Judul:Bidayatul Mujtahid
Penulis:Ibnu Rusyd
   
   
Cover:Art Paper
Isi:1745
Ukuran:UB-16 (16.00X24.50)
Berat:2500 gr
Harga:Rp 290.000,00

Bidayatul Mujtahid

Ilmu Fikih adalah ilmu yang membahas tentang hukum-hukum syar’I yang bersifat aplikatif yang diambil dari dalil-dalilnya yang rinci. Ilmu ini sangat penting. Sebab, dengan ilmu ini, kita dapat mengetahui yang halal dan yang haram, yangbenar dan yang salah, dan ibadah kita menjadi sah serta diterima oleh Allah.

Dalam kitab ini, Ibnu Rusyd menuturkan tentang penyebab-penyebab timbulnya perbedaan pendapat. Alas an-alasan aspeknya, dan pendapat-pendapat para fuqaha umat Islam dari generasi sahabat serta generasi-generasi sesudah mereka, dengan menjelaskan sandaran masing-masing berikut tarjih dan keterangan mana yang shahih.

Kami berharap agar kitab ini menjadi referensi dalam disiplin ilmu fikih, baik bagi pelajar, akademisi, maupun masyrakat muslim lainnya. Kami juga berharap kepada Allah semoga menjadikan buku ini sebagai amal saleh kepada penulis yang memberatkan timbangan kebaikannya kelak di akhirat.*/kautsar.co.id

***

Bidayatul Mujtahid, Perpaduan Fiqih dan Ushul Fiqih

Oleh Saiful Hadi  7:41 AM

Kitab Bidayatul Mujtahid adalah buah karya dari Al-Fakih Abul Walid Muhammad bin Ahmad Bin Muhammad Ibnu Rusyd atau lebih dikenal dengan nama Ibnu Rusyd (w 595H). Beliau merupakan seorang filosof terkenal kelahirah Cordova. Selain ahli dibidang fiqih beliau juga menekuni matematika, fisika astronomi, kedokteran dan logika sehingga menjadikannya sebagai ulama atau filosof yang sulit ditandingi.

Bidayatul Mujtahid adalah satu-satunya karya fiqih dan ushul fiqih yang lebih menekankan pada pemakaian kaedah-kaedah Fiqih dan ushul fiqih, yang lekat pada gaya berlogika tanpa meninggalkan landasan tekstual (Nash). Kitab ini walaupun pengarangnya bermadzhab Fiqih Maliki, namun Ibnu Rusyd tidak hanya menyediakan pendapat-pendapatnya sebagai bagian dari punggawa ulama-ulama Malikiyah, akan tetapi beliau uraikan semua pendapat madzhab, dari Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyyah, Zahiriyah, dan Hanabilah.

Secara metodelogis, cakupan analisa dari kitab ini dapat digambarkan dalam lima lapis lingkaran. lingkaran paling dalam (pertama) adalah cerminan dari mazhab yang paling sedikit mengunakan ra’yu (logika). Prinsip mereka dalam mengeluarkan hukum tidak memperkenankan menggunakan akal, tapi mesti sesuai zahir nash saja. Kelompok yang paling berpengang teguh pada prinsip ini adalah Mazhab Zhahiri, yang dilanjutkan oleh Ibnu Hazm dalam kitabnya al-Muhalla.

Lingkaran kedua adalah kelompok yang menggunakan rasio agak lebih intens. Lapisan ini dipelopori oleh Imam Ahmad Bin Hanbal. Mereka beranggapan bahwa hadist dhaif harus lebih didahulukan daripada rasio atau akal.

Lingkaran ketiga, kelompok yang sedikit lebih bebas dibandingkan dua kelompok sebelumnya. Kelompok ini menisbahkan diri pada Imam Malik. Dalam kelompok ini rasio harus diperhatikan guna pertimbangan kemaslhatan sehingga lahir kaedah al-Mashalih al-Murshalah. Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid tersebut cenderung mempertahankan teori yang digagas oleh Imam Malik.

Lingkaran keempat adalah kelompok yang ingin memadukan antara sumber teks dan analisa rasional. Sehingga dalam kelompok ini mengajukan teori analogi (qiyas) dalam mengistimbat hukum. Pola pemikiran ini dipelopori oleh Imam Syafi’i.

Sementara lingkaran yang kelima adalah kelompok yang penggunaan rasio dan akal lebih banyak dibanding hanya bersandar pada teks. Kelompok ini dipelopori oleh Abu Hanifah, yang kemudian lebih dikenal dengan Mazhab Hanafi.

Sekilas, demikianlah gambaran singkat dari kitab Bidayatul Mujtahid, semoga bermanfaat./ www.catatanfiqih.com

(nahimunkar.com)