwa berdasarkan Keputusan Gubernur Nomor 886 Tahun 1983 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penertiban, biaya penertiban dibebankan kepada pemohon. Dan berdasarkan rapat dengan Pelindo II disepakati biaya Rp 324 juta, yang telah diserahkan melalui seksi pelayanan dan pengaduan masyarakat Satpol PP DKI.

Namun, dari ratusan juta rupiah yang digelontorkan untuk menertibkan lahan yang dikuasai oleh pengikut Mbah Priok tadi, ternyata menuai kerugian miliaran rupiah, disamping jatuhnya korban luka-luka dan meninggal dunia dari kedua belah pihak (Satpol-PP dan pendukung Mbah Priok).

Menurut keterangan Pemprov DKI, total kerugian akibat bentrokan antara Satpol PP dan warga saat eksekusi penertiban bangunan liar di kawasan makam Mbah Priok mencapai Rp 22,955 miliar. Jumlah kerugian tersebut dihitung dari atribut dan kendaraan Satpol PP yang dibakar massa.

Sedangkan kerugian dalam bentuk lain, sebagaimana diungkapkan oleh Toto Dirgantoro (Ketua Umum Dewan Pemakai Jasa Angkutan Indonesia), bisa mencapai Rp 100 milyar. Akibat kerusuhan 14 April 2010, sejumlah peti kemas menumpuk di Terminal Peti Kemas Koja, arus lalu lintas barang ekspor dan impor di pelabuhan tertahan, kapal yang tiba di pelabuhan masih menunda pembongkaran, transportasi di kawasan Terminal Peti Kemas (TPK) Koja terhambat. Dari segi transportasi saja, menurut Toto, kerugian per hari mencapai Rp 9 miliar, selama tiga hari kerugian mencapai Rp 27 milyar.

Sedangkan menurut Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi, kalangan pengusaha harus menanggung kerugian sekitar Rp 20 miliar karena berbagai kegiatan terhambat akibat kerusuhan tersebut. Sedangkan kerugian yang dialami PT Pelindo II karena pada saat bentrokan terjadi kegiatan shift dua dan tiga di Terminal Peti Kemas Koja terhenti, diperkirakan mencapai Rp 9 miliar.

Nilai kerugian tersebut tentunya sangat fantastis. Dengan uang senilai itu, sebenarnya banyak gedung sekolah yang bisa dibangun, sejumlah guru agama honorer bisa disejahterakan. Namun apa daya, harta senilai miliaran rupiah menguap disapu angin kemarahan dan kebodohan.

Kalau saja Pemprov DKI profesional di dalam menangani penertiban makam Mbah Priok, Insya Allah kerugian bernilai miliaran rupiah sangat bisa dihindari.

Pertama, buktikan bahwa kepemilikan tanah benar-benar milik negara, khususnya milik PT Pelindo II dengan menyodorkan dokumen otentik.

Kedua, sosialisasikan bahwa sosok Mbah Priok fiktif.

Ketiga, yakinkan kepada khalayak bahwa aktivitas spiritual serupa itu merupakan perbuatan yang dilarangk PT Pelindo II dengan menyodorkan dokumen otentik.

a, buktikan bahwa kepemilikan tanah benar-benar milik Islam, bernuansa kemusyrikan.

Keempat, bekali para anggota Satpol-PP dengan siraman rohani yang sejuk, berikan juga dasar agama yang benar terutama tentang kemusyrikan sebagai dosa besar yang tak terampunkan, dan kemusyrikan itu antara lain bisa terjadi melalui kegiatan kerohanian sebagaimana dipraktekkah para pendukung Mbah Priok dengan mengkeramatkan kuburan.

Kelima, lakukan upaya penertiban dengan profesional, tidak anggap enteng, dan sesuai protap yang berlaku.

Insya Allah bila kelima hal tadi dipraktekkan, kerugian miliaran rupiah akan terhindar. Namun nasi sudah menjadi bubur. Selain merugi miliaran rupiah, penertiban lahan tidak berhasil, masih pula menanggung dosa dalam bentuk mengekalkan kemusyrikan di kawasan itu.

Sebagaimana telah diketahui, sehari pasca kerusuhan, digelar pertemuan di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan. Pertemuan tersebut dihadiri antara lain oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto beserta jajarannya, PT Pelindo II, pihak ahli waris dengan kuasa hukumnya, sejumlah organisasi kemasyarakatan, serta sejumlah habib dan alim ulama.

Dari pertemuan tersebut dihasilkan sembilan poin kesepakatan antara Pemprov DKI, PT Pelindo II, dan pihak ahli waris, sebagai berikut:

01. Makam tetap di posisinya, tidak dibongkar ataupun dipindah.

02. Pendapa Majelis Gapura dipindahkan posisinya agar Terminal Peti Kemas Koja berfungsi sesuai aturan dan standar internasional. Posisinya dibicarakan antara PT Pelindo dan ahli waris.

03. Sisa tanah akan dibicarakan antara ahli waris dan PT Pelindo.

04. Kasus lapangan akan ditindaklanjuti secara hukum, siapa yang melanggar akan ditindak. Satpol PP sebagai organik Pemda merupakan tanggung jawab Pemda.

05. Perlunya pelibatan tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam menyelesaikan persoalan kemasyarakatan.

06. PT Pelindo setuju untuk membuat MoU hitam di atas putih mengenai pembicaraan lebih lanjut dengan ahli waris.

07. Administrasi kedua pihak supaya langsung dilakukan antara PT Pelindo II dan ahli waris dan ditembusi Komisi A DPRD DKI Jakarta.

08. Pemda dan PT Pelindo sebagai anak perusahaan BUMN akan memerhatikan siapa-siapa yang menjadi korban dalam kasus kemarin. Tidak hanya biaya rumah sakit, bahkan kalau perlu sampai berobat jalan.

09. Pembahasan antara PT Pelindo dan ahli waris akan dibicarakan di kantor Komnas HAM.

Dengan adanya kesepakatan itu, maka masyarakat pun bisa menyimpulkan bahwa pemerintah yang sah dikalahkan oleh para pengusung kemusyrikan. Pemerintah yang seharusnya menguasai aset negara, justru dikalahkan oleh sekelompok orang yang mengaku-aku ahli waris Mbah Priok padahal si mbah adalah sosok fiktif. Kalau toh sosok itu benar ada, namun ia tidak pernah punya lahan dengan luas sekian hektar dan tidak punya keturunan, serta bukan sosok ulama yang pernah melakukan dakwah Islam di kawasan Batavia apalagi tanah Jawa pada umumnya, karena kehadirannya di tanah Jawa sudah dalam keadaan menjadi jenazah.

Aki Tirem

Sejak zaman pra sejarah, sekitar abad ke-1 Masehi, di kawasan yang kini dikenal dengan nama Tanjung Priok ini sudah berperan sebagai pelabuhan, karena kawasan ini berupa daratan yang menjorok ke laut (tanjung). Dari kawasan ini salah satu komoditas ekspor yang terkenal saat itu adalah produk berupa periuk (priok). Tokoh terkenal pembuat periuk adalah Aki Tirem, seorang penghulu kampung yang hidup pada abad ke-2 masehi dan tinggal di pinggiran Kali Tirem, Warakas, Tanjung Priuk.

Periuk buatan Aki Tirem sangat terkenal. Saking terkenalnya, produk Aki Tirem kerap menjadi sasaran perampokan para bajak laut. Aki Tirem merasa kewalahan menghadapi para bajak laut, dan ia merasa butuh perlindungan dari sebuah kekuasaan (kerajaan). Maka diputuskanlah untuk mendirikan sebuah kerajaan dan menjadikan menantunya Dewawarman sebagai raja pertama untuk sebuah kerajaan yang bernama Salakanagara. (tahun 130 Masehi). Salakanagara merupakan kerajaan pertama di Indonesia.

Menurut Ridwan Saidi, Salakanagara berasal dari bahasa Kawi, dan makna salaka dalam bahasa kawi berarti perak dan nagara berarti kota. Sedangkan mengenai lokasi kerajaan ini, konon berada di kawasan yang kini bernama condet. Di condet, menurut Ridwan Saidi, banyak terdapat nama-nama tempat yang bermakna sejarah, seperti Bale Kambang (pasangrahan raja) dan Batu Ampar (batu besar tempat sesaji). Juga, terdapat makam kuno yang disebut penduduk Kramat Growak dan makam Ki Balung Tunggal (tokoh dari zaman kerajaan pelanjut Salakanagara yaitu Kerajaan Kalapa). Dokumen lain menunjukkan letak Salakanagara di Teluk Lada Pandeglang.

Dewawarman selama ini dikenal sebagai duta niaga dari Palawa (India Selatan). Selain menjalin transaksi bisnis, Dewawarman juga kerap melindungi Aki Tirem dan masyarakat sekitarnya dari kejahatan para perompak. Suatu ketika Dewawarman terpikat dengan putri Aki Tirem bernama Dewi Pohaci Larasati. Mereka akhirnya menikah.

Keturunan Dewawarman melanjutkan kerajaan Salakanagara dengan menggunakan nama Dewawarman I hingga IX. Dewawarman I yang menikah dengan putri Aki Tirem berkuasa selama 38 tahun, sejak tahun 130 masehi. Sebagai Raja Salakanagara pertama ia bergelar Prabhu Dharmalokapala Dewawarman Haji Raksagapurasagara. Sedangkan Dewi Pohaci Larasati diberi gelar Dwi Dwani Rahayu. Pada tahun 362, Salakanagara (pada masa Dewawarman IX) menjadi kerajaan di bawah kekuasaan Tarumanagara.

***

Dari uraian di atas, semoga dapat disuguhkan gambaran yang lebih meyakinkan kepada umat Islam, bahwa sosok Mbah Priok kemungkinan besar fiktif belaka. Sosok fiktif ini sengaja dihadirkan untuk mendukung hajat sekelompok orang misalnya berupa menguasai lahan. Lebih celaka lagi, bila hal tersebut ditempuh dengan membawa-bawa Islam, padahal yang ditawarkan adalah pengeramatan kuburan alias jenis kemusyrikan yang justru dilarang Islam. Semoga para pelakunya menyadari dan bertobat. Semoga masyarakat luas yang sampai saat ini masih terkesima dengan sosok fiktif Mbah Priok dapat disadarkan oleh para juru dakwah kita.

Tidak Layak Dilestarikan

Dari sisi lain ada kesakisan yang menyatakan bahwa kuburan Mbah Priok itu sudah tidak ada di lokasi yang disengketakan itu. Sebagaimana berita ini:

INILAH.COM, Jakarta – Abdullah Alatas, seorang yang pernah menjadi kuasa substitusi hukum lokasi makam Habib Hasan bin Muhammad al-Hadad alias Mbah Priok mengakui bahwa lokasi makam itu sebenarnya tidak ada.

Di lokasi makam yang terdapat di Jalan Dobo, Koja, Tanjung Priuk, Jakarta Utara sebetulnya hanya situs makam buatan saja. Kerangka tulang-belulang Mbah Priok sendiri telah dipindah sejak 1997 ke TPU Budi Darma, Semper.

“Setahu saya waktu itu makam sudah dibongkar,” ujar Abdullah saat memberi keterangan dalam konperensi pers di Gedung PMI Pusat, Jakarta, Jumat (7/5). (inilah.com). (Lihat nahimunkar.com, Makam Mbah Priok Ternyata Fiktif? M, 2:39 am)

Dari sisi lain lagi, pihak kerabat di Palembang –tempat asalmula kelahiran sosok yang disebut Mbah Priok– wanti-wanti agar kuburannya jangan dikeramatkan karena menimbulkan kemusyrikan. Pesan itu beritanya sebagai berikut:

Ahli Waris Tidak Mau Makam Mbah Priuk Dikeramatkan

Senin, 3 Mei 2010 – 21:12 WIB

JAKARTA (Pos Kota) – Keluarga ahli waris Al Arif Billah Hasan bin Muhammad Al Haddad  alias Mbah Priuk, meminta makam di area TPU Dobo, Koja, Jakarta Utara tidak dikeramatkan. Pesan tersebut disampaikan Habib Abdurrahman, salah seorang keluarga Al Haddad di Palembang, ketika ditemui Tim Pencari Fakta (TPF) DPRD DKI

Lulung Lunggana, Ketua TPF DPRD DKI,  mengatakan secara khusus Habib Abdurahman menitipkan pesan tersebut kepadanya. “Habib Abdurrahman menginginkan umat Islam tidak mengkultuskan Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad dan melarang makamnya dikeramatkan karena perbuatan tersebut bisa menimbulkan syirik. Kalau mau berdo’a untuk Habib Hasan silahkan saja,” kata Lulung Lunggana, menirukan perkataan Habib Abdurrahman, Senin (3/5). (Pos Kota). (Lihat nahimunkar.com, Kerabat Melarang Makam Mbah Priok Dikeramatkan karena Bisa Timbulkan Syirik, 1:44 am)

Dari sisi lain pula, ada peringatan dari Departemen Agama (kini Kementerian Agama) di dalam Tafsir Departemen Agama:

Masih banyak di antara kaum muslimin yang masih memuja kuburan, mempercayai adanya kekuatan gaib pada batu-batu, pohon-pohon, gua-gua, dan sebagainya. Karena itu mereka memuja dan menyembahnya dengan ketundukan dan kekhusyukan, yang kadang-kadang melebihi ketundukan dan kekhusyukan menyembah Allah sendiri. Banyak juga di antara kaum muslimin yang menggunakan perantara (wasilah) dalam beribadah, seakan-akan mereka tidak percaya bahwa Allah Maha Dekat kepada hamba-Nya dan bahwa ibadah yang ditujukan kepada-Nya itu akan sampai tanpa perantara. Kepercayaan seperti ini tidak berbeda dengan kepercayaan syirik yang dianut oleh orang-orang Arab Jahiliyyah dahulu, kemungkinan yang berbeda hanyalah namanya saja. (Al-Qur’an dan Tafsirnya, Departemen Agama RI, Jakarta, 1985/ 1986, jilid 3, halaman 573-574).

Dari berbagai sisi, apa yang disebut Makam Mbah Priok yang dikeramatkan itu bila dilestarikan maka berarti Pemerintah Daerah DKI (Daerah Khusus Ibukota) Jakarta justru memimpin dalam membodohi masyarakat dan bahkan menjerumuskan kepada kemusyrikan, dosa paling besar. Itu berarti perusakan akidah yang tidak ada tandingan bahayanya.

Dua hal yang sangat tidak diinginkan masyarakat dan sangat dibenci Allah Ta’ala yaitu: membodohi masyarakat dan menjerumuskan ke kemusyrikan.

Bagaimana jadinya kalau masyarakat mengutuk, sedang Allah Ta’ala pun sangat membencinya? Maka sesuatu yang akan membahayakan itu sama sekali tidak layak untuk dilestarikan. Wallahu a’lam bisshowaab, Allah yang lebih tahu tentang kebenaran. (haji/tede) (nahimunkar.com).