Kompas.com Sebarkan Hinaan dan Benci Islam Secara Terbuka?!

Kompas.com, SELASA, 15 DESEMBER 2009 | 13:14 WIB menampilkan berita berjudul Sadis, Militan Somalia Rajam Pezina hingga Tewas.

Lead berita dan alenia berikutnya sebagai berikut::

MOGADISHU, KOMPAS.com — Adegan barbar ini bukan dari Zaman Kegelapan, tetapi dilakukan sebuah kelompok militan di Somalia, Minggu (13/12/2009). Kelompok itu memaksa warga desa menonton perajaman seorang pria hingga tewas yang dinyatakan melakukan perzinahan.

Mohamed Abukar Ibrahim, nama pria malang berusia 48 tahun itu, dikubur hidup-hidup dalam posisi berdiri, hanya leher dan kepala yang masih di atas tanah, lalu dilempari batu hingga tewas. Kelompok militan itu, Hizbul Islam, juga menembak mati seorang pria lain karena melakukan pembunuhan. Eksekusi terhadap dua orang itu terjadi di Afgoye, sekitar 20 mil di barat daya Mogadishu, ibu kota Somalia.

(http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/12/15/13141323/Sadis..Militan.Somalia.Rajam.Pezina.hingga.Tewas)

Berita itu selanjutnya sampai 11 alenia, disertai foto-foto 4 buah, ditulis oleh pemberita dengan inisial EGP dengan Editor: primus.

Lafal sadis dijadikan judul berita., untuk mensifati pelaksanaan hukum rajam terhadap pezina. Bahkan lead berita itu dimulai dengan ungkapan Adegan barbar ini bukan dari Zaman Kegelapan . Itu untuk mensifati judul berita tentang perajaman terhadap pezina.

Perlu diketahui, hukum rajam adalah hukum Islam yang dikenakan terhadap pezina muhshon –yang sudah pernah nikah dan berhubungan badan suami isteri–. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan hukum rajam itu.

Nabi pernah merajam wanita Ghamidiyyah dan Ma’iz serta  pernah

merajam dua orang Yahudi. (dalam Hadits shahih). (Lihat Abu Bakar J

abir Al-Jazairi, Minhajul Muslim, Darul Fikr, halaman 434).

Departemen Agama RI memuat hukum rajam

Departemen Agama Republik Indonesia memuat hukuman rajam bagi pezina muhshon (yang sudah pernah nikah dan hubungan badan suami isteri) di dalam Al-Qur’an dan Tafsirnya.

Kitab Tafsir resmi Depag itu menegaskan:

Hukuman  dera  hendaklah dilaksanakan oleh yang  berwajib  dan

dilakukan  di tempat umum, sehingga dapat disaksikan oleh  orang-

orang  banyak, dengan maksud supaya orang-orang yang  menyaksikan

pelaksanaan hukuman dera itu mendapat pelajaran, sehingga  mereka

benar-benar dapat menahan dirinya dari berbuat zina.

Adapun pezina-pezina muhshon, baik perempuan maupun laki-laki,

hukumannya  ialah  dilempar dengan batu  sampai  mati, yang menurut istilah di dalam Agama kita Islam dinamakan “rajam”.

Juga hukuman rajam ini dilaksanakan oleh yang berwajib di  tempat

umum  yang  dapat disaksikan oleh orang banyak. Hukum  rajam  itu

didasarkan atas sunnah Nabi SAW yang mutawatir.

Diriwayatkan dari Abu Bakar, Umar, Ali, Jabir bin Abdillah, Abu Said Al-Khudri, Zaid bin Khalid dan Buraidah Al-Aslamy, bahwa seorang sahabat Nabi yang bernama Maa’iz, telah dijatuhi hukuman rajam atas pengakuannya sendiri bahwa ia berzina, begitu pula dua orang perempuan dari Bani Lakhm dan Bani Ghamid telah dijatuhi hukuman rajam, atas pengakuan keduanya bahwa dia berzina. Hukuman itu dilakukan di hadapan umum. Beginilah hukuman perbuatan zina di dunia. (lihat Al-Qur’an dan Tafsirnya Departemen Agama RI, 1985/ 1986, juz  18,

hal 730-731).

Tidak ada yang berhak mengampuni atau menebus

Dalam hal hukuman zina, manusia sejagad ini tidak ada yang punya hak mengampuninya, kecuali pendapat para pendukung pelacuran alias musuh-musuh Allah. Juga tidak ada yang berhak menebusnya. Berikut ini ketegasan dalam Hadits:

1000 حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ وَزَيْدِ بْنِ خَالِدِ الْجُهَنِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رَجُلًا مِنَ الْأَعْرَابِ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْشُدُكَ اللَّهَ إِلَّا قَضَيْتَ لِي بِكِتَابِ اللَّهِ فَقَالَ الْخَصْمُ الْآخَرُ وَهُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ نَعَمْ فَاقْضِ بَيْنَنَا بِكِتَابِ اللَّهِ وَأْذَنْ لِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْ قَالَ إِنَّ ابْنِي كَانَ عَسِيفًا عَلَى هَذَا فَزَنَى بِامْرَأَتِهِ وَإِنِّي أُخْبِرْتُ أَنَّ عَلَى ابْنِي الرَّجْمَ فَافْتَدَيْتُ مِنْهُ بِمِائَةِ شَاةٍ وَوَلِيدَةٍ فَسَأَلْتُ أَهْلَ الْعِلْمِ فَأَخْبَرُونِي أَنَّمَا عَلَى ابْنِي جَلْدُ مِائَةٍ وَتَغْرِيبُ عَامٍ وَأَنَّ عَلَى امْرَأَةِ هَذَا الرَّجْمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَأَقْضِيَنَّ بَيْنَكُمَا بِكِتَابِ اللَّهِ الْوَلِيدَةُ وَالْغَنَمُ رَدٌّ وَعَلَى ابْنِكَ جَلْدُ مِائَةٍ وَتَغْرِيبُ عَامٍ وَاغْدُ يَا أُنَيْسُ إِلَى امْرَأَةِ هَذَا فَإِنِ اعْتَرَفَتْ فَارْجُمْهَا قَالَ فَغَدَا عَلَيْهَا فَاعْتَرَفَتْ فَأَمَرَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرُجِمَتْ *

Hadits dari Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid Al-Juhaniy radhiyallahu ‘anhuma: “Sesungguhnya pernah ada seorang Arab dusun (A’robi) datang menghadap Nabi Shalllallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berkata:: Ya Rasulallah, aku mohon kepadamu dengan nama Allah agar supaya engkau memutuskan hukum buatku berdasarkan Kitabullah! Kemudian pihak yang lain berkata sedang ia lebih mengerti daripada pihak pertama tadi. Benar, putuslah kami dengan Kitabullah dan izinkanlah aku (berbicara)! Lalu Nabi Shalllallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bicaralah!” Ia berbicara: Sesungguhnya anakku ini menjadi buruh orang ini lalu ia (anakku) berzina dengan isterinya (isteri orang ini), sedang aku diberitahu bahwa anakku ini harus dirajam, maka kutebus dia dengan seratus kambing dan seorang hamba perempuan. Kemudian aku bertanya kepada para ulama lalu mereka memberitahukan kepadaku, bahwa anakku harus dijilid/ didera 100 kali dan dibuang setahun, sedang isteri orang ini harus dirajam.

Kemudian Rasulullah Shalllallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi Dzat yang diriku berada di bawah kekuasaanNya, sungguh aku benar-benar akan memutuskan di antara kalian berdasar Kitabullah, (yaitu) hamba perempuan dan kambing (yang akan kamu jadikan tebusan) itu kembali (lagi) kepadamu, sedang anakmu harus didera 100 kali dan dibuang selama setahun, dan besuk pagi-pagi hai Unais, bawalah perempuan ini, kemudian jika ia telah mengakui maka rajamlah ia!” Kemudian pada pagi harinya (perempuan itu dibawa oleh Unais) lalu ia mengakuinya kemudian diperintahkan oleh Nabi Shalllallahu ‘alaihi wa sallam (untuk dirajam) maka iapun dirajam.” (HR Al-Bukhari dan Muslim/ Muttafaq ‘alaih).

Penghinaan dan kebencian terhadap Islam dengan kata-kata kasar secara terbuka

Tentang hukum rajam bagi pezina muhshon sudah jelas merupakan hukum Islam. Bahkan Departemen Agama RI pun memuat hukum rajam itu dengan jelas di dalam kitab Al-Qur’an dan Tafsirnya

Penegasan dalam kitab terbitan Depag RI itu cukup jelas:

Adapun pezina-pezina muhshon, baik perempuan maupun laki-laki,

hukumannya  ialah  dilempar dengan batu  sampai  mati, yang menurut istilah di dalam Agama kita Islam dinamakan “rajam”.

Dari keterangan ini, maka kata-kata kasar yang ditulis Kompas.com untuk mensifati pelaksanaan hukum rajam dengan lontaran kebencian yakni: Sadis, Adegan barbar ini bukan dari Zaman Kegelapan; itu sama sekali tidak menghormati keyakinan Ummat Islam. Bahkan sangat menghina dan menyebarkan kebencian terhadap Islam secara terbuka!

Sama sekali Kompas.com dengan tulisannya itu menusuk perasaan jiwa Ummat Islam yang terdalam, yang meyakini Islam sebagai agama yang dilindungi. Tidak mempedulikan perasaan Ummat Islam sama sekali.

Padahal, kalau mau menggunakan otaknya sedikit saja, bahwa pelaksanaan rajam itu melalui proses, secara hukum, dan kemudian jenazahnya pun dikubur, artinya diurusi secara prosedur yang benar. Sedang korbannya ya hanya pelaku yang sudah terbukti secara hukum, atau karena pengakuan sendiri.

Coba, pernahkah Kompas.com menyebut bahwa Amerika dan Israel yang menjatuhi bom di mana-mana dengan membunuhi penduduk bahkan sampai bayi-bayi pun terbunuh itu dijuluki barbar, sadis, Adegan barbar ini bukan dari Zaman Kegelapan ?

Kalau bukan karena ingin menghina dan menyebarkan kebencian secara terbuka terhadap Islam, maka tentunya masih ada rasa timbang-timbang. Karena bagaimanapun, Islam ini dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia. Dan siapa saja di dunia ini yang melakukan hukum Islam, kemudian dihina dan dilontari kebencian, berarti menghina seluruh Ummat Islam.

Lebih dari itu, hakekatnya Kompas.com telah mencoba untuk melontarkan hinaan terhadap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena beliaulah yang menegaskan dan melaksanakan hukum rajam itu untuk kemudian diteruskan oleh ummatnya.

Terimakah ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dicaci maki sebagai orang yang sadis dan barbar, wahai saudara-saudaraku Muslimin wal Muslimat?!

(Redaksi nahimunkar.com)