Korupsi, Budaya Penjahat Kelas Tinggi Merusak Tatanan dan Agama (3 dari 3 Tulisan)


Korupsi, kejahatan kelas tinggi merusak tatanan dan agama

Janganlah orang-orang yang memangku jabatan dan mendapatkan apa yang disebut gratifikasi, komisi, bahkan sebutannya bagus yakni hadiah –namun berkaitan dengan jabatannya–; mereka itu merasa aman-aman saja ketika di dunia ini tidak terjangkau oleh KPK dan tak terseret ke penjara. Sadarlah bahwa perbuatan yang kalian lakukan itu telah diancam keras oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, harta-harta yang diperoleh secara tidak sah itu akan dikalungkan di leher kalian kelak di akherat, dan menjerumuskan ke neraka. Bahkan kalau yang digelapkan itu tanah, maka akan dikalungkanlah tanah itu sampai tujuh lapis bumi. Inilah ancamannya:

1086 حَدِيثُ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : اسْتَعْمَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنَ الْأَسْدِ يُقَالُ لَهُ ابْنُ اللُّتْبِيَّةِ عَمْرٌو وَابْنُ أَبِي عُمَرَ عَلَى الصَّدَقَةِ فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ هَذَا لَكُمْ وَهَذَا لِي أُهْدِيَ لِي قَالَ فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَقَالَ مَا بَالُ عَامِلٍ أَبْعَثُهُ فَيَقُولُ هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي أَفَلَا قَعَدَ فِي بَيْتِ أَبِيهِ أَوْ فِي بَيْتِ أُمِّهِ حَتَّى يَنْظُرَ أَيُهْدَى إِلَيْهِ أَمْ لَا وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَنَالُ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنْهَا شَيْئًا إِلَّا جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى عُنُقِهِ بَعِيرٌ لَهُ رُغَاءٌ أَوْ بَقَرَةٌ لَهَا خُوَارٌ أَوْ شَاةٌ تَيْعِرُ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَتَيْ إِبْطَيْهِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ مَرَّتَيْنِ *

1086 Diriwayatkan dari Abu Humaid as-Saaidi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi tugas kepada seorang lelaki dari Kaum al-Asad yang dikenali sebagai Ibnu Lutbiyah. Ia ikut Amru dan Ibnu Abu Umar untuk urusan sedekah. Setelah kembali dari menjalankan tugasnya, lelaki tersebut berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Ini untuk Anda dan ini untukku karena memang dihadiahkan kepadaku. Setelah mendengar kata-kata tersebut, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di atas mimbar. Setelah mengucapkan puji-pujian ke hadirat Allah, beliau bersabda: “Adakah patut seorang petugas yang aku kirim untuk mengurus suatu tugas berani berkata: Ini untuk Anda dan ini untukku karena memang dihadiahkan kepdaku? Kenapa dia tidak duduk di rumah bapak atau ibunya (tanpa memegang jabatan apa-apa) sehingga ia menunggu, apakah dia akan dihadiahi sesuatu atau tidak? Demi Dzat Muhammad yang berada di tangan-Nya, tidaklah salah seorang dari kalian mengambil sesuatu darinya kecuali pada Hari Kiamat kelak dia akan datang dengan memikul di atas lehernya (jika yang diambil itu seekor unta maka) seekor unta itu akan mengeluarkan suaranya, atau seekor lembu yang melenguh atau seekor kambing yang mengembek. “ Kemudian beliau mengangkat kedua-dua tangannya tinggi-tinggi sehingga nampak kedua ketiaknya yang putih, dan beliau bersabda: “Ya Allah! Bukankah aku telah menyampaikannya,” sebanyak dua kali * (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Sedemikian jelas ancaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau manusia mau berfikir, sebenarnya kejahatan korupsi itu adalah bentuk kejahatan di atas kejahatan. Misalnya gerombolan garong, maka siapapun, bahkan termasuk garong itu sendiri mesti tahu bahwa itu penjahat. Ketika gerombolan garong itu membegal orang hingga mendapatkan sejumlah harta hasil garongan, tiba-tiba dikorupsi sebelum dibagi-bagi, maka pasti garong-garong itu akan marah terhadap garong yang korup, dan menilainya sebagai lebih jahat daripada sekadar garong. Jadi yang korupsi itu kedudukannya adalah garongnya garong atau penjahatnya penjahat. Atau dengan bahasa lain, penjahat kelas tinggi.

Di negeri yang kondusif untuk tindakan korupsi, maka penjahat agama kelas tinggi pun sama terhormatnya dengan penjahat kelas tinggi lainnya. Contohnya, kasus Abdul Hadi Djamal (AHD), anggota Komisi V (bidang perhubungan) DPR RI; meski sudah dipecat dari PAN dan sudah meringkuk di penjara, namun AHD mendulang suara terbanyak di Daerah Pemilihan I Sulawesi Selatan pada pemilu legislatif 9 April 2009 lalu. Sedang pemimpin aliran sesat justru kadang –bahkan ada yang sering– disowani (dikunjungi dengan rasa hormat) oleh pejabat tinggi. Sehingga rakyat yang memilih caleg yang sebenarnya cacat itu sama butanya dengan pejabat tinggi yang sowan ke penyesat Ummat alias penjahat agama kelas tinggi..

Penjahat agama kelas tinggi itu di antaranya adalah pencetus atau pengelola atau penerus pengelolaan aliran sesat yang di sana ada kejahatan tingkat tinggi yakni kesesatan, dan masih ada pula ghulul (pengkhianatan harta, jenis korupsi pula seperti dalam keterangan tersebut di atas). Yakni dari ajaran Islam yang benar:

إَِنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ إِلىَ فُقَرَائِهِمْ

Bahwa Allah memfardhukan atas mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya mereka lalu dikembalikan kepada orang-orang fakir mereka. (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Kewajiban zakat diambil (oleh petugas yang ditugaskan oleh ulil Amri Muslimin –yang mengurusi urusan orang Islam) dari orang-orang kaya dikembalikan (dibagikan) kepada orang-orang fakir itu oleh aliran sesat diadakan bentuk yang lain. Di antaranya berupa kewajiban setor uang dari tiap pengikut aliran sesat kepada pengelola aliran sesat. Misalnya, tiap bulan diwajibkan setor 10 persen (atau seberapa) dari hasil bruto, umpama gaji Rp2 juta, maka harus disetorkan ke pengelola aliran sesat itu Rp200.000 perbulan. Dan itu tidak boleh ditanyakan untuk apa. Kalau ditanyakan, telah didoktrinkan bahwa itu berarti tidak taat kepada pemimpin aliran sesat ini, dan diancam neraka.

Dengan cara seperti itu, maka pengelola aliran sesat itu menjadi kaya raya. Itulah taktik yang dibungkus agama, bahkan mengambil harta orang namun atas nama agama. Padahal kalau dirujukkan kepada agama, yang namanya zakat harta saja, hanya harta tertentu, dihitung pertahun, kalau sudah sampai nishob (sekitar 85 gram emas) maka dizakati 2,5 persen. Dan itu untuk dibagikan kepada fakir miskin dan lainnya yang jenisnya ada 8 macam.

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَ الْمَسَاكِيْنِ وَ العَامِلِيْنَ عَلَيْهَا وَ الْمُؤَلَّفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَ الْغَارِمِيْنَ وَ فِي سَبِيْلِ اللّٰهِ وَ ابْنِ السَّبِيْلِ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana[647]. (QS At-Taubah: 60).

[647] yang berhak menerima zakat ialah: 1. orang fakir: orang yang amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi penghidupannya. 2. orang miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan kekurangan. 3. Pengurus zakat: orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat. 4. Muallaf: orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah. 5. memerdekakan budak: mencakup juga untuk melepaskan muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir. 6. orang berhutang: orang yang berhutang karena untuk kepentingan yang bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya. Adapun orang yang berhutang untuk memelihara persatuan umat Islam dibayar hutangnya itu dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya. 7. pada jalan Allah (sabilillah): yaitu untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum muslimin. 8. orang yang sedang dalam perjalanan yang bukan maksiat mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya. (Al-Qur’an dan Terjemahnya, Depag RI).

Harta zakat itu untuk 8 golongan seperti itu. Lha kok ini hanya untuk pengelola aliran sesat, sedang pengikut aliran sesat itu harus setor 10 persen atau seberapa ditentukan perbulan. Itu jelas membuat-buat aturan tersendiri namun diatas namakan agama, demi meraup harta orang.

Di negeri yang budayanya budaya korupsi, maka mengada-adakan sesuatu atas nama agama padahal untuk mengeruk kekayaan semacam itu aman-aman saja tampaknya. Padahal itu kejahatan di atas kejahatan, dan atas nama agama. Namun karena korupsi telah membudaya, maka justru aliran sesat semacam itu seakan dianggap ada daya tarik tersendiri. Hingga ada pihak-pihak yang ingin meraup suara dari kelompok sesat ini dalam pemilu –pemilihan umum.

Dari sini bisa disimpulkan bahwa korupsi itu ketika menjadi budaya maka benar-benar telah merusak tatanan kehidupan, bahkan merusak agama. Pantas saja aliran sesat di Indonesia ini berjingkrakan dan bertumbuhan, sebagaimana kejahatan lainnya juga merajalela. (haji/tede). (Selesai, alhamdulillah).