Kristenisasi di Kereta Eksekutif

Dari Solo Balapan menuju Jakarta ada kereta eksekutif Argo Lawu siang dan Argo Dwipangga malam. Saya naik kereta Argo Lawu yang berangkat jam 8 pagi dari Solo, Senin 12 Mei 2008 menuju Jakarta. Perjalanan ke Jakarta ditempuh selama sekitar delapan setengah jam.

Sebelum berangkat, kereta itu ada siaran pengantarnya seperti halnya dalam penerbangan, hanya bedanya, tidak ada peragaan pakai pelampung segala, karena memang tidak diperlukan. Agak beda dengan dua hari sebelumnya, saya naik kereta eksekutif dari Gambir Jakarta menuju Jogja malam hari, Kereta Taksaka. Ketika mau berangkat, siaran pengantar di kereta ke Jogja itu mempersilakan para penumpang untuk berdo’a. Baguslah itu. Seingat saya, kereta dari Solo tidak.

Dalam perjalanan, kereta baik yang Jakarta-Jogja maupun Solo-Jakarta sama-sama ada siaran KATV, televisi kabel. Kebanyakan siarannya berupa nyanyian-nyanyian yang diiringi joget-joget. Juga iklan-iklan. Di samping itu film-film pun disajikan. Musik maupun film itu ya menjurus-jurus kepada syahwat, wanita berpakaian sedada dan sebagainya. Memang di negeri Indonesia, polusi yang mengotori mata (yang itu sebenarnya haram jadi mengandung dosa) ada di mana-mana. Termasuk di kereta dan itu atas biaya kita sebagai pembeli karcisnya. Hak kita untuk menjaga mata sudah dirampas oleh para petugas kereta itu. Demikian pula di penerbangan malah lebih lagi, para pramugarinya kadang disandangi dengan pakaian cincing sampai paha, masih ketat pula, padahal tak ada banjir tak ada air tetapi entah kenapa, apakah karena mahalnya kain atau apa sehingga pihak penerbangan tidak becus membelikan kain yang lebih longgar lagi biar sampai ke tumit karena takut bangkrut atau apa, tak tahulah. Demikianlah kondisi dan situasi di perjalanan.

Lebih dari itu, keimanan saya merasa dirusak di kereta eksekutif Argo Lawu Solo- Jakarta saat itu. Karena ternyata ditayangkan dua film kekristenan. Yang satu tentang anak sakit, dan yang satunya tentang basbol. Film itu yang satu sekitar 40 menit, dan yang satunya lagi produksi Paramount sampai satu jam lebih. Dari awal sampai akhir kental dengan kekristenan, salib, gereja, pendeta atau barisan orang-orang di dalam gereja dan sebagainya. Itu hanya pantas diputar di kursus kekristenan atau di gereja sendiri saya kira. Tetapi kenapa disuguhkan kepada para penumpang yang kemungkinan sekali 90 persen adalah umat Islam. Banyak yang berkerudung atau berjilbab, berbaju koko, berpeci dan sebagainya. Tetapi kereta eksekutif itu televisi KATVnya menyuguhkan film kekristenan dan bukan hanya satu, dan bahkan durasinya panjang lagi. Sehingga ketika keluar dari kereta di Jatinegara Jakarta seakan-akan keluar dari kursus di gereja.

Eh, sebenarnya negeri Indonesia ini dikuasai oleh siapa ya? Sampai kereta yang sebenarnya mencari penumpang saja justru dijadikan arena untuk kristenisasi, padahal mereka tahu persis bahwa penumpangnya mayoritas Muslim.

Saya tidak tahu. Apakah mereka itu orang-orang yang memang bodoh dalam hal manajemen pemasaran/ publikasi, atau sebenarnya ada missi terselubung.

Terlepas dari itu semua, kalau sampai misalnya para awak kereta api ada yang nantinya ditonjok orang atau tahu-tahu kemudian penumpang sepi, pilih kendaraan lain, itu bukan karena salah siapa-siapa. Di saat mungkin orang sedang banyak masalah, kemudian ditambahi masalah seperti itu, maka kemungkinan akan bisa membuat keputusan yang tidak pernah diduga.

Jangan sampai keadaan itu ibarat nila setitik rusak susu sebelanga. Upaya yang mereka upayakan untuk menjaga bisnis kereta eksekutif selama ini mungkin bisa hancur karena kesalahan dari segelintir orang yang pendek pikirannya. Di antaranya adalah kristenisasi lewat KATV seperti tersebut.

Demikianlah pengalaman saya, selaku penumpang kereta eksekutif Argo Lawu gerbong tujuh saat itu.