Konser Musik, Zina, dan Kerusuhan

 

MEMANG belum ada penelitian yang membuktikan adanya korelasi positif antara pagelaran musik dengan zina, perilaku seks bebas di luar nikah. Namun begitu, sebuah konser musik yang bertajuk MTV Staying Alive, nampaknya mulai mengkampanyekan kepada publik bahwa dua hal itu berkaitan.

 

Caranya, penyelenggara menawarkan tiga alternatif bagi calon penonton untuk mendapatkan tiket masuk, yakni membeli majalah Teens, koran Sindo (Seputar Indonesia), atau dua pak kondom seharga Rp 10 ribu (khusus untuk penonton berusia 18 tahun ke atas). Alternatif ketiga, diprotes sebagian penonton. Di antara mereka ada yang berkomentar, “Ini sih secara tidak langsung mengajari kita untuk bergaul bebas.”

 

Tetapi, menurut Yasmine (Head of Media Relation Global TV), membeli kondom bukan merupakan suatu keharusan, hanya sebagai pelengkap dalam rangka memberikan sex education (pendidikan seks), khususnya dalam upaya mensosialisasikan cara menanggulangi HIV/AIDS dengan menggunakan kondom. “Daripada mereka kena, mending pake kondom.” Begitu alasan Yasmine.

 

Bila cara-cara kampanye seperti itu terus-menerus dilakukan setiap tahun, tidak terlalu lama lagi publik akan terbiasa dan mengerti, bahwa konser musik berkaitan dengan seks bebas. Dan kampanye yang mengkaitkan konser musik dengan ‘anjuran’ seks bebas, lima tahun lagi akan menunjukkan keberhasilannya. Setidaknya, tidak ada lagi protes terhadap ‘keharusan’ membeli kondom sebagai salah satu upaya mendapatkan tiket masuk.

 

Bagi aktivis HIV-AIDS, mensosialisasikan kondom sebagai pencegah terjangkitinya virus mematikan tersebut, adalah merupakan upaya edukasi dalam rangka menekan jumlah penderita HIV-AIDS. Ada yang lebih progresif lagi, yaitu membagi-bagikan kondom secara gratis, bahkan membagi-bagikan jarum suntik secara gratis. (lihat tulisan berjudul Pembunuhan Massal Melalui Kondomisasi, nahimunkar.com, December 16, 2008 11:49 pm)

 

Di dalam dunia propaganda, ada satu strategi yang mirip-mirip dengan strategi para ahli pembuat obat. Serbuk obat yang terasa pahit, dibungkus kapsul yang tawar, sehingga ketika berada di mulut, lidah tidak dapat merasakan rasa pahit serbuk obat tadi. Akibatnya, obat dengan mudah ditelan tanpa penolakan. Bila sudah masuk ke dalam perut, semua rasa tidak lagi terasa.

 

Konser musik dan ‘anjuran’ membeli kondom, atau kondomisasi (termasuk bagi-bagi kondom secara gratis), nampaknya menempuh cara-cara di atas. Pada tahap awal, ada sejumlah publik yang menolak ‘keharusan’ membeli kondom, namun karena dibungkus dengan sesuatu yang ‘menghibur’ maka ‘keharusan’ itu menjadi tidak terasa lagi. Di balik ‘keharusan’ membeli kondom tadi, kelak akan diterjemahkan menjadi ‘keharusan’ memanfaatkan kondom untuk melakukan kegiatan seks. Bagi remaja dan pemuda yang belum menikah, maka ‘keharusan’ melakukan kegiatan seks tadi akan diterjemahkan menjadi seks bebas dengan teman atau pelacur. Bagi yang tidak bisa menempuh kedua cara tadi, maka ‘anjuran’ tadi akan ditempuh dengan jalan paksaan alias perkosaan.

 

Konser musik bermuatan ‘anjuran’ seks bebas merupakan salah satu tahapan dari upaya serupa yang telah lebih dulu berhasil, yaitu ‘anjuran’ melalui film, sinetron, kemudian dipercepat lagi dengan begitu mudahnya memperoleh film-film porno dengan harga murah, mudahnya memperoleh gambar-gambar porno melalui berbagai tabloid dan majalah porno yang marak sejak era kepemimpinan Gus Dur. Apalagi ditunjang dengan teknologi internet yang kian canggih, sehingga gambar-gambar porno bahkan video porno bisa diunduh (download) secara gratis dalam tempo relatif singkat.

 

Teknologi internet yang kian maju, memungkin tumbuhnya warung internet (warnet) sampai ke kota kecil sekalipun. Keberadaan warnet yang kian menjamur tanpa dibarengi dengan regulasi yang ketat, khususnya regulasi tentang pornografi, membuat warnet yang berorientasi keuntungan mengabaikan aspek moral. Supaya untung, maka pengunjung harus banyak. Supaya pengunjungnya banyak, salah satu ‘menu’ yang ditawarkan adalah kemudahan mengakses situs-situs yang menjajakan pornografi.

 

Contoh kasus, terjadi di Sidoardjo. Seorang pemuda berusia 18 tahun asal desa Brebek, Kecamatan Waru, Sidoarjo, Jawa Timur, memperkosa seorang gadis belia berusia 16 tahun. Kepada polisi, pemuda itu mengaku nekat melakukan perkosaan karena sering ke warnet melihat adegan porno. “Karena terlalu sering, akhirnya aku pengen mencoba,” katanya sebagaimana dikutip harian surya edisi 20 Desember 2008 (http://www.surya.co.id).

 

Film, Teve (sinetron), kemudian konser musik dengan ‘keharusan’ membeli kondom, disadari atau tidak telah menjadi media bottom line yang efektif di dalam mengkampanyekan ‘anjuran’ seks bebas.

 

Di tahun 2005, sebuah perusahaan kondom melakukan survey di hampir semua kota besar di Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Hasilnya, sekitar 40-45% remaja berusia antar 14-24 tahun menyatakan, mereka telah berhubungan seks bebas di luar pernikahan. (http://aids-ina.org/modules.php?name=AvantGo&file=print&sid=222)

 

Di Bandung, sebagaimana diberitakan Tribun Jabar edisi 15 Agustus 2008, terdapat sekitar 56% remaja Kota Bandung dengan kisaran usia 15-24 tahun sudah pernah berhubungan seks bebas di luar nikah, dengan pacar, teman, dan pelacur. Data tersebut ditemukan melalui survey yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan 25 Messenger Jabar, selama Juni 2008 lalu.

 

Menurut Kristian Widya Wicaksono, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan 25 Messenger Jabar, survei melibatkan rata-rata 100 responden remaja usia 15-24 tahun yang ada di setiap kecamatan di Kota Bandung. Menurut Kristian pula, perilaku remaja yang mengadopsi seks bebas seperti itu paling banyak dipengaruhi oleh tontonan film porno, termasuk dari internet dan melalui telepon seluler. (http://tribunjabar.co.id/artikel_view.php?id=17458&kategori=22)

 

63 persen remaja di 33 provinsi Indonesia berzina

Hidayatullah.com edisi 20 Desember 2008 menurunkan berita tentang hasil survey yang dilakukan sebuah lembaga, sebagaimana disampaikan oleh M Masri Muadz Direktur Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Pusat (BKKBN), saat Peluncuran SMS Konsultasi Kesehatan Reproduksi Remaja pada hari Jum’at tanggal 19 Desember 2008, di Serang, Banten, Jawa Barat.

 

Hasil survey yang dilaksanakan tahun 2008 itu mengungkapkan data, sebanyak 63% remaja mengaku sudah melakukan hubungan seks bebas sebelum nikah. Responden survey meliputi remaja SMP dan SMA di 33 provinsi di Indonesia. Data ini menunjukkan adanya kenaikan dibandingkan dengan survei sebelumnya (2005).

 

Di Indonesia sampai saat ini belum ditemukan hasil survey yang mengungkap adanya korelasi antara kebiasaan menonton teve dengan perilaku seks bebas dan kehamilan tidak diinginkan, khususnya di kalangan usia remaja. Adanya korelasi anatara seks bebas dengan kebiasaan menyaksikan video porno, di Indonesia, selama ini ditemukan hanya dalam berbagai berita kriminal.

 

Di AS, penelitian yang mengungkapkan adanya korelasi antara kebiasaan menonton teve, khususnya program teve yang bermuatan seks, mempengaruhi perilaku remaja di sana di dalam mempraktekkan seks bebas, yang berujung kepada meningkatnya angka kehamilan remaja, dan kehamilan itu merupakan kehamilan tidak diinginkan karena terjadi di luar pernikahan.

 

AS merupakan negara tertinggi penghasil kehamilan di usia remaja. Padahal, sejak 1991, angka kehamilan remaja di AS sudah kian turun, namun tetap saja tertinggi di antara negara-negara industri lainnya, yaitu mendekati satu juta orang remaja dengan rentang usia 15-19 tahun. (http://www.rand.org/pubs/research_briefs/RB9398/)

 

Faktor-faktor yang memberikan kontribusi terhadap terjadinya kehamilan remaja lumayan beragam dan kompleks. Namun, salah satu faktor yang sejauh ini belum diteliti secara mendalam adalah muatan seksual di televisi. Oleh karena itulah RAND melakukan studi tentang itu. Hasilnya, para remaja yang banyak menoton tayangan teve bermuatan seks mempunyai risiko yang lebih tinggi mengalami kehamilan di usia remaja. Kehamilan itu tentunya disebabkan oleh aktivitas seks bebas, yang didorong oleh keinginan mempraktekkan apa-apa yang selama ini ditontonnya di televisi.

 

Dari penelitian RAND tadi, terbukti bahwa tayangan teve bermuatan seks jika ditonton berulang-ulang akan mempengaruhi perilaku remaja putra dan putri, yang pada gilirannya memberikan kontribusi meningkatnya kehamilan di usia remaja, meningkatnya budaya seks bebas, meningkatnya pengidap HIV-AIDS, dan sebagainya.

 

Setelah media teve berhasil ‘menganjurkan’ seks bebas, maka ‘anjuran’ serupa sedang digarap secara intensif melalui berbagai konser musik sebagaimana diprogramkan melalui MTV Staying Alive, dengan kedok mensosialisasikan upaya-upaya positif di dalam menangkal perkembangan bahaya terinfeksi virus HIV-AIDS.

 

MTV Staying Alive pertama kali diluncurkan tahun 1998, di Amerika Serikat. Dengan tujuan mengkampanyekan pencegahan HIV-AIDS melalui pemberdayaan para pemuda agar mampu menjaga dirinya dari kemungkinan terinfeksi virus HIV-AIDS.

 

Di Indonesia, MTV Staying Alive sudah berlangsung sejak 2004. Konser musik ini selalu diselenggarakan bertepatan dengan hari peringatan AIDS se dunia. Di tahun 2008 ini, MTV Staying Alive berlangsung pada 14 Desember 2008, di Lapangan D Senayan Jakarta. Temanya, Play The Music…Sound The Message. Tujuannya, menyampaikan pesan simpati, harapan, solidaritas, dan pengertian tentang HIV dan AIDS di Indonesia.

 

Di Indonesia, MTV Staying Alive digarap bersama dengan Global TV. Oleh karena itu tak heran acara tersebut ditayangkan secara langsung oleh Global TV sejak jam 19:00 wib. Program musik yang berlangsung selama 12 jam nonstop ini, berakhir sekitar jam 22:00 wib. Sponsor MTV Staying Alive sejak awal adalah produsen kondom Sutra dan Fiesta.

 

Konser musik, kerusuhan, perzinaan, dan pemurtadan

Keterkaitan antara konser musik dengan seks bebas, kini tengah digarap dengan intensif. Sedangkan keterkaitan konser musik dengan kerusuhan, sudah sering terjadi. Di penghujung 2008 saja, beberapa konser musik menghasilkan kerusuhan yang mengganggu. Konser Dewa 19 yang berlangsung 16 Desember 2008, di Lapangan Benteng, Medan, menghasilkan kericuhan: sesama penonton yang berkelompok terlibat saling lempar batu dan lumpur.

 

Menurut laporan Pos Kota edisi 17 Desember 2008, konser itu memanas saat ribuan penonton terlibat aksi senggol ketika mengungkapkan ekspresinya. Kebetulan lokasi lapangan becek. Kerusuhan meluas. Tidak hanya lumpur, puluhan batu beterbangan mengenai beberapa penonton.

 

Sebulan sebelumnya, konser ST12 yang berlangsung Selasa, 18 November 2008 di Banjarmasin, juga rusuh bahkan terjadi penusukan terhadap salah seorang penonton. Sempat ada aksi lempar botol minuman. Tiba-tiba saja ada penonton yang ditusuk. Namun karena penerangan kurang, tidak diketahui siapa pelakunya. Penonton sebanyak 3000 lebih tak bisa dikendalikan.

 

Konser musik tidak saja menghasilkan kerusuhan dan penusukan, tetapi juga menghasilkan korban jiwa. Misalnya pada konser musik yang berlangsung Sabtu malam tanggal 9 Februari 2008 lalu, di Bandung, menyebabkan 10 orang tewas. Konser grup band Beside yang berlangsung di Gedung Asia Afrika Cultural Center, Bandung, Jawa Barat itu, mulai tidak terkendali sekitar pukul 20.00 wib. Ketika itu, ratusan orang berupaya memasuki gedung pertunjukan. Mereka berhadapan dengan sekitar 400 penonton yang sudah berada di dalam gedung. Suasana menjadi tidak terkendali sehingga saling injak terjadi. Menurut aparat kepolisian, ditemukan fakta adanya pembagian minuman keras kepada sejumlah penonton sebelum memasuki arena konser, dan hal itu diduga menjadi pemicu kerusuhan.

 

Konser musik dapat membuat sejumlah orang menjadi brutal. Meski, konser itu dilaksanakan di kalangan mahasiswa. Bahkan meski konser itu diselenggarakan di kampus berlabel Islam sekalipun, sikap brutal tetap saja terjadi.

 

Contohnya, pada konser GIGI di tahun 2004 yang berlangsung di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, berakhir menyedihkan: dua orang tewas dan lebih dari 50 orang luka-luka akibat ambruknya atap gedung Student Center.

 

Konser band GIGI merupakan salah satu rangkaian acara malam inagurasi mahasiswa baru Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Ahad 18 Desember 2004. Konser GIGI berlangsung mulai pukul 22:30 wib. Sedangan siang harinya, sejak pukul 13:00 wib berlangsung festival band dan seremonial berupa pidato dari ketua panitia program pengenalan almamater UIN Jakarta.

 

Jatuhnya korban tewas pada konser di UIN itu tentu membuat kita bersedih. Namun jauh lebih menyedihkan, perguruan tinggi berlabel Islam, menyelenggaraan konser musik sebagai isi dari acara malam inagurasi mahasiswa barunya. Padahal, konser seperti itu merupakan sebuah acara yang tidak Islami. Boleh jadi, konser musik selain menjadi media bottom line untuk ‘menganjurkan’ seks bebas, juga menjadi media yang sama untuk ‘menganjurkan’ pemurtadan. Jangan-jangan suatu saat nanti, mahasiswa UIN bikin konser musik nonstop 12 jam sebagaimana MTV Staying Alive, dan salah satu cara memperoleh tiket dengan membeli dua pak kondom seharga Rp 10.000 merek sutra dan fiesta. Sehingga, konser itu menjadi media bottom line yang komprehensif ‘menganjurkan’ seks bebas sekaligus pemurtadan. (haji/tede)