Komunis Gaya Baru

Pada salah satu seminar yang berlangsung di Jakarta tanggal 30 September 2009, salah seorang petinggi TNI yang menjadi salah satu narasumber mengatakan, gerakan komunis gaya baru makin nyata dan kian gencar melakukan aksinya melalui upaya pembelokan fakta sejarah secara sistematis seputar pemberontakan G30 S/PKI. Sang Jenderal juga mengatakan, tidak mudah mendeteksi keberadaan organisasi tanpa bentuk yang lambat laun bermetaformosis menjadi komunis gaya baru karena mereka berbaur di tengah masyarakat.

Melalui sejumlah tulisan, redaksi nahimunkar.com sebenarnya sudah memberikan isyarat kepada masyarakat Indonesia, bahwa komunis gaya baru ada yang tampil mengenakan jubah Islam, menjadi petinggi atau tenaga pengajar di perguruan tinggi Islam, menjadi penulis lepas untuk berbagai media cetak yang mengkampanyekan komunisme gaya baru. Sebagian lainnnya berjubah sepilis, dan suka nongkrong di utan.

Misalnya, melalui tulisan berjudul Lahn Qaul Ahmad Syafii Maarif yang dipublikasikan pada June 5, 2008 10:06 pm. Antara lain, dituliskan bahwa:

Pembaca yang kami hormati, setiap membaca tulisan Ahmad Syafii Maarif di Harian Republika, saya merasa sedih: mengapa orang seusia beliau belum juga mendapat hidayah dari Allah? Setiap membaca tulisannya yang berbau agama (Islam) ada saja yang berorientasi kepada membela kekafiran, sepilis (sekularisme, pluralisme agama dan liberalisme) yang merupakan casing baru untuk isi yang sama yaitu enggan terhadap perintah agama, bahkan anti agama. Bagi sebagian orang, sepilis adalah bentuk baru dari komunisme atau bisa disebut dengan istilah neo-komunisme.

Bila komunisme pada masa sebelumnya bersikap frontal terhadap agama (Islam), kini para neo-komunis itu tidak terlalu berani frontal tetapi justru berbaju Islam. Meski berbaju Islam, namun orientasinya berbeda: ketika berbicara tentang Islam, yang mereka tawarkan justru keragu-raguan, membingungkan dan melecehkan atas nama pembaharuan pemikiran Islam serta anti kejumudan.

Salah satu pelakonnya adalah tokoh sepuh kita yaitu Ahmad Syafii Maarif, kelahiran Sumpurkudus (Sumatera Barat) tanggal 31 Mei 1935, yang pernah meraih gelar Doktor di Universitas Chicago, Amerika Serikat, tahun 1982.

Sekitar enam bulan kemudian redaksi menrunkan tulisan berjudul Gejala Bahaya Laten Neo Komunisme di UIN yang dipublikasikan pada November 2, 2008 9:44 pm. Antara lain dituliskan bahwa:

Para penganut neo komunisme ini, untuk menanamkan doktrinnya mengawali upayanya dengan gerakan pemurtadan, dengan menjual slogan pluralisme dan sebagainya. Bahkan mereka tidak sungkan-sungkan menuduh umat Islam sebagai biang kerok konflik horizontal, akibat pemahaman yang tekstual dan jumud. Padahal, sumber konflik horizontal adalah karena semakin leluasanya para penganut neo komunisme berkiprah di ranah politik nasional.

Di masa Orde Baru, penganut komunis sama sekali tidak bisa berkiprah di ranah politik, tidak bisa menjadi anggota parpol, dan sebagainya. Kini, mereka leluasa masuk ke berbagai parpol seperti PDI-P, Golkar dan sebagainya. Bagi komunisme, merebut kekuasaan adalah salah satu pokok ajaran yang wajib dilaksanakan. Maka, mereka berusaha merebut kekuasaan dari tingkat yang paling rendah melalui berbagai pilkada. Hasilnya, berbagai pilkada selalu diwarnai kericuhan.

Gagasan mengganti Allah dengan Tuhan, sudah pernah dijajakan Dr Nurcholish Madjid (salah seorang alumni IAIN –Institut Agama Islam Negeri). Gagasan itu ditawarkannya pada tahun 1985, dengan alasan agar Islam terkesan lebih mempribumi. Rupanya, tawaran itu masih terus dihidup-hidupkan oleh Dr Suwito dan organisme yang lebih muda darinya.

Kalau toh gagasan itu tidak berhasil diimplementasikan, setidaknya sudah berhasil menyulut kemarahan kalangan Islam. Yang penting potensi konflik terus diproduksi. Pelarangan Suwito di atas juga bisa dimasukkan ke dalam ‘strategi’ seperti ini. Begitulah watak penganut komunis. Konflik harus terus diciptakan, sehingga terjadi instabilitas politik. Bila terjadi instabilitas politik dalam jangka waktu cukup panjang, akan menjadi momentum yang kondusif untuk merebut kekuasaan.

Masih pada bulan dan tahun yang sama, redaksi menurunkan tulisan berjudul Membenci Islam, Menjajakan Sekulerisme Bermuara Komunisme dan Atheisme yang dipublikasikan pada November 7, 2008 4:50 am. Antara lain dituliskan:

Pada salah satu tulisannya, mendiang Nurcholish Madjid  pernah menyatakan: “Komunisme adalah bentuk lain dan lebih tinggi dari sekularisme. Sebab, komunisme adalah sekularisme yang paling murni dan konsekwen. Dalam komunismelah seseorang menjadi atheis sempurna“.

Pernyataan itu dikutip oleh Abdul Hadi W.M. melalui tulisannya berjudul Islam, Marxisme dan Persoalan Sosialisme di Indonesia yang dipublikaskan di situs Bayt al-Hikmah Institute,bisa juga ditemukan

dihttp://ahmadsamantho.wordpress.com/2008/01/28/islam-marxisme-dan-persoalan/.

Bila komunisme adalah bentuk lain dan lebih tinggi dari sekularisme, maka logikanya, sekularisme adalah bentuk lain dan lebih rendah dari komunisme, yang belum murni dan belum konsekwen sebagaimana komunisme. Kalau begitu adanya, tentu dari benak kita timbul pertanyaan, Mengapa mendiang Nurcholish Madjid dan sekutunya begitu getol menjajakan sekularisme?”

Mungkin mendiang Nurcholish Madjid tahu –karena ia juga mengaku-aku ikut menumpas PKI (Partai Komunis Indonesia)– bahwa bila komunisme itu dijajakan apa adanya, pasti kalah, karena akan langsung dilibas oleh kekuatan Islam. Oleh karena itu, boleh jadi mendiang Nurcholish Madjid sedang bereksperimen dengan menjajakan komunisme namun melalui tingkatan yang lebih rendah, yaitu sekularisme. Bila sekularisme ini berhasil diserap, lama-kelamaan akan sampai ke puncaknya yaitu komunisme, dan komunisme merupakan puncak kesempurnaan atheisme. Padahal, atheisme bertentangan dengan Pancasila dan agama-agama yang diakui keberadaannya oleh pemerintah Indonesia.

Hanya Allah yang Maha Mengetahui, hanya Allah yang Lebih Mengetahui apa-apa yang tersimpan di balik hati seseorang, termasuk di balik hati Nurcholish Madjid (dan sekutunya) yang begitu getol menjajakan sekularisme. Bahkan kini komoditas ideologis itu berkembang menjadi sepilis (sekularisme, pluralisme agama, dan liberalisme).

Masih di bulan November 2008, redaksi nahimunkar menurkan tulisan berjudul Eros Djarot Dinilai Mau Bangkitkan Komunisme yang dipublikasikan pada November 30, 2008 10:12 pm. Antara lain dituliskan:

Fenomena penyusupan komunisme di dalam aktivitas kebudayaan, sebagaimana dilakukan Eros Djarot, menambah rangkaian gerbong pada kereta penyusupan ajaran ini, setelah sebelumnya komunisme disusupkan melalui gagasan sepilis, disusupkan ke dalam UIN (IAIN), dan berbagai ormas maupun partai politik.

Pemerintah dan aparat keamanan sudah seharusnya menyadari hal ini. Kalau perlu jangan cuma rangkaian gerbong yang membawa paham komunis yang diterminasi, tetapi lokomotif dan stasiunnya sekalian dieliminasi.

Sekitar dua pekan kemudian, redaksi nahimunkar menurunkan tulisan berjudul Cara Goenawan Mohamad Jualan Marxisme dan Merusak Agama yang dipublikasikan pada December 14, 2008 9:10 pm. Antara lain dituliskan:

Bagi yang belum tahu latar belakang Goenawan Mohamad (GM), mungkin terheran-heran dengan minatnya terhadap bacaan-bacaan dan pemikiran-pemikiran yang membincangkan soal Tuhan namun dengan orientasi yang meniadakan, meragukan, dan sejenisnya.

Cobalah sesekali kunjungi situs taman kembang pete yang memuat wawancara majalah porno Playboy edisi 16 April 2007 dengan Goenawan Mohamad (GM) (http://tamankembangpete.blogspot.com/2007/04/playboy-interview-goenawan-mohamad.html). Dari wawancara itu, antara lain bisa diketahui bahwa bapaknya GM adalah seorang tokoh Marxis yang berpengaruh di Pekalongan.

GM sendiri mengakui bahwa bapaknya kiri. “Iya, Bapak saya seorang kiri. Saya terlalu kecil waktu itu untuk mengerti. Kakak saya, Kartono, cerita dalam perpustakaan bapak saya itu Karl Marx isinya. Dia aktivis politik, pelopor kemerdekaan. Dia dibuang ke Digul bersama ibu saya. Pulang, tahun 1945, Belanda datang dia ditangkap, ditembak mati. Saya umur lima tahun ketika itu.”

Bahkan, melalui wawancara majalah porno tersebut, GM memposisikan orang-orang yang berpaham komunis setara dengan yang non komunis. Menurut GM, “Saya lihat orang-orang komunis sama patriotiknya dengan yang bukan komunis, sama-sama ingin membikin Indonesia lebih baik…” Begitu kata GM.

Lain yang dikata GM lain pula dalam kenyataan. Dan ternyata, patriotisme kaum yang berpaham komunis itu ditunjukkan –setidaknya– melalui dua kali kudeta, di tahun 1948 dan 1965, membunuhi ulama; juga mengolok-olok agama dan umat beragama, sebagaimana kini dilakukan oleh sebagian anasir JIL (Jaringan Islam Liberal) dan sejumlah mahasiswa kiri di UIN/IAIN.

Dalam salah satu catatan pinggirnya berjudul Atheis (30 Juli 2007), GM seperti sedang ‘membanggakan’ kitab bacaannya yang membincangkan keberadaan tuhan, antara lain God Is Not Great: Religion Poisons Everything karya penulis Inggris bernama Christopher Hitchens yang meyakini bahwa Tuhan tidak akbar dan bahwa agama adalah racun. Masih ada beberapa buku lainnya yang dibaca GM, meski tidak tuntas.

Kalau keberadaan Allah dan kesucian Al-Qur’an berani digugat, diragukan, diplintir, dan dijadikan olok-olok, apalagi hanya sekedar fakta sejarah. Maka, jangan heran bila akhir-akhir ini upaya pembelokan fakta sejarah berkenaan dengan pemberontakan PKI kian berani dilakukan, karena selama ini penghujatan terhadap agama (Islam), Allah dan Al-Qur’an berhasil dilaksanakan tanpa ada risiko sama sekali. Umat Islam sendiri hanya berani melansir fatwa yang oleh mereka diangap sebagai macan ompong semata.

Selain melansir fatwa, paling jauh yang berani dilakukan umat Islam adalah melakukan protes terbuka, sebagaimana terjadi baru-baru ini terhadap Jawa Pos yang dituding pro komunis dan pornografi. (lihat tulisan di hidayatullah.com bertajuk Dinilai Sering “Vulgar”, Ormas Islam Demo Jawa Pos pada Thursday, 03 September 2009 14:26). Antara lain diberitakan: Puluhan orang yang mengaku mewakili beberapa elemen organisasi massa Islam, mendatangi kantor Jawa Pos di Jalan A Yani Surabaya, Rabu (2/9), guna memprotes beberapa pemberitaan koran itu yang dinilai vulgar dan dianggap membela komunis.

Kewaspadaan menghadapi kemungkinan bangkitnya komunis gaya baru, merupakan agenda kita bersama. Redaksi nahimunkar hanya dapat memberi isyarat melalui tulisan-tulisan yang dipublikasikan di sini. Pihak-pihak lain sudah saatnya turut berperan serta dalam hal ini melalui kiprahnya masing-masing. Yang penting ada koordinasi dan komunikasi di antara sesama kita. (haji/tede)