Kordinator Nasabah Bank Century Ancam Adakan Aksi

Sudah empat orang nasabah Bank Century bunuh diri akibat stress karena sejumlah uang mereka belum ada tanda-tanda kembali. Di antaranya yang bunuh diri itu adalah rector Universitas Katolik Atmajaya Jogjakarta, Profesor Dibyo Prabowo, teman senior dan tetangga Wapres Budiono di Jogjakarta. Namun sampai kini nasib nasabah bank Century tetap tidak jelas.

Kordinator Nasabah Bank Century, Abdul Rahman, mau mengadakan aksi setelah mendengar hasil Pansus Bank Century DPR RI dan tanggapan Presiden SBY dianggap tidak memperhatikan nasib nasabah Bank Century.

Suara bernada ancaman itu disampaikan Abdul Rahman ketika diwawancarai Radio Pro 3 RRI Nasional, Jum’at malam (5/03 2010).

Abdul Rahman yang mengaku tinggal di Surabaya terdengar memberondongkan kekesalannya, lebih-lebih terhadap apa yang ia sebut pidato tanggapan Presiden atas hasil Pansus Century DPR RI. Karena seakan menurut kordinator nasabah Century ini sebagai rakyat yang terkena, justru tidak diperhatikan. Kenapa tidak diperhatikan, karena dianggap nasabah itu urusan Bank Century (yang lama), bukan yang baru yang sudah dimiliki pemerintah. Lha kalau seperti ini, berarti enak banget, mendapatkan bank tidak perlu membayar apa yang jadi tanggungan bank yang lama itu. Maka sebagai rakyat, kordinator nasabah century ini sangat merasa diabaikan haknya, dan sangat kecewa dengan pidato Presiden itu. Dengan demikian, dia memberondongkan suara bernada ancaman untuk mengadakan aksi.

Perlu diketahui, kalau dilihat dari korban-korban yang berjatuhan akibat kasus Bank Century memang cukup mengenaskan. Bahkan teman senior Wapres Boediono sendiri dan tetangganya di Jogjakarta seorang professor ekonom dan rector di perguruan tinggi Katolik Atmajaya di Jogjakarta telah bunuh diri akibat duitnya di Bank Century tidak bisa kembali. Boediono pun melayat mayat rekan seniornya itu Ramadhan tahun lalu.

Stress dan Bank Century

Kasus Bank Century tidak hanya menghasilkan stress berat bagi nasabah yang dananya tidak bisa cair, tetapi lebih jauh dari itu menghasilkan kasus bunuh diri. Salah satu korbannya adalah Prof. Dibyo Prabowo, Guru Besar Ekonomi Universitas Gadjah Mada Jogjakarta yang juga senior Boediono (mantan Gubernur BI yang kemudian menjadi Wakil Presiden mendampingi SBY).

Dibyo Prabowo mengakhiri hidupnya karena kehilangan Rp 18 miliar di Bank Century. Kasus ini diungkapkan oleh Siput salah satu nasabah Bank Century dalam Rapat Dengar Pendapat di Komisi III DPR yang berlangsung pada hari Selasa tanggal 24 November 2009.

Menurut Siput, sebelum meninggal Profesor Dibyo Prabowo menjabat sebagai Rektor Universitas Atmajaya Yogyakarta. Beliau meninggal di bulan Ramadhan 1430H/ 2009 lalu. Bahkan, Boediono ikut menghadiri persemayaman terakhir Dibyo di rumahnya yang terletak di Sawitsari, Sleman, berdekatan dengan rumah Boediono. Profesor Dibyo bukan satu-satunya korban Century yang berakhir dengan bunuh diri. Masih terdapat tiga korban lainnya, salah satunya adalah Sayuti, pejabat Bank Century yang berdomisili di Jambi. (lihat nahimunkar.com, Macam-macam Bunuh Diri dan Penyebabnya, 9:28 pm)

Kalau kordinator nasabah Bank century mengancam mau mengadakan aksi, tampaknya bisa difahami dari derita mereka yang selama ini mereka alami. Inilah di antara tulisan dan berita mengenai mereka itu:

4 Nasabah Century Bunuh Diri, Siapa yang Harus Bertanggungjawab?

Tuesday, January 26, 2010 at 6:23pm

Jakarta – Forum Nasabah Bank Century menemukan ada 4 nasabah yang bunuh diri akibat skandal Bank Century. Ada yang bunuh diri dengan loncat dari gedung lantai 7 hingga minum air sabun. “Teman-teman nasabah ada yang bunuh diri. Ada 4 korban yang tercatat,” ujar Koordinator perwakilan nasabah Bank Century, Z Siput L saat memberikan tanggapan kepada anggota Pansus Century di Gedung DPR, Senayan, Rabu (26/1).

Menurut Siput, korban pertama bernama Sayuti yang loncat dari lantai tujuh. Lalu menyusul 2 orang nenek-nenek berusia 70 tahun dan 80 tahun bunuh diri dengan meminum air sabun di Jambi. Kemudian ada nasabah di Surabaya mencoba bunuh diri namun bisa diselamatkan. “Satu lagi ada profesor dr Dibyo Prabowo yang merupakan rektor Atmajaya Yogyakarta. Dia bunuh diri juga. Dia kehilangan duit sebanyak Rp 16 miliar,” jelasnya.

Mendengar informasi dari nasabah tersebut, anggota Pansus, Ahmad Faisal mengatakan turut prihatin atas kondisi yang menimpa para nasabah Century. Faisal pun memberikan rasa hormat kepada para nasabah yang hadir atas kegigihannya memperjuangkan hak-haknya. “Kita berterima kasih karena anda telah bersedia untuk bertemu dengan kami-kami di Pansus ini. Bantuan anda akan sangat kami hargai untuk terus diungkapkannya kasus ini,” imbuh Faisal.

Nasabah Century Emosi di Pansus

Pansus Hak Angket Kasus Bank Century DPR pada hari ini memanggil nasabah Bank Century untuk rapat membahas kasus Bank Century. Dalam kesempatan tersebut perwakilan nasabah Antaboga terlihat emosional di depan Pansus. Koordinator nasabah Antaboga Z.Siput yang hadir dalam rapat tersebut, sempat emosi dan berteriak kepada pimpinan Pansus saat akan menyerahkan buku bukti-bukti yang dibuat para nasbah korban Antaboga.

“Kami sudah bosan main-main sama semua itu, ada apa di BI sampai melindungi Robert Tantular padahal dia rampok. Dari dulu sampai sekarang BI pengawasannya sangat lemah,” ujar Siput dengan emosi sambil menyerahkan buku merah berisi bukti-bukti dari nasabah Bank Century korban Antaboga saat rapat dengan Pansus Century, Selasa (26/1).

Siput mengatakan, para nasabah Bank Century korban Antaboga sudah mengirim surat kepada Presiden SBY namun tidak pernah ada jawaban yang disampaikan oleh Presiden. “Kita minta agar kasus ini segera selesai dan uang kami kembali, karena kami sudah capek,” tandasnya.

Dalam rapat tersebut, Siput mengatakan sampai saat ini sudah ada korban Antaboga yang meninggal akibat uangnya tidak kembali. Setelah mendengar keterangan nasabah, Pansus Century rencananya akan melakukan rapat internal untuk membuat kesimpulan sementara hasil penyelidikan kasus Bank Century pada malam ini.

Robert Tantular “Bangsat!”

Anggota pansus Century Ruhut Sitompul kembali mengucapkan kata ‘bangsat’ di gedung DPR. Kali ini ‘bangsat’ ditujukan kepada pemegang saham terbesar Bank Century Robert Tantular. “Jadi ya bapak-bapak, ibu-ibu nasabah Century, memang sih si Robert Tantular itu, si bangsat itu,” ujar Ruhut dalam rapat pansus di Gedung DPR, Senayan, Rabu (26/1).

Belum selesai Ruhut berbicara, salah satu nasabah tiba-tiba memotong ucapan Ruhut. “Pak Ruhut begini ya, kami itu tidak ditipu oleh Robert Tantular. Tapi Century dan BI lah yang ditipu Robert Tantular,” jelas nasabah tersebut.

Mendengar hal itu, Ruhut pun melanjutkan komentarnya. “Tenanglah Pak bos. Jangan dulu memotong pembicaraan saya. Walaupun si bangsat itu menipu Century dan BI kayak yang anda katakan, tapi dampaknya ke Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang ada di sini. Nangis hati aku bos,” lanjut Ruhut.

Ruhut pun meyakinkan para nasabah agar tidak cemas dan khawatir. Karena pansus akan berusaha dan memperjuangkan suara para nasabah. Pansus juga sudah memeriksa saksi-saksi. “Termasuk si Robert bandit itu sudah kami periksa juga. Bapak-bapak, Ibu-ibu harap bersabar. Karena kami saat ini sedang bekerja,” ungkapnya.

Namun, tindakan Ruhut Sitompul yang melontarkan kata-kata bangsat kepada Robert Tantular dikritik Ketua Komisi III DPR Benny K Harman. Ruhut dinilai telah mencederai rakyat. “Saya rasa itu mencederai rakyat. Tidak sepantasnya dia mengucapkan kata itu,” kata Benny usai bertemu dengan Mahkamah Konstitusi (MK) di Gedung MK, Jakarta Pusat, Selasa (26/1).

Namun demikian, Benny selaku ketua Komisi III DPR tidak bisa menegur Ruhut. “Kecuali kalau dalam suatu rapat, saya memerintahkan dia untuk datang, baru saya bisa tegur kalau dia mengucapkan kata-kata itu,” ujar politisi Partai Demokrat ini.

Benny mengaku juga suka menegur Ruhut jika berperilaku berlebihan. “Saya teman baik dengan Bang Ruhut. Kalau dia sudah berlebihan, kadang saya suka menegurnya bahkan bisa mengusirnya. Tetapi, tidak dengan kata-kata kasar seperti itu,” kata Benny. (*dtc/ita/jakartapress)

http://www.facebook.com/notes/300juta-rakyat-ingin-indonesia-bersih-dari-korupsi-dan-hutang-negara/4-nasabah-century-bunuh-diri-siapa-yang-harus-bertanggungjawab/45391201053

Sebulan setelah itu, nasabah Century dikabarkan “menguliti” pimpinan Bank Mutiara (century baru) dan LPS. Inilah beritanya:

Nasabah Century “Kuliti” Pimpinan Bank Mutiara dan LPS

Laporan wartawan KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary

Rabu, 10 Februari 2010 | 13:32 WIB

Inggried Dwi W

Rapat Pansus Angket Kasus Bank Century yang mempertemukan nasabah reksadana Century dengan Direksi Bank Mutiara dan Lembaga Penjamin Simpanan, Rabu (10/2/2010), di Gedung DPR, Jakarta.

JAKARTA, KOMPAS.com — Para nasabah reksadana Bank Century mengaku sudah melakukan upaya mediasi dan meminta klarifikasi atas nasib uang mereka ke manajemen Bank Century baru yang telah beralih nama menjadi Bank Mutiara, Lembaga Penjamin Simpanan, Bank Indonesia, hingga Menteri Keuangan.

Kesempatan dipertemukan dalam satu forum pada rapat Pansus Angket Century, Rabu (10/2/2010) di Gedung DPR, Jakarta, tidak mereka sia-siakan. Nasabah Century, Z Siput, mengungkapkan segala janji dan pernyataan pimpinan Bank Mutiara dan LPS. Bagi dia, para pejabat itu merupakan “buron” nasabah. “Sulit sekali menemui bapak-bapak ini. Sangat sulit untuk bisa bertemu mereka. Mereka itu buron saya,” kata Siput.

Lantas, ia mengatakan, Dirut Bank Mutiara Maryono pernah menyatakan kepadanya bahwa Bank Century memang harus tanggung jawab atas uang nasabah. “Tapi, oleh Pak Maryono saya diajak ke Pak Firdaus (pimpinan LPS). Pak Maryono pernah bilang, Bank Century harus tanggung jawab, tapi tidak tahu uangnya dari mana,” papar Siput.

Mendengar pernyataan Siput, Maryono terlihat manggut-manggut.

Pernyataan lainnya mengenai keinginan mengganti uang nasabah, menurut Siput, pernah juga diungkapkan oleh Direktur Kepatuhan Bank Mutiara Erwin Prasetyo. “Kata Pak Erwin, kalau Menteri Keuangan memerintahkan membayar, mereka mau bayar. Ya sudah, bayar dong,” ujar Siput.

Kesaksian Siput ini langsung dikonfrontasikan kepada Erwin yang juga hadir dalam forum yang sama. Saat ditanya, apakah benar pernah mengeluarkan pernyataan tersebut, Erwin menjawab bahwa pernyataannya tidak dalam kapasitasnya sebagai pimpinan Bank Mutiara. “Itu hanya pembicaraan secara pribadi. Jadi, hanya secara persaudaraan dan diskusi,” kata Erwin.

Jawaban ini mengundang tawa sinis para nasabah Century.

“Serangan” terhadap pimpinan Bank Mutiara tak berhenti sampai di situ. Nasabah lainnya, Edo dan Sri Gayatri, juga melontarkan kata-kata keras terhadap Maryono yang dianggap lepas tanggung jawab.

Dalam pernyataannya, Maryono menegaskan bahwa persoalan nasabah reksadana tak ada kaitan dengan Bank Century. Nasabah-nasabahnya juga bukan nasabah Bank Century. “Saya tidak menyangka, seorang manajer bahkan direktur bank bisa bicara seperti itu. Bodoh sekali. Kenapa kok Anda lepas tanggung jawab. Kami ikut reksadana di Century, di loket Century. Bagaimana bisa tidak tanggung jawab?” kata Edo.

Pernyataan Gayatri tak kalah pedas. “Kalau jadi direktur cuma bisa ngomong gitu, kerja sama aku aja Pak, jadi tukang becak,” lontarnya dengan nada tinggi.

LPS plin-plan

Nasabah Century juga mengkritik pernyataan pimpinan LPS, Firdaus Djaelani, yang dinilai tidak konsisten. Saat bertemu nasabah, Siput mengungkapkan, Firdaus menyatakan bahwa pihaknya tidak bisa sembarangan mengeluarkan uang karena uang LPS adalah uang negara. “Tapi, di Pansus saya lihat, Pak Firdaus bilang uang LPS bukan uang negara. Pejabat kok plin-plan seperti ini. Mau jadi apa negara ini?” kata Siput.

Para nasabah Century tetap bertahan bahwa Bank Mutiara harus

mempertanggungjawabkan atas produk “bodong” yang dipraktikkan di kantornya.

Editor: Glo

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/02/10/13322329/Nasabah.Century..quot.Kuliti.quot..Pimpinan.Bank.Mutiara.dan.LPS

Setelah pansus Century di DPR menghasilkan kesimpulan, dan kemudian ditanggapi pidato Presiden SBY, nasib nasabah Century menurut kordinatornya, telah diabaikan oleh pidato Presiden. Maka kordinator nasabah Bank Century mengancam akan mengadakan aksi. Aksinya apa? Di antaranya akan menduduki Bank Mutiara, katanya. (nahimunkar.com)