Konsep “Peneladanan terhadap Nama/Sifat Allah” Tidak Ada di Al-Qur’an dan Hadits

Pengantar:

Seiring dengan adanya fatwa dari Mufti Wilayah Persekutuan Malaysia bahwa Emotional and Spiritual Quotient (ESQ) milik Ary Ginanjar Agustian yang sangat terkenal di Indonesia adalah menyeleweng dari ajaran Islam. (lihat nahimunkar.com, Inilah Fatwa Lengkap Mufti Malaysia tentang ESQ Ary Ginanjar, 9:57 pm ). Juga banyaknya kritikan tajam terhadap ESQ itu di antaranya pernyataan M Amien Djamaluddin peneliti MUI (Majelis Ulama Indonesia):

Orang kok diajak supaya menjadi seperti sifatnya Allah, ini tidak benar. (M Amin Djamaluddin, voaislam.com, 10 Juli 2010).

Buku “Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ” yang ditulis oleh Ary Ginanjar, pemahamannya tentang Asmaul Husna jelas sangat menyimpang.

Sebab dalam ayat itu disebutkan وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا [الأعراف/180] “walillahil asmaa`ul Husna fad’uuhu bihaa.” Begitu perintah Allah dalam Al-Qur’an. Terjemahan Depag disebutkan, “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu.”

Di situ ada kata “hanya.” Asmaul Husna itu hanya milik Allah. Kita diperintahkan fad’uhu biha” bermohonlah kepadanya dengan menyebut Asmaul Husna itu, yaitu berdoa dengan menyeru: Ya Allah, ya Rahman, ya Ghaffar, dan seterusnya.

Tapi Asmaul Husna dalam buku ESQ diartikan menyimpang. Misalnya, Asmaul Husna “Huwal awwalu wal-akhir” diartikan menjadi “saya bersikap selalu menjadi  orang pertama dan terakhir.” Ayat “Huwal awwalu wal-akhir” itu disamakan dengan kita.

Tidak bisa manusia masuk menyerupai asma Allah, kekuasaan Allah, kebesaran Allah, dan Rahman Rahimnya Allah. Tidak bisa! Jangan dibandingkan manusia dengan Allah. Apa sih artinya manusia, kok dibandingkan dengan kebesarannya Allah?

Kesalahan yang paling mendasar dalam buku ESQ ini adalah penyimpangan makna Asmaul Husna, karena ini adalah kunci dan inti buku ini. Dalam buku ini, masalah Asmaul Husna merupakan kesimpulan akhir.

Karena ini masalah akidah, siapapun yang bertanya akan saya jelaskan bahwa ESQ ini menyimpang. Demikian penegasan M Amin Djamaluddin, peneliti dari MUI (Majelis Ulama Indonesia) Pusat dan DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia). (lihat nahimunkar.com, ESQ Jelas Sangat Menyimpang, 2:39 am)

Ternyata di tempat lain, pembahasan tentang meneladani atau meniru nama/ sifat-sifat Allah itu ramai di satu mailing list hingga terjadi polemic panjang.

Dari rangkaian polemic itu ada jawaban yang pantas disimak, di antaranya sebagai berikut. Selamat menyimak. (Redaksi nahimunkar.com).

Bismillahirrahmanirrahim.

Saya mengatakan bahwa konsep “peneladanan terhadap nama/sifat Allah” adalah sebuah konsep yang absurd sehingga tidak perlu disuarakan dan justru perlu harus ditinggalkan atau dijernihkan. Konsep ini pun tidak pernah ada dalam Al-Quran, dalam Hadits, maupun dalam khazanah para ulama tepercaya, khususnya kalangan mutaqaddimin. Yang ada justru penjernihannya.

Mengapa demikian?

Sebuah konsep/prinsip/paradigma, tentu tidaklah bisa diterima hanya sekadar karena ada beberapa aspeknya yang “benar” dan “baik” ataupun “nampak benar” dan “nampak baik”. Kebenaran dan kebaikan parsial (atau kenampakan benar dan kenampakan baik parsial) ini sama sekali tidak bisa menjadi justufikasi untuk mengesahkan sebuah konsep.

Westernisme, misalnya, adalah sebuah konsep/prinsip/paradigma yang tidak bisa diterima. Memang betul bahwa Barat punya beberapa norma dan nilai yang positif semisal disiplin waktu, kebersihan lingkungan, dan ketekunan kerja, serta punya beberapa khazanah yang potensial untuk dikembangkan menjadi positif semisal kemajuan sains, kecanggihan teknologi, dan kehandalan militer. Akan tetapi, apakah dengan demikian berarti “westernisme” menjadi sebuah konsep yang sah? Tentu saja tidak. Keberadaan beberapa hal yang positif ini sama sekali tidaklah menjadikan Westernisme atau Pembaratan itu menjadi sebuah konsep yang sah. Barat tidak bisa dijadikan sebagai kiblat hanya gara-gara ia punya beberapa aspek yang postif, yang potensial untuk menjadi positif, atau yang dianggap demikian.

Begitu juga dengan konsep/prinsip/paradigma “meniru Allah”. Paham ini tidak bisa diterima hanya gara-gara beberapa implementasinya itu positif atau nampak positif, semisal meniru kejujuran Allah, meniru keadilan Allah, dan meniru kebaikan Allah; atau juga meniru kreativitas Allah (al-khaaliqul baari’), meniru kesigapan dan cepatnya perhitungan Allah (sarii`ul hisaab), serta meniru kerasnya Allah dalam menyiksa dan menghempaskan musuh (syadiidul `adzaab; inna bathsya rabbika lasyadiid).

Sekadar adanya beberapa implementasi yang positif, atau nampak positif, atau dianggap positif, sama sekali bukanlah pembenar untuk membuat sebuah konsep/prinsip/paradigma itu menjadi sah.

Sebuah konsep/prinsip/paradigma hanyalah akan sah apabila memang ia punya dasar (epistemologis maupun aksiologis) yang kuat, mapan, dan independen. Kuat artinya otoritatif (ada masyru`iyyah-nya secara rasional maupun revelasional), mapan artinya tahan sanggahan (akar konsepnya takterbantahkan walaupun ada beberapa pengecualian), dan independen artinya bisa difungsikan dan diimplementasikan rinciannya secara mandiri tanpa harus menunggu pengesahan dari prinsip lainnya.

Misalnya prinsip “al-iqtidaa’ bir-rasuul SAW” (meneladani Rasulullah SAW). Prinsip ini adalah prinsip yang sah karena memang punya dasar yang kuat, mapan, dan independen. Ia “kuat” karena secara rasional seorang rasul adalah manusia yang paling mengerti ajaran agama sehingga mestinya paling serius mempraktekkannya (maka layak untuk diteladani); dan secara revelational Allah memang telah menandaskan beliau sebagai “uswah hasanah” bagi para pecinta Allah dan pendamba Akhirat.

Prinsip ini juga “mapan” karena akar konsepnya takterbantahkan. Ada beberapa hal yang khusus untuk Rasulullah, seperti wajibnya shalat malam (menurut pendapat beberapa ulama), bolehnya puasa wishal (sinambung ke hari berikutnya tanpa berbuka), bolehnya menikahi lebih dari 4 istri, terlarang menerima sedekah, dan haramnya mantan istri beliau dinikahi oleh siapapun setelah beliau wafat. Namun, kekhususan-kekhususan (pengecualian-pengecualian) ini sama sekali tidaklah membatalkan akar konsep dari prinsip “meneladani Rasulullah”. Prinsip meneladani Rasulullah tetaplah berlaku di luar pengecualian-pengecualian yang sedikit itu tanpa diragukan lagi.

Prinsip “meneladani Rasul” ini juga “independen” karena dalam implementasinya tidak harus menunggu pengesahan dari prinsip-prinsip lainnya. Begitu kita mengetahui adanya sebuah perbuatan yang dilakukan oleh Rasulullah, kita sekaligus juga tahu bahwa perbuatan itu boleh, seyogyanya, atau wajib untuk diteladani sebelum kita tahu apakah perbuatan itu termasuk kekhususan Rasulullah ataukah tidak. Jadi, “al-ashlu fii af`aalir-rasuul: al-iqtidaa’u biha” (Pada dasarnya, perbuatan Rasulullah SAW itu perlu untuk diteladani). Nah, baru kalau kita mengetahui adanya pengecualian, saat itulah prinsip dasar ini tidak diberlakukan. Selama pengecualian itu tidak ada (atau tidak diketahui), maka prinsip tersebut tetaplah berlaku.

Bandingkan dengan prinsip “meniru Allah”. Prinsip ini tidak punya dasar rasional maupun revelasional, sehingga tentu tidak “kuat”. Ia juga tidak “mapan” karena begitu mudah untuk dibantah. Ia juga tidak “independen” karena mengharuskan adanya pengesahan terlebih dahulu dari “aturan syariat”. Apakah kita (sebagai hakim) boleh meniru sifat “yaghfirudz-dzunuub” sehingga pelaku perzinahan bisa dengan mudah kita maafkan? Tentu saja tidak, kecuali memang ada syariat yang membolehkan/menganjurkan hal itu. Apakah kita boleh meniru sifaf “tu`izzu man tsyaa’u matudzillu man tasyaa’u” (memuliakan atau merendahkan siapa saja sesuai kehendak kita)? Tentu saja tidak, kecuali memang ada syariat yang memerintahkan demikian. Apakah kita boleh meniru sifat “qawiyyun syadiidul `iqaab” (kuat sekaligus keras dalam menghukum)? Tentu saja tidak, sebelum adanya pengarahan-pengarahan khusus dari syariat dalam hal itu.

Jadi, yang mandiri adalah prinsip “taat Syariat” itu sendiri. Ketika Syariat memerintahkan kita untuk tawadhu’, maka kita harus tawadhu’ meskipun Allah itu sama sekali tidak bersifat tawadhu’. Ketika syariat melarang kita untuk meniru-niru ciptaan Allah, maka hal itu juga harus kita taati (tanpa peduli dengan konsep “meneladani Allah”). Demikian juga ketika Syariat itu memerintahkan kita untuk adil, berbuat baik, mengasihi muslim, tegas terhadap kafir, rajin memohon ampunan (beristighfar), tidak merasa mandiri (serba tawakal), tidak mengejar kekuasaan (laa tas’alil `imaarah), dan sebagainya. Hal-hal ini langsung kita lakukan tanpa peduli apakah Allah juga bersifat demikian, apakah Allah justru bersifat sebaliknya, atau apakah sifat-sifat itu sama sekali tidak nyambung kalau dibicarakan dalam kaitannya dengan diri Allah.

Demikian penjelasan dari saya. Semoga gamblang dan bermanfaat. Wallaahu a`lam bish-shawaab.

Hamba Allah

yang ingin meniru kekasih-Nya,

Nidlol Masyhud.

Dikutip dari insistnet@yahoogroups.com, Jumat, 20 Agustus, 2010 22:58

(nahimunkar.com)