Kitab ini the best dalam bidangnya: fiqh konsentrasi madzhab Syafi’i. Sesuai namanya, insya Allah penulisnya mengambil pendapat yang mu’tamad dalam madzhab. Untuk thullab Syafi’iyyah, hendaknya memiliki kitab besar ini. Harga standarnya mahal. Hampir 1 jutaan. 5 jilid. Tapi isinya luar biasa.

Kitab ini tidak membahas khilafiyyah sebagaimana standar Fiqh Muqaran (Fiqh Perbandingan). Ia bukan semodel al-Majmu’ atau al-Hawy al-Kabir.

Kitab ini bahkan tidak menyebut khilafiyyah dalam madzhab Syafi’i. Ia bukan semodel Raudhah ath-Thalibin dengan kerumitan khilafiyyah dalam madzhab.

Kitab ini tapinya bukan matan hafalan. Ia bukan semodel Matn Aby Syuja’ (haihata haihata) bukan pula semodel Minhaj ath-Thalibin.

Kitab ini bukan pula kitab menengah yang kadang nanggung. Ia bukan semodel al-Wasith fi al-Madzhab.

Kitab ini tidak menjamak antara dua atau tiga kitab semata kemudian mempertemukan perselisihan antar ulama madzhab secara sederhana. Tidak semodel Kifayah al-Akhyar.

Kitab ini bukan kitab syarh (penjelas) untuk matan-matan Fiqh. Ia bukan semodel Nihayah al-Muhtaj dan banyak lainnya.

Kitab ini tidak disusupi pembahasan kalam, syair dan lainnya yang menjauh dari Fiqh. Ia bukan semodel dengan Hasyiat al-Bajury.

Kitab ini tidak sekadar menyuguhkan dalil atas matan fiqh. Ia tidak semodel at-Tadzhib fi Adillah Matn al-Ghayah wa at-Taqrib.

Kitab ini kontemporer disusun oleh seorang ulama saja. Ia tidak semodel Fiqh Manhajy yang disusun 3 ulama, sekalipun FM sangat bermanfaat.

Kitab al-Mu’tamad adalah kitab al-Mu’tamad itu sendiri. Ia adalah kitab madzhab di masa kini, yang insya Allah sangat cocok untuk thullab kekinian yang ingin konsentrasi di madzhab, sebelum terjun ke kutub muthawwalah. Sekalipun memang penulisnya banyak mengambil dari Mughny al-Muhtaj, namun kitab ini tetaplah al-Mu’tamad.

Kitab ini untuk kalangan menengah. Rinciannya luar biasa. Cukup mengenyangkan meski jauh dari sempurna sebagaimana segala kitab karya manusia. Dalil-dalil tertabur. Setiap kalimat berfaedah secara fiqh dan ilmiah.

Di kekinian, kita melihat madzhab Hanbali tersebar. Disebabkan banyak dari masyayikhnya memanfaatkan koneksi Internet, percetakan yang kaya dan rajinnya para pelajar. Sementara amat disayangkan, kemajuan madzhab Syafi’iyyah terutama di tanah air stagnan. Betapa banyaknya kitab-kitab Hanabilah tercetak ulang, dibagi-bagi dan banyak ulama mensyarh kemudian dibukukan. Bukan bermaksud fanatik madzhab, tetapi turats dan dirasat madzhab Syafi’iyyah perlu dihidupkan lebih. Di Indonesia. Dan tidak boleh fanatik. Agama kembali kepada dalil, sekalipun kadang relatifitas pemahaman ulama dan thullab terhadap dalil sering berbeda. Kullun muyassarun lima khuliqa lahu. Baarakallaahu fiikum.

Via Fb Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

(nahimunkar.com)