Korban Tayangan Televisi:

Banyak Pelajar Berzina dan Terkena AIDS

Samarinda, Papua, dan Kupang adalah sebuah lokasi yang cukup jauh dari Jakarta, apalagi bila dibandingkan dengan Hollywood. Namun, perilaku rusak seks bebas ala Hollywood sudah mereka kenal. Tentu melalui teve dan film-film yang beredar di bioskop-bioskop. Para remaja yang gemar nonon tv dan film, akan lebih cepat terpengaruh budaya seks bebas. Selain akan mempraktekkan apa-apa yang mereka tonton, mereka juga boleh jadi akan mempengaruhi orang lain untuk berzina ataupun penyimpangan seks tak senonoh. Bahkan pengaruh itu bisa saja mengarah kepada anak di bawah umur.

PADA pekan ketiga Juli 2009, terbetik kabar dari Malang (Jawa Timur), sejumlah enam pelajar di kota itu yang berusia antara 15-18 tahun, dinyatakan positif mengidap HIV/AIDS. Menurut Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) yang mengungkap fakta tersebut, para pelajar itu tertular virus HIV/AIDS yang mematikan karena mereka suka berzina di lokalisasi pelacuran yang banyak bertebaran di kota Malang dan sekitarnya. (Tempo Interaktif, Sabtu, 25 Juli 2009).

Beberapa hari sebelumnya, Minggu, 20 Juli 2009, dokter Ritta Fitrianingsih mengungkapkan, hampir 30 persen pelaku seks bebas ternyata dari kalangan pelajar SMP dan SMA. Data itu diungkapkan Ritta pada seminar bertema seks bebas di kalangan remaja dengan judul Bener Nggak Sich, Seks Bebas Itu Asik, yang berlangsung di Sukabumi.

Data itu merupakan temuan yang terungkap melalui sebuah penelitian yang diselenggarakan Dinas Kesehatan setempat dan sejumlah LSM sepanjang tahun 2007 mengenai perilaku seks dan narkoba di kalangan para pelajar. Penelitian itu juga mengungkap fakta adanya pergeseran nilai tentang seks, yang dulu dianggap tabu kini menjadi bagian dari budaya gaul kalangan pelajar. Padahal, seks bebas selain berisiko hamil di luar nikah, juga bisa menimbulkan penyakit menular. Menurut Ritta, seks bebas cenderung memberikan peluang terjadinya penularan penyakit HIV dan AIDS.

Menurut Ritta, penelitian itu juga mengungkapkan, bahwa mayoritas para pelaku seks bebas tadi ternyata juga pemakai narkoba. Seks bebas dan narkoba menjadi lingkaran setan yang sangat sulit untuk diputuskan. Inilah yang menjadi kontribusi dalam menjadikan Indonesia sebagai negara tercepat dalam penularan HIV/AIDS di Asia.

Menurut catatan PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) Kalimantan Timur, sepanjang tahun 2008 terdapat sekitar 12 persen pelajar (usia 12-18 tahun) di Samarinda yang sudah berpengalaman melakukan zina. Dari sekitar 300 lebih responden yang diteliti (pelajar SMP dan SMA), sebagian besar di antaranya sudah sering berzina, bahkan di antaranya ada yang hamil.

Berkenaan dengan tempat berlangsungnya seks bebas, sekitar 14 persen dari mereka melakukan perzinaan itu di lingkungan sekolah, sedangkan 28 persen dari mereka melakukannya di rumah. Sisanya, melakukan hubungan seks bebas di tempat-tempat rekreasi dan hotel. Aktivitas seks bebas (zina) yang tercela dan terlaknat itu mereka lakukan tanpa menyimpan rasa takut bila kelak diketahui orang lain. Boro-boro takut, mereka malah mengabadikan adegan mesum seks bebas tadi dalam bentuk video. Di Samarinda pernah beredar audio visual berjudul Video Mesum SMU Samarinda. Juga foto digital yang direkam menggunakan handphone kemudian beredar dari handphone ke handphone berjudul Foto-foto Bugil. Sebelumnya pernah beredar foto bugil Praja IPDN asal papua dan Video Seks mesum Guru Murid di Kupang. (http://www.kamusmalesbanget.com/news/12-Persen-Pelajar-Samarinda-Pernah-Berhubungan-Intim)

Di Papua, terdapat sekitar ratusan pelajar di sana yang mengidap HIV/AIDS. Dari jumlah tadi, 60 persen lebih diderita pelajar asli Papua dan 40 persen lagi pelajar non Papua (pendatang). Menurut Ketua Harian Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPAD) Provinsi Papua, drh. Constan Karma, “Dengan melihat fakta bahwa HIV/AIDS di kalangan pelajar sudah mencapai ratusan, ini berarti bukan jumlah yang main-main. Apalagi mereka itu adalah generasi penerus pembangunan, sekaligus aset bangsa yang harus kita selamatkan untuk kepentingan masa depan,” ujarnya.

Samarinda, Papua, dan Kupang adalah sebuah lokasi yang cukup jauh dari Jakarta, apalagi bila dibandingkan dengan Hollywood. Namun, perilaku rusak seks bebas ala Hollywood sudah mereka kenal. Tentu melalui teve dan film-film yang beredar di bioskop-bioskop. Para remaja yang gemar nonon tv dan film, akan lebih cepat terpengaruh budaya seks bebas. Selain akan mempraktekkan apa-apa yang mereka tonton, mereka juga boleh jadi akan mempengaruhi orang lain untuk berzina ataupun penyimpangan seks tak senonoh. Bahkan pengaruh itu bisa saja mengarah kepada anak di bawah umur.

Hal ini pernah terjadi di Mojokerto (Jawa Timur), pekan ketiga Mei 2009 lalu. Seorang anak SD yang berbadan bongsor dan suka berinteraksi dengan kalangan yang lebih dewasa penganut seks bebas aktif, maka pengaruh negatif pun bersemayam di dalam dirinya. Akibatnya, siswa kelas IV SDN 1 Jabon, Kabupaten Mojokerto ini memaksa teman satu sekolahnya untuk melakukan oral seks, berulangkali, di sekolah. Kok bisa? Di mana para para pahlwan tanpa tanda jasa yang gajinya kecil itu berada? Jangan-jangan sedang cari tambahan dengan cara menjadi tenaga pengajar di sekolah (swasta) lain. (http://74.125.153.132/search?q=cache:8xUz_Z2q7HsJ: lifestyle.detikyogyakarta.net/siswa-sd-paksa-teman-sekelas-oral-seks/+Oral+seks+di+sekolah&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id)

Berbeda dengan di Mojokerto, di Sibolga, Sumatera Utara, yang memaksa oral seks justru sang guru. Nama sang guru adalah Erwin Ronaldo. Erwin yang juga merangkap sebagai walikelas ini kerap memaksa dua siswinya melakukan oral seks, di depan kelas dengan disaksikan seluruh murid menjelang pulang sekolah. Bahkan Erwin yang saat itu berusia 27 tahun mengancam semua muridnya agar tidak memberitahukan hal tersebut kepada siapa pun.

Menurut Rn (kelas 5 SD), paksaan itu sudah berlangsung sejak September 2007. Biasanya, terjadi sekitar jam 10:30 di ruang kelas. Erwin biasanya menyuruh korbannya maju ke depan mejanya, lalu menyuruh sang korban jongkok di bawah meja. Kemudian Erwin meminta (memaksa) korbannya memegangi kemaluannya kemudian diminta melakukan oral seks.

Menurut Kapolsek Pandan AKP Kamdani, bukan hanya dipaksa melakukan oral seks tetapi juga dicabuli. Berdasarkan hasil visum terhadap korban ditemukan tanda-tanda kerusakan pada kemaluan korban. Kasus tersebut terkuak setelah salah seorang teman sekelas dari kedua korban tadi bercerita kepada orangtuanya. Informasi itu pun kemudian disampaikan kepada kedua orangtua korban. Tanpa pikir panjang para orangtua korban itu langsung melaporkannya ke aparat kepolisian.

***

Bukan hanya di Malang (Jawa Timur) yang pelajarnya sudah terkena HIV/AIDS. Tetapi juga di Bandung (Jawa Barat). Berdasarkan data tahun 2008, setidaknya sampai September 2008, sekitar 4,56% pelajar di Jawa Barat saat itu telah terinveksi HIV/AIDS. Secara umum pengidap HIV/AIDS di Jawa Barat didominasi oleh kalangan remaja yang berusia antara 15-29 tahun sebanyak 58 persen.

Data tersebut diungkapkan oleh Yusuf Suryana, Staf Bidang Keluarga Berencana (KB) Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Barat, di kantor BKKBN, Jalan PHH Mustofa, Kota Bandung, pada hari Kamis, 11 Desember 2008. Menurut Yusuf Suryana, beberapa faktor yang menyebabkan banyaknya pengidap HIV/AIDS di kalangan pelajar, di antaranya, pengetahuan tentang penyebaran virus HIV/AIDS yang belum diketahui sejak dini. Adanya perilaku penggunaan obat-obat terlarang dan seks bebas.

Sementara itu, di Jogjakarta, meski belum terungkap data mengenai pelajar yang mengidap HIV/AIDS, namun menurut sebuah penelitian, seks bebas sudah menjadi bagian dari pelajar di sana. Menurut CHR Hari Soetjiningsih, M.Si, sebanyak 4,9 persen pelajar berusia antara 15-18 tahun di Jogjakarta, mengaku telah berpengalaman melakukan hubungan seks pranikah dengan teman. (http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=news.detail&id=46396)

Annisa Foundation pada Juli-Desember 2006 pernah melakukan survei tentang perilaku seks pelajar SMP dan SMA (swasta dan negeri) di kawasan Cianjur-Cipanas Jawa Barat. Survei yang melibatkan sekitar 412 responden itu, menemukan data bahwa responden yang belum pernah melakukan kegiatan seks berpasangan hanya 18,3 persen. Sedangkan sekitar 42,3 persen pelajar perempuan telah melakukan hubungan seks pra-nikah.

Hasil suveri itu juga menyodorkan data, diantara responden ada yang mengaku telah melakukan hubungan seks tanpa ada paksaan atau atas dasar suka sama suka karena kebutuhan. Bahkan, ada beberapa responden mengaku melakukan hubungan seks dengan lebih dari satu pasangan dan tidak bersifat komersil.

Menurut Laila Sukmadevi, Direktur Annisa Foundation, kecenderungan pelajar Cianjur berhubungan seks pra-nikah bukan dilatarbelakangi oleh persoalan ekonomi. Hanya sekitar 9 persen mereka yang beralasan berhubungan seks dengan alasan ekonomi. Selebihnya beralasan karena tuntutan pergaulan dan longgarnya kontrol orangtua mengenai praktik hubungan seks di luar nikah.

Yang paling memprihatinkan, mereka yang terlibat kegiatan hubungan di luar nikah itu bukan berarti karena tidak mengerti atau tidak paham nilai agama atau budi pekerti. Sebab hampir 90 persen dari mereka mengaku praktik hubungan seksual di luar nikah merupakan perbuatan dosa yang seharusnya dihindari.

Di Jakarta, Rita Damayanti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Depok, Jawa Barat baru-baru ini melakukan penelitian terhadap 8.941 pelajar dari 119 SMA dan yang sederajat di Jakarta. Hasilnya, perilaku seks pranikah itu cenderung dilakukan karena pengaruh teman sebaya yang negatif. Apalagi bila remaja itu bertumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga yang kurang sensitif terhadap remaja. Selain itu, lingkungan negatif juga akan membentuk remaja yang tidak punya proteksi terhadap perilaku orang-orang di sekelilingnya.

Berita tentang seks bebas di kalangan pelajar yang cukup menghebohkan pernah terjadi tahun 2005, ketika beberapa media massa terbitan Bandung dan Jakarta menurunkan berita tentang pesta seks yang dilakukan oleh 11 orang siswa sebuah SMUN Negeri ternama di Kota Cianjur. Yang membuat kian heboh, dalam berita itu disebutkan pula bahwa pesta seks tersebut dilakukan di dalam kelas dan melibatkan seorang oknum guru, bahkan direkam dengan menggunakan kamera handphone yang kemudian beredar dalam bentuk VCD.

Perbuatan itu terungkap ketika ada dua orang siswa (YN dan DK) yang diduga melakukan perbuatan mesum di dalam kelas (berciuman dan melakukan oral seks) di dalam ruang kelas. Bahkan, adegan mesum yang mereka lakukan sempat direkam dengan menggunakan kamera handphone, yang kemudian beredar luas hingga sampai ke tangan pihak sekolah. Dari sinilah pengusutan bermula, dan terungkaplah sembilan nama siswa-siswi lain yang diduga melakukan seks bebas dan penyalahgunaan narkoba. Lebih jauh, juga terungkap adanya sejumlah siswi yang mempunyai profesi sebagai pelacur bagi laki-laki hidung belang.

Salah satu cara merusakkan suatu bangsa adalah dengan menawarkan kepada generasi mudanya budaya permisif (serba boleh) yang menurut istilah sekarang barangkali disebut budaya ‘gaul’. Intinya sama saja, hedonistis, permisif, dan liberal dalam berbagai hal terutama untuk urusan seks. Revolusi seks bebas yang di Barat terutama Amerika Serikat mulai berkembang pada awal 1960-an dan sudah mulai ditinggalkan, kini justru masih menjadi budaya yang hangat di kalangan remaja dan pelajar Indonesia. Terutama, bagi kalangan remaja dan pelajar di kota-kota kecil yang cukup jauh dari Jakarta.

Itu semua mereka pelajari antara lain dari TV. Tayangan sinetron remaja di berbagai televisi swasta kita seolah-olah menggambarkan keadaan sebenarnya dari remaja dan pelajar Jakarta, sehingga itulah yang ditiru oleh para remaja dan pelajar di luar Jakarta. Padahal, sinetron itu cuma rekaan. Kalau mau bangsa ini tidak rusak, pemerintah harus berani melakukan revolusi kebijakan di bidang pertelevisian, dengan melarang tayangan sinetron yang justru merusak, menawarkan budaya permisif dan hedonistis, karena hanya akan meningkatkan kasus seks bebas dan penggunaan narkoba di kalangan remaja dan pelajar.